Anugerah Allah akan membebaskan hati yang haus dan lapar untuk keadilan

Lukas 19:1-10
Penginjil Lukas mengetengahkan kepada kita seorang tokoh yang namannya tentu kita mengenalnya, yaitu Zakheus. Apa yang melintas spontan dalam pikiran kita ketika kita mendengar nama Zakheus? Setidaknya ada dua identifikasi - kalau tidak mau dikatakan cap atau seteriotif - yang mudah diingat: tubuhnya yang pendek dan seorang pendosa karena pekerjaannya sebagai pemungut cukai.

Tetapi... kalau kita membaca, mendengarkan dan masuk melibatkan diri dalam dinamika kisah tentang Zakheus, kita akan menemukan dua bagian pokok yang dapat kita cermati:
Pertama, «Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek. Maka berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus».

Ini adalah kecenderungan manusia, kecenderungan kita juga. Keinginan untuk berada di atas agar bisa melihat kehidupan kita dan terlebih dapat melihat dan mengontrol orang lain, menilai orang lain bahkan tak jarang kita jatuh pada penilaian negatif atau mungkin malah menghakimi. Tetapi rasanya, penasaran Zakheus amat positif, ia bukan saja penasaran tetapi juga kagum. Kita bisa cermati bagaiamana reaksi Zakheus selanjutnya.

Kedua, «Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita. Ia berdiri dan berkata kepada Tuhan: Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat».

Kecenderungan manusia, kecenderungan kita juga adalah ingin berlama-lama berada di ketinggian karena kita menemukan sensasi tersendiri bisa melihat kehidupan kita, terlebih dapat melihat dan mengontrol orang lain, menilai orang lain. Pertanyaannya: mengapa Zakheus segera turun dari pohon, dari situasi bebas mengamati orang di sekitar dan juga melihat Yesus? Mengapa?

Pertama-tama saya menduga bahwa Zakheus mungkin tak pernah berpikir, tak pernah mempunyai keberanian untuk mengundang Yesus ke rumahnya, karena ia tahu telah dianggap berdosa oleh orang-orang di sekitarnya, karena pekerjaannya sebagai kepala pemungut cukai. Tetapi justru Yesus lebih dahulu menawarkan untuk singgah ke rumahnya.

Kemungkinan yang kedua - mengapa ia segera turun dari pohohon ara-, adalah daya tarik Yesus yang memang luar biasa. Zakheus merasakan sesuatu: Yesus tidak menghakiminya, seperti orang-orang yang ada di sekitarnya. Bahkan Yesus menyatakan diri untuk pergi ke rumahnya, singgah dan membawa keselamatan. Betapa Zakheus merasa dibesarkan pengharapannya, diangkat martabatnya, dimanusiakan kembali.

Zakheus benar-benar mengamini apa yang selama ini didengarnya. Ia merasakan bahwa Yesus sang nabi itu benar-benar mengasihinya, mengasihi Anda dan saya tanpa syarat. Allah mencari kita, ia mengambil inisiatif; Allah mengasihi tanpa penghakiman.

Maka bisa kita pahami bahwa rasa penasanran Zakheus, kekaguman nya terhadap Yesus melahirkan sebuah pertobatan yang juga besar. ”Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.

Ketika anugerah Allah bertemu dengan hati haus dan lapar untuk keadilan, selalu terjadilah keajaiban. Pertanyaan singkat untuk kita renungkan: Apakah saya, Anda haus dan lapar akan keadilan? Ataukah saya, Anda haus akan keserakahan dan ingin berlama-lama tinggal di ketinggian?

Tuhan senantiasa menyertai niat-niat baik kita. Amin.

Simon dan Yudas Tadeus, teladan iman

Hari ini kita merayakan Pesta St. Simon dan Yudas; dua rasul yang kita hanya sedikit tahu atau sedikit mengenal mereka. Simon kita kenal sebagi keturunan Zelot, yang bersemangat. Yudas disebut juga Tadeus berarti murah hati. Kita yakin bahwa kehadiran mereka dalam dinamika dengan rasul-rasul lainnya dan dengan Yesus Sang Guru tentu lebih dari apa yang kita alami.

Gereja San Martino, Francis (doc.6/6/14)
Dalam bacaan Ijil hari ini (Lukas 6,12-19), Yesus memilih kedua rasul ini jelas atas nama tindakan Allah. Yesus memilih mereka dari orang-orang biasa, orang-orang yang tidak memiliki pendidikan khusus, untuk tugas yang luar biasa. Dan bacaan Injil yang telah kita baca dan dengarkan baru saja mengajar banyak hal kepada kita. Setidaknya ada tiga hal yang dapat kita garis bawahi dari pewartaan Yesus:

Pertama, doa. Bagi Yesus doa menjadi saat yang amat penting. Maka tak mengherankan bila ia memilih tempat yang istimewa: mendaki sebuah bukit, sebuah situasi yang sungguh spesial di mana Ia bisa secara bebas berada bersama Tuhan, berbicara kepadaNya. Bila kita cermati, doa menjadi amat penting untuk memulai setiap karyaNya. Mengapa? Karena Ia percaya bahwa bukan semata keinginan dan kehendakNya yang terjadi, melainkan  hanya kehendak Allah yang terjadi. Kedekatan relasinya dengan BapaNya membuat Ia mampu melakukan banyak mujizat. Adalah sebuah undangan bagi kita untuk mempunyai kedekatan relasi yang intim dengan Allah, sehingga kita juga mampu mengenali kehendak Allah dalam setiap waktu dalam hidup kita. 

