Yesus Berubah Rupa

Kej 22:1-2.9a.10-13.15-18
Rm 8:31-34 
Mrk 9:2-10

Minggu yang lalu, Sabda Tuhan mengundang kita untuk memberikan perhatian pada kuasa sakramen pembaptisan yang telah kita terima. Kuasa pembaptisan itu membuat kita mampu menolak kuasa jahat/iblis yang selalu menggoda kita. Hari ini, Sabda Tuhan mengundang kita untuk memberikan perhatian tentang kurban. Kita akan belajar dari tiga tokoh Abraham, iman Paulus dan Yesus Sang Anak Tuggal Allah.

Kita tahu bagaimana teladan kerendahan hati dan ketaatan Abraham. Ia mendengarkan dan mentaati permintaan Allah untuk mengurbankan anaknya yang tunggal (Ishak), yang telah lama dinanti-nantikan. Ia pun membawa Ishak untuk dipersembahkan. Melihat iman Abraham, maka Allah melepaskan Ishak dan menggantinya dengan seekor domba jantan sebagai kurban. Iman Abraham inilah yang membuat dirinya menerima berkat melimpah dari Tuhan. Ia menjadi Bapa segala bangsa.

Iman Paulus memberikan kesaksian bahwa Allah tidak menyayangkan AnakNya sendiri. Bahkan Ia menyerahkan AnakNya yang tunggal Yesus untuk keselamatan semua orang dengan sengsara dan wafatNya di kayu Salib. Sikap Allah ini yang mendorong kita untuk senantiasa bertumbuh dalam iman, memiliki harapan yang kokoh, dan keberanian untuk memberi kesaksian tentang cinta kasih Allah kepada semua orang.

Melepas lelah di taman Villa Adriana
Seperti halnya penampakan Yesus kepada tiga murid: Petrus, Yohanes dan Yakobus. Dikisahkan bahwa Yesus membawa ketiga murid terpilih itu ke atas sebuah gunung yang tinggi. Kita tahu bahwa gunung menjadi simbol tempat Tuhan bersemayam. Di sana Yesus berubah rupa, wajahNya berkilau-kilauan dan pakaianNya sangat putih. Di sana juga tampak Musa sebagai penerima Taurat dan Elia seorang Nabi Besar yang naik ke langit dengan kereta berapi dan akan datang kembali. Tampak kepada para murid bahwa mereka sedang bercakap-cakap satu sama lain. Keterpesonaan dan sukacita Petrus mendorong dirinya untuk mendirikan kemah-kemah untuk Yesus, Musa dan Elia. Namun terdengarlah dari langit  suara: “Inilah AnakKu yang kekasih, Dengarkanlah Dia!” Suara ini mempertegas identitas Yesus sebagai Anak Tunggal Bapa. Dialah yang akan menderita untuk keselamatan semua orang.

Masa prapaskah, pertama-tama menjadi saat di mana setiap pribadi diajak untuk bertekun mendengarkan Yesus, Sang Sabda karena Dialah Putera Tunggal Allah. Dialah tanda kasih Allah di tengah-tengah kita. Sabda Tuhan mestinya menjadi santapan setiap hari bagi kita. Sabda Tuhan yang didengar itu jugalah yang dapat dibagi-bagi di dalam hidup kita. 

Yang kedua, setiap pribadi dari kita diajak untuk berani berkurban demi kebaikan dan kebahagiaan sesama. Karena Tuhan Allah sendiri berbagi dengan manusia. Ia sendiri mengurbankan AnakNya yang tunggal. Dan sampai saat ini, setiap kali kita merayakan Ekaristi, mestinya kita menyadari sebagai saat Tuhan berbagi hidup dengan kita. Dalam rupa Hosti Suci, Tubuh dan Darah Tuhan, Ia membiarkan diriNya diambil, dipecah-pecah dan dibagikan untuk kepuasan bagi semua orang.

Penampakan Yesus dalam kemuliaanNya dengan berubah rupa, mendorong kita juga untuk mampu berubah. Perubahan hidup yang radikal bagi Allah, yakni dalam semangat tobat atau metanoia dalam diri kita. Yesus berseru, "Bertobatlah dan percayalah kepada Injil" (Mrk 1:15).

