Kamu harus memberi mereka makan!

'dijepret' 24 Juni 2014, di sudut kota Milan
Salah satu kebutuhan primordial manusia adalah lapar. Tetapi Sabda Tuhan hari ini mengatakan bahwa lapar tidak berarti hanya membutuhkan makanan sehari-hari, tetapi semua yang diperlukan untuk manusia untuk hidup bermartabat.
Kita dapat membacanya dalam Markus 6:34-44, "Yesus melihat sejumlah besar orang , maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala". Orang-orang itu lapar akan kebenaran, petunjuk arah dan panduan yang pasti bagi hidupnya. Dan tampaknya Yesus tahu yang mereka butuhkan, dan itu lah yang pertama-tama dipenuhinya.
Yesus juga berseru, "Kamu harus memberi mereka makan!" Tampaknya ini adalah tanggapan Yesus atas usulan para murid untuk menyuruh mereka pergi dan mencari atau membeli makan sendiri-sendiri. Yesus justru meminta para murid untuk memberi makan kepada sejumlah orang itu dengan apa yang mereka miliki.

Rasanya bukan sekedar ajakan, melainkan sebuah perintah mendesak yang menuntut tanggungjawab. Perintah untuk peduli atas kebutuhan manusia, sesama kita yang berkekurangan, sedang dalam kesulitan, sedang berduka, sedang ragu-ragu, sedang putus asa, dan terlebih sedang terpisah dari Allah. Mereka sedang ada di dekat kita, di sekitar kita.


Belajar dari Perkara Kecil

Minggu Biasa XXXIII 
Mat 25:14-30; 1Tes 5:1-6

Menjelang akhir Tahun Liturgi, Gereja selalu mengingatkan kita akan hari kedatangan Tuhan. Melalui St Paulus kita diingatkan, “...kamu sendiri tahu benar-benar, bahwa hari Tuhan datang seperti pencuri di waktu malam” (1Tes 5:2). Tetapi, meski kita mengetahuinya dan selalu diingatkan, kadang kesibukan hidup kita tak memberikan peluang untuk memikirkannya. Bahkan mungkin tak lagi terngiang kata-kata Tuhan ini, “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semua yang lain akan ditambahkan kepadamu” (Mat 6:33).

Pada hari ini, Yesus mengajar melalui perumpamaan. Tiga orang hamba diberi "modal" sebesar lima talenta, dua talenta dan satu talenta. Setiap orang diberi talenta agar bersiap diri menyambut Allah yang datang meraja. Maka dapat dimengerti, bila dua hamba yang baik dan setia segera ‘pergi’ untuk mengembangkan talentanya. Kala Tuhan datang, mereka telah melipatgandakan talentanya; bukan untuk kepentingan pribadi, tapi demi kepentingan bersama, kemuliaan Pemberi talenta.

Mari kita pahami pengertian talenta, bukan hanya sebatas bakat atau potensi, melainkan mewakili semua hal yang Tuhan percayakan kepada kita. Pertama-tama adalah kepercayaan: pekerjaan (student, guru, karyawan..dst), pelayanan, komunitas, propinsi, keuskupan dan sebagainya. Kita dapat mencermatinya dan bertanya: bagaimana kita mengerjakan semua itu? Bagaimana saya memprioritaskan talenta itu?

Rm. Leo Agung SCJ, foto pada musim panas 2013 di Tarquinia
Menarik sekali, setelah majikan itu meminta perhitungan dari ketiga hambanya, hamba yang dipercayakan mengelola lima talenta membawa laba lima talenta, pun dengan hamba yang dipercayakan mengelola dua talenta membawa laba dua talenta. Maka tuan itu memberi penilaian dan pujian, "Baik sekali perbuatanmu itu, hai hamba yang baik dan setia! Karena engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara kecil, maka aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu" (Mat 25:21.23).

Jelas bahwa: tanggung jawab atas talenta tidak akan pernah berhenti. Pun tidak ada juga kesempatan untuk membangga-banggakan diri dengan apa yang sudah kita lakukan. Dengan kata lain, tidak ada kata berhenti untuk berbuat baik.
Jelas pula bahwa: hanya mereka yang bertanggung jawab atas talenta itu, dialah yang memiliki hak untuk masuk dalam kebahagiaan Sang Pemberi talenta.

Paling tidak ada dua sikap dasar yang harus kita miliki sebagai orang-orang yang telah diberi kepercayaan oleh Tuhan.
Sikap PERCAYA --- kita harus percaya sepenuhnya kepada Tuhan yang telah mempercayakan ”talenta” itu kepada kita. Seperti yang dibuat oleh hamba yang pertama dan kedua yang menunjukkan tanggung jawab atas talenta. Hamba yang menyembunyikan talentanya adalah seorang hamba yang menuduh tuannya sebagai seorang yang kejam.
Sikap SETIA --- kita harus setia mengerjakan apa yang menjadi bagian kita. Sang tuan dalam perumpamaan itu tidak mempersoalkan berapa banyak keuntungan yang diperoleh, melainkan melihat kesungguhan hamba-hambanya mengelola apa yang telah dipercayakannya kepada mereka. Kesungguhan dalam setiap hal yang dilakukan oleh seseorang, menjadi wujud konkrit dari kesetiaannya.

Lewat perkara kecil orang dapat mengukur kemampuan, kesetiaan dan tanggung jawabnya atas perkara besar yang mungkin akan dipercayakan orang kepadanya.