Kedua, panggilan. Yesus memanggil murid-murid-Nya dan memilih dari antara mereka dua belas orang yang disebut-Nya rasul. Yesus memanggil, memilih dan mengajak mereka membentuk sebuah komunitas yang menghidupi semangat belajar untuk belajar. Kita ingat bagaimana dinamika kelompok 12 itu. Mereka bertekun dalam doa, ekaristi dalam pengajaran, dst.
Dan Yesus juga memanggil Anda dan saya untuk bersedia menjadi murid bagi saudari dan saudara kita, yang mengisyaratkan kerendahan hati dan kesiapsediaan untuk belajar. dan sekaligus guru bagi saudari dan saudara kita, yang mengisyaratkan kerendahan hati untuk membagikan apa yang mereka perlukan. Sehingga antara satu dengan yang lainnya saling saling mendukung, melengkapi dan berbagi.

Ketiga, karya atau peutusan. Begitu mengagumkan. Buah dari ketekunan doaNya, kekompakanNya dengan komunitas 12 rasul, menjadikan banyak orang diselamatkan, disembuhkan, diangkat kembali dari kejatuhan mereka. Ia berkarya dan melayani banyak orang. Ia mengajarkan kebaikan, menyembuhkan pelbagai kelemahan dan membebaskan dengan mengusir pelbagai setan dan roh jahat. Demikian pun dengan para Rasul.
Kitapun dipanggil untuk terus berkarya, saling mengajarkan kebaikan, saling menyembuhkan kelemahan dan saling memberikan pembebasan dari plbagai bentuk kejahatan.

Mari kita penuhi undangan Tuhan untuk memiliki relasi dekat denganNya, melalui setiap doa kita; mari kita dengarkan panggilanNya untuk menjadi murid yang gigih belajar dan mari kita menghidupinya dalam karya, profesi dan tugas harian kita. Dan semoga Tuhan senantiasa menyertai niat-niat baik kita. Amin.

Berdoa berarti datang kepada Tuhan dengan segala pengharapan

Lukas 11,5-13
Kita tahu bahwa Yesus adalah seorang pendoa. Sebelum dibabtis oleh Yohanes, Yesus berdoa. Sebelum Ia menetapkan 12 muridnya sebagai Rasul, Ia juga berdoa semalaman. Ia juga mengajak para muridNya, seperti Petrus, Yakubus dan Yohanes untuk pergi berdoa. Yesus hendak membiarkan kekuatan ilahi menyertai setiap saat hidupnya. Dan penting diketahui bahwa sebelum Ia mengajar murid-muridnya berdoa, Yesus sendiri selalu berdoa terlebih dahulu.

Pengajaran Yesus tentang doa kepada para muridNya, mau menekankan kepada kita tentang dua hal mendasar di dalam doa, yaitu: apa yang harus kita lakukan dan apa yang harus kita yakini.
Rm. Y. Kurkowski SCJ sedang berdoa di Gereja St. Alfonsus, Roma (Sept 2013)
Pertama, Apa yang harus kita lakukan? Kita tahu bahwa Yesus menggunakan tiga kata kerja untuk mendorong para murid berdoa kepada Allah BapaNya. Minta, cari dan ketok! Mintalah! Ketika kita meminta kepada Bapa, berarti kita mengakui bahwa Allah Bapa adalah sumber segala berkat yang kita butuhkan. Carilah! Sebuah perintah untuk mencari kehendak Allah. Allah tahu yang terbaik untuk hidup kita, Allah mengenali isi hati kita, tetapi, terkadang kita tidak sadar dan bahkan tidak tahu menahu apa yang Bapa ingin kerjakan melalui dan di dalam anak-anak-Nya. Ketoklah! Ada pintu yang menjadi gerbang bagi kita dan acapkali tidak bisa kita buka sendiri karena keterbatasan kita. Dan hanya Allah yang dapat membukakannya bagi kita (ay 9-10).
Sekali lagi hal pertama yang amat mendasar adalah: apa yang harus kita lakukan atau apa yang harus kita buat dalam doa. Dalam realitas hidup kita bersama orang lain, berbuat sesuatu untuk orang yang membutuhkan adalah sesuatu yang selayaknya spontan terjadi dalam dinamika kehidupan sosial kita.

Kedua, Apa yang harus kita yakini? Dengan meminta, mencari dan mengetok, kita diajak untuk tidak ragu datang kepada Bapa kita, ketika membutuhkan pertolongan. Datanglah dengan kesungguhan hati dan kesadaran bahwa tanpa Tuhan, kita bukan siapa-siapa. Oleh karena itu, kita harus yakin bahwa Allah adalah Bapa yang Maha Baik. Keberanian dan kesungguhan kita datang kepadaNya adalah karena Ia adalah Bapa yang baik. Ia tidak mungkin merencanakan sesuatu yang buruk untuk anak-Nya. Karena itu jangan datang kepada Tuhan dengan prasangka dan tuduhan yang buruk terhadap Tuhan, melainkan datanglah dengan pengharapan (ay 11-12).

Berdoa berarti datang kepada Tuhan dengan segala pengharapan. Pertama-tama dalam doamu biarlah kekuatan ilahi menyertai setiap saat hidupmu. Dan akhirnya, jika Anda dan juga saya ingin menjadi pendoa, marilah kita selalu belajar dari Sang Guru kita, yakni Yesus. Dan saat ini juga seusai membaca renungan ini ambilah waktu untuk berdoa.

Tuhan akan menyertai niat baik Anda.

Hati yang membebaskan


Bacalah Injil Yesus Kristus menurut Matius 9,9-13

Bacaan Injil mengetengahkan kepada kita salah satu rasul Yesus bernama Matius. Adalah Lewi, nama aslinya sebelum menjadi anggota kelompok rasul. Ia adalah seorang pemungut cukai yang kaya dalam hal harta. Dikisahkan dalah kitab suci bahwa dia mengadakan jamuan makan bersama, untuk Yesus dan para pemungut cukai atau petugas pajak.

