Banyak-banyaklah Memberi
Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk senantiasa memberi. Sikap dan disposisi ini jelas diteladankan oleh Yesus dalam mujizat penggandaan roti yang dibuatNya.
Ketika orang memberi dan memberi, ia akan terdorong untuk berusaha dengan tekun dan bersemangat. Inilah salah satu langkah bagaimana orang menghargai hidupnya.
Antara Iman dan Cinta
Kisah kebangkitan dalam Injil Markus mencakup dua tema, yakni iman dan cinta. Agar bisa memercayai peristiwa kebangkitan, pertama-tama kita membutuhkan iman karena kebangkitan adalah suatu misteri. Kita tahu, misteri sering diartikan sebagai suatu teka-teki yang sulit dijelaskan, sesuatu yang mendatangkan rasa heran, yang membuat seseorang berdiri terpaku di hadapannya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.Dalam peristiwa kebangkitan, kita juga mengalami sebuah misteri. Kebangkitan itu hanya dapat dipahami dalam konteks iman karena tak ada sesuatu pun di dunia ini yang bisa membantu kita untuk memahami kebangkitan seonggok tubuh yang telah kehilangan nyawa. Kesedihan serta keputusasaan yang dibawa oleh kematian, kini telah diatasi oleh suatu janji akan kehidupan kekal, dan ini hanya dapat dipahami lewat iman.
Tema yang kedua adalah cinta. Cinta memberi mereka sebuah keterangan. Tetapi sebenarnya hendak memberi mata yang bisa melihat tanda misteri dan percaya. Cinta mampu menangkap kebenaran ketika intelek diliputi ketidakpastian. Cinta bisa membuka nilai asli dari sesuatu ketika pikiran manusia seakan menjadi buta.
Maria Magdalena merupakan satu dari mereka yang termasuk dalam kelompok pionir yang menerima warta kebangkitan Yesus. Mereka adalah kaum kecil yang masih tertinggal di bawah kaki salib Yesus, ketika semua teman Yesus (para murid) terbirit-birit lari meninggalkan-Nya. Ketika tubuh Yesus dimasukkan ke dalam kubur, mereka juga ada di sana. Merekalah yang pertama kali datang ke kubur Yesus di pagi buta. Cinta mereka akan Yesus kini mendapat imbalannya, yakni menjadi kelompok pertama yang mengetahui warta gembira kebangkitan Yesus.
Di abad ini ketika Yesus telah berada dalam keagungan Bapa-Nya di surga, di manakah kita bisa bertemu dengan Yesus yang bangkit? Di awal Injil Yohanes, sejumlah orang Yunani, kelompok yang dikenal sebagai kaum pencari kebenaran, datang mendekati para murid dan meminta untuk bertemu dengan Yesus. Namun sayangnya, Yesus tidak menampakkan diri kepada mereka. Kaum Yunani tersebut hanya bisa bertemu dengan Yesus lewat kedua belas murid-Nya. Jadi, terhadap pertanyaan yang baru saja diajukan di atas, kini diberikan jawabannya: "Orang lain bisa melihat Yesus yang bangkit lewat mereka yang percaya akan Dia", yakni lewat mereka yang menyebut diri Kristen, yang menyebut diri murid-murid Yesus di abad ini. Teman-teman kita atau siapa saja yang bertemu dengan kita setiap hari, seharusnya mampu melihat diri Yesus yang bangkit lewat pelayanan dan cinta kita.
Kita tahu bahwa kehidupan Maria Magdalena telah berubah secara radikal sejak ia bertemu dengan Yesus. Yesus mampu melihat kehadiran yang ilahi dalam diri Maria Magdalena dan secara perlahan membantunya untuk mampu melihat kehadiran ilahi itu dalam dirinya dengan matanya sendiri. Sebagai pengikut Yesus, kita seharusnya mampu membawa perubahan hidup sebagaimana dialami Maria Magdalena di atas.
Ketika seseorang tak mampu melihat hari esok, ketika ia dilanda putus asa yang berat, ketika kakinya tak mampu lagi melangkah untuk meneruskan perjalanannya, ketika mata seseorang seakan buta dan tak mampu melihat apa yang benar, ketika seseorang tidak mendapat penghargaan yang layak sebagai manusia, di saat seperti itulah kita hendaknya datang memberikan kekuatan, harapan, dan semangat baru, untuk terus bergerak maju. Inilah warta kebangkitan yang seyogyanya kita kumandangkan.
Kasih seorang Sahabat
Saudara/i-ku, Paskah adalah suatu perayaan untuk mengenang kebangkitan Kristus. Suatu peristiwa yang sangat penting dalam kehidupan orang kristen. Apa yang dirayakan oleh Gereja? Gereja di seluruh dunia merayakan kemenangan Kristus atas penderitaan bahkan atas maut, dengan doa dan pujian kemenangan.Sebuah pertanyaan bagi kita: Mengapa Yesus harus menderita? Ada 3 kemungkinan jawaban, yakni: 1) Yesus begitu mencintai manusia, 2) Yesus taat/patuh pada BapaNya, 3) Yesus dikhianati.