Tetap harus Ada yang Ditinggalkan

Markus 10:28-31
Hal mengikuti Yesus dibutuhkan sebuah keputusan. Setiap orang memiliki pengalamannya masing-masing dengan dinamika yang mewarnainya. Ada yang mengalami kesulitan untuk memutuskan menjadi Katolik, ada yang dengan mudah, ada yang ragu-ragu, ada pula yang setengah-setengah.

Kita bisa menyimak pengalaman Petrus, "Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau!" (Mrk 10,28). Mengikuti Yesus bagi Petrus berarti memutuskan untuk meninggalkan keluarga, pekerjaan dan mengikuti Yesus berkeliling kemana-mana.

di Piazza Navona, Roma
Ada nilai yang sangat tampak di situ: yakni nilai pengorbanan. Apakah kita juga harus mengambil keputusan seperti yang dibuat oleh Petrus? Keputusan yang kita ambil saat ini rasanya tidak harus seperti itu. Tetapi, memang harus ada yang kita tinggalkan: kemalasan, rasa iri, kegoisan, kebiasaan buruk yang menghalangi kita untuk mengikuti Yesus. Rasanya ini bisa jadi lebih sulit daripada meninggalkan pekerjaan kita.

Semua itu menjadi sulit karena telah menjadi kebiasaan yang mengikat kita. Mengapa mengikat? Karena kebiasaan-kebiasaan itu dibentuk oleh keinginan dan kehendak pribadi semata. Mengikuti Yesus berarti memutuskan untuk menyerahkan keinginan dan kehendak kita kepada Allah dan membiarkan keinginan dan kehendak Allah yang membentuk kebiasaan baru kita yang semakin takut akan Allah.

Mari kita penuhi undangan Tuhan untuk meninggalkan ha-hal yang menghalangi kita untuk berjumpa denganNya. Sehingga kita mengalami kebebasan sebagai anak-anak Allah.

Percayalah agar Tidak Merasa Cemas

Matius 6:24-34
Ketika itu, saat jeda waktu mengajar, saya menyempatkan diri untuk mencermati dinamika siswa-siswi di suatu sekolah taman kanak-kanak. Saya melihat mereka sedang bermain, berlari dan seterusnya. Ada suatu fenomena menarik dalam dinamika saling berbagi makanan ringan di antara mereka itu. Saya dapat mencermati bagaimana seorang anak merasa tidak cukup ketika diberi sedikit; ada juga yang merasa bingung ketika diberi banyak; ada pula yang masih protes ketika diberi cukup.

Lalu saya berpikir dan bertanya, tidakkah dinamika ini juga terjadi pada umumnya orang akhir-akhir ini? Jika demikian, rahmat Tuhan rasanya tidak cukup untuk setiap manusia. Bahkan mungkin ada saja orang yang sudah tidak percaya bahwa Tuhan itu Mahakasih, Mahabaik, Mahabesar; ketika hidupnya selalu diwarnai dengan kesulitan, rintangan, kegagalan.

Yesaya melukiskan situasi pembuangan bukan sebagai pengalaman menyenangkan. Sion yang berteriak bahwa Tuhan sudah lupa kepada mereka. Namun Tuhan menyatakan bahwa diriNya seperti seorang ibu yang tidak mungkin lupa kepada anak-anaknya. Bahkan seandainya pun ada ibu yang melupakan anak-anaknya, tapi Tuhan tidak (Yes 49:14-15).


Setiap orang tentu pernah merasa cemas, khawatir akan hidupnya? Orang merasa cemas dan khawatir akan hidupnya adalah wajar-wajar saja. Tetapi menjadi tidak wajar bila orang terlalu berpegang pada perasaan dan pikirannya sendiri. Orang lupa akan Allah yang selalu menjaga, memelihara dan mendampingi. Allah yang tidak pernah meninggalkan manusia seorang diri. 

Basilika Santuario SS.Annunziata, Firenze
Tuhan Yesus tahu bahwa manusia sering kuatir; kalau-kalau nanti tidak ada makanan, minuman dan pakaian dll (Matius 6,25). Penginjil mau mengatakan bahwa orang yang mengenal Allah, tahu bahwa sejatinya Allah mengetahui apa yang mereka butuhkan. Jadi untuk apa merasa kuatir? Sebaliknya, orang yang tidak mengenal Allah sering berpikir dan bertindak melampaui segala hal yang dipikirkan manusia atas hidup setiap harinya. Itulah yang membuat mereka dilingkupi kekuatiran. Yesus mengundang manusia untuk lebih mengenal Allah yang menjadi sumber hidup mereka.