Kita tahu bahwa pada masa itu, orang cenderung tidak suka berurusan dengan petugas pajak. Petugas pajak dicap sebagai orang yang tidak jujur; bukan hanya menipu rakyat, mereka juga mengelabui pemerintah. Mereka dianggap memperkaya diri dengan mencari untung dari orang kaya yang tidak mau membayar pajak dengan semestinya. Selain itu, mereka juga dipandang sebagai kaki-tangan penjajah Romawi.

Saudari dan saudaraku, Anda bisa membayangkan dan bertanya: sejatinya Matius bahagia atau tidak dalam hidupnya? Dan Yesus tahu apa yang dirasakan oleh Matius sebenarnya. Ada kerinduan yang amat dalam di hati Matius, kerinduan untuk disapa, untuk diajak bicara, untuk didengarkan, untuk dihargai sebagaimana manusia.
sejenak berwawan hati di parkiran Basilika St. Sixtus, Ars, Francis
Dan kepekaan Yesus akan kebutuhan Matius itu membuat ia peduli dan melangkahkan kaki ke rumah si pemungut cukai itu. Yesus menjumpai Matius, menyapanya, mendengarkannya dan bahkan menatap mata Matius dengan tajam lalu mengajaknya untuk ikut serta. Pada saat-saat demikianlah ada yang namanya penghargaan terhadap martabat manusia, terlepas dari apa dan bagaimana latar belakangnya, yang saat itu dianggap tidak berarti oleh sebagian besar orang.
Perlakuan Yesus yang seperti itulah, yang ternyata justru mampu membawa perubahan hidup bagi orang yang bersangkutan. Yesus hadir sebagai tabib yang amat dibutuhkan. Yesus menyembuhkan penyakit-terkucilkan. Yesus memberi belas kasihan kepada mereka yang tersingkirkan, Yesus membesarkan hati mereka yang merasa tidak dihargai, merasa ditolak, direndahkan dan bahkan dianggap berdosa.

Saya tidak bisa menggambarkan bagaimana reaksi Matius saat itu. Mungkin ia amat terkejut, kaget, kok Yesus bisa tahu keinginan saya?

Suatu pengajaran Yesus yang berharga bagi kita. Hati yang bebas dan terbuka mampu menghargai dan mengangkat mereka yang kecil hatinya.

Kita juga bisa turut merasakan betapa bebasnya hati Yesus menyapa Matius. Menyapa setiap orang; Anda dan saya. Ia bisa dekat, bersahabat bukan hanya dengan orang-orang yang sudah dikenalnya baik, tapi Ia juga datang kepada Matius yang dikenal oleh orang-orang sebagangsanya sebagai pendosa.
Hati yang bebas adalah hati yang penuh dengan cinta kasih dan keterbukaan. Hati yang terbuka adalah hati yang tidak memberikan cap atau stigma negatif kepada orang lain. Ada ungkapan menarik untuk ini: Teman yang baik, hanya melihat kebaikanmu, walaupun kesalahanmu begitu banyak.

Kita tahu bahwa hati Matius juga menjadi bebas. Ia dibebaskan dari cap atau steriotip yang membelenggu perasaannya, pikirannya dan hidupnya. Hati Matius yang telah menjadi bebas membuat dirinya peka mendengarkan sapaan Tuhan. Yesus menyapa Matius, Menyapa Anda dan saya: "Ikutlah Aku." Maka berdirilah Matius lalu mengikut Dia.

Akhirnya mari kita mohon hati yang bebas dan terbuka untuk mencari kebenaran, “Barangsiapa mencari kebenaran, entah sadar atau tidak, pada saat itulah sejatinya ia mencari Tuhan.” Dan barang siapa menemukan Tuhan di dalam hidupnya, ia akan menemukan kebenaran dan mewartakannya.

Sakramen perkawinan, komitmen seumur hidup

Bacalah Injil Yesus Kristus menurut Matius 19:3-12

Suatu kali ada seorang teman saya mengungkapkan isi hatinya begini, “Romo, beberapa kali saya ikut dalam upacara perkawinan Katolik di Gereja. Awalnya saya agak canggung karena harus masuk rumah ibadat dan dengan upacara yang amat formal. Tetapi kalau saya amat-amati perkawinan dalam Gereja Katolik itu amat-amat mengesankan, mengagumkan dan bukan suatu upacara yang asal-asalan atau main-main”.

Saudari dan saudaraku, bagaimana perasaanmu ketika mendengarkan ungkapan hati seperti itu? Saat itu, spontan saya merasa bangga sebagai orang Katolik. Lalu teman saya itu menyambungnya lagi.

“Awalnya saya juga terheran-heran mengapa untuk menikah saja harus ada persiapan semacam kursus-kursus segala. Saya pikir orang Katolik ini hanya mengada-ada, bikin repot saja calon pengantin dan mencari-cari sensasi saja. Tetapi saya pikir benar juga bahwa sebuah keluarga itu tidak serta merta terbentuk begitu saja, makanya sebuah pasangan harus belajar dan mempersiapkannya. Saya juga menjadi mengerti bila perayaan di Gereja sangat sahdu (mengapa), karena semuanya dipersiapkan sungguh-sungguh dan bahkan ada latihan sebelumnya.”

Mendegarkan ungkapan hati yang positif membuat kita juga merasakan energi positif, sehingga kita pun berpikir positif.

