Tetap harus Ada yang Ditinggalkan

Markus 10:28-31
Hal mengikuti Yesus dibutuhkan sebuah keputusan. Setiap orang memiliki pengalamannya masing-masing dengan dinamika yang mewarnainya. Ada yang mengalami kesulitan untuk memutuskan menjadi Katolik, ada yang dengan mudah, ada yang ragu-ragu, ada pula yang setengah-setengah.

Kita bisa menyimak pengalaman Petrus, "Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau!" (Mrk 10,28). Mengikuti Yesus bagi Petrus berarti memutuskan untuk meninggalkan keluarga, pekerjaan dan mengikuti Yesus berkeliling kemana-mana.

di Piazza Navona, Roma
Ada nilai yang sangat tampak di situ: yakni nilai pengorbanan. Apakah kita juga harus mengambil keputusan seperti yang dibuat oleh Petrus? Keputusan yang kita ambil saat ini rasanya tidak harus seperti itu. Tetapi, memang harus ada yang kita tinggalkan: kemalasan, rasa iri, kegoisan, kebiasaan buruk yang menghalangi kita untuk mengikuti Yesus. Rasanya ini bisa jadi lebih sulit daripada meninggalkan pekerjaan kita.

Semua itu menjadi sulit karena telah menjadi kebiasaan yang mengikat kita. Mengapa mengikat? Karena kebiasaan-kebiasaan itu dibentuk oleh keinginan dan kehendak pribadi semata. Mengikuti Yesus berarti memutuskan untuk menyerahkan keinginan dan kehendak kita kepada Allah dan membiarkan keinginan dan kehendak Allah yang membentuk kebiasaan baru kita yang semakin takut akan Allah.

Mari kita penuhi undangan Tuhan untuk meninggalkan ha-hal yang menghalangi kita untuk berjumpa denganNya. Sehingga kita mengalami kebebasan sebagai anak-anak Allah.

Percayalah agar Tidak Merasa Cemas

Matius 6:24-34
Ketika itu, saat jeda waktu mengajar, saya menyempatkan diri untuk mencermati dinamika siswa-siswi di suatu sekolah taman kanak-kanak. Saya melihat mereka sedang bermain, berlari dan seterusnya. Ada suatu fenomena menarik dalam dinamika saling berbagi makanan ringan di antara mereka itu. Saya dapat mencermati bagaimana seorang anak merasa tidak cukup ketika diberi sedikit; ada juga yang merasa bingung ketika diberi banyak; ada pula yang masih protes ketika diberi cukup.

Lalu saya berpikir dan bertanya, tidakkah dinamika ini juga terjadi pada umumnya orang akhir-akhir ini? Jika demikian, rahmat Tuhan rasanya tidak cukup untuk setiap manusia. Bahkan mungkin ada saja orang yang sudah tidak percaya bahwa Tuhan itu Mahakasih, Mahabaik, Mahabesar; ketika hidupnya selalu diwarnai dengan kesulitan, rintangan, kegagalan.

Yesaya melukiskan situasi pembuangan bukan sebagai pengalaman menyenangkan. Sion yang berteriak bahwa Tuhan sudah lupa kepada mereka. Namun Tuhan menyatakan bahwa diriNya seperti seorang ibu yang tidak mungkin lupa kepada anak-anaknya. Bahkan seandainya pun ada ibu yang melupakan anak-anaknya, tapi Tuhan tidak (Yes 49:14-15).


Setiap orang tentu pernah merasa cemas, khawatir akan hidupnya? Orang merasa cemas dan khawatir akan hidupnya adalah wajar-wajar saja. Tetapi menjadi tidak wajar bila orang terlalu berpegang pada perasaan dan pikirannya sendiri. Orang lupa akan Allah yang selalu menjaga, memelihara dan mendampingi. Allah yang tidak pernah meninggalkan manusia seorang diri. 

