Percayalah agar Tidak Merasa Cemas

Matius 6:24-34
Ketika itu, saat jeda waktu mengajar, saya menyempatkan diri untuk mencermati dinamika siswa-siswi di suatu sekolah taman kanak-kanak. Saya melihat mereka sedang bermain, berlari dan seterusnya. Ada suatu fenomena menarik dalam dinamika saling berbagi makanan ringan di antara mereka itu. Saya dapat mencermati bagaimana seorang anak merasa tidak cukup ketika diberi sedikit; ada juga yang merasa bingung ketika diberi banyak; ada pula yang masih protes ketika diberi cukup.

Lalu saya berpikir dan bertanya, tidakkah dinamika ini juga terjadi pada umumnya orang akhir-akhir ini? Jika demikian, rahmat Tuhan rasanya tidak cukup untuk setiap manusia. Bahkan mungkin ada saja orang yang sudah tidak percaya bahwa Tuhan itu Mahakasih, Mahabaik, Mahabesar; ketika hidupnya selalu diwarnai dengan kesulitan, rintangan, kegagalan.

Yesaya melukiskan situasi pembuangan bukan sebagai pengalaman menyenangkan. Sion yang berteriak bahwa Tuhan sudah lupa kepada mereka. Namun Tuhan menyatakan bahwa diriNya seperti seorang ibu yang tidak mungkin lupa kepada anak-anaknya. Bahkan seandainya pun ada ibu yang melupakan anak-anaknya, tapi Tuhan tidak (Yes 49:14-15).


Setiap orang tentu pernah merasa cemas, khawatir akan hidupnya? Orang merasa cemas dan khawatir akan hidupnya adalah wajar-wajar saja. Tetapi menjadi tidak wajar bila orang terlalu berpegang pada perasaan dan pikirannya sendiri. Orang lupa akan Allah yang selalu menjaga, memelihara dan mendampingi. Allah yang tidak pernah meninggalkan manusia seorang diri. 

Basilika Santuario SS.Annunziata, Firenze
Tuhan Yesus tahu bahwa manusia sering kuatir; kalau-kalau nanti tidak ada makanan, minuman dan pakaian dll (Matius 6,25). Penginjil mau mengatakan bahwa orang yang mengenal Allah, tahu bahwa sejatinya Allah mengetahui apa yang mereka butuhkan. Jadi untuk apa merasa kuatir? Sebaliknya, orang yang tidak mengenal Allah sering berpikir dan bertindak melampaui segala hal yang dipikirkan manusia atas hidup setiap harinya. Itulah yang membuat mereka dilingkupi kekuatiran. Yesus mengundang manusia untuk lebih mengenal Allah yang menjadi sumber hidup mereka.

Dalam ayat selanjutnya (Matius 6,26), Tuhan Yesus menguatkan lagi kepercayaan akan Allah Bapa di Sorga dengan jalan menunjuk kepada burung-burung. Tuhan Yesus di sini tidak mengajarkan supaya kita tidak bekerja, sebab burung-burung juga "bekerja" dalam mencari makanan. Yesus ingin mengajar kita agar tidak bergantung pada hal-hal yang duniawi, agar tidak mngandalkan kekuatan sendiri, melainkan bergantung pada Alah Bapa. Anda dan saya bukan Goliat. Maka janganlah jadi Goliath. Tetapi, jadilah Daud, yang lemah tapi kuat karena kuasa Allah.

Tuhan Yesus mau mengajak kita untuk menghilangkan kekuatiran dan kegelisahan kita dan menggantikan itu dengan kepercayaan.

No comments:

Post a Comment