Sepasang belibis di tepi kanal, Paray-le-Monial, Francis
Lalu, apa yang Anda pikirkan ketika dalam sebuah keluarga ada saja tuntutan dari pasangan yang sering tidak realistis. Komunikasi yang perlahan-lahan terasa hambar, mandek atau bahkan tak memiliki rasa. Masa lalu yang kadang terasa menghantui, sehingga sama-sama saling membandingkan...dst. Dan biasanya disusul dengan pertanyaan: Bisakah perkawinan Gereja dibatalkan..., bolehkan saya menikah lagi?” Demikian pertanyaan-pertanyaan yang sering terlontar dan terdengar.

Adalah mudah sekali mengambil opsi cerai sebagai jalan keluar terhadap situasi sulit seperti itu. Tetapi apakah itu sungguh merupakan pilihan yang terbaik?

Dalam beberapa kesempatan, Paus Fransiskus menyampaikan keprihatinannya terhadap situasi keluarga yang seperti itu. Dan menyesalkan banyaknya pernikahan yang berakhir dengan perceraian. Salah satu dugaan nya, beliau melihat bahwa fenomena perceraian itu bersumber pada "budaya relasi sementara" yang membuat orang-orang enggan membuat komitmen seumur hidup.

Ketika kita berbicara tentang perceraian, kita sebenarnya diingatkan akan sifat dasar perkawinan yang adalah monogami, satu laki laki hanya dengan satu perempuan, sehingga pasangan hidupnya adalah bagian dari tubuhnya sendiri. Perkawinan Katolik disebut sakramen, berarti ada kehadiran rahmat Allah yang menyelamatkan, sehingga perkawinan itu bersifat sakral dan kekal selaras dengan pribadi Allah. Tujuan dari sebuah perkawinan Katolik, mereka diutus untuk menjaga dan memelihara keluarga kerajaan Allah dan bukan hanya sebatas pada nafsu.

Relasi antara manusia, atar sahabat, antara pasangan, menjadi hal yang amat mendasar dalam kehidupan. Dalam konteks hidup berkeluarga setidaknya kita dapat melihatnya pada waktu-waktu yang dimiliki bersama, perhatian, bicara, kerja sama, dan hubungan seksual yang terpelihara. Di sini dapat kita garisbawahi bahwa kebersamaan menjadi bagian penting yang harus dipertahankan oleh pasangan suami istri yang telah berjanji sehidup dan semati. Sebab tanpa kebersamaan, maka perkawinan mustahil dapat diarahkan pada tujuan dasar perkawinan itu sendiri, baik itu pada kesatuan, keturunan, atau kesejahteraan lahir batin.

Mengingat selalu janji perkawinan dan berusaha untuk memahaminya secara sungguh-sungguh adalah tugas bersama dengan pasangan dalam sebuah keluarga. Jika Anda berdua percaya bahwa Tuhan telah mempersatukan Anda, maka akan muncul penghargaan pada diri sendiri, penghargaan terhadap pasangan, dan terlebih penghargaan terhadap perkawinan itu sendiri.

Hidup yang dibagikan sebagai berkat

Bacalah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes 6:1-15

Adalah sebuah kisah yang amat dikenal dalam Kitab Suci: Yesus mengetengahkan kepada kita sebuah situasi konkrit manusiawi bahwa mereka yang berbondong-bondong mengikuti Yesus membutuhkan makan. Kebutuhan akan makanan adalah sebuah kebutuhan primer manusia yang mutlak harus dipenuhi.
Kebutuhan akan makanan juga bisa kita perluas arti atau maknanya bukan sekedar kebutuhan akan makanan jasmani, tetapi juga kebutuhan akan makanan rohani.

Semua dari kita jelas masih harus mengusahakan untuk memenuhinya, setiap hari, baik itu yang jasmani maupun yang rohani. Tetapi bagaimana dengan mereka yang tidak mampu atau mengalami kesulitan untuk mencukupkan kebutuhan makanan mereka. Entah karena secara jasmani mereka sakit, tidak punya pekerjaan, miskin, dst. Maupun mereka yang mengalami kelaparan secara rohani. Mereka yang sedang bermasalah dengan pribadinya, karena ketertutupannya sendiri, karena keegoisannya. Mereka yang diterlantarkan oleh saudari dan saudaranya, keluarga atau komunitasnya. Mereka yang terjebak oleh lingkaran setan narkoba dst.
sebuah kedai di sekitar Kastil Gandolfo, Roma
Saudari dan saudaraku, ada tiga tokoh yang dihadirkan oleh Yesus dalam kisah penggadaan roti selain diriNya sendiri. Mereka adalah kedua muridnya yaitu Andreas dan Filipus serta seorang anak kecil. Rasanya ketiga tokoh itu ditampilkan sebagai rappresentatif dinamika hidup kita.

Acapkali mungkin sebagai pribadi saya seperti Filipus yang tahu perhitungan akan kebutuhan makanan tetapi hanya tinggal dalam kecemasan dan pesimis. Atau bisa jadi saya seperti Andreas, yang tahu berkolaborasi tetapi juga mudah meremehkan yang lain, tidak memperhitungkan mereka yang kecil dan lemah. Dan yang terakhir, mungkinkah saya seperti si anak kecil itu? Ia menyerahkan lima roti jelai dan dua ikan yang ia punya sebagai bekal yg sangat berarti  buat dirinya itu. Anak itu barangkali tidak tau bagaimana itu berkolaborasi, tetapi dengan tindakan pertamannya yakni menyerahkannya semua kepada Yesus, ia memperoleh pengajaran berharga setelahnya. Ia melihat bagaimana Yesus mengajarkan kepada siapa harus memohon berkat. Ia melihat bagaimana Yesus memecah-mecahkan roti itu agar bisa dibagikan. Ia melihat bagaimana Yesus mengajarkan sikap berbagi ketika Ia membagikan roti yang telah dipecah-pecahkan itu kepada para murid, lalu para murid membagikan kepada semua yang hadir di situ.