Basilika Santuario SS.Annunziata, Firenze
Tuhan Yesus tahu bahwa manusia sering kuatir; kalau-kalau nanti tidak ada makanan, minuman dan pakaian dll (Matius 6,25). Penginjil mau mengatakan bahwa orang yang mengenal Allah, tahu bahwa sejatinya Allah mengetahui apa yang mereka butuhkan. Jadi untuk apa merasa kuatir? Sebaliknya, orang yang tidak mengenal Allah sering berpikir dan bertindak melampaui segala hal yang dipikirkan manusia atas hidup setiap harinya. Itulah yang membuat mereka dilingkupi kekuatiran. Yesus mengundang manusia untuk lebih mengenal Allah yang menjadi sumber hidup mereka.

Dalam ayat selanjutnya (Matius 6,26), Tuhan Yesus menguatkan lagi kepercayaan akan Allah Bapa di Sorga dengan jalan menunjuk kepada burung-burung. Tuhan Yesus di sini tidak mengajarkan supaya kita tidak bekerja, sebab burung-burung juga "bekerja" dalam mencari makanan. Yesus ingin mengajar kita agar tidak bergantung pada hal-hal yang duniawi, agar tidak mngandalkan kekuatan sendiri, melainkan bergantung pada Alah Bapa. Anda dan saya bukan Goliat. Maka janganlah jadi Goliath. Tetapi, jadilah Daud, yang lemah tapi kuat karena kuasa Allah.

Tuhan Yesus mau mengajak kita untuk menghilangkan kekuatiran dan kegelisahan kita dan menggantikan itu dengan kepercayaan.

Kita telah menjadi Garam dan Terang

Matius 5:13-16
Jika kita menyimak fenomena hidup di sekitar dengan segala tantangannnya, sering muncul ungkapan: dunia ini serasa gelap. Gelap mau mendifinisikan situasi yang memprihatinkan, diwarnai dengan kebohongan, kekerasan, kejahatan, kekejaman dan sejenisnya. Juga tak jarang orang megatakan bahwa dunia ini serasa hambar, tak berasa. Hambar mau mendifinisikan situasi sulit untuk mengalami rasa aman, damai, gembira, semangat dan sejenisnya.

Situasi demikian tampaknya juga sudah terjadi pada masa hidup para murid Yesus. Oleh sebab itu Yesus memanggil para murid untuk menghadapi situasi itu. “Kamu adalah garam dunia” (ay 13) dan “Kamu adalah terang dunia” (ay 14). Pernyataan Yesus ini jelas menyatakan bahwa mereka sudah menjadi garam dan terang dunia dan selayaknya mereka memiliki pola kehidupan sebagai garam dan terang dunia.

Yesus menyampaikan perumpamaan yang dapat dengan mudah untuk dimengerti oleh para murid. Pertama tentang garam. Sesuatu yang amat dekat dengan hidup manusia. Bermanfaat memberikan rasa lezat pada makanan, mencegah kebusukan dan menyembuhkan penyakit. Yesus mau meyakinkan para murid bahwa keberadaan adalah memberikan rasa, menambah sukacita orang lain. Di awal kotbahnya, Yesus telah menyatakan “Berbahagialah orang yang membawa damai karena mereka akan disebut anak-anak Allah” (Mat 5:9).
Kedua tentang terang. Sesuatu yang juga amat dekat dengan hidup manusia. Bermanfaat untuk menerangi. Menerangi berarti menjadikan orang lain dapat melihat. Rasul Paulus mengungkapkan “bahwa engkau adalah penuntun orang buta dan terang bagi mereka yang di dalam kegelapan” (Rom 2:19).

Perjamuan menjadi cara untuk merayakan hidup kita /10-2013-haryantoscj
Bagi kita
Garam dan terang. Keduanya bermanfaat bukan hanya untuk dirinya, melainkan terlebih untuk siapapun, apapun yang ada diluar dirinya. Kita dipanggil menjadi murid Yesus, pun diyakinkan oleh Yesus bahwa kita adalah garam dan terang. Keberadaan kita juga menjadi bermanfaat bagi yang lainnya : memberikan rasa aman, damai, gembira, semangat dan sejenisnya. Keberadaan kita juga menerangi setiap hati, dengan kejujuran, kelembutan, perdamaian dan membebaskan.

