Salalu Melihat Kebaikan

Yer 31:7-9; Ibr 5:1-6; Markus 10:46-52

Apa tandanya kalau orang itu buta? TIDAK MELIHAT. Mengapa orang bisa buta? Yohanes menyebut salah satunya bahwa orang bisa buta sejak lahir (Yoh 9:1). Ada juga berawal dari berkurang penglihatannya karena usia lanjut (Ishak dalam Kej 27:1; Eli dalam 1Sam 3:2; Ahia dalam 1Raj 14:4)....dst. Lalu, apa yang paling dirasakan oleh orang yang matanya buta? Dan apa yang mereka inginkan?

Keinginan terbesar orang yang buta adalah BISA MELIHAT. Orang yang buta selalu menginginkan suatu PERUBAHAN, yakni dari tidak melihat menjadi bisa melihat.

Sebuah kisah begini:
Ada seorang buta yang hidup sendiri di pinggir sebuah desa. Baginya tiada beda siang atau malam, jika ia menuju ke suatu tempat. Sampai suatu ketika saat sedang berjalan dalam gelap, dia tertabrak oleh seseorang yang sedang berdiri di tepi jalan. Orang tersebut menegur, katanya “Mas, kalau jalan malam itu mbok yaa membawa lentera atau senter, biar orang tahu kalau Mas lewat. Jadi bisa dikasih jalan”. Wah teguran itu menimbulkan inspirasi baru …, sehingga di benak orang buta itu terpikir, “Berarti mulai saat ini saya mesti membawa lentera/ senter kalau jalan malam”.

Pada malam berikutnya, dengan perasaan mantab dan percaya diri dia berjalan dengan membawa senter dengan harapan tidak tertabrak orang lagi.
“… wealaah kok ya tertabrak lagi .. orang yang sama juga, dan di tempat yang sama“. Orang itu kembali menegur, “Piye tah mas, sudah dibilang bawa senter kok nggak nurut sih”.
Orang buta itu mulai tampak tersinggung … “apa sampeyan buta.... sampeyan tidak lihat ta, ada senter ditangganku”, sambil sedikit marah menunjukan senternya. Yaaaahhh ternyata, senter itu tidak dihidupkan. ....dst.

Saudari dan saudaraku, betapa sedih dan menderitanya si buta dalam kisah itu. Tentu Anda yang membaca renungan ini tidak buta, minimal belum buta, karena bisa melihat tulisan ini lalu membacanya. Tetapi pertanyaannya: Apa jadinya bila yang buta adalah mata hati Anda, atau juga mata hati saya? Mari kita bertanya diri. Kadang dalam realitanya, orang, kita cenderung memilih untuk “membuta” walau dapat melihat.
Kebutaan hati juga menunjuk pada kegelapan batin, tidak mampu melihat kebaikan orang lain, biasanya tampak keangkuhan, kebebalan (orang menjadi tidak peka) dan kedengkian. Ia menjadi acuh dan kurang peduli pada sesama dan lingkungannya.

Saudari dan saudaraku, kita mengenal sosok Bartimeus dalam Injil. Ia adalah salah seorang buta yang menghendaki perubahan dalam hidupnya. Ada 3 langkah radikal yang dilakukan, yaitu:
1. Ia berseru dengan semangat yang berkobar (ay 47-48).
Paulus menggunakan istilah biarlah rohmu menyala-nyala (Rm 12,11). Memanggil dengan berseru apalagi makin keras berseru di saat dihalangi menggambarkan kesungguhan hatinya untuk bertemu dengan Kristus. Pemazmur juga menyatakan “serukanlah namaNya” (Maz 105:1). Orang harus menunjukkan kesungguhan hati sebagai tanda kerinduan untuk mengalami perubahan, yaitu: lebih akrab dengan Dia. Dalam Yer 31:7-9, kobarkanlah, pujilah dan katakanlah bahwa Tuhan telah menyelamatkan umatnya....

2. Ia mendengar dan melakukan perintahNya (ay 49-50)
Bartimeus berhenti berseru di saat ia mendengarkan suara Tuhan dan merespon panggilan tersebut dengan segera tanpa menunda. Yang menarik, sebelum ia bertemu dengan Tuhan, Ia menanggalkan jubahnya, jubah sebagai simbol sesuatu yang berarti dalam hidupnya. Dengan iman ia “menanggalkan manusia lama…. dan mengenakan manusia baru…” (Kol 3:10). Dengan iman ia melakukan perintahNya!

3. Ia menerima mujizat dan mengikuti Tuhan (ay 51-52)
Tuhan Yesus bertanya dan Bartimeus meminta apa yang menjadi keinginannya, yaitu: dipulihkan dengan perubahan yang lebih baik. Mujizat terjadi dan Bartimeus mengalami perubahan hidup. Kuasa Tuhan nyata dan telah menyelamatkannya. Bartimeus melihat dan ia bersyukur dengan tindakan yang ia kemudian lakukan yaitu penyerahan diri, “mengikuti Yesus” (ay 52). Menjadi pengikut Kristus dan “wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup” (1 Yoh 2:6). Yesus Kristus sebagai imam agungnya (Ibr 5:1-6.

Saudari dan saudaraku, Bartimeus yang buta matanya mengajar kita untuk tidak menjadikan mata hati kita juga buta. Maka marilah mensyukuri kebaikan Allah dalam hidup kita, karena kita bisa melihat dengan baik, pun bisa melihat kebaikan sesama dan lingkungan kita, pun bisa mengusahakan lebih baik dari apa yang sudah baik.

Tuhan menyertai niat-niat baik kita. Amin.

No comments:

Post a Comment