Dalam ayat selanjutnya (Matius 6,26), Tuhan Yesus menguatkan lagi kepercayaan akan Allah Bapa di Sorga dengan jalan menunjuk kepada burung-burung. Tuhan Yesus di sini tidak mengajarkan supaya kita tidak bekerja, sebab burung-burung juga "bekerja" dalam mencari makanan. Yesus ingin mengajar kita agar tidak bergantung pada hal-hal yang duniawi, agar tidak mngandalkan kekuatan sendiri, melainkan bergantung pada Alah Bapa. Anda dan saya bukan Goliat. Maka janganlah jadi Goliath. Tetapi, jadilah Daud, yang lemah tapi kuat karena kuasa Allah.

Tuhan Yesus mau mengajak kita untuk menghilangkan kekuatiran dan kegelisahan kita dan menggantikan itu dengan kepercayaan.

Kita telah menjadi Garam dan Terang

Matius 5:13-16
Jika kita menyimak fenomena hidup di sekitar dengan segala tantangannnya, sering muncul ungkapan: dunia ini serasa gelap. Gelap mau mendifinisikan situasi yang memprihatinkan, diwarnai dengan kebohongan, kekerasan, kejahatan, kekejaman dan sejenisnya. Juga tak jarang orang megatakan bahwa dunia ini serasa hambar, tak berasa. Hambar mau mendifinisikan situasi sulit untuk mengalami rasa aman, damai, gembira, semangat dan sejenisnya.

Situasi demikian tampaknya juga sudah terjadi pada masa hidup para murid Yesus. Oleh sebab itu Yesus memanggil para murid untuk menghadapi situasi itu. “Kamu adalah garam dunia” (ay 13) dan “Kamu adalah terang dunia” (ay 14). Pernyataan Yesus ini jelas menyatakan bahwa mereka sudah menjadi garam dan terang dunia dan selayaknya mereka memiliki pola kehidupan sebagai garam dan terang dunia.

Yesus menyampaikan perumpamaan yang dapat dengan mudah untuk dimengerti oleh para murid. Pertama tentang garam. Sesuatu yang amat dekat dengan hidup manusia. Bermanfaat memberikan rasa lezat pada makanan, mencegah kebusukan dan menyembuhkan penyakit. Yesus mau meyakinkan para murid bahwa keberadaan adalah memberikan rasa, menambah sukacita orang lain. Di awal kotbahnya, Yesus telah menyatakan “Berbahagialah orang yang membawa damai karena mereka akan disebut anak-anak Allah” (Mat 5:9).
Kedua tentang terang. Sesuatu yang juga amat dekat dengan hidup manusia. Bermanfaat untuk menerangi. Menerangi berarti menjadikan orang lain dapat melihat. Rasul Paulus mengungkapkan “bahwa engkau adalah penuntun orang buta dan terang bagi mereka yang di dalam kegelapan” (Rom 2:19).

Perjamuan menjadi cara untuk merayakan hidup kita /10-2013-haryantoscj
Bagi kita
Garam dan terang. Keduanya bermanfaat bukan hanya untuk dirinya, melainkan terlebih untuk siapapun, apapun yang ada diluar dirinya. Kita dipanggil menjadi murid Yesus, pun diyakinkan oleh Yesus bahwa kita adalah garam dan terang. Keberadaan kita juga menjadi bermanfaat bagi yang lainnya : memberikan rasa aman, damai, gembira, semangat dan sejenisnya. Keberadaan kita juga menerangi setiap hati, dengan kejujuran, kelembutan, perdamaian dan membebaskan.

Sejenak melihat diri kita sendiri: Apakah sudah terjadi dalam diriku? Apakah Aku mengusahakan? Atau sebaliknya? Membuat dunia ini hambar bahkan tak berasa, atau gelap bahkan menjadi sumber permusuhan bagi yang lainnya?

