Menjadi Pembawa Terang

Saudara-saudariku yang dikasihi oleh Tuhan,
Tuhan memberkatiii. Bagaimanakah kabar hari iniii. Puji Tuhan, kita masih diberikan hidup, kita dianugerahi hari baru, kita dianugerahi kesehatan dan kita yakin masih banyak berkat dan kebaikan-kebaikan Allah yang akan kita terima pada hari ini.

Saudara-saudariku yang dikasihi oleh Tuhan,
Salah satu kebaikan Allah yang saat ini bisa kita nikmati adalah berada dalam tempat yang terang. Kita merasa nyaman. Paling tidak kita bisa melihat dan menilai segala sesuatu yang ada di sekitar kita. Kita bisa dengan mudah mengatakan bahwa itu anakku, itu istriku, itu suamiku, itu temanku, itu saudaraku, itu anjingku, itu bonekaku, itu buku gambarku dst.

Saudara-saudariku yang dikasihi oleh Tuhan, Ketika saudara/i berada dalam sebuah ruangan, tiba-tiba lampu yang ada dalam ruangan itu mati. Ruangan itu menjadi gelap. Lalu apa yang terjadi? Seketika itu juga, kita akan cemas, takut, ngeri dst. Lalu apa reaksi kita yang spontan muncul? Teriak, marah, mungkin ada yang menangis dan tak sedikit orang bahkan saling menyalahkan. Singkatnya, situasi pasti menjadi tegang dan mencekam. Dalam situasi seperti itu orang menjadi dibatasi dalam segala hal, baik perasaan, pandangan maupun gerak.

Apa yang bisa dilakukan. Bagaimana situasi seperti itu sebaiknya diatasi?
Satu-satunya jalan adalah orang datang membawa terang atau pelita. Dengan setitik terang atau pelita, maka kecemasan, ketakutan, kengerian, tegang, marah saling menyalahkan, semua itu dapat dipatahkan. Ketika ada setitik terang, betapa orang ditumbuhkan dalam pengharapan, sehingga situasi menjadi lepas bebas dan tidak mencekam lagi.

Saudara-saudariku yang dikasihi oleh Tuhan,
Datang untuk membawa terang atau pelita, itulah panggilan Allah kepada kita. Sosok Yohanes Pembabtis dalam bacaan Injil yang baru kita dengarkan, telah memberikan contoh kepada kita. Yohanes memberikan suatu kesaksian dengan membawa terang bagi semua orang. Namun Yohanes juga mengakui bahwa ia bukan terang itu. Ia hanya membawanya. Terang itu tak lain adalah keselamatan dari Yesus sendiri.

Itulah yang sering tidak mudah bagi kita. Ketika orang menjadi sukses..., terkenal, sering orang menjadi lupa. AKU siapa sih kalau bukan AKU...dst. YESAYA dalam bacaan pertama berpendapat bahwa dibutuhkan jiwa besar untuk mengakui bahwa kesuksesan itu bukan semata-mata hasil perjuangan atau keringat kita. Melainkan berkat bimbingan Roh Allah yang senantiasa menerangi. Roh Allah itulah yang menggerakkan setiap orang untuk selalu memiliki harapan akan rahmat-rahmat yang menghantar kita menjadi sukses atau terkenal. Oleh sebab itu PAULUS berpesan pada pembaca suratnya ”janganlah padamkan Roh”. Usaha agar Roh itu tetap bernyala adalah bersukacita, berdoa dan mengucap syukur (1 Tes 5:17-18).

Saudara-saudariku yang dikasihi oleh Tuhan,
Ketika orang datang membawa pelita, sehingga pelita itu menyinari ruangan di sekitar, maka pelita itulah yang membuat ruangan itu menadi terang. Terang itu bersumber dari pelita itu, dan bukan dari orang si pembawa pelita itu.

Mereka Trus Kemana?






















Di mana arwah orang yang sudah meninggal dan bagaimana keadaannya? Itulah pertanyaan yang sering dilontarkan dari kalangan umat kepada pemandu pendalaman Kitab Suci, katekis, prodiakon, suster, frater, bruder atau pastor. Tak jarang dari mereka yang mulai membuat perkiraan atau penafsiran. Soal kebenaran atas jawaban itu menjadi nomer ke sekian, yang penting setelah pertanyaan itu dilontarkan saat itu pulalah diperoleh jawabannya.