Yesus begitu mencintai manusia
Kita mencermati, Yesus Sang Guru berkali-kali bertutur, ”Tak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seseorang yang menyerahkan nyawa bagi para sahabatNya” (Yoh 15:13).
Bagi Yesus, tidak ada kata setengah-setengah dalam mengasihi; tak ada pengandaian musiman dalam mengasihi. Yang diajarkanNya: kasih, kasih, kasih. Yang diserukan: ampuni, ampuni, ampuni.
Kalau orang yang sama datang sekian kali dalam sehari kepadamu untuk minta maaf, kamu harus mengatakan: aku mengampunimu. Kasih yang begitu besar pasti menghasilkan daya hidup baru.
Yesus taat kepada Bapa-Nya
Yesus berkali-kali berujar, ”Makanan-Ku adalah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku.”
Bagi Yesus, bila sekejab saja tidak patuh, itu sama saja dengan melalaikan kebutuhan dasar dalam hidup. Bila lalai makan, hidup juga dilalaikan.
Maka bagi-Nya jelas bahwa hidup benar-benar menjadi sebuah hidup yang penuh daya hidup, makan harus diisi kepatuhan/ketaatan total kepada Sang Pemberi Hidup sendiri. Tanpa itu, manusia hanya seonggok daging pembungkus tulang yang digerakkan entah oleh apa.
Yesus dikhianati
Yesus berseru, ”Anak Manusia harus diserahkan ke tangan orang-orang berdosa dan disalibkan, dan akan bangkit pada hari yang ketiga." Lukas 24:7
Cinta dibalas dengan benci. Harapan baru dibalas dengan kekecewaan penuh luka. Impian masa depan dibalas dengan keserakahan kini dan sekarang.
Bagi Yesus jelas. Yang ingin setia pasti akan dikhianati. Yang memilih kebenaran pasti akan dihabisi. Kalau tidak secara fisik, yang pasti secara psikis dan emosional. Khianat mengira punya daya henti atas kebenaran. Khianat tertipu. Tidak ada kekuatan yang bisa menghentikan kebenaran. Tidak ada keuntungan apa pun yang bisa dinikmati selamanya demi pemusnahan kebenaran.
Saudara/i-ku, itulah tiga kemungkinan jawaban atas derita yang harus ditanggung oleh Yesus. Itulah juga yang mesti dialami oleh para pengikutnya.
Akan tetapi, yang terjadi sering orang tidak mau menderita. Derita adalah kata yang harus dihindari. Bila mungkin, kata itu dihapus dari kamus kehidupan manusia. Maka yang terjadi justru sebaliknya
Banyak orang begitu mencintai dirinya sendiri (cinta diri)
Banyak orang tidak mematuhi Allah (kehendak diri)
Banyak orang tidak ingin dikhianati (khianat)
Cinta diri
Yesus mengajarkan, “Cintailah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Benar, diri sendiri tetap harus dicintai. Tetapi bukan berarti hanya kalau orang sungguh mencintai diri sendiri ia akan bisa mencintai yang lain.
Yang hendak diajarkan adalah jadikan dirimu patokan untuk menjadi sasaran cinta dan patokan yang sama digunakan untuk orang lain. Hukum Emas (Golden Rule), “Lakukan pada orang lain, apa yang ingin agar dilakukan orang padamu.” Yang serupa berbunyi demikian,”Yang kamu inginkan agar tidak dilakukan orang terhadapmu, jangan kamu lakukan pada orang lain.”
Yang banyak dilakukan di negri ini sebuah hukum lain: “Aku mau begini, kamu harus juga mau begini, semua untuk aku.”
Kehendak diri
Apa yang kamu inginkan, kejarlah itu. Bagi Sang Guru, ini tidak masuk akal. Ini bukan cara bertindak seorang manusia yang sungguh manusia. Bagi Sang Guru, hidup hanya sungguh berbuah banyak seumpama ranting yang melekat pada pokok pohon. Kehendak manusia yang bersatu dengan kehendak Allah itulah yang bila diikuti akan menghasilkan hidup. Kalau tidak, pasti akan ada kematian.
Khianat
Yang penting aman. Itu nasihat bijak, tetapi tidak cukup. Bila aman berarti tidak berani bertindak apa-apa. Itu kemandulan! Pasti tidak akan pernah ada daya hidup baru. Prinsip “yang penting aman” berarti untuk melangkah akan terjegal. Namun, lebih menakutkan lagi, ketika ingin berbuat benar, ada suara dalam diri, “Jangan sok suci!” Itulah suara pengkhianat terbesar yang paling ditakuti. Menjadi suci berarti melawan diri? Ini menyakitkan. Inilah keberhasilan khianat batin yang justru sering dikunyah mentah-mentah.
Kasih yang Sempurna
Batu yang dibuang oleh tukang bangunan telah menjadi batu penjuru. Yesus, Sang Guru, yang ditolak karena cinta, karena patuh, karena khianat, yang dianggap tidak berguna, menjadi dasar bangunan baru.