Berkata Benar

Markus 6:14-29
Setiap orang memiliki keinginan yang besar untuk melakukan apapun yang terbaik. Keinginan yang besar seperti itulah yang mampu mengubah hidup seseorang menjadi lebih baik pula. Tetapi keinginan menjadi buruk ketika seseorang dikuasai oleh egonya.
Herodes sebagai sosok pemimpin telah dikuasai oleh egonya yang berlebihan. Ia mengambil apa yang bukan menjadi miliknya. Ia mengambil Herodias, istri Filipus saudaranya. Ia ingin menyingkirkan siapa saja yang bertentangan dengan pemikirannya, pandangannya dan apapun yang dianggap mengganggu dirinya. Itulah sikap Herodes yang terjadi pada zaman yang telah lalu. Karena itu ia ditegur oleh Yohanes Pembabtis.
Apakah sikap seperti itu terjadi di zaman kita sekarang ini? Di tengah masyarakat umum saat ini? Atau mungkin juga di antara kita pada hari ini? Kita lah yang bisa melihat, merasakan dan menamainya.
Jika itu terjadi, Yohanes Pembaptis memanggil kita untuk setia pada keinginan yang baik dan untuk berbicara kebenaran dalam menghadapi situasi apapun. Kita diundang untuk menempatkan keinginan kita pada porsi yang benar, sehingga mencapai apa pun yang terbaik, untuk Allah, untuk sesama dan untuk kita.

Pesta Yesus Dipersembahkan di Kenisah

Setelah membaca perikopa Injil hari ini, Lukas 2:22-40, minimal kita akan menemukan 5 tokoh utama yang dilibatkan dalam kisah ini: YESUS, MARIA, YOSEF, SEMEON dan HANA. 

YESUS yang dipersembahkan di bait Allah. Yesus adalah Mesias yang dijanjikan itu. Hal ini tampak dalam sikap Simeon yang menanti-nantikan seorang Juru Selamat seperti yang dijanjikan dan tak akan mati sebelum berjumpa dengan Sang Penyelamat tersebut. 

MARIA dan YOSEF yang mempersembahkan :
Korban persembahan: sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati (sebuah persembahan kaum miskin) untuk pengudusan keluarga. Maria dan Yusuf tidak menuntut perlakukan istimewa dari Allah walau mereka telah mengamini kehendakNya. Tetapi mempersembahkan seluruh keluarganya kepada Allah.
Bayi Yesus di Bait Allah. Mereka mewakili keluarga-keluarga saleh yang ada pada zaman itu. Kedua sosok ini menanamkan tradisi keagamaan mereka dalam bangsa Israel sejak dini kepada Yesus: dengan menyunatkan Yesus; memaklumkan Yesus sebagai anak sah menurut hukum dengan menamaiNya Yesus; menguduskan Yesus dengan mempersembahkanNya  di Bait Allah (Yesus adalah buah sulung yang dipersembahkan, yang akan bangkit dari antara orang mati). 
Mereka hendak memberi contoh dengan menghidupi lebih dahulu tradisi keagamaan mereka. Persembahan sang Bayi kepada Tuhan Allah menunjukkan bahwa Maria dan Yusuf bukanlah orang yang egois. Yusuf dan Maria mengembalikan sang Bayi, Yesus, kepada tugas perutusan yang hendak diembanNya.

SIMEON dan HANA yang menyambut Yesus di Bait Allah. Keduanya mewakili orang-orang saleh pada zaman itu yang menantikan kedatangan seorang Mesias yang akan mengawali zaman baru. Meski mereka orang-orang yang teguh beriman, tetapi batin mereka gundah-gulana : kapankah Allah akan sungguh mengutus orang untuk membawa umat di jalan yang benar.
Kidung Simeon (ay. 29-32), merupakan pujian yang juga meringkaskan pengalaman yang melegakan batin Ssimeon karena dapat melihat datangnya penyelamatan yang disediakan bagi siapa saja, bukan hanya bagi umat terpilih. Ketika Yesus di bawa masuk ke Bait Allah oleh kedua orang tuaNya, Simeon melihat, menyambut dan menerima Yesus dalam tangannya dan ia tidak ragu-ragu mengakui bahwa Yesus adalah Mesias yang dijanjikan Allah. Hana memahami hal itu dengan penuh sukacita dan pengharapan, dan ia pun "berbicara tentang anak itu (Yesus) kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem" (ay. 38).
Kesaksian Simeon dan Hana, sekaligus mengamini kerelaan Yusuf dan Maria yang mempersembahkan sang Anak tunggal mereka.