Kita sebaiknya kembali ke Injil, Kabar Gembira yang salah satunya ditulis untuk menyampaikan kembali kesaksian diri orang yang telah betul-betul mengalami kematian dan bangkit, yakni Yesus Kristus. Kisah-kisah pengajaran, mukjizat, dan tindakan-tindakan lainnya takkan banyak artinya bila tak dibaca dalam terang kebangkitannya itu.

Ada kekuatan di balik perkataan Yesus kepada orang yang disalib bersama dengannya, "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya HARI INI juga engkau akan ada bersama-sama aku DI DALAM FIRDAUS!" (Luk 23:43). Dengan demikian menjadi jelas keyakinan iman dalam komunitas awal bahwa orang yang minta agar diingat oleh Sang Tersalib yang nantinya bangkit itu akan ada bersama dengannya. Kapankah itu? Hari itu juga. Itu artinya langsung pada saat meninggalkan dunia itulah orang masuk dalam firdaus. Oleh karena itu tidak dapat disangkal lagi kepercayaan para pengikut Kristus mengenai apa yang bakal terjadi dengan arwah orang yang meninggal.

Memaknai Tobat

Prolog

Pada suatu ketika seorang siswa bertanya kepada gurunya: Untuk apa orang Katolik itu mengaku dosa kepada Pastor. Toh sebelum dan sesudah mengaku dosa juga yaa tetap gitu-gitu aja. Lagian seperti aku, khan ngga pernah berbuat dosa besar.

Nah kalau pertanyaan ini ditujukan kepada Anda sebagai seorang seminaris, lalu apa jawabannya???

Pertama-tama, kita diajak menyadari betapa pentingnya kesadaran diri sebagai pendosa. Bagi seorang pendosa, kebutuhan yang mendasar adalah bahwa dirinya diampuni. Dan pengampunan itu hanya mungkin bila orang itu memiliki IMAN. Lalu tanda iman adalah? TOBAT. Orang dikatakan memiliki iman bila dia juga mempunyai disposisi atau sikap tobat yang terus menerus dalam hidupnya.

Sikap tobat itulah yang diungkapkan dalam sakramen rekonsiliasi. Oleh sebab itu dalam sakramen tobat itu bukan sekedar mengakukan dosa-dosa kita, tetapi lebih dari pada itu bahwa kita hendak mengungkapkan tobat kita di hadapan Allah, dengan mengakui dan menyesali lalu membangun sikap tobat yang konkrit dalam hidup kita.

Rahmat Pengampunan

Rahmat pengampunan itu hanya mungkin karena kasih Allah yang begitu besar kepada kita. Paulus mengatakan dalam bacaan pertama 1Kor 15:8-10: Dan yang paling akhir dari semuanya,.......

Bacaan Injil hari ini mengajak kita menyadari betapa penting yang namanya pengampunan. Bahwa dengan pengampunan, orang berubah menjadi baru.

Kesadaran dan penghayatan diri sebagai yang berdosa identik dengan kesadaran dan penghayatan diri sebagai yang beriman’ itulah kebenaran yang selayaknya diamini oleh siapapun yang mengaku diri sebagai orang beriman.

Perempuan pendosa sebagaimana diceriterakan dalam Warta Injil hari ini adalah yang telah menerima kasih pengampunan Tuhan, maka ia mempersembahkan kepada Tuhan apa yang telah diterimanya. Ia menjadi penjelmaan Allah yang pengampun dan penuh belas kasih, sehingga ia mau mempersembahkan kasih yang melimpah bagi dunia.

Semakin banyak dosa yang diakui, disesali dan ditobati, maka semakin besarlah rahmat Allah itu. Namun simon? Allah tidak dapat melakukan apa-apa.


Belajar dari Ibu Teresa

Ibu Teresa dari Calcuta-India ketika memperoleh hadiah Nobel Perdamaian menjadi sorotan dan perhatian dunia, khususnya para wartawan. Ada seorang wartawan yang mewancarai Ibu Teresa, antara lain pertanyaan demikian: “Banyak orang melihat dan mengakui ibu sebagai santa yang masih hidup alias orang suci. Menurut ibu suci itu apa?” . Dengan rendah hati dan lemah lembut Ibu Teresa menjawab:”Orang suci itu bagaikan lobang kecil dimana orang melalui lobang tersebut dapat melihat siapa itu Tuhan, siapa sesama manusia dan apa itu harta benda”.

