Memulai, Memelihara dan Membesarkan

Perikopa injil Matius (Mat 1:18-24) menampilkan sebuah tradisi mengenai kelahiran Yesus dari sudut pandang Yusuf. Bagi umat Matius dan umat awal, kelahiran Yesus itu jelas bukan kejadian yang biasa. Yesus dikandung dari Roh Kudus tetapi dilahirkan secara manusiawi oleh Maria dan dibesarkan oleh Yusuf. 
Letak tidak biasa-nya : …. kata-kata malaikat dalam mimpi Yusuf. ... juga ditambahkan, semua yang dikatakan malaikat itu menggenapkan nubuat nabi Yesaya 7:14 (Yes 7:10-14), bahwa seorang anak dara akan melahirkan anak lelaki yang dikenal dengan nama Imanuel, yang artinya "Tuhan menyertai kita". Kelahiran sang "Imanuel" - "Allah menyertai kita"..... Allah tidak lagi membiarkan manusia sendirian. Dan mulai saat itu kehadiran "Imanuel" memang menyertai manusia sepanjang zaman. Paulus dselalu menutup surat atau perjumpaannya dengan jemaat Kasih karunia menyertai kamu dan damai sejahtera dari Allah Bapa kita dan dari Tuhan kita Yesus Kristus (Rm 1:1-7).
petani memulai dengan membajak tanah
Matius menekankan hadirnya daya ilahi "Maria mengandung dari Roh Kudus" (penerimaan utuh dari pihak Maria). Berhadapan dengan daya ilahi ini, Sikap dan Tindakan Yusuf ---- ia menerima karya ilahi yang tidak lumrah sekalipun dan tetap menghormatinya. Bahkan ia memeliharanya dengan penuh perhatian. Ia memikirkan kepentingan Maria, tidak hanya mau meninggalkannya begitu saja. Kemudian ia juga berani mendengarkan Yang Keramat yang mengubah rencananya sama sekali. Ia bersedia menjadi orang yang bertanggung jawab membesarkan Yesus. Dalam adat keluarga Yahudi, pendidikan seorang anak sejak tidak lagi menyusu ibunya hingga akil balig pada usia 12-13 tahun menjadi tanggung jawab bapa keluarga. Begitulah kebesaran hati Yusuf, kepekaannya, kematangan imannya ikut membentuk pribadi Yesus. Itulah ungkapan iman Yusuf yang paling nyata. 
Dengan demikian, kita sebagai pembaca Injil Matius diajak untuk mengerti bagaimana kelahiran Yesus dari sudut pandang Yusuf. Apa artinya menjadi anak yang dibesarkan oleh orang seperti Yusuf itu. Di sini menjadi jelas bahwa karya "Tuhan menyelamatkan umatNya" itu menjadi tepercaya justru karena memakai jalan manusiawi. Karya Roh Kudus, betul-betul bisa membawakan keselamatan bila tumbuh dan menjadi besar dalam lingkungan yang sungguh manusiawi.
Mendalami peristiwa kelahiran Yesus dalam terang Injil Matius itu merayakan kebesaran hati seorang manusia yang bukan saja memungkinkan karya Allah dapat mulai terjadi, tetapi juga yang memelihara dan membesarkannya. Orang beriman (kita) yang ingin maju menjadi pemerhati gerak-gerik Yang Ilahi tentu dapat belajar banyak dari Yusuf.

Akhirnya

Kalau hari ini kita masuk Minggu Adven IV, di mana suasana menyongsong pesta Natal sudah terasa. Hiasan Natal terlihat di mana-mana. Mungkin ada saling berkirim kartu dan pesan Natal. Pertanyaannya : Apakah kita seperti umatnya Matius, dengan peristiwa kelahiran Yesus atau Natal, kita sampai pada keyakinan atau mendalami makna kehadiran Kristus di tengah-tengah umat manusia? Emanuel - Allah yang beserta kita itu? Emanuel - seperti yang dialami oleh Yusuf itu? Membiarkan karya Allah mulai terjadi, memelihara dan membesarkannya?

No comments:

Post a Comment