Umat merayakan Ekaristi di halaman Basilika St Petrus
Bagi kita...
  • Tindakan Maria dan Yosef "mempersembahkan Yesus kepada Tuhan" ini merupakan sikap iman yang mesti juga dimiliki setiap orang Kristiani : Maria dan Yusuf sadar bahwa Yesus bukan milik mereka, melainkan milik Allah, pun dengan keluarganya, dipilih oleh Allah. Kita juga diundang untuk senantiasa mempersembahkan diri kita, keluarga kita, karya-karya kita. Pater Dehon menghendaki agar para anggotanya secara eksplisit mempersatukan hidup  mereka sebagai religius dan sebagai rasul dengan persembahan Kristus demi kepentingan semua manusia dan bukan demi kepentingan diri sendiri (bdk. Konst.6).
  • Mempersembahkan diri juga berarti menguduskan. Kita semua sedang mengusahakan pengudusan diri. Seperti yang diwartakan Paulus bahwa bersama dengan saudara seiman, kita didorong untuk mengikuti jejak Kristus untuk mencapai kekudusan (lih. 1 Tes 4:7). 
  • Belajar dari Simeon dan Hana, agar kita selalu memiliki kegundahan (keinginan yang besar, komitmen yang kuat) untuk berjumpa, menyambut dan mengakui Yesus Sang Mesias yang dijanjikan itu.

Yesus Memanggil Para Murid dari Kalangan Sederhana

Misa Harian di Tarquinia, Roma
Matius 4:12-23

Misi Yesus sangat jelas, yaitu mewartakan Kerajaan Allah. Ia menyerukan pertobatan dan memanggil keempat murid untuk menyertaiNya. Ia tidak bekerja sendirian dengan memilih: Petrus, Andreas, Yohanes dan Yakobus. Kita secara pribadi memiliki pengalaman personal dipanggil oleh Tuhan. Kita menjadi orang-orang yang dengan jelas dipilih oleh Yesus, untuk karyaNya memang akan terus berlangsung. Tetapi sering menjadi tidak jelas bagi manusia, kita yang dipilih untuk terlibat dalam karya Yesus.

Manusia sering merasa tidak layak, lemah, kecil, tidak mampu berdosa dst. Demikian pun tindakan Yesus ketika memilih empat murid itu. Suatu pilihan yang mungkin tak masuk hitungan, menurut cara berpikir, cara pandang kita sebagai manusia. Sebab manusia cenderung memilih orang-orang yang dipadang mampu, pandai dan ahli.

Tetapi cara pandang Allah berbeda dengan cara pandang kita. Sebab Allah berkenan kepada mereka yang sederhana, kecil, lemah, dan berdosa karena di dalam kelemahan manusialah kuasa Tuhan menjadi sempurna (2Kor 12:9).

Demikian pun telah terjadi pada masa Perjanjian Lama, saat Allah memilih Musa dan Yeremia, yang tak pandai bicara (Kel 4:10; Yer 1:6); demikian juga Gideon yang paling muda dari kaum yang terkecil (Hak 6:15); atau Daud, anak bungsu Isai, yang menjadi gembala domba (1Sam 16:11).

Keempat murid : Simon Petrus, Andreas, Yakobus dan Yohanes, yang hari ini dipanggil oleh Yesus rasanya mengingatkan akan panggilan kita. Mereka yang dipanggil tampaknya orang-orang sederhana, dari kalangan nelayan. Pada kisah yang lain Yesus juga memanggil dari kalangan pemungut cukai, orang Zelot dan seterusnya.

Marekalah orang-orang yang bersedia untuk dididik menjadi murid. Mereka segera meninggalkan jala dan perahu mereka untuk mengikuti Yesus (Mat 4:20,22). Tindakan mereka ini rasanya mendorong banyak orang di sepanjang sejarah Gereja, yang melakukan hal serupa, yaitu meninggalkan segala sesuatu, untuk memberikan diri seutuhnya kepada Tuhan Yesus. Gereja justru didirikan atas iman orang-orang sederhana ini.