Kiranya melalui Ibu Teresa, apa yang ia katakan dan lakukan, kita dapat dan mengimani bahwa Tuhan itu Mahakasih dan Mahamurah, manusia adalah gambar atau citra Allah yang menjadikan kita semakin beriman, mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan.

Semoga Kita senantiasa membangun sikap tobat terus-menerus dalam hidup kita, sehingga kita beroleh rahmat yang berlimpah.

Undangan Allah

Sebuah Undangan
Pesta merupakan peristiwa yang berarti dalam kehidupan bersama. Khas suasana pesta perjamuan adalah membahagiakan, menggembirakan. Dalam menghadiri undangan pesta perkawinan pada umumnya orang berapakaian atau berpenampilan sedemikian rupa, sehingga laki-laki nampak tampan dan menawan sedangkan perempuan nampak cantik dan mempesona. Ada semacam lomba penampilan diri dengan berbagai jenis asesori maupun aneka jenis wewangian/deodorant yang disemprotkan ke tubuh atau aneka jenis lipstick yang menghiasi bibir kaum perempuan. Pendek kata orang berusaha seoptimal mungkin menghadirkan atau menampilkan diri agar menawan dan mempesona bagi yang lain, paling tidak secara phisik.

Karena pesta perjamuan itu adalah sebuah undangan, maka yang namanya undangan itu orang memiliki kebebasan memilih: mengiyakan dan menolak.
Bagi yang mengiyakan meski menanggapinya dengan baik, salah satunya dengan pakaian pantas pesta. Pakaian pesta sebetulnya bukan sekedar soal sopan dan santun. Melainkan sebuah tanda yang bisa dilihat mata bahwa yang mengenakan pakaian pesta itu datang ke pesta tanpa tujuan lain selain hanya untuk menghadiri pesta. Dengan mengenakan pakaian pesta, maka orang lain yang ikut hadir dapat mengenali yang bersangkutan.

Bagi yang menolak, itu artinya ia akan kehilangan dua hal: 1) rusaknya relasi dengan pihak yang mengundang, 2) kehilangan kesempatan untuk menghadiri pesta yang istimewa.

Melalui gambaran pesta perjamuan nikah yang tentu saja diwarnai dengan suasana penuh suka cita dengan jamuan makan yang serba wah, maksudnya tak lain ialah ketika orang bersatu dengan Tuhan, ia akan merasakan kebahagiaan dan kenikmatan rohani yang tak terbilang.

Iya atau Tidak
Undangan Allah bagi kita saat ini menuntut suatu jawaban yang amat tegas. MENGIYAKAN atau MENOLAK. Allah mengundang umatnya itu tentu agar umatnya memperoleh keselamatan. Maka jawaban satu-satunya adalah mengiyakan undangan itu.

Kesaksian Paulus kiranya dapat menjadi permenungan sekaligus pegangan hidup kita. “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku”. Bagi Paulus, ketika seseorang mengiyakan undangan allah, maka segala perkara dalam hidup dapat ditanggung dalam Dia yang mengundang.
Ada tiga perkara besar yang dimaksudkan Paulus yang harus kita hadapi dan geluti selama hidup di dunia ini, yaitu “ kekayaan, umur panjang dan nyawa musuh”:

  • Kekayaan berarti segala sesuatu yang ada padaku, kumiliki dan kukuasai, misalnya: tubuh yang seksi, tampan, gagah, wajah cantik, kesehatan, sakit, derita, bahagia, keterampilan, kecerdasan, aneka jenis harta benda dan uang, dst.. Menghayati budaya kehidupan berarti merawat, merasakan, menikmati dan memfungsikan kekayaan-kekayaan tersebut dalam Tuhan yang memberi kekuatan kepadaku, sehingga aku semakin cerdas beriman, suci, semakin dikasihi oleh dan mengasihi Tuhan maupun sesama dan saudara-saudari kita