Sejenak melihat diri kita sendiri: Apakah sudah terjadi dalam diriku? Apakah Aku mengusahakan? Atau sebaliknya? Membuat dunia ini hambar bahkan tak berasa, atau gelap bahkan menjadi sumber permusuhan bagi yang lainnya?

Berkata Benar

Markus 6:14-29
Setiap orang memiliki keinginan yang besar untuk melakukan apapun yang terbaik. Keinginan yang besar seperti itulah yang mampu mengubah hidup seseorang menjadi lebih baik pula. Tetapi keinginan menjadi buruk ketika seseorang dikuasai oleh egonya.
Herodes sebagai sosok pemimpin telah dikuasai oleh egonya yang berlebihan. Ia mengambil apa yang bukan menjadi miliknya. Ia mengambil Herodias, istri Filipus saudaranya. Ia ingin menyingkirkan siapa saja yang bertentangan dengan pemikirannya, pandangannya dan apapun yang dianggap mengganggu dirinya. Itulah sikap Herodes yang terjadi pada zaman yang telah lalu. Karena itu ia ditegur oleh Yohanes Pembabtis.
Apakah sikap seperti itu terjadi di zaman kita sekarang ini? Di tengah masyarakat umum saat ini? Atau mungkin juga di antara kita pada hari ini? Kita lah yang bisa melihat, merasakan dan menamainya.
Jika itu terjadi, Yohanes Pembaptis memanggil kita untuk setia pada keinginan yang baik dan untuk berbicara kebenaran dalam menghadapi situasi apapun. Kita diundang untuk menempatkan keinginan kita pada porsi yang benar, sehingga mencapai apa pun yang terbaik, untuk Allah, untuk sesama dan untuk kita.

Pesta Yesus Dipersembahkan di Kenisah

Setelah membaca perikopa Injil hari ini, Lukas 2:22-40, minimal kita akan menemukan 5 tokoh utama yang dilibatkan dalam kisah ini: YESUS, MARIA, YOSEF, SEMEON dan HANA. 

YESUS yang dipersembahkan di bait Allah. Yesus adalah Mesias yang dijanjikan itu. Hal ini tampak dalam sikap Simeon yang menanti-nantikan seorang Juru Selamat seperti yang dijanjikan dan tak akan mati sebelum berjumpa dengan Sang Penyelamat tersebut. 

MARIA dan YOSEF yang mempersembahkan :
Korban persembahan: sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati (sebuah persembahan kaum miskin) untuk pengudusan keluarga. Maria dan Yusuf tidak menuntut perlakukan istimewa dari Allah walau mereka telah mengamini kehendakNya. Tetapi mempersembahkan seluruh keluarganya kepada Allah.
Bayi Yesus di Bait Allah. Mereka mewakili keluarga-keluarga saleh yang ada pada zaman itu. Kedua sosok ini menanamkan tradisi keagamaan mereka dalam bangsa Israel sejak dini kepada Yesus: dengan menyunatkan Yesus; memaklumkan Yesus sebagai anak sah menurut hukum dengan menamaiNya Yesus; menguduskan Yesus dengan mempersembahkanNya  di Bait Allah (Yesus adalah buah sulung yang dipersembahkan, yang akan bangkit dari antara orang mati). 
Mereka hendak memberi contoh dengan menghidupi lebih dahulu tradisi keagamaan mereka. Persembahan sang Bayi kepada Tuhan Allah menunjukkan bahwa Maria dan Yusuf bukanlah orang yang egois. Yusuf dan Maria mengembalikan sang Bayi, Yesus, kepada tugas perutusan yang hendak diembanNya.