Ketika Yesus berkata kepada mereka, “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia” (Mat 4:19). Tampak di situ mereka tanpa banyak komentar, langsung berangkat dan meninggalkan jala dan segalanya, seperti yang dilakukan 'Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, yang segera meninggalkan perahu serta ayahnya, lalu mengikuti Dia. Apakah mereka saat itu mengerti apa yang dimaksudkan sebagai penjala manusia? Saya pikir mereka tidak mengerti. Apakah mereka juga sudah mengenal Yesus sebelumnya? Rasanya belum juga. Yesus memanggil, dan mereka pun segera mengaminiNya. Begitulah iman, yang mendorong orang untuk mengatakan dalam hatinya kaa “amin”.

Kita tentu bukanlah orang-orang seperti Petrus, Andreas, Yakobus dan Andreas dalam mengikuti panggilan Tuhan. Jawaban dan perjuangan kita dalam mengikuti Yesus, tidaklah sebesar yang dialami para rasul itu. Rasanya juga hal ini tidak perlu dipersoalkan. Tuhan tidak memberikan tuntutan atau target kepada setiap orang. Tetapi dari kita dibutuhkan kesediaan dan pengorbanan serta keyakinan, seperti yang dinasihatkan oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Roma, “Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan” (Rm 10:9-10).

Tuhan, bantu kami yang mengamini panggilanMu.

Yohanes menarik simpati masa karena Yesus yang diimani

Baru saja aku membaca perikopa Injil Yohanes 1:29-34 untuk besok pagi. Sejenak aku pun mengambil waktu untuk membacanya kembali ayat demi ayat dan setelah itu merenungkannya.
weekend Salesian, Mei 2014
Tiba-tiba aku sampai kepada kesadaran bahwa aku pernah menceritakan tentang kehebatan sesuatu bahkan tentang diriku sendiri dengan rasa amat bangga kepada orang lain. Mungkin orang yang mendengarku kagum, tetapi mungkin juga sebaliknya: muak atau jengkel. Heeee maaf yaa sahabatku atas keangkuhanku, atas kesombonganku.

Perikopa yang kubaca mengajakku untuk mengakui bahwa Yohanes sungguh luar biasa. Dia menarik simpati rakyat dan banyak orang mengikuti gerakan barunya mempersiapkan kedatangan Mesias. Hidupnya menyampaikan pesan yang menarik. Dia mendirikan komunitas baru: komunitas yang menantikan zaman baru, pun bisa dipahami oleh orang-orang Yahudi saat itu. Prinsipnya tegas - Dia selalu menunjuk pada sesuatu yang lebih besar daripada dirinya dan tidak pernah mengambil kesempatan untuk memperalat atau menyesatkan orang-orang yang mengaguminya.

Bagi kita memang tidak selalu gampang memainkan peran secara jujur dan ikhlas seperti Yohanes. Bahkan tak jarang kita (maaf kalau Anda tidak termasuk dalam kategori ini)....ehh aku maksudnya, kadang berjuang untuk memperoleh segala hal dan kesempatan; tak jarang kadang pun menjelekkan dan bahkan menjatuhkan orang yang dipandang musuh atau rival....dst.

Yohanes mengajar kita untuk senantiasa mewartakan Dia, Yesus dalam kesaksian hidupnya, dan bukan mewartakan dirinya sendiri. Dengan demikian kebahagiaan yang dialami Yohanes juga akan kita alami.

Tuhan memberkati niat baik kita.

Hari Raya Epifani

Yesaya 60:1-6; Efesus 3:2-3a.5-6; Matius 2:1-12

Hari ini kita merayakan Hari Raya Penampakan Tuhan (Epifani). Kata PENAMPAKAN mengisyaratkan adanya dinamika dua pihak yang berkaitan erat: Siapa (apa) yang menampakan dan kepada siapa (apa) penampakan itu. Di sini jelas dinamika itu antara Allah dan Manusia. Mari kita lihat dinamika itu dalam empat point di bawah ini:

Aku telah melihat bintangNya
PERTAMA, Allah yang menampakan diri dengan sarananya: 1). Bintang – bisa dilihat oleh banyak orang, artinya: Allah mau menjumpai kepada semakin banyak orang, bukan hanya orang Yahudi saja. Meski tidak semua orang pun bisa melihat bintang. Mereka yang bijaksana yang bisa melihat makna di balik tanda bintang. 2). Bayi (manusia) – Allah datang dalam wujud/rupa manusia. Allah punya inisiatif ingin menjumpai manusia secara lebih dekat, hangat dan bersahabat.