  • Umur panjang juga merupakan perkara (perhatikan dan refleksikan bahwa tambah usia/umur berarti tambah dosanya, yang berarti tidak dapat mengurus pertambahan umur dengan baik), yang memang harus kita tanggung dalam Tuhan. Jika kita sungguh menanggung pertambahan umur dalam Tuhan, maka tambah usia, semakin tua berarti semakin suci, sebagaimana dikatakan dalam pepatah “Tua-tua keladi makin tua makin berisi”.
  • Musuh juga merupakan perkara. Musuh berarti apa-apa atau siapa saja yang tidak sesuai dengan selera pribadi atau keinginan pribadi, entah itu makanan atau minuman, manusia, pekerjaan, suasana, lingkungan hidup, pekerjaan dst.. Marilah kita hadapai ‘nyawa musuh’ dalam kasih dan pengampunan, sebagaimana diajarkan oleh Yesus :” Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu”(Mat 5:44).

    Jika kita mampu menanggung segala perkara dalam Tuhan, kiranya kita juga dapat berseru: "Sesungguhnya, inilah Allah kita, yang kita nanti-nantikan, supaya kita diselamatkan. Inilah TUHAN yang kita nanti-nantikan; marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita oleh karena keselamatan yang diadakan-Nya!”(Yes 25:9)
    Akhirnya:
    Pada suatau malam, seorang peziarah bermimpi masuk suatu toko baru. Betapa terkejutnya dia, karena Tuhan berjualan di situ. Ia bertanya, Tuhan, Engkau menjual apa di sini?
    Tuhan menjawab, Apa saja yang menjadi keinginan hatimu.
    Yakin bahwa yang dicarinya selama ini akan dapat ia temukan di toko Tuhan ini, maka peziarah itu berkata, Kalau demikian aku ingin membeli kedamaian hati dan ketentraman jiwa, kejujuran dan ketulusan, kebijaksanaan dan kesejahteraan, tidak hanya untuk saya, tetapi untuk seluruh bangsa bahkan seluruh dunia.
    Waktu itu Tuhan tersenyum dan menjawab, Ku kira engkau tidak mengerti dengan baik. Di sini tidak dijual buah. Yang ditawarkan adalah benih.

Kasih adalah Buah dari Pengampunan

Pada suatu ketika seorang siswa bertanya kepada gurunya: Untuk apa orang Katolik itu mengaku dosa kepada Pastor. Toh sebelum dan sesudah mengaku dosa juga yaa tetap gitu-gitu aja. Lagian seperti aku, khan ngga pernah berbuat dosa besar.

Nah kalau pertanyaan ini ditujukan kepada Anda, lalu apa jawabannya???

Pertama-tama, kita diajak menyadari betapa pentingnya kesadaran diri sebagai pendosa. Bagi seorang pendosa, kebutuhan yang mendasar adalah bahwa dirinya diampuni. Dan pengampunan itu hanya mungkin bila orang itu memiliki IMAN. Lalu tanda iman adalah? TOBAT. Orang dikatakan memiliki iman bila dia juga mempunyai disposisi atau sikap tobat yang terus menerus dalam hidupnya.

Sikap tobat itulah yang diungkapkan dalam sakramen rekonsiliasi. Oleh sebab itu dalam sakramen tobat itu bukan sekedar mengakukan dosa-dosa kita, tetapi lebih dari pada itu bahwa kita hendak mengungkapkan tobat kita di hadapan Allah, dengan mengakui dan menyesali lalu membangun sikap tobat yang konkrit dalam hidup kita.

Rahmat pengampunan itu hanya mungkin karena kasih Allah yang begitu besar kepada kita. Paulus mengatakan dalam 1Kor 15:8-10: Dan yang paling akhir dari semuanya,.......

Injil Luk 7:36-50, mengajak kita menyadari betapa penting yang namanya pengampunan. Bahwa dengan pengampunan, orang berubah menjadi baru.

Kesadaran dan penghayatan diri sebagai yang berdosa identik dengan kesadaran dan penghayatan diri sebagai yang beriman’ itulah kebenaran yang selayaknya diamini oleh siapapun yang mengaku diri sebagai orang beriman.

Perempuan pendosa sebagaimana diceriterakan dalam Warta Injil hari ini adalah yang telah menerima kasih pengampunan Tuhan, maka ia mempersembahkan kepada Tuhan apa yang telah diterimanya. Ia menjadi penjelmaan Allah yang pengampun dan penuh belas kasih, sehingga ia mau mempersembahkan kasih yang melimpah bagi dunia.