Paskah adalah hari saat manusia melihat Dia dan diri sendiri sebagai batu yang dibuang. Paskah adalah hari ketika diri tersadar kembali bahwa Dia, dan aku yang percaya, akan menjadi batu penjuru. Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seseorang yang menyerahkan hidupnya bagi sahabat-sahabatnya. Kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan. Paskah adalah perayaan kasih seorang sahabat.
Ia telah bangkit(?)
Sabtu SuciKamu mencari orang Nasaret yang sudah disalibkan itu. Ia telah bangkit. Sahabat-sahabat Yesus masih hidup di dunia lama. Mereka meratapi kematian Yesus dan mencari jenazah-Nya di kuburan. Sementara Yesus sudah masuk ke dalam hidup baru. Itu sulit dibayangkan. Mana mungkin orang mati hidup lagi, kecuali kalau dia tidak mati betul. Tapi Yesus sudah mati semati-matinya. Kalau belum mati betul, tusukan lembing seorang serdadu membawa kematian telak. Memang lebih gampang mencari orang mati ketimbang orang hidup. Apalagi Yesus dalam hidup baru yang tidak terikat waktu dan tempat. Itulah tugas kita sekarang: mencari dan menemukan Yesus yang hidup serta mewartakan Dia, Sang Kebangkitan. Ia sudah bangkit dan menghapus segala air mata kita.
Dia Disalibkan

Yesaya 52:13-53:12; Ibrani 4:14-16; 5:7-9; Yohanes 18:1-19:42
Saudara/i-ku, mendengarkan kisah Sengsara Tuhan Yesus, kita dihadirkan seorang manusia di atas salib yang berteriak serak memecah keheningan. Tak ubahnya seorang anak yang sedih mencari-cari Ayahnya, sumber ketenangan dan perlindungannya. Yesus terkulai di atas palang kayu.
Adalah pemandangan yang sangat keji ketika kita melihat Yesus yang tergantung di Salib. Yang tidak bersalah, namun menerima hukuman mati. Di balik penderitaan-Nya Ia tidak melawan dengan umpatan atau cacian, bahkan Ia tidak memperhitungkan jasa-jasa-Nya terhadap rakyat Israel yang disembuhkan-Nya, diberikan-Nya makan, dibantu-Nya.
Masih adakah yang sadar di bukit itu? Dia yang tersalib itu Tuhan! Adakah yang peduli pada-Nya? Dia mengorbankan diri untuk kita. Untuk dosa-dosa yang telah membawa maut bagi dunia. Namun, lihatlah... Siksa keji tidak membuat-Nya jera, Dia tetap diam, seakan-akan memang orang yang bersalah yang pasrah dengan nasibnya.
Masihkah kita mau menghitung dosa-dosa kita yang membuat-Nya sengsara? Dia ditampar untuk setiap dosa kita yang menyinggung orang lain dan lupa berbuat baik.
Dia dipukuli karena kita suka membalas dendam dan memusuhi sesama manusia.
Dia diludahi untuk setiap cacian yang keluar dari mulut kita, menabur gosip, menjelekkan dan bersaksi dusta tentang orang lain.Dia ditelanjangi, padahal kitalah yang berdosa, untuk setiap percabulan kita.
Duri-duri mahkota ranting yang menancap di kepala-Nya adalah dosa pikiran, keangkuhan dan kesombongan kita.
Paku-paku di palukan ke kedua tangan-Nya adalah karena dosa perbuatan kita.
Paku yang menancap di kaki-Nya adalah karena kita suka menginjak-injak orang lain, kita suka berpesta pora di atas penderitaan orang lain dan kita suka mencelakai orang lain.
Lambung-Nya di tikam untuk setiap dosa yang mementingkan diri kita, mencintai harta dan kekayaan, lupa dengan orang orang lapar dan nafsu serakah.
Akhirnya Dia mati karena dosa kita yang tak terbilang banyaknya. Dia mati karena kita. Tidakkah kita berutang untuk setiap sakit hati, luka-luka di tubuh-Nya, tetesan darah dan nafas yang dikurbankan-Nya untuk kita?
Ada tiga teladan Yesus: Kasih, Pelayanan dan Pengampunan

Saudara/i-ku,
Kamis Putih? Kamis sebelum Paskah, pada Hari Raya ini umat Kristen Katolik memperingati Perjamuan Malam terakhir yang dipimpin oleh Yesus.
Malam itu menjadi malam kenangan bagi semua Gereja Allah yang tersebar di seluruh penjuru dunia. Gereja bersama-sama merayakan pengenangan luhur Perjamuan Terakhir dengan satu ujud: pengenangan akan kasih Kristus yang tiada batasnya. Kerelaan-Nya akan siap dilakukannya untuk menggantikan kita di kayu salib.
Malam itu juga dikenal sebagai acara perpisahan Yesus dengan para muridNya. Namun perpisahan-Nya kali ini, dibayangi dengan maut yang siap menunggu-Nya di Kalvari. Tubuh-Nya siap dikorbankan dan darah-Nya siap dicurahkan untuk menebus umat manusia.
Mengapa ini harus terjadi? Itulah kehendak Allah, dan semata-mata karena kasih.