KEDUA, kepada orang-orang Majus. Matius tidak menyebut secara persis siapa mereka itu. Adanya nama tiga orang bijak dari Timur merupakan refleksi lebih lanjut dari orang-orang Kristen atas kisah Injil Matius tersebut.
Kita tahu bahwa konteks Matius menulis Injilnya adalah kepada orang-orang Yahudi yang telah berabad-abad mengharapkan datangnya sang Mesias, raja yang akan memperbaharui Israel. Maksud Matius dengan kisah ini adalah, bahwa seperti orang-orang Majus, semua orang harus mencari dan menemukan Kristus yang datang ke dunia untuk menyelamatkan manusia dari segala bangsa dan jaman. Kristus datang tidak hanya untuk bangsa Yahudi/Israel saja tetapi juga untuk semua orang dari segala bangsa yang merindukan keselamatan dari Allah.
Sarana orang-orang majus: emas, kemenyan dan mur. Kita dapat memaknai masing-masing dari persembahan: emas, persembahan bagi seorang raja; kemenyan, persembahan bagi seorang imam; dan mur - balsam penguburan, persembahan bagi seorang yang akan meninggal. Bagi St. Ireneus (wafat 202) persembahan emas, kemenyan dan mur ditafsirkan sebagai: Raja, Tuhan dan Penebus yang Menderita.
Di samping itu, kita mesti mengingatnya juga bahwa kunjungan para majus ini menggenapi nubuat Perjanjian Lama: Bileam menubuatkan kedatangan Mesias yang akan ditandai dengan sebuah bintang: “Aku melihat dia, tetapi bukan sekarang; aku memandang dia, tetapi bukan dari dekat; bintang terbit dari Yakub, tongkat kerajaan timbul dari Israel…” (Bil 24:17). Penulis Mazmur menyampaikan bagaimana bangsa kafir akan datang untuk menyembah Mesias: “kiranya raja-raja dari Tarsis dan pulau-pulau membawa persembahan-persembahan, kiranya raja-raja dari Syeba dan Seba menyampaikan upeti! Kiranya semua raja sujud menyembah kepadanya, dan segala bangsa menjadi hambanya!” (Mzm 72:10-11). Yesaya juga menubuatkan tentang persembahan-persembahan yang dibawa: “Sejumlah besar unta akan menutupi daerahmu, unta-unta muda dari Midian dan Efa. Mereka semua akan datang dari Syeba, akan membawa emas dan kemenyan, serta memberitakan perbuatan masyhur TUHAN” (Yes 60:6).
Dengan demikian orang-orang Majus itu tidak hanya melambangkan bangsa yang menemukan jalan menuju Kristus, tapi mereka juga mewakili aspirasi terdalam dari manusia, dinamika agama-agama, dan akal budi manusia menuju Kristus.

KETIGA, kepada Herodes dengan sarananya: kekuasaan. Dengan kekuasaan kecerdikannya ingin memperdaya orang-orang Majus yang telah sampai di Yerusalem yang membawa warta, “Dimanakah Raja Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di ufuk timur dan kami datang untuk menyembah Dia.”

KEEMPAT, akhirnya bagi kita, Hari Raya Penampakan ini pun mengingatkan akan dinamika iman kita. Allah yang tetap berinisiatif menarik semua orang. Natal yang kita rayakan, Emanuel menjadi refleksi bahwa Allah mengundang kita. Dalam dinamika itu kita boleh bertanya diri siapa Allah yang menampakkan diri padaku? Sarana apa yang dipakai Allah ketika menampakkan diri kepadaku? Adakah bintang yang bisa kulihat, sesuatu yang menarik perhatianku untuk merasakan Allah yang menolongku, membimbingku, menganugerahiku kesehatan, persaudaraan dst?
Kita selalu dan terus mencari Tuhan dalam setiap peristiwa hidup. Lalu sarana apa yang riil yang bisa kulakukan untuk menjumpai Allah yang menampakan diri kepadaku? Dengan kebijaksaaanku kah sehingga aku memilih untuk menyediakan waktu berelasi dengan Allah melalui doa-doaku? Dengan kelembutan dan kemurahhatianku kah aku membangun relasi dengan orang-orang di sekitarku, di tengah keluargaku, di tempat kerjaku? Hari Raya Penampakan Tuhan membangunkan kesadaran kita akan kewajiban kita untuk bersembah sujud kepada Kristus melalui doa, sembah bakti, dan perbuatan-perbuatan baik serta kurban.
Atau kita berlaku sebagai Herodes, yang selalu memusuhi Allah. Seakan kita bisa melakukan apapun tanpa Allah.