Semakin banyak dosa yang diakui, disesali dan ditobati, maka semakin besarlah rahmat Allah itu. Namun simon? Allah tidak dapat melakukan apa-apa.

Ibu Teresa dari Calcuta-India ketika memperoleh hadiah Nobel Perdamaian menjadi sorotan dan perhatian dunia, khususnya para wartawan. Ada seorang wartawan yang mewancarai Ibu Teresa, antara lain pertanyaan demikian: “Banyak orang melihat dan mengakui ibu sebagai santa yang masih hidup alias orang suci. Menurut ibu suci itu apa?” . Dengan rendah hati dan lemah lembut Ibu Teresa menjawab:”Orang suci itu bagaikan lobang kecil dimana orang melalui lobang tersebut dapat melihat siapa itu Tuhan, siapa sesama manusia dan apa itu harta benda”.

Kiranya melalui Ibu Teresa, apa yang ia katakan dan lakukan, kita dapat dan mengimani bahwa Tuhan itu Mahakasih dan Mahamurah, manusia adalah gambar atau citra Allah yang menjadikan kita semakin beriman, mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan.

Semoga Kita senantiasa membangun sikap tobat terus-menerus dalam hidup kita, sehingga kita beroleh rahmat yang berlimpah.

Aku harus Bangga sebagai Katolik

Saudara-saudariku yang dikasihi oleh Tuhan,
Saya amat yakin bahwa semua yang hadir di sini mengharapkan: keselamatan dan kebahagiaan, kedamaian hati dan ketentraman jiwa, kejujuran dan ketulusan, kebijaksanaan dan kesejahteraan. Apakah ada yang tidak mengharapkan itu semua??

Nah…itu jugalah yang diharapkan oleh Petrus Rasul Yesus dalam sabda Tuhan hari ini. Sehingga ketikaYesus memberitahukan bahwa diriNya akan menderita, sengsara bahkan dibunuh, Petrus mengatakan ITU TIDAK MUNGKIN (ay. 22). Bagi Petrus Yesus adalah Mesias sang penyelamat. Maka Ia pasti juga akan menyelamatkan diriNya. Dengan demikian pengakuannya (Minggu yang lalu) bahwa Yesus adalah Mesias sang penyelamat, sekaligus mengandung suatu harapan agar ia turut diselamatkan.
Tetapi…. apa yang dipikirkan oleh Petrus itu tidak sejalan dengan yang dipikirkan oleh Tuhan Yesus. Yesus justru menegur Petrus dgn keras, Enyahlah Iblis! (ay.23).

Saudara/i ku. Teguran ini bisa ditangkap seperti dampratan, yang sama kerasnya dengan yang diarahkan kepada penggoda di padang gurun. Terlebih bila diucapkan tanpa adanya jeda. Itulah reaksi keras Yesus.
Pertanyaannya: Mengapa Petrus ditegur?
Teguran ini secara harafiah dimaksudkan agar iblis (yang menguasai Petrus) itu pergi. Dengan kata lain dapat di serukan Pergilah dari hadapanKu hai Iblis! Iblis yang dimaksudkan di sini? Tak lain adalah keinginan manusiawi Petrus.

Saudara/i ku. Teguran Yesus itu harus dimengerti sebagai suatu sikap guru bijak yang mengingatkan muridnya akan suatu situasi krirsis yang mungkin akan terjadi. Mengharapkan keselamatan dan ketentraman jiwa bersama Yesus itu belum cukup, bila tidak dibarengi dengan adanya usaha untuk mencapai apa yang diharapkan itu.
Ada sebuah kisah dari negeri entah berantah.
Pada suatau malam, seorang peziarah bermimpi masuk suatu toko baru. Betapa terkejutnya dia, karena Tuhan berjualan di situ. Ia bertanya, Tuhan, Engkau menjual apa di sini?
Tuhan menjawab, Apa saja yang menjadi keinginan hatimu.
Yakin bahwa yang dicarinya selama ini akan dapat ia temukan di toko Tuhan ini, maka peziarah itu berkata, Kalau demikian aku ingin membeli kedamaian hati dan ketentraman jiwa, kejujuran dan ketulusan, kebijaksanaan dan kesejahteraan, tidak hanya untuk saya, tetapi untuk seluruh bangsa bahkan seluruh dunia.
Waktu itu Tuhan tersenyum dan menjawab, Ku kira engkau tidak mengerti dengan baik. Di sini tidak dijual buah. Yang ditawarkan adalah benih.