Santo Paulus menegaskan bahwa, walau dengan ke-Ilahian-Nya, Yesus tdk mau menyombongkan diri dan memamerkan kekuasaan-Nya, malahan ia menggunakan kemanusiaan dan kehambaan dalam diri manusia Yesus yang taat kepada rencana Bapa, sampai wafat disalib.
Akankah kitapun menahan setiap kesombongan dalam diri kita? Lihatlah!... Sang Guru itu membasuh kaki para muridnya. Suatu perkara yang mengharukan, Ia merendahkan diri di hadapan murid-Nya sendiri. Itulah perbuatan kasih yang Ia ajarkan. Bahwa menjadi pemimpin, berarti rela untuk menjadi pelayan. Bagaimana dengan pemerintah kita? atau... bagaimana dengan anda sendiri?...
Kasih Yesus mengatasi semua itu. Yesus mengasihi dengan seluruh hidupnya, sampai wafat bahkan wafat di salib. Pilihan kata yang kiranya lebih tepat bahwa Kasih Yesus itu tanpa batas dan dengan cara yang luar biasa. “Inilah Tubuh-Ku yang dikorbankan bagimu”. Dan dengan piala, “Inilah darah-Ku, darah Perjanjian yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa.
Misteri Kasih Tuhan yang sungguh agung dan tanpa batas. Ia yang telah rela menderita, wafat dan dimakamkan, kini dalam Ekaristi dikenangkannya. Roti yang dipecah-pecahkan dan cawan perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah Kristus diedarkan. melalui kerelaanNya untuk dipecah-pecahkan.
Ada tiga teladan Yesus: Kasih, Pelayanan dan Pengampunan
Apakah Aku Seorang Yudas?

Sementara Yudas mengakhiri hidupnya secara tragis. Setelah menjual Yesus, ia melarikan diri dan tak akan kembali kepada gurunya.
Yoh 12:1-11
Kisah pengurapan oleh Maria (saudari yang lain), dapat dikatakan sebagai kisah bayangan dari kematian dan penguburanNya, seperti cerita Lazarus menggambarkan kematianNya.
Lebih dari itu, kisah ini tampaknya untuk mengantisipasi tindakan pembasuhan kaki para murid oleh Yesus (13:1-20). Sebab dalam kisah ini kaki Yesus dibasuh dan diurapi.
Peristiwa dan tindakan simbolik yang dibuat oleh Maria (saudari yang lain) mengundang 2 tanggapan:
Negatif (Yudas) --- bukankah itu tindakan yang boros, lebih berguna bila untuk beramal
positif (Yesus) --- biarkanlah itu dibuat
Yohanes lebih memusatkan perhatian pada tindakan kasih dan perasaan lembut, sekaligus juga sisi paling buruk dalam kehidupan manusia, yaitu bersekongkol untuk mengakhiri hidup seseorang.
Peristiwa itu mengajak kita untuk sadar bahwa Tuhan lebih bernilai dari segala sesuatu. So...untukNya kita pantas merelakan segala-galanya yang ada pada diri kita.
Sebuah saat khusus
Yehezkiel 36:24-28
Yohanes 2:13-25
Saudara/iku yang dikasihi oleh Tuhan,
Bacaan Injil berkisah tentang pembersihan Kenisah atau Bait Suci. Mengapa Bait Suci itu dibersihkan? Bukankah telah menjadi suci? Bait yang suci=rumah yang suci.
Kenisah merupakan lambang ibadah yang harus bersih dari hal-hal yang berurusan di luar Kenisah, seperti sifat jual beli (untung rugi, dst).
Selain pembersihan juga tersirat agar kenisah itu sebaiknya dibangun kembali. Pembangunan kembali itu bukan semata-mata menunjuk kepada bengunan kenisahnya, melainkan sisi manusianya, sehingga menjadi kenisah baru.
Masa Prapaskah ini dapat menjadi masa pembangunan kenisah yang baru, kenisah yang hidup, yakni diri kita masing-masing sebagai bagian dari anggota Tubuh Kristus.
Kisah pembersihan kenisah itu hendak menyadarkan kita bahwa di satu sisi kehidupan beribadat itu harus terus-menerus dibersihkan dan disucikan. Dan kekuatan pembersihan itu adalah Roh Kudus. Nabi Yehezkiel melukiskan sebuah pembersihan diri itu dengan: “Aku akan mencurahkan kepadamu air jernih, yang akan mentahirkan kamu…(Yeh 36:25 dst). Dan kekuatan itu Roh Allah sendiri.
Dan di sisi lain bahwa pembangunan lebih pada pembangunan diri kita masing-masing, sehingga layak menjadi kenisah yang baru tempat Tuhan berkenan.
Peristiwa pembabtisan dan pemberkatan rumah yang akan kita saksikan nanti, menjadi saat pengingat bagi kita masing-masing akan kenisah baru itu.
Anak yang lahir suci harus disucikan dengan babtis. Penuangan air pada dahi melambangkan penyucian, sehingga disatukan atau dimetraikan dalam Yesus Kristus, sehingga diangkat menjadi anak-anak pilihanNya (Yehezkiel 36:25-26a, Roma 6:3a)
Demikianpun pemberkatan rumah. Sebuah saat khusus keluarga memperoleh rahmat dari Allah. Sehingga keluarga menjadi kenisah atau tempat suci yang harus selalu dijaga.