SIMEON dan HANA yang menyambut Yesus di Bait Allah. Keduanya mewakili orang-orang saleh pada zaman itu yang menantikan kedatangan seorang Mesias yang akan mengawali zaman baru. Meski mereka orang-orang yang teguh beriman, tetapi batin mereka gundah-gulana : kapankah Allah akan sungguh mengutus orang untuk membawa umat di jalan yang benar.
Kidung Simeon (ay. 29-32), merupakan pujian yang juga meringkaskan pengalaman yang melegakan batin Ssimeon karena dapat melihat datangnya penyelamatan yang disediakan bagi siapa saja, bukan hanya bagi umat terpilih. Ketika Yesus di bawa masuk ke Bait Allah oleh kedua orang tuaNya, Simeon melihat, menyambut dan menerima Yesus dalam tangannya dan ia tidak ragu-ragu mengakui bahwa Yesus adalah Mesias yang dijanjikan Allah. Hana memahami hal itu dengan penuh sukacita dan pengharapan, dan ia pun "berbicara tentang anak itu (Yesus) kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem" (ay. 38).
Kesaksian Simeon dan Hana, sekaligus mengamini kerelaan Yusuf dan Maria yang mempersembahkan sang Anak tunggal mereka.

Umat merayakan Ekaristi di halaman Basilika St Petrus
Bagi kita...
  • Tindakan Maria dan Yosef "mempersembahkan Yesus kepada Tuhan" ini merupakan sikap iman yang mesti juga dimiliki setiap orang Kristiani : Maria dan Yusuf sadar bahwa Yesus bukan milik mereka, melainkan milik Allah, pun dengan keluarganya, dipilih oleh Allah. Kita juga diundang untuk senantiasa mempersembahkan diri kita, keluarga kita, karya-karya kita. Pater Dehon menghendaki agar para anggotanya secara eksplisit mempersatukan hidup  mereka sebagai religius dan sebagai rasul dengan persembahan Kristus demi kepentingan semua manusia dan bukan demi kepentingan diri sendiri (bdk. Konst.6).
  • Mempersembahkan diri juga berarti menguduskan. Kita semua sedang mengusahakan pengudusan diri. Seperti yang diwartakan Paulus bahwa bersama dengan saudara seiman, kita didorong untuk mengikuti jejak Kristus untuk mencapai kekudusan (lih. 1 Tes 4:7). 
  • Belajar dari Simeon dan Hana, agar kita selalu memiliki kegundahan (keinginan yang besar, komitmen yang kuat) untuk berjumpa, menyambut dan mengakui Yesus Sang Mesias yang dijanjikan itu.

Yesus Memanggil Para Murid dari Kalangan Sederhana

Misa Harian di Tarquinia, Roma
Matius 4:12-23

Misi Yesus sangat jelas, yaitu mewartakan Kerajaan Allah. Ia menyerukan pertobatan dan memanggil keempat murid untuk menyertaiNya. Ia tidak bekerja sendirian dengan memilih: Petrus, Andreas, Yohanes dan Yakobus. Kita secara pribadi memiliki pengalaman personal dipanggil oleh Tuhan. Kita menjadi orang-orang yang dengan jelas dipilih oleh Yesus, untuk karyaNya memang akan terus berlangsung. Tetapi sering menjadi tidak jelas bagi manusia, kita yang dipilih untuk terlibat dalam karya Yesus.

Manusia sering merasa tidak layak, lemah, kecil, tidak mampu berdosa dst. Demikian pun tindakan Yesus ketika memilih empat murid itu. Suatu pilihan yang mungkin tak masuk hitungan, menurut cara berpikir, cara pandang kita sebagai manusia. Sebab manusia cenderung memilih orang-orang yang dipadang mampu, pandai dan ahli.

Tetapi cara pandang Allah berbeda dengan cara pandang kita. Sebab Allah berkenan kepada mereka yang sederhana, kecil, lemah, dan berdosa karena di dalam kelemahan manusialah kuasa Tuhan menjadi sempurna (2Kor 12:9).

Demikian pun telah terjadi pada masa Perjanjian Lama, saat Allah memilih Musa dan Yeremia, yang tak pandai bicara (Kel 4:10; Yer 1:6); demikian juga Gideon yang paling muda dari kaum yang terkecil (Hak 6:15); atau Daud, anak bungsu Isai, yang menjadi gembala domba (1Sam 16:11).

Keempat murid : Simon Petrus, Andreas, Yakobus dan Yohanes, yang hari ini dipanggil oleh Yesus rasanya mengingatkan akan panggilan kita. Mereka yang dipanggil tampaknya orang-orang sederhana, dari kalangan nelayan. Pada kisah yang lain Yesus juga memanggil dari kalangan pemungut cukai, orang Zelot dan seterusnya.