Saudara-saudariku yang dikasihi oleh Tuhan,
Apa yang kita harapkan itu sering kali adalah buahnya. Dan buah itu tidak mungkin ada ketika tidak ada benih yang ditanam, dirawat, dipelihara dst. Maka kedamaian hati dan ketentraman jiwa, kejujuran dan ketulusan, kebijaksanaan dan kesejahteraan yang semua itu adalah buahnya. Tidahk mungkin serta merta kita dapatkan,. Kita harus menanam, merawat, menjaga dan memelihara sehingga apa yang kita harapkan atau buah itu bias kita nikmati. Benih itu mensyaratkan adanya kemauan untuk menyemai, menanam, merawat dan akhirnya baru menuai.
Bagi Paulus dalam bacaan II, Ia mengajak atau menasihatkan agar kita mulai menanam kekudusan hidup, menyemainya, merawat, memelihara dan akhirnya menuai dalam hidup kita. Tentu ini tak sekedar menjadi serupa dengan dunia ini, dengan kebanyakan orang, namun mempunyai sikap yang tegas akan keadaan yang ada dalam hidup masing-masing.
Bagi Yeremia seorang Nabi, Rasul dan orang beriman yang sejati adalah mereka yang memiliki sikap bahwa “dalam hatiku ada sesuatu seperti api yang menyala-nyala, terkurung dalam tulang-tulangku...” Sesuatu itu adalah Roh Allah yang diandalkan dan bukan roh yang lain seperti yang dilakukan Petrus yang mengandalkan ambisi manusiawinya.
Bagi kita, Harapan kita tadi bisa terwujud bila kita juga mengusahakannya.
Kita juga dapat menanam sesuatu yang baik, menyemainya, merawat, memelihara dan akhirnya menuai dalam hidup kita. Tentu hanya dengan Roh Allahlah. Kita bisa sampai kepada harapan-harapan kita.

KECOCOKAN

Mrk 8:11-13
Yak 1:1-11
Kesalah-pahaman atau ketidak-cocokan, mungkinkah terjadi di dalam hidup dan kesibukan sehari-hari, entah di dalam keluarga, masyarakat atau tempat kerja? SANGAT MUNGKIN. Orang sering menghadapi kesalah-pahaman atau ketidak-cocokan satu sama lain yang disebabkan oleh alasan-alasan tertentu. Kesalah-pahaman atau ketidak-cocokan tersebut bahkan dapat memuncak menjadi saling `bermusuhan' yang sulit didamaikan. Tak jarang bahkan ada salah satu pihak yang berusaha untuk menjatuhkan pihak lain.

Ketidak-cocokan itu ditunjukkan oleh orang-orang Farisi terhadap Yesus dengan mencobaiNya: meminta aripadaNya suatu tanda dari sorga. Orang-orang Farisi tampak tertutup terhadap atau menolak Yesus. Maka Yesus pun tidak menanggapi permintaan tersebut, melainkan meninggalkan mereka. Pengalaman ini kiranya baik menjadi permenungan atau pedoman hidup setiap orang.
"Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan" (Yak 1:2-3), demikian nasihat Yakobus. Berbagai pencobaan merupakan tantangan yang mendewasakan, membina dan mendidik kita untuk tumbuh berkembang sebagai pribadi cerdas dalam beriman. Setiap orang dituntut untuk peka akan Roh Tuhan yang senantiasa mendapingi, sehingga orang dimampukan tekun untuk maju terus dalam pengabdian kepada Allah. Di sinilah orang dihadapkan pada sutau pilihan atau discernment. Orang dituntut untuk membedakan Roh yang menguasai hidupnya. Roh baik atau buruk yang menjadi daya dalam seluruh hidupku? Ciri dari roh buruk ialah menyesakkan, menyedihkan dan menghalang-halangi dengan alasan-alasan palsu, supaya orang tidak maju lebih lanjut. Cirikhas roh baik ialah memberi semangat dan kekuatan, hiburan, air mata, inspirasi serta ketenangan, membuat semuanya menjadi mudah dengan menyingkirkan segala halangan, supaya orang maju lebih lanjut dalam menjalankan kebaikan" (St.Ignatius Loyola, LR no 315).