Tuhan Menantikan Buah
Kejadian 37:3-4, 12-13, 17-18
Matius 21:33-43, 45-46
Tuhan Menantikan Buah. Itulah simpul permenungan kita akan sabda Tuhan hari ini. Tuhan memiliki harapan besar. Tuhan Allah Bapa itulah pemilik kebun anggur itu. Penolakan dalam bentuk sikap iri hati hingga PutraNya sendiri dipukul dan bahkan dibunuh, membuat Tuhan mengubah sikapNya. Tuhan akan berurusan dengan penggarap-penggarap lama.
“Ia akan membinasakan orang-orang jahat itu dan kebun anggurNya akan disewakan kepada penggarap-penggarap lain” (Mat 21:41).
Dan kitalah yang akan menjadi penggarap-penggarap baru. Apa yang bisa dibuat? Kita menghindari sikap iri hati dengan mengembangkan sikap murah hati, sehingga dapat menghasilkan buah-buah Kerajaan Allah yang dinantikan oleh Tuhan: kedamaian, kasih, kesatuan, pengharapan dll.
Minggu Palma
Markus 11:1-10
Sebuah kisah tentu mengisyaratkan para tokoh yang bermain di dalamnya. Selain ada tokoh yang berperan, tentu juga ada penonton atau yang menyaksikan. Saat ini kita menghadirkan kembali sebuah kisah, yaitu kisah Yesus yang memasuki Yerusalem. Kita bukan menjadi penonton atau orang yang menyaksikan kisah, melainkan berperan di dalamnya dengan memegang palem ditangan sebagai perlengkapan untuk menyambut Yesus.
Kisah Yesus memasuki Yesrusalem bermaksud menyampaikan dua pesan yang jelas kepada rakyat Yerusalem. 1) Ia adalah raja, 2) Ia bermaksud membawa damai sejahtera.
Pada waktu itu, jika raja memasuki kota dengan menunggang kuda, biasanya berarti kerajaan dalam bahaya. Rakyat menjadi kalut dan ketakutan.
Jika raja hanya bertujuan untuk mengadakan kunjungan damai, ia akan memasuki kota dengan menunggang keledai.
Yesus memilih cara dengan menunggang keledai, tunggangan orang biasa. Dengan demikian Ia datang sebagai raja dengan lemah lembut dan rendah hati. Ia tidak merebut, tidak memaksa, tidak memakai kekerasan.
Saudara/i-ku, Sabda Tuhan (Mrk) hendak mengetengahkan kepada kita bagaimana cara pandang ilahi kita untuk melihat WAJAH Allah yang baru. Allah yang selama ini kita kenal sebagai yang Mahakuasa, kini ditampilkan sebagai Allah yang yang merendahkan diri dan menjadi sama dengan manusia, mengalami nasib yang paling hina. Dialah Allah yang BERBELA RASA.
Lalu...apakah kita siap menerima raja seperti itu? Atau justru kita mempunyai raja sendiri-sendiri? Atau bahkan kita menempatkan diri sebagai raja?
Yes 50:4-7
Flp 2:6-11
Markus 14:1-15:47
Saudara/i-ku, Kisah tragis Yesus, manusia tak berdosa yang telah kita dengar bukanlah laporan atau deskripsi yang mengundang kita untuk terharu. Melainkan sebuah narasi kesaksian orang-orang yang mengerti serta percaya bahwa sengsara dan kematian Yesus terjadi dalam rangka pengabdianNya untuk membangun kembali hubungan baik antara manusia dan Allah. Kisah sengsara Yesus memperlihatkan betapa merosotnya kemanusiaan yang menolak kehadiran Yang Ilahi.
Dalam menghadapi kesusahan, rasa malu dan penderitaan, seseorang biasanya bereaksi di “keempat penjuru mata angin” dirinya. Utara, orang itu menyerang orang lain dengan kebencian dan balas dendam. Selatan, orang itu menyerang diri sendiri dengan mengambil tindakan2 yang menyakiti dirinya sendiri. Barat, orang itu dapat menunjukkan kpd orang lain dg keras segala egonya dan menolak segala kesusahan dan rasa malu. Timur, orang itu menarik diri dari komunitasnya dan merasa diri tidak berharga.
Bac I, Yesaya 50:4-9, kita menjumpai bahwa hamba Allah tidak memilih reaksi-reaksi destruktif seperti itu. Saat menemui kesusahan, rasa malu dan penderitaan, Ia tidak menyerang balik atau balas dendam, atau menyakiti diri sendiri. Ia tidak menjauh dari komunitasnya, melainkan tetap tinggal di dalamnya.
Demikianlah kita mendapati gambaran sosok hamba Allah itu juga dalam diri Yesus Kristus. Ketaatan-Nya adalah ketaatan yang bersedia untuk berkorban (Mrk 14:1-15:47). Kristus yang telah menjadi teladan Paulus, kini menjadi teladan kita dalam hal ketaatan kepada Allah.