Pada dasarnya, jelas bahwa kita akan mempunyai sikap khawatir ketika di hadapkan pada situasi kelaparan. Atau situasi yang menuntut adanya pemenuhan kebutuhan akan makanan. Minimal terbesit di pikiran ”Di mana kita bisa mendapatkan makanan?” "Di mana kita bisa mendapatkan minuman?"

Melalui mukjizat penggandaan "lima roti dan dua ikan," Yesus mengundang kita untuk ikut ambil bagian dalam karya-Nya. Mari kita tumbuhkan sikap mau berbagi dalam diri kita masing-masing dan menjadikan sebuah habitus di tengah keluarga, komunitas dan masyarakat kita.

Belas Kasih-Nya menyembuhkan

Bacalah Injil Yesus Kristus menurut Matius 9:32-38

Injil Tuhan pada hari ini menawarkan dua pengajaran mendasar bagi kita:
Pertama adalah ajaran belas kasih. Rasa belas kasih Yesus tampak dalam empat mujizat yang berturut-turut: Yesus membangkitkan orang mati, memulihkan orang sakit pendarahan, menyembuhkan orang buta, dan kini Ia menyembuhkan orang bisu. Sikap belas kasih yang diteladankan Yesus bagi kita amatlah konkrit, yaitu menerima semua orang apa adanya, bahkan mereka yang berada di ambang batas kehidupannya. Dikisahkan bahwa ada orang yang membawa seorang bisu yang kerasukan setan.

Belas kasih yang bersumber dari salib
Yang kedua adalah sikap murah hati. Sikap murah hati dapat kita rasakan melalui prinsipnya yang kokoh untuk tidak pernah berhenti berbuat baik, meski dihadapkan pada cibiran dan cercaan. Kita bisa mencermati dua tanggapan atau reaksi mereka di hadapkan pada mukjizat, Yesus yang menyembuhkan orang bisu: antara KAGUM DAN MENCIBIR.

Kita tahu bahwa setelah setan itu diusir, orang itu dapat berbicara sehingga membuat banyak orang di sekitarnya kagum dan terheran-heran karena hal yang seperti itu belum pernah terjadi dan dilihat orang di Israel. Tetapi pada saat yang sama, orang-orang Farisi tidak mampu melihat kebaikan Yesus, mereka mencibir dan mencurigai bahwa Yesus dapat melakukan semua itu karena penghulu setan.
Pengalaman Yesus ini menjadi semacam cermin bagi kita untuk melihat kembali sikap kita, tutur kata dan perbuatan kita. Kita bisa mencermati sendiri pengalaman kita masing-masing. Lebih mudah mana bagi kita : berprasangka buruk, iri hati, dendam, mudah menebarkan gosip dan menceritakan kejelekan orang lain atau lebih mudah mengakui kelebihan dan keunggulan mereka...memuji kebaikan hati dan membesarkan hati mereka?

Dikatakan dalam Injil, "Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak mempunyai gembala". Dua pengajaran mendasar: belas kasih dan sikap murah hati yang dimiliki dan dibuat oleh Yesus lah yang mampu menyembuhkan orang yang bisu dan kerasukan setan. Dan yang paling mendasar adalah mengembalikan status orang yang bisu, mereka yang sakit sebagai anak-anak Allah. Dan demikianlah peran seorang gembala memperhatikan domba-dombanya. Dan itulah yang diminta oleh Yesus juga bagi kita sebagai anak-anak Allah yang sudah mengalami pemulihan martabat. Kita di undang oleh Tuhan untuk menjadi pribadi dan gembala yang memiliki rasa belas kasih dan kemurahan hati.

Saudari dan saudaraku, mari kita selalu mohon rahmat Allah agar mengisi hati kita dengan hati yang penuh belaskasih dan murah hati kepada sesama di sekitar kita, khususnya bagi mereka yang sungguh-sungguh membutuhkan cinta, mereka yang sungguh-sungguh membutuhkan penyembuhan dan pengampunan.

Tak cukup hanya dengan khawatir

Bacalah Injil Matius 6:24-34

Dan mari sejenak kita melihat hidup kita dalam terang Injil. Salah satu pernyataan Yesus adalah: Janganlah kuatir akan hidupmu. Apakah saat ini Anda sedang merasa kuatir, cemas atau digelisahkan oleh sesuatu? Katakan ya atau tidak dalam hatimu, sesuai yang sedang Anda alami saat ini. OK.
sebuah kursi tua di sudut halaman biara benediktin di Farfa, Italia

Saudari dan saudaraku, disadari atau tidak, kekuatiran dapat merubah suasana hati atau mood. Bisa saja menghilangkan kegembiraan, ketenangan, menciptakan ketegangan; mengendorkan konsentrasi, membuat kita mempertanyakan segala sesuatu. Dan yang amat membahayakan bahwa kekuatiran mengikis kepercayaan kita pada sesama dan mempertanyakan kehadiran Tuhan dalam hidup.

Tidak berarti bahwa kita tidak perlu merasa kuatir atau cemas. Perasaan kuatir adalah wajar dan sangat manusiawi. Kita pun bisa melihat nilai positifnya, misalnya: kuatir sebagai ungkapan perhatian; saya kuatir akan keselamatan diri ataupun orang lain. Kekuatiran mendorong saya untuk menyiapkan diri dan menghadapi kenyataan, meningkatkan kewaspadaan. Masalahnya adalah ketika kekuatiran itu muncul atau kita rasakan tanpa menemukan nilai positifnya. Wah bisa jadi ia akan begitu menguasai seluruh hati dan hidup kita. Dan cenderung tidak memberi rasa aman.