Marekalah orang-orang yang bersedia untuk dididik menjadi murid. Mereka segera meninggalkan jala dan perahu mereka untuk mengikuti Yesus (Mat 4:20,22). Tindakan mereka ini rasanya mendorong banyak orang di sepanjang sejarah Gereja, yang melakukan hal serupa, yaitu meninggalkan segala sesuatu, untuk memberikan diri seutuhnya kepada Tuhan Yesus. Gereja justru didirikan atas iman orang-orang sederhana ini.

Ketika Yesus berkata kepada mereka, “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia” (Mat 4:19). Tampak di situ mereka tanpa banyak komentar, langsung berangkat dan meninggalkan jala dan segalanya, seperti yang dilakukan 'Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, yang segera meninggalkan perahu serta ayahnya, lalu mengikuti Dia. Apakah mereka saat itu mengerti apa yang dimaksudkan sebagai penjala manusia? Saya pikir mereka tidak mengerti. Apakah mereka juga sudah mengenal Yesus sebelumnya? Rasanya belum juga. Yesus memanggil, dan mereka pun segera mengaminiNya. Begitulah iman, yang mendorong orang untuk mengatakan dalam hatinya kaa “amin”.

Kita tentu bukanlah orang-orang seperti Petrus, Andreas, Yakobus dan Andreas dalam mengikuti panggilan Tuhan. Jawaban dan perjuangan kita dalam mengikuti Yesus, tidaklah sebesar yang dialami para rasul itu. Rasanya juga hal ini tidak perlu dipersoalkan. Tuhan tidak memberikan tuntutan atau target kepada setiap orang. Tetapi dari kita dibutuhkan kesediaan dan pengorbanan serta keyakinan, seperti yang dinasihatkan oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Roma, “Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan” (Rm 10:9-10).

Tuhan, bantu kami yang mengamini panggilanMu.

Yohanes menarik simpati masa karena Yesus yang diimani

Baru saja aku membaca perikopa Injil Yohanes 1:29-34 untuk besok pagi. Sejenak aku pun mengambil waktu untuk membacanya kembali ayat demi ayat dan setelah itu merenungkannya.
weekend Salesian, Mei 2014
Tiba-tiba aku sampai kepada kesadaran bahwa aku pernah menceritakan tentang kehebatan sesuatu bahkan tentang diriku sendiri dengan rasa amat bangga kepada orang lain. Mungkin orang yang mendengarku kagum, tetapi mungkin juga sebaliknya: muak atau jengkel. Heeee maaf yaa sahabatku atas keangkuhanku, atas kesombonganku.

Perikopa yang kubaca mengajakku untuk mengakui bahwa Yohanes sungguh luar biasa. Dia menarik simpati rakyat dan banyak orang mengikuti gerakan barunya mempersiapkan kedatangan Mesias. Hidupnya menyampaikan pesan yang menarik. Dia mendirikan komunitas baru: komunitas yang menantikan zaman baru, pun bisa dipahami oleh orang-orang Yahudi saat itu. Prinsipnya tegas - Dia selalu menunjuk pada sesuatu yang lebih besar daripada dirinya dan tidak pernah mengambil kesempatan untuk memperalat atau menyesatkan orang-orang yang mengaguminya.

Bagi kita memang tidak selalu gampang memainkan peran secara jujur dan ikhlas seperti Yohanes. Bahkan tak jarang kita (maaf kalau Anda tidak termasuk dalam kategori ini)....ehh aku maksudnya, kadang berjuang untuk memperoleh segala hal dan kesempatan; tak jarang kadang pun menjelekkan dan bahkan menjatuhkan orang yang dipandang musuh atau rival....dst.

Yohanes mengajar kita untuk senantiasa mewartakan Dia, Yesus dalam kesaksian hidupnya, dan bukan mewartakan dirinya sendiri. Dengan demikian kebahagiaan yang dialami Yohanes juga akan kita alami.

Tuhan memberkati niat baik kita.