Pertanyaan bagi kita: seperti apa ketaatan kita kepada Allah akhir-akhir ini? Khususnya jika kita menemui kesusahan, rasa malu dan penderitaan dalam menjadi hamba-Nya, bagaimana tanggapan kita?
Membangun Puzle Hidup
Allah punya rencana menyelamatkan seluruh manusia. Untuk merealisasikan rencana itu Allah mengutus Yesus PutraNya ke dunia. Dengan demikian jelas bahwa visinya: mewujudkan rencana Allah BapaNya. Rencana Allah adalah program Allah. Yesus dalam melaksanakan visi itu, Ia juga membuat program yang akan melengkapi misiNya. Program Yesus yang dibacakan itu diambil dari nubuat Yesaya.“Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang” (Luk 4:18-19).
Hidup itu ibarat seorang yang membangun puzel. Visinya jelas. Kepingan-kepingan puzle yang ada bukan hanya harus disusun, tetapi mesti dicari kemana saja kepingan itu. Dunia yang luas ini adalah tempat pencariannya. Orang harus berpacu dengan waktu untuk menyelesaikan pembangunan atau penyusunan puzel itu. Bila orang tidak tepat berpacu dengan waktu waka puzel itu akan tidak sempurna. Demikianlah hidup kita, bila kita tidak berpacu dengan waktu, maka hidup kita akan amburadul. Puzle yang belum terselesaikan dengan waktu yang tersedia, maka gambar yang menjadi visi itu akan kurang sana sini. Demikian pun hidup kita.
Disembuhkan oleh Roh
Apa yang mendesak atau up to date bagi kita untuk dilakukan saat ini? Salah satunya adalah ‘melenyapkan segala penyakit dan kelemahan’, mereka yang sakit dan lemah hatinya, jiwanya, akal budinya maupun tubuhnya.
Obat yang paling mujarap cinta kasih dan kerendahhatian. Betapa pun sakit hatinya kiranya orang yang bersangkutan masih ada keterbukaan untuk dikasihi. Orang yang terbuka untuk dikasihi berarti orang yang rendah hati. Ia tidak egois, sebab hidupnya dikuasai oleh roh yang berasal dari Allah. Hidup dalam Roh berarti cara hidup dan cara betindaknya menghasilkan buah-buah roh, yaitu: “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.” (Gal 5:22-23). Itulah keutamaan-keutamaan yang mempersatukan semua orang.
Rahmat sakramen-sakramen yang telah kita terima telah membuat kita senantiasa dianugerahi Roh dan diharapkan hidup dari dan oleh Roh. ”Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” (Mat 7:21). Keutamaan hidup beriman terletak dalam perilaku atau tindakan. Marilah kita uji hidup kita: apakah perilaku atau tindakan kita menghasilkan keutamaan-keutamaan yang menjadi buah Roh atau tidak.
Menjadi Penunjuk Jalan
1 Yoh 2:29-3:6; Yoh 1:29-34Menjadi Pendoa
Memandang Wajah Tuhan
Menjadi Pembawa Terang
Tuhan memberkatiii. Bagaimanakah kabar hari iniii. Puji Tuhan, kita masih diberikan hidup, kita dianugerahi hari baru, kita dianugerahi kesehatan dan kita yakin masih banyak berkat dan kebaikan-kebaikan Allah yang akan kita terima pada hari ini.
Saudara-saudariku yang dikasihi oleh Tuhan,
Salah satu kebaikan Allah yang saat ini bisa kita nikmati adalah berada dalam tempat yang terang. Kita merasa nyaman. Paling tidak kita bisa melihat dan menilai segala sesuatu yang ada di sekitar kita. Kita bisa dengan mudah mengatakan bahwa itu anakku, itu istriku, itu suamiku, itu temanku, itu saudaraku, itu anjingku, itu bonekaku, itu buku gambarku dst.
Saudara-saudariku yang dikasihi oleh Tuhan, Ketika saudara/i berada dalam sebuah ruangan, tiba-tiba lampu yang ada dalam ruangan itu mati. Ruangan itu menjadi gelap. Lalu apa yang terjadi? Seketika itu juga, kita akan cemas, takut, ngeri dst. Lalu apa reaksi kita yang spontan muncul? Teriak, marah, mungkin ada yang menangis dan tak sedikit orang bahkan saling menyalahkan. Singkatnya, situasi pasti menjadi tegang dan mencekam. Dalam situasi seperti itu orang menjadi dibatasi dalam segala hal, baik perasaan, pandangan maupun gerak.
Apa yang bisa dilakukan. Bagaimana situasi seperti itu sebaiknya diatasi?
Satu-satunya jalan adalah orang datang membawa terang atau pelita. Dengan setitik terang atau pelita, maka kecemasan, ketakutan, kengerian, tegang, marah saling menyalahkan, semua itu dapat dipatahkan. Ketika ada setitik terang, betapa orang ditumbuhkan dalam pengharapan, sehingga situasi menjadi lepas bebas dan tidak mencekam lagi.