Yesus dalam Sabdanya berulang kali mengingatkan kita untuk tidak kuatir. Tidaklah mudah untuk menerima kata-kata Yesus, terlebih bagi yang sedang mengalami cemas atau kuatir. Mungkin ia akan merasakan bahwa kata-kata Yesus menyepelekan persoalan hidupnya, dst.

Bagaimanapun hidup harus kita hadapi. Apapun situasinya setiap persoalan selalu punya jalan keluar. Dalam hal ini perlu kita garisbawahi pentingnya sikap percaya dalam keseharian hidup kita, baik dalam relasi dengan sesama, dalam pekerjaan dan semua segi kehidupan kita. Sebab tidak bisa dipungkiri bahwa bila kita tidak mudah percaya pada sesuatu atau seseorang, kita akan cenderung mereasa kuatir, cemas, dan akhirnya hidup menjadi tidak tenang, kurang fokus dan bahkan bisa jadi tidak memiliki rasa. Kekuatiran berakar dari kurangnya rasa percaya dalam diri seseorang.
Setidaknya ada dua hal yang akan selalu menandai sikap percaya:

=> Hidup penuh harapan. Biasanya orang yang hidup penuh harapan, ia juga akan hidup dengan keyakinan, berserah dan optimis bahwa Tuhan itu baik dan akan menjamin hidupnya. “Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di surga. Bukankah kamu lebih dari burung-burung itu?” Dan dengan demikian, ia juga akan dimampukan untuk selalu bersyukur dan terus bekerja semaksimal mungkin tanpa memikirkan hasil akhir. Hidup dalam pengharapan akan Tuhan akan mampu memupus kekuatiran kita.
 
=> Fokus akan hidupnya. Sikap percaya juga mendorong orang untuk membangun kehidupan rohani, menata batinnya dan melatih diri untuk menjadi fokus dalam hidupnya. Ia juga akan lebih mudah berelasi dengan sesamanya, menekuni pekerjaannya dan begitu perhatian dengan semua segi kehidupannya. Ingat kata-kata Yesus, “Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan…. kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada mamon.”

Betapa pentingnya Cahaya dan Suara dalam perjalanan hidup saya dan Anda

Kej 22:1-2.9a.10-13.15-18; Rm 8:31b-34; Mrk 9:2-10 
Melihat dan mengenali kota Roma dari puncak bukit
Pada hari ini, Minggu pekan II masa Prapaskah, dikenal sebagai hari Minggu Transfigurasi Kristus. Bacaan-bacaan hari ini menyajikan kepada kita suatu pendakian “gunung rohani" bersama Yesus untuk memandang cahaya kemuliaan Allah dengan wajah manusiawi-Nya dan mendengarkan suara yang berseru “Inilah Anak-Ku terkasih, dengarkanlah Dia!” 

*** 
Suatu ketika, seorang seminaris datang mengetuk kamar saya. Rasanya untuk pertama kalinya ini, ia menemui saya. Setelah masuk, ia menuturkan kisahnya selama mengikuti latihan sepakbola sore hari itu, Rabu. Sebuah benturan keras telah terjadi atas dirinya rekannya di lapangan. Ia terjatuh, terguling dan penuh dengan lumpur ditubuhnya (maklum lapangan bola saat itu masih amat memprihatinkan). Ia berhenti sejenak berkisah, ia membuka kacamata hitamnya. Sayapun melepaskan senyum yang sejak ia masuk, saya tahan-tahan. Dalam hati saya hanya bertanya-tanya mengapa ia harus mengenakan kacamata hitam seperti seorang pemain kuda lumping.
Setelah ia bisa menguasai emosinya, isak tangisnya, lalu ia menyampaikan kecemasan dan ketakutannya atas kejadian itu. Ia cemas dan takut akan kedua matanya yang tidak lagi berfungsi baik karena benturan keras dengan kepala rekannya. Pun dengan telinganya yang dirasa seperti tersumbat sesuatu sehingga tidak amat jelas untuk mendengar.
Saya turut merasakan kecemasan itu, meski tidak saya katakan padanya. Apalah jadinya bila seseorang akhirnya tidak bisa melihat dan tidak bisa mendengar. Mungkin ia  akan terasa terlempar jauh dari dunia, gelap dan sepi. 

Ada dua unsur mendasar dalam kisah ini: CAHAYA dan SUARA. Demikianlah dua unsur yang dipakai penulis Injil Markus untuk mahami dan mengerti pewartaan Yesus. 
Cahaya, Yesus mengajak dan memimpin murid-murid : Petrus, Yakobus dan Yohanes mendaki ke puncak gunung. Di sana “Ia berubah rupa di hadapan mereka” (Mrk 9:2). Wajah serta pakaian-Nya bersinar putih sementara Musa dan Elia menampakkan diri bersama-Nya. 
Suara, Pada saat itu, awan menaungi puncak gunung dan terdengarlah suara yang berkata: “Inilah Putera-Ku terkasih, dengarkanlah Dia” (Mrk 9:7).
Di sini, cahaya dan suara dipakai untuk memberikan kesaksian tentang Dia dan memberi perintah untuk mendengarkan Dia. Karena alasan inilah Yesus membawa tiga orang diantara mereka untuk naik ke gunung bersama Dia. Sebuah tempat yang menyimbolkan dekat dengan yang ilahi. Ia menyingkapkan kemuliaan Ilahi-Nya, cahaya Kebenaran dan Cinta. Yesus menghendaki agar terang ini menerangi hati mereka saat mereka melewati kegelapan Sengsara dan wafat-Nya, saat dimana kebodohan Salib menjadi tak tertanggungkan bagi mereka. Allah adalah terang, dan Yesus ingin membagikan kepada para sahabat-Nya pengalaman akan Terang yang berdiam di antara mereka ini.
Setelah peristiwa Transfigurasi ini Dia sendirilah yang akan menjadi terang batin mereka dan dapat melindungi mereka dari segala serangan kegelapan. Yesus adalah pelita yang tak pernah padam. Dan Sabda-sabdaNyalah yang diperdengarkan kepada siapapun dan mereka memperoleh kesempatan untuk menimban keijaksaan daripadaNya.

