Belajar dari Perkara Kecil

Minggu Biasa XXXIII 
Mat 25:14-30; 1Tes 5:1-6

Menjelang akhir Tahun Liturgi, Gereja selalu mengingatkan kita akan hari kedatangan Tuhan. Melalui St Paulus kita diingatkan, “...kamu sendiri tahu benar-benar, bahwa hari Tuhan datang seperti pencuri di waktu malam” (1Tes 5:2). Tetapi, meski kita mengetahuinya dan selalu diingatkan, kadang kesibukan hidup kita tak memberikan peluang untuk memikirkannya. Bahkan mungkin tak lagi terngiang kata-kata Tuhan ini, “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semua yang lain akan ditambahkan kepadamu” (Mat 6:33).

Pada hari ini, Yesus mengajar melalui perumpamaan. Tiga orang hamba diberi "modal" sebesar lima talenta, dua talenta dan satu talenta. Setiap orang diberi talenta agar bersiap diri menyambut Allah yang datang meraja. Maka dapat dimengerti, bila dua hamba yang baik dan setia segera ‘pergi’ untuk mengembangkan talentanya. Kala Tuhan datang, mereka telah melipatgandakan talentanya; bukan untuk kepentingan pribadi, tapi demi kepentingan bersama, kemuliaan Pemberi talenta.

Mari kita pahami pengertian talenta, bukan hanya sebatas bakat atau potensi, melainkan mewakili semua hal yang Tuhan percayakan kepada kita. Pertama-tama adalah kepercayaan: pekerjaan (student, guru, karyawan..dst), pelayanan, komunitas, propinsi, keuskupan dan sebagainya. Kita dapat mencermatinya dan bertanya: bagaimana kita mengerjakan semua itu? Bagaimana saya memprioritaskan talenta itu?

Rm. Leo Agung SCJ, foto pada musim panas 2013 di Tarquinia
Menarik sekali, setelah majikan itu meminta perhitungan dari ketiga hambanya, hamba yang dipercayakan mengelola lima talenta membawa laba lima talenta, pun dengan hamba yang dipercayakan mengelola dua talenta membawa laba dua talenta. Maka tuan itu memberi penilaian dan pujian, "Baik sekali perbuatanmu itu, hai hamba yang baik dan setia! Karena engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara kecil, maka aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu" (Mat 25:21.23).

Jelas bahwa: tanggung jawab atas talenta tidak akan pernah berhenti. Pun tidak ada juga kesempatan untuk membangga-banggakan diri dengan apa yang sudah kita lakukan. Dengan kata lain, tidak ada kata berhenti untuk berbuat baik.
Jelas pula bahwa: hanya mereka yang bertanggung jawab atas talenta itu, dialah yang memiliki hak untuk masuk dalam kebahagiaan Sang Pemberi talenta.

Paling tidak ada dua sikap dasar yang harus kita miliki sebagai orang-orang yang telah diberi kepercayaan oleh Tuhan.
Sikap PERCAYA --- kita harus percaya sepenuhnya kepada Tuhan yang telah mempercayakan ”talenta” itu kepada kita. Seperti yang dibuat oleh hamba yang pertama dan kedua yang menunjukkan tanggung jawab atas talenta. Hamba yang menyembunyikan talentanya adalah seorang hamba yang menuduh tuannya sebagai seorang yang kejam.
Sikap SETIA --- kita harus setia mengerjakan apa yang menjadi bagian kita. Sang tuan dalam perumpamaan itu tidak mempersoalkan berapa banyak keuntungan yang diperoleh, melainkan melihat kesungguhan hamba-hambanya mengelola apa yang telah dipercayakannya kepada mereka. Kesungguhan dalam setiap hal yang dilakukan oleh seseorang, menjadi wujud konkrit dari kesetiaannya.

Lewat perkara kecil orang dapat mengukur kemampuan, kesetiaan dan tanggung jawabnya atas perkara besar yang mungkin akan dipercayakan orang kepadanya.