Saudara-saudariku yang dikasihi oleh Tuhan,
Datang untuk membawa terang atau pelita, itulah panggilan Allah kepada kita. Sosok Yohanes Pembabtis dalam bacaan Injil yang baru kita dengarkan, telah memberikan contoh kepada kita. Yohanes memberikan suatu kesaksian dengan membawa terang bagi semua orang. Namun Yohanes juga mengakui bahwa ia bukan terang itu. Ia hanya membawanya. Terang itu tak lain adalah keselamatan dari Yesus sendiri.
Itulah yang sering tidak mudah bagi kita. Ketika orang menjadi sukses..., terkenal, sering orang menjadi lupa. AKU siapa sih kalau bukan AKU...dst. YESAYA dalam bacaan pertama berpendapat bahwa dibutuhkan jiwa besar untuk mengakui bahwa kesuksesan itu bukan semata-mata hasil perjuangan atau keringat kita. Melainkan berkat bimbingan Roh Allah yang senantiasa menerangi. Roh Allah itulah yang menggerakkan setiap orang untuk selalu memiliki harapan akan rahmat-rahmat yang menghantar kita menjadi sukses atau terkenal. Oleh sebab itu PAULUS berpesan pada pembaca suratnya ”janganlah padamkan Roh”. Usaha agar Roh itu tetap bernyala adalah bersukacita, berdoa dan mengucap syukur (1 Tes 5:17-18).
Saudara-saudariku yang dikasihi oleh Tuhan,
Ketika orang datang membawa pelita, sehingga pelita itu menyinari ruangan di sekitar, maka pelita itulah yang membuat ruangan itu menadi terang. Terang itu bersumber dari pelita itu, dan bukan dari orang si pembawa pelita itu.
Mereka Trus Kemana?

Di mana arwah orang yang sudah meninggal dan bagaimana keadaannya? Itulah pertanyaan yang sering dilontarkan dari kalangan umat kepada pemandu pendalaman Kitab Suci, katekis, prodiakon, suster, frater, bruder atau pastor. Tak jarang dari mereka yang mulai membuat perkiraan atau penafsiran. Soal kebenaran atas jawaban itu menjadi nomer ke sekian, yang penting setelah pertanyaan itu dilontarkan saat itu pulalah diperoleh jawabannya.
Memaknai Tobat
Nah kalau pertanyaan ini ditujukan kepada Anda sebagai seorang seminaris, lalu apa jawabannya???Pertama-tama, kita diajak menyadari betapa pentingnya kesadaran diri sebagai pendosa. Bagi seorang pendosa, kebutuhan yang mendasar adalah bahwa dirinya diampuni. Dan pengampunan itu hanya mungkin bila orang itu memiliki IMAN. Lalu tanda iman adalah? TOBAT. Orang dikatakan memiliki iman bila dia juga mempunyai disposisi atau sikap tobat yang terus menerus dalam hidupnya.
Sikap tobat itulah yang diungkapkan dalam sakramen rekonsiliasi. Oleh sebab itu dalam sakramen tobat itu bukan sekedar mengakukan dosa-dosa kita, tetapi lebih dari pada itu bahwa kita hendak mengungkapkan tobat kita di hadapan Allah, dengan mengakui dan menyesali lalu membangun sikap tobat yang konkrit dalam hidup kita.
Rahmat Pengampunan
Bacaan Injil hari ini mengajak kita menyadari betapa penting yang namanya pengampunan. Bahwa dengan pengampunan, orang berubah menjadi baru.
Kesadaran dan penghayatan diri sebagai yang berdosa identik dengan kesadaran dan penghayatan diri sebagai yang beriman’ itulah kebenaran yang selayaknya diamini oleh siapapun yang mengaku diri sebagai orang beriman.
Perempuan pendosa sebagaimana diceriterakan dalam Warta Injil hari ini adalah yang telah menerima kasih pengampunan Tuhan, maka ia mempersembahkan kepada Tuhan apa yang telah diterimanya. Ia menjadi penjelmaan Allah yang pengampun dan penuh belas kasih, sehingga ia mau mempersembahkan kasih yang melimpah bagi dunia.
Semakin banyak dosa yang diakui, disesali dan ditobati, maka semakin besarlah rahmat Allah itu. Namun simon? Allah tidak dapat melakukan apa-apa.
Belajar dari Ibu Teresa
Kiranya melalui Ibu Teresa, apa yang ia katakan dan lakukan, kita dapat dan mengimani bahwa Tuhan itu Mahakasih dan Mahamurah, manusia adalah gambar atau citra Allah yang menjadikan kita semakin beriman, mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan.
Semoga Kita senantiasa membangun sikap tobat terus-menerus dalam hidup kita, sehingga kita beroleh rahmat yang berlimpah.
Undangan Allah
Pesta merupakan peristiwa yang berarti dalam kehidupan bersama. Khas suasana pesta perjamuan adalah membahagiakan, menggembirakan. Dalam menghadiri undangan pesta perkawinan pada umumnya orang berapakaian atau berpenampilan sedemikian rupa, sehingga laki-laki nampak tampan dan menawan sedangkan perempuan nampak cantik dan mempesona. Ada semacam lomba penampilan diri dengan berbagai jenis asesori maupun aneka jenis wewangian/deodorant yang disemprotkan ke tubuh atau aneka jenis lipstick yang menghiasi bibir kaum perempuan. Pendek kata orang berusaha seoptimal mungkin menghadirkan atau menampilkan diri agar menawan dan mempesona bagi yang lain, paling tidak secara phisik.