Ziarah Assisi (2013)
Jelas bahwa kita semua pun membutuhkan terang batin untuk melihat dengan cermat dan mengatasi segala kesulitan kita. Maka, marilah kita mendaki gunung rohani kita bersama Yesus. Mengalami transfigurasi Yesus setiap hari dalam hidup kita. 2 kata kunci pengingat: Cahaya. Melihat dengan cermat Yesus yang menjadi cahaya iman yang menuntun hidup. Suara. Mendengarkan dengan sertia dan jelas, khususnya suara Allah dalam Sabdanya dan yang berkumandang melalui sapaan, sharing, teguran dan juga kritik dari orang-orang di sekitar kita.

Yakinlah bahwa kita dimampukan seperti Abraham yang memiliki ketajaman iman untuk melihat cahaya ilahi yang membuat ia berani mengurbankan apa yang paling berharga dalam hidupnya. Yakinlah bahwa kita dimampukan seperti Paulus yang mamiliki ketajaman untuk mendengarkan suara Allah dalam discermen hidup kita setiap hari dengan memilih yang baik untuk bisa kita buat dalam setiap pengalaman hidup kita.

Jangan abaikan cara!

Mrk 1:40-45
Ada banyak faktor yang menentukan bagus atau tidaknya gambar yang dihasilkan ketika seseorang memotret. Keberadaan objek, situasi saat gambar diambil dan juga siapa yang berperan membidik gambar.
Betapa banyak orang gagal dalam melakukan sesuatu, bukan karena ia tidak punya kemampuan atau ketrampilan untuk melakukannya, tetapi karena ia tidak tahu cara bagaimana melakukan apa yang mesti dilakukannya.

Terkadang maksud yang baik ketika disampaikan dengan cara yang salah atau pada waktu yang tidak tepat, maka tak jarang juga akan menimbulkan persoalan, bahkan tidak membuahkan hasil.
Di sini penting sekali soal cara. Kita tidak bia mengabaikan soal cara.

Demikian pun dengan seluruh hidup Yesus dan apa yang Dia lakukan dalam karyanya, pun tak lepas dengan yang namanya cara. Setidaknya kita bisa mencermati bacaan Injil hari ini.

Kisah ini sangat menarik. Ada beberapa hal yang dapat kita simak.
Pertama, konteks bacaaan adalah perjumpaan si Kusta dan Yesus; situasi di tengah perjalanan (1:21-45 sebuah perjalanan pemberitaan Injil di Kapernaum dan pedesaan Galilea), ...Hal ini melukiskan bahwa ada saat di mana kita mengalami, menyaksikan surutnya kehidupan. Kesulitan, kegagalan, sakit, derita dan kemalangan, pun biasanya terjadi di luar rencana kita. Bisa saja kita menerimanya, karena kita sudah memperhitungkannya. Tetapi juga bisa jadi kecewa dan frustrasi karena kita tidak siap. Kenyataan ini menunjukkan bahwa kadang kita butuh pertolongan sesama untuk mengurangi rasa sakit, meringankan beban yang sedang kita tanggung, karena ada hal-hal yang tidak dapat kita lakukan sendiri. Di sini, kesadaran akan situasi diri sangat perlu, kesediaan untuk ditolong adalah keharusan, kerendahan hati harus menjadi sikap dasar.

Kedua, cara Yesus memposisikan diriNya. Kita hanya mungkin mengenal, mengetahui situasi sesama dan dapat memberi pertolongan yang dibutuhkan bila kita bersedia meninggalkan diri kita sendiri, memasuki dunia hidup sesama untuk bisa melihat kenyataan hidup mereka yang sesungguhnya, menempatkan diri pada posisi mereka. Kita bisa melihat bagaimana cara Yesus hadir. Betapa sering, kita sulit mengetahui situasi sesama, merasakan pahitnya hidup mereka karena kita hanya berputar pada dunia diri kita yang sempit dan penuh kalkulasi.

Ketiga, Si kusta... ‘kalau Engkau mau’. Di sini tampak jelas bahwa si kusta rindu disembuhkan. Dia membutuhkan pertolongan tetapi dia tahu orang yang diminta punya putusan sendiri, dia memberikan kebebasan kepada Yesus untuk menentukan sikap. Kadang atau betapa sering apa yang kita pikirkan, harapkan, atau minta, tidak kita dapatkan. Mengapa? Karena pikiran, harapan atau permintaan kita justru mengurung kebebasan orang untuk bertindak sesuatu sesuai dorongan jiwanya. Lalu kekesalan atau kebencian bahkan akan bisa muncul saat kita tidak mendapatkan apa yang kita harapkan.

Saudari dan saudaraku,
Kita tahu bahwa penyakit kusta membuat si penderitanya mengalami penderitaan ganda, yaitu penyakit itu sendiri dan ia harus dikucilkan dari kebersamaan.
Dalam keseharian hidup kita, mungkin saja kita tidak pernah menjumpai orang yang sedang menderita kusta. Tetapi penderitaan yang sama kadang dialami oleh seseorang, atau bahkan diri kita sendiri. Penderitaan karena dikucilkan dari kebersamaan, mungkin karena hati kita yang mudah membenci, iri hati, dendam, tidak suka mengalah, rakus, angkuh dan aneka penyakit sosial lainnya. Dan tragisnya, kita sulit disembuhkan karena tidak menerima pertolongan dari yang lain, karena kurang rendah hati.