On going education atau On going formation. Itulah motto yangdapat mendorong seseorang untuk bisa bergerak maju. Pembinaan atau pendidikan tidak hanya terjadi secara formal di tempat-tempat pendidikan atau pembinaan, tetapi juga dan mungkin pertama-tama dan terutama dalam lingkungan hidup sehari-hari, entah didalam keluarga, masyarakat maupun tempat kerja. Pendidikan atau pembinaan itu dapat dilakukan melalui indera penglihatan dan pendengaran, melihat dan mendengarkan apa yang hidup dan terjadi di lingkungan hidupnya.

Kiranya sejak bayi seorang anak/manusia telah dapat melihat dan mendengarkan dengan baik, dan mungkin bayi atau anak-anak lebih baik dalam hal melihat atau mendengarkan daripada orangtua atau orang dewasa. Apa yang dilihat dan didengarkan membina dirinya. Sebagai orang dewasa ketika kita melihat dan mendengarkan ada sesuatu yang tidak baik kiranya kita tidak dapat tinggal diam dan tergerak untuk memperbaikinya.

Ada aneka pencobaan dan tantangan. Namun percayalah bahwa dengan semangat iman, setiap orang akan mampu menghadapi dan mengatasi aneka pencobaan dan tantangan. "Sebelum aku tertindas, aku menyimpang, tetapi sekarang aku berpegang pada janji-Mu. Engkau baik dan berbuat baik; ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu" (Mzm 119:67-68.71)

Dipanggil untuk tinggal bersama Yesus

Yoh 13:16-20


Kajian Teks Kitab Suci
Perikopa ini merupakan penggalan kisah pembasan kaki yang dilakukan oleh Yesus. Penggalan kisah ini juga menjadi bagian wejangan perpisahan Yesus. Perikopa ini terbagi menjadi 3 bagian :
pertama pengakuan Yesus bahwa Ia utusan Allah, Bapa (16-17). Ia mengakui diri sebagai yang diutus. Ia mau menegaskan bahwa seorang utusan itu tidak lebih tinggi dari yang mengutus.

Kedua, Yesus mengungkapkan pengetahuan ilahiNya bahwa ada yang masih tidak bersih di antara para murid (18-19). Ia lah murid yang menolak ambil bagian dalam kebersamaan dengan Yesus. Mzm 41:10 dikutip untuk menunjuk akan digenapinya nas itu. Ungkapan mengacungkan kaki itu dalam ungkapan aslinya adalah mengangkat tumit – menunjuk arti penghinaan, ketidaksetiaan sahabat.

Ketiga, menegaskan soal ‘status’ orang yang menerima Dia yang diutus sekaligus Dia yang mengutus (20). Siapapun akan memperoleh ‘status’ sebagai yang diutus atau utusan.


‘Status’ kita sebagai utusan
Para murid adalah mereka yang dipanggil dan akhirnya tinggal bersama Yesus. Yesus jelas mengenal orang-orang yang tinggal bersamaNya, bahkan kharakter mereka masing-masing. Mereka dikenal oleh Yesus karena relasi kedekatannya dengan Yesus. Namun Yesus mengenal mereka juga karena pengetahuan ilahi Yesus. Apakah mereka yang tinggal bersama dengan Yesus itu senantiasa setia kepada Yesus. Yesus melalui sabdaNya menjawab TIDAK. Ia menunjuk seorang yang menolak ambil bagian dalam kebersamaan dengan Yesus, meski selalu tinggal dekat dengan Yesus. Yudas menjadi simbol mereka yang tidak setia untuk ambil bagian dalam kebersamaan dengan Yesus.