Apa yang Anda inginkan?



1 Yoh 2:29-3:6; Yoh 1:29-34
http://melangkahmeraihcita.files.wordpress.com/2013/12/vannes-3.jpg
"Apakah yang kamu cari?" Itulah pertanyaan Yesus kepada kedua murid Yohanes yang bergegas mengikuti Yesus. Pertanyaan yang kurang lebih senada pernah kita dengarkan dari orang-orang disekitar kita, “Apa yang Anda inginkan?”
Kita tentu setuju, bila keinginan atau dengan kata yang lebih halus “motivasi” dapat menjadi tolok ukur soal baik buruknya suatu tindakan kita (tidak bermaksud ekstrim moralis). Suatu tindakan adalah buruk jika maksudnya jahat. Suatu bentuk kejahatan akan berkurang jahatnya jika kejahatan itu dilakukan dengan maksud baik.
Seperti halnya dengan keberhasilan, kesuksesan atau prestasi, pun sangat tergantung dari maksud dan tujuan yang bersangkutan itu sendiri. Jika orang sungguh-sungguh bermaksud dan berkeinginan mencapai sesuatu, maka saya akan mencari cara yang tepat untuk mendapatkannya. Jika keinginan saya lemah, maka saya akan mudah menyerah. Yakobus dalam suratnya mengatakan, "Bila kamu berdoa, kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu" (Yak 4:3).
Kembali kepada pertanyaan Yesus, "Apakah yang kamu cari?” Dua murid itu menjawabnya dengan sebuah pertanyaan juga, "Dimanakah Engkau tinggal?" Bagi kita mungkin tampak sebuah kebodohan, pertanyaan kok dijawab dengan pertanyaan. Tetapi di sini, penginjil mau menampilkan reaksi dua murid yang mempunyai KEINGINAN, atau MOTIVASI mendalam. Bukan soal tempat tinggal Yesus, tetapi suatu rasa kagum yang luar biasa dari sosok Yesus dan mereka ingin mengalami hidup yang terpancar diri Yesus.
Hal itu tampak dari jawaban kemudian dari Yesus, "Marilah dan kamu akan melihatnya." Di sini Yesus mengundang mereka kepada kehidupan Yesus, kebenaran dan kehidupan batin yang ada dalam diri-Nya dan melalui-Nya. "Mereka pun datang dan melihat dimana Ia tinggal: dan hari itu mereka tinggal bersama dengan Dia." Mereka mengunjungi-Nya secara lahiriah, namun mereka juga mengalami-Nya di dalam batin mereka dan sedikit banyak mengalami cahaya kasih-Nya.
Yesus pun mengundang kita untuk mengalami pencerahan (untuk menjadi lebih gembira dan lebih cerah) sebagai motivasi dalam mengikuti-Nya. Jika kita mengikuti-Nya, kita bertumbuh dalam cara memandang sesuatu, dalam pencerahan, dan akhirnya kita tidak mempunyai keinginan lagi. Kita akan menemukan diri kita tidak mempunyai keinginan apa apa lagi, kecuali persatuan dengan-Nya dalam keterbukaan yang tanpa pamrih. Undangan ini bukan berarti mengajak dan menjadikan kita diam dan pasif, tetapi justru kepada perbuatan yang lebih produktif dan bebas dari egoisme atau cinta diri.
Oleh sebab itu mari kita selalu gemakan dan kita mendengarkan dengan lebih mendalam, pertanyaan Yesus itu, Apakah yang kamu cari? Juga undanganNya "datanglah dan lihatlah". Ketika kita bertumbuh lebih mendekat pada pribadi Kristus, penglihatan kita menjadi lebih baik dan motivasi serta maksud tujuan kita pun dimurnikan. Kemudian kita pun ingin berbagi kepada orang lain.