Hari ini melalui SabdaNya, Yesus mengingatkan dan sekaligus mengundang kita untuk menjadi seorang yang siap untuk keluar dari diri sendiri dan merasakan apa yang sedang dialami sesama; mau menolong ataupun mempunyai kesediaan untuk ditolong dan penting sekali bahwa kita tahu bagaimana caranya mendapatkan pertolongan.

Apa yang Kamu cari?

1Sam 3:3b-10.19; 1Kor 6:13c-15a.17-20; Yoh 1:35-42 

Hari ini Minggu pekan II Biasa tahun B. sebuah pertanyaan mendasar untuk kita: "Apa yang kamu cari?" Adalah sebuah pertanyaan yang sangat mendasar bagi siapapun. Bisa gampang dan juga bisa amat sulit menjawabnya. Saya mencermati bahwa pertanyaan ini lama-lama akan menjadi pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Mengapa? (1) Tidak sadar dalam pencariannya. (2) Tidak tahu dengan jelas apa yang dicari. (3) Merasa telah menemukan.Yesus hari ini juga bertanya kepada dua murid Yohanes. Apa yang kalian cari? Lalu apa jawab mereka? Dimanakah kamu tinggal. 

Mengamati ornamen di Gereja Katedral Orvieto (2013)
Sebuah jawaban yang tampaknya tidak siap (berupa pertanyaan?), mungkin kaget, heran kok tiba-tiba bertanya. Tampak sekali bahwa pertanyaan, seperti sebuah ungkapan yang tidak mengharapkan langsung diterima. Hanya sekedar mengungkapkan rasa ingin tahu. Seseorang yang lebih besar dari Yohanes yang selama ini diajarkannya. Maka mereka menggunakan sapaan kehormatan, GURU.

Tak dapat dipungkiri juga bila hidup kita selalu ditandai dengan usaha mencari (menemukan dan memiliki). Betapa sering kita juga belum amat tahu apa sebetulnya kita cari.

Menarik sekali dinamika selanjutnya: Yesus menanggapi mereka, mengajak mereka melihat sendiri. Mereka dibiarkan menemukan yang mereka cari. Kita diajak menyadari dan memahami bahwa dengan pertanyaan “Apa yang kamu cari?” Mau mengatakan kepada kita bahwa Sang Sabda itu bukan yang “jauh di sana”, melainkan dia yang menyapa dan mengajak berbicara. Dia yang tidak menganggap dengan cuek orang yang datang kepadanya. 

Dia pun akan membantu kita, pun kepada siapa saja yang mulai berjalan mengikutinya. Ia akan melontarkan ajakan untuk melihat sendiri dan menemukan nya.

Mereka menemukan pengenalan akan Tuhan. Perjumpaan mereka sampai dengan jam empat sore menunjukkan bahwa sepenuh hari mereka ada bersama Dia. Mereka bukan hanya melihat di mana ia tinggal, melainkan menemukan yang disebut Anak Domba Allah oleh Yohanes Pembaptis itu juga setidaknya harapan mereka akan sosok Mesias, menjadi besar dan menyala-nyala. Terbukti Andreas mengabarkannya kepada Simon, dan bahkan membawa saudaranya itu kepada Yesus. Kemudian disebutkan bahwa Yesus memandangi Simon dan memberinya nama baru, yaitu Kefas, artinya Petrus. Kejadian ini meyakinkan Andreas dengan peristiwa yang diungkapkan dalam Injil Sinoptik sebagai pengakuan Petrus bahwa Yesus itu Mesias. 

Ajakan konkrit untuk kita
(1) Membiarkan Roh Allah menyapa batin dengan caranya sendiri. (2) Bersedia menjadi teman seperjalanan yang mampu berbagi dan kadang harus menunjukkan jalan yang semestinya harus dilalui kepada rekan seperjalanan kita. Seperti yang dilakukan Yohanes Pembaptis, juga seperti yang dibuat Andreas dan juga yang dibuat Eli kepada Samuel. (3) Menggemakan pertanyaan Yesus di awal APA YANG KAMU CARI? atau di penghujung hari: APA YANG KAMU TEMUKAN HARI INI?

Kamu harus memberi mereka makan!

'dijepret' 24 Juni 2014, di sudut kota Milan
Salah satu kebutuhan primordial manusia adalah lapar. Tetapi Sabda Tuhan hari ini mengatakan bahwa lapar tidak berarti hanya membutuhkan makanan sehari-hari, tetapi semua yang diperlukan untuk manusia untuk hidup bermartabat.

Kita dapat membacanya dalam Markus 6:34-44, "Yesus melihat sejumlah besar orang , maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala". Orang-orang itu lapar akan kebenaran, petunjuk arah dan panduan yang pasti bagi hidupnya. Dan tampaknya Yesus tahu yang mereka butuhkan, dan itu lah yang pertama-tama dipenuhinya.


Yesus juga berseru, "Kamu harus memberi mereka makan!" Tampaknya ini adalah tanggapan Yesus atas usulan para murid untuk menyuruh mereka pergi dan mencari atau membeli makan sendiri-sendiri. Yesus justru meminta para murid untuk memberi makan kepada sejumlah orang itu dengan apa yang mereka miliki.


Rasanya bukan sekedar ajakan, melainkan sebuah perintah mendesak yang menuntut tanggungjawab. Perintah untuk peduli atas kebutuhan manusia, sesama kita yang berkekurangan, sedang dalam kesulitan, sedang berduka, sedang ragu-ragu, sedang putus asa, dan terlebih sedang terpisah dari Allah. Mereka sedang ada di dekat kita, di sekitar kita.