Hari Raya Epifani

Yesaya 60:1-6; Efesus 3:2-3a.5-6; Matius 2:1-12

Hari ini kita merayakan Hari Raya Penampakan Tuhan (Epifani). Kata PENAMPAKAN mengisyaratkan adanya dinamika dua pihak yang berkaitan erat: Siapa (apa) yang menampakan dan kepada siapa (apa) penampakan itu. Di sini jelas dinamika itu antara Allah dan Manusia. Mari kita lihat dinamika itu dalam empat point di bawah ini:

Aku telah melihat bintangNya
PERTAMA, Allah yang menampakan diri dengan sarananya: 1). Bintang – bisa dilihat oleh banyak orang, artinya: Allah mau menjumpai kepada semakin banyak orang, bukan hanya orang Yahudi saja. Meski tidak semua orang pun bisa melihat bintang. Mereka yang bijaksana yang bisa melihat makna di balik tanda bintang. 2). Bayi (manusia) – Allah datang dalam wujud/rupa manusia. Allah punya inisiatif ingin menjumpai manusia secara lebih dekat, hangat dan bersahabat.

KEDUA, kepada orang-orang Majus. Matius tidak menyebut secara persis siapa mereka itu. Adanya nama tiga orang bijak dari Timur merupakan refleksi lebih lanjut dari orang-orang Kristen atas kisah Injil Matius tersebut.
Kita tahu bahwa konteks Matius menulis Injilnya adalah kepada orang-orang Yahudi yang telah berabad-abad mengharapkan datangnya sang Mesias, raja yang akan memperbaharui Israel. Maksud Matius dengan kisah ini adalah, bahwa seperti orang-orang Majus, semua orang harus mencari dan menemukan Kristus yang datang ke dunia untuk menyelamatkan manusia dari segala bangsa dan jaman. Kristus datang tidak hanya untuk bangsa Yahudi/Israel saja tetapi juga untuk semua orang dari segala bangsa yang merindukan keselamatan dari Allah.
Sarana orang-orang majus: emas, kemenyan dan mur. Kita dapat memaknai masing-masing dari persembahan: emas, persembahan bagi seorang raja; kemenyan, persembahan bagi seorang imam; dan mur - balsam penguburan, persembahan bagi seorang yang akan meninggal. Bagi St. Ireneus (wafat 202) persembahan emas, kemenyan dan mur ditafsirkan sebagai: Raja, Tuhan dan Penebus yang Menderita.
Di samping itu, kita mesti mengingatnya juga bahwa kunjungan para majus ini menggenapi nubuat Perjanjian Lama: Bileam menubuatkan kedatangan Mesias yang akan ditandai dengan sebuah bintang: “Aku melihat dia, tetapi bukan sekarang; aku memandang dia, tetapi bukan dari dekat; bintang terbit dari Yakub, tongkat kerajaan timbul dari Israel…” (Bil 24:17). Penulis Mazmur menyampaikan bagaimana bangsa kafir akan datang untuk menyembah Mesias: “kiranya raja-raja dari Tarsis dan pulau-pulau membawa persembahan-persembahan, kiranya raja-raja dari Syeba dan Seba menyampaikan upeti! Kiranya semua raja sujud menyembah kepadanya, dan segala bangsa menjadi hambanya!” (Mzm 72:10-11). Yesaya juga menubuatkan tentang persembahan-persembahan yang dibawa: “Sejumlah besar unta akan menutupi daerahmu, unta-unta muda dari Midian dan Efa. Mereka semua akan datang dari Syeba, akan membawa emas dan kemenyan, serta memberitakan perbuatan masyhur TUHAN” (Yes 60:6).
Dengan demikian orang-orang Majus itu tidak hanya melambangkan bangsa yang menemukan jalan menuju Kristus, tapi mereka juga mewakili aspirasi terdalam dari manusia, dinamika agama-agama, dan akal budi manusia menuju Kristus.

KETIGA, kepada Herodes dengan sarananya: kekuasaan. Dengan kekuasaan kecerdikannya ingin memperdaya orang-orang Majus yang telah sampai di Yerusalem yang membawa warta, “Dimanakah Raja Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di ufuk timur dan kami datang untuk menyembah Dia.”