Pesta Pemuliaan Salib Suci

Simbol dari kasih bukanlah hati melainkan salib. Sebab hati suatu saat akan berhenti detaknya, tetapi Manusia yang tersalib itu tidak akan berhenti mengasihi. 
Bil 21,4-9; Fil 2,6-11; Yoh 3,13-17 
Hari ini kita merayakan pesta Pemuliaan Salib Suci. Mengapa menggunakan kata PEMULIAAN? Jelas bahwa dengan kata pemuliaan, salib tidak ingin dihadirkan kepada seluruh umat beriman dengan aspek penderitaan, keras dan beratnya hidup, atau sulitnya mengikuti Kristus. Tetapi, salib hadir sebagai sumber yang membanggakan dan yang membesarkan hati.
Secara historis, pesta ini juga mau mengingatkan kita tentang dua peristiwa besar dalam sejarah iman Kristiani. Pertama, adalah peresmian dua basilika pada tahun 325 oleh Kaisar Konstinus (di Golgota dan di Makam Yesus).  Kedua, kemenangan Kristen atas Persia (abad VII) yang diartikan kembalinya salib dari tangan Persia ke Yerusalem.
Seni Romawi Kuno
Lebih dari itu, pesta ini merupakan ungkapan iman Gereja terhadap Salib Yesus sebagai jalan keselamatan. Palulus menyajikan sebuah himne terkenal, di mana salib dipandang sebagai alasan atas "peninggian" Kristus. “...Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai wafat, bahkan sampai wafat di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia, dan menganugerahkan-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuklututlah segala yang ada di langit, dan yang ada di atas serta di bawah bumi, dan bagi kemuliaan Allah Bapa segala lidah mengakui, “Yesus Kristus adalah Tuhan.”
Ketika saya mencermati lukisan atau mozaik salib di beberapa Gereja atau Basilika atau biara-biara mosnatik, saya menemukan dua kharakter seni yang mencolok. Pertama, seni Romawi Kuno (abad IV) yang menampilkan salib dengan wajah Yesus mengarah ke depan, mata terbuka, tanpa bayangan penderitaan, tidak lagi dinobatkan duri, tetapi dengan permata. Dalam bentuk mozaik, sering ada dekorasi yang bercahaya dan ada ditambahkan tulisan “Salvezza del mondo” atau “Salus Mundi” artinya keselamatan dunia.
Seni Gotik / Modern
Kedua, Seni Gotik (modern, mulai abad XII) yang menampilkan salib dengan tampak ekstrim, tangan dan kaki menggeliat, sekarat di bawah seikat duri, seluruh tubuh ditutupi dengan luka. Tampak dramatis, realistis, menyedihkan - mewakili lintas mata - dingin. Salib diungkapkan sebagai simbol penderitaan dan kejahatan di dunia dan realitas mengerikan dari kematian.
Dua kharakter seni ini tampaknya mewakili dua sudut pandang. Di satu sisi Salib dipandang sebagaipenyebab", itulah yang biasanya salib menghasilkan: kebencian, kedengkian, ketidakadilan, dosa. Di sisi lain Salib dipandang sebagai “bukan penyebab” tetapi efek dari salib, atau apa yang dihasilkan dari salib: rekonsiliasi, perdamaian, kemuliaan, keamanan, kehidupan kekal. 

Memuliakan atau meninggikan salib berarti meninggikan cinta, Yesus Yang Tersalib telah meninggikan cinta. Jalan yang ditempuh: Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai wafat, bahkan sampai wafat di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia. Bagi kita, meninggikan salib berarti membuka hati kita untuk menyembah dan mengagumi. Dengan demikian, akan menghasilkan bagi kita dan orang di sekitar kita suatu rekonsiliasi, perdamaian, kemuliaan, keamanan, kehidupan kekal.