Karena pesta perjamuan itu adalah sebuah undangan, maka yang namanya undangan itu orang memiliki kebebasan memilih: mengiyakan dan menolak.
Bagi yang mengiyakan meski menanggapinya dengan baik, salah satunya dengan pakaian pantas pesta. Pakaian pesta sebetulnya bukan sekedar soal sopan dan santun. Melainkan sebuah tanda yang bisa dilihat mata bahwa yang mengenakan pakaian pesta itu datang ke pesta tanpa tujuan lain selain hanya untuk menghadiri pesta. Dengan mengenakan pakaian pesta, maka orang lain yang ikut hadir dapat mengenali yang bersangkutan.
Bagi yang menolak, itu artinya ia akan kehilangan dua hal: 1) rusaknya relasi dengan pihak yang mengundang, 2) kehilangan kesempatan untuk menghadiri pesta yang istimewa.
Melalui gambaran pesta perjamuan nikah yang tentu saja diwarnai dengan suasana penuh suka cita dengan jamuan makan yang serba wah, maksudnya tak lain ialah ketika orang bersatu dengan Tuhan, ia akan merasakan kebahagiaan dan kenikmatan rohani yang tak terbilang.
Iya atau TidakUndangan Allah bagi kita saat ini menuntut suatu jawaban yang amat tegas. MENGIYAKAN atau MENOLAK. Allah mengundang umatnya itu tentu agar umatnya memperoleh keselamatan. Maka jawaban satu-satunya adalah mengiyakan undangan itu.
Kesaksian Paulus kiranya dapat menjadi permenungan sekaligus pegangan hidup kita. “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku”. Bagi Paulus, ketika seseorang mengiyakan undangan allah, maka segala perkara dalam hidup dapat ditanggung dalam Dia yang mengundang.
Ada tiga perkara besar yang dimaksudkan Paulus yang harus kita hadapi dan geluti selama hidup di dunia ini, yaitu “ kekayaan, umur panjang dan nyawa musuh”:
- Kekayaan berarti segala sesuatu yang ada padaku, kumiliki dan kukuasai, misalnya: tubuh yang seksi, tampan, gagah, wajah cantik, kesehatan, sakit, derita, bahagia, keterampilan, kecerdasan, aneka jenis harta benda dan uang, dst.. Menghayati budaya kehidupan berarti merawat, merasakan, menikmati dan memfungsikan kekayaan-kekayaan tersebut dalam Tuhan yang memberi kekuatan kepadaku, sehingga aku semakin cerdas beriman, suci, semakin dikasihi oleh dan mengasihi Tuhan maupun sesama dan saudara-saudari kita
- Umur panjang juga merupakan perkara (perhatikan dan refleksikan bahwa tambah usia/umur berarti tambah dosanya, yang berarti tidak dapat mengurus pertambahan umur dengan baik), yang memang harus kita tanggung dalam Tuhan. Jika kita sungguh menanggung pertambahan umur dalam Tuhan, maka tambah usia, semakin tua berarti semakin suci, sebagaimana dikatakan dalam pepatah “Tua-tua keladi makin tua makin berisi”.
- Musuh juga merupakan perkara. Musuh berarti apa-apa atau siapa saja yang tidak sesuai dengan selera pribadi atau keinginan pribadi, entah itu makanan atau minuman, manusia, pekerjaan, suasana, lingkungan hidup, pekerjaan dst.. Marilah kita hadapai ‘nyawa musuh’ dalam kasih dan pengampunan, sebagaimana diajarkan oleh Yesus :” Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu”(Mat 5:44).
Jika kita mampu menanggung segala perkara dalam Tuhan, kiranya kita juga dapat berseru: "Sesungguhnya, inilah Allah kita, yang kita nanti-nantikan, supaya kita diselamatkan. Inilah TUHAN yang kita nanti-nantikan; marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita oleh karena keselamatan yang diadakan-Nya!”(Yes 25:9)
Akhirnya:
Pada suatau malam, seorang peziarah bermimpi masuk suatu toko baru. Betapa terkejutnya dia, karena Tuhan berjualan di situ. Ia bertanya, Tuhan, Engkau menjual apa di sini?
Tuhan menjawab, Apa saja yang menjadi keinginan hatimu.
Yakin bahwa yang dicarinya selama ini akan dapat ia temukan di toko Tuhan ini, maka peziarah itu berkata, Kalau demikian aku ingin membeli kedamaian hati dan ketentraman jiwa, kejujuran dan ketulusan, kebijaksanaan dan kesejahteraan, tidak hanya untuk saya, tetapi untuk seluruh bangsa bahkan seluruh dunia.
Waktu itu Tuhan tersenyum dan menjawab, Ku kira engkau tidak mengerti dengan baik. Di sini tidak dijual buah. Yang ditawarkan adalah benih.