KEEMPAT, akhirnya bagi kita, Hari Raya Penampakan ini pun mengingatkan akan dinamika iman kita. Allah yang tetap berinisiatif menarik semua orang. Natal yang kita rayakan, Emanuel menjadi refleksi bahwa Allah mengundang kita. Dalam dinamika itu kita boleh bertanya diri siapa Allah yang menampakkan diri padaku? Sarana apa yang dipakai Allah ketika menampakkan diri kepadaku? Adakah bintang yang bisa kulihat, sesuatu yang menarik perhatianku untuk merasakan Allah yang menolongku, membimbingku, menganugerahiku kesehatan, persaudaraan dst?
Kita selalu dan terus mencari Tuhan dalam setiap peristiwa hidup. Lalu sarana apa yang riil yang bisa kulakukan untuk menjumpai Allah yang menampakan diri kepadaku? Dengan kebijaksaaanku kah sehingga aku memilih untuk menyediakan waktu berelasi dengan Allah melalui doa-doaku? Dengan kelembutan dan kemurahhatianku kah aku membangun relasi dengan orang-orang di sekitarku, di tengah keluargaku, di tempat kerjaku? Hari Raya Penampakan Tuhan membangunkan kesadaran kita akan kewajiban kita untuk bersembah sujud kepada Kristus melalui doa, sembah bakti, dan perbuatan-perbuatan baik serta kurban.
Atau kita berlaku sebagai Herodes, yang selalu memusuhi Allah. Seakan kita bisa melakukan apapun tanpa Allah.

Apa yang Anda inginkan?



1 Yoh 2:29-3:6; Yoh 1:29-34
http://melangkahmeraihcita.files.wordpress.com/2013/12/vannes-3.jpg
"Apakah yang kamu cari?" Itulah pertanyaan Yesus kepada kedua murid Yohanes yang bergegas mengikuti Yesus. Pertanyaan yang kurang lebih senada pernah kita dengarkan dari orang-orang disekitar kita, “Apa yang Anda inginkan?”
Kita tentu setuju, bila keinginan atau dengan kata yang lebih halus “motivasi” dapat menjadi tolok ukur soal baik buruknya suatu tindakan kita (tidak bermaksud ekstrim moralis). Suatu tindakan adalah buruk jika maksudnya jahat. Suatu bentuk kejahatan akan berkurang jahatnya jika kejahatan itu dilakukan dengan maksud baik.
Seperti halnya dengan keberhasilan, kesuksesan atau prestasi, pun sangat tergantung dari maksud dan tujuan yang bersangkutan itu sendiri. Jika orang sungguh-sungguh bermaksud dan berkeinginan mencapai sesuatu, maka saya akan mencari cara yang tepat untuk mendapatkannya. Jika keinginan saya lemah, maka saya akan mudah menyerah. Yakobus dalam suratnya mengatakan, "Bila kamu berdoa, kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu" (Yak 4:3).
Kembali kepada pertanyaan Yesus, "Apakah yang kamu cari?” Dua murid itu menjawabnya dengan sebuah pertanyaan juga, "Dimanakah Engkau tinggal?" Bagi kita mungkin tampak sebuah kebodohan, pertanyaan kok dijawab dengan pertanyaan. Tetapi di sini, penginjil mau menampilkan reaksi dua murid yang mempunyai KEINGINAN, atau MOTIVASI mendalam. Bukan soal tempat tinggal Yesus, tetapi suatu rasa kagum yang luar biasa dari sosok Yesus dan mereka ingin mengalami hidup yang terpancar diri Yesus.
Hal itu tampak dari jawaban kemudian dari Yesus, "Marilah dan kamu akan melihatnya." Di sini Yesus mengundang mereka kepada kehidupan Yesus, kebenaran dan kehidupan batin yang ada dalam diri-Nya dan melalui-Nya. "Mereka pun datang dan melihat dimana Ia tinggal: dan hari itu mereka tinggal bersama dengan Dia." Mereka mengunjungi-Nya secara lahiriah, namun mereka juga mengalami-Nya di dalam batin mereka dan sedikit banyak mengalami