Refleksi
Siapapun yang menerima dia yang telah kuutus, ia menerima Aku. Dan siapa yang menerima aku, ia menerima Bapa yang telah mengutus Aku. Itu artinya sipapun yang telah memperoleh rahmat babtisan, ia menerima Yesus sekaligus Bapa yang mengutusNya. Orang itu dimasukkan dalam persatuan dengan Yesus dan BapaNya dalam Roh Kudus untuk meneruskan perutusan itu.
Aku yang telah dimetraikan dengan babtis, saat ini tinggal bersama Yesus. Aku telah memilih dengan kesadaran, kebebasan dan pengetahuanku untuk menerima Dia sebagai utusan. Yesus pasti mengenal ku.
Pertanyaan bagiku, apakah aku sungguh-sungguh menjadi salah satu dari orang yang ingin tinggal bersama Yesus. Apakah aku mengenal Yesus? Apakah aku setia tinggal dalam kebersamaan dengan Yesus? Pada saat apa?

Hidup dalam Panggilan

Saudara-i-ku yang dikasihi oleh Tuhan,
Pada hari ini, sabda Tuhan berbicara tentang panggilan hidup.

Dalam bacaan pertama (Yes 49:3.5-6) dipaparkan bagaimana Yesaya menyadari panggilannya sebagai Hamba Tuhan yang tugasnya memulihkan Israel sesudah pembuangan, baik dalam sisi moral maupun spiritual. Misi yang harus diemban adalah bagaimana membawa orang kepada Allah yang benar, bagaimana membawa israel itu dari kegelapan menuju cahaya ilahi, menjadikan Allah sebagai sandaran hidup mereka.

Dalam bacaan kedua (1Kor 1:1-3) dipaparkan bagaimana Paulus menyadari panggilannya sebagai Hamba Tuhan - Rasul, saksi pilihan Tuhan. Ini adalah panggilan menuju kesucian. Misi yang hars diembahn membawa semakin banyak orang yang akan dikuduskan dalam Kristus.

Dlm bacaan Injil (Yoh 1:29-34) dipaparkan bagaimana Yohanes Pembabtis menyadari panggilannya sbg Hamba Tuhan - Bentara Kristus yang tugaskan mengarahkan orang bukan kepada dirinya, melainkan kepada Kristus, Sang Anak Domba Allah itu.

Selain yang disebutkan dalam bacaan-bacaan hari ini, kita tentu mengenal tokoh yang sangat dekat dengan hidup kita yaitu Maria. Maria juga menyadari panggilannya sebagai Hamba Tuhan, “Sesungguhnya aku ini Hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanMu” (Luk 1:38). Maka apapun resikonya ia setia pada panggilannya itu.

Saudara-i-ku yang dikasihi oleh Tuhan,

Kita juga diajak untuk menyadari panggilan hidup kita masing-masing. Panggilan utama kita dalah sebagai apa? Murid Kristus. Karena kita sudah dimetraikan menjadi milik Kristus. Tetapi panggilan di sini bisa kita pahami sebagai peran kita atau status kita dalam hidup di antara orang lain : sebagai bapak, ibu, anak, guru, murid, dosen, mahasiswa, ketua lingkungan, ketua wilayah, ketua RT dst.

Dengan menyadari panggilan hidup kita masing-masing berarti kita diajak untuk memahami bahwa peran atau status kita itu bukan sebuah kedudukan atau sarana untuk mengangkat diri atau harga diri. Kita diajak untuk memahami bahwa peran atau setatus kita itu berisi suatu amanah atau tugas pengabdian yang harus kita laksanakan sebagai wujud tanggung jawab.

Saudara-i-ku yang dikasihi oleh Tuhan,

Di sinilah kita memiliki peran atau status sebagai Murid Kristus. Pengangkatan sebagai Murid Kristus bukan untuk gagah-gagahan, merasa paling benar dan suci tetapi justru kita dituntut untuk bertindak sebagai Hamba Tuhan, yang tugasnya melayani atau mengabdi dengan sebaik-baiknya. Tetapi lebih dari itu bahwa kita dituntut untuk membawa terang. Artinya bahwa bagaimana dengan kehadiranku (sebagai bapak, ibu, guru, .....) orang sungguh dapat sampai kepada Allah.

Kita dapat sungguh menjadi Hamba Tuhan yang membawa terang bila kita bertindak dan hidup sebagai Anak-anak Allah. Yesus disebut sebagai Anak Allah bukan berarti harafiah (aku dilahirkan dari atau oleh Allah), melainkan adanya suatu relasi atau hubungan yang mendalam seperti relasi anak dan bapak (kedekatan, keakraban, perhatian, peduli....biasanya tumbuh dari kecil atau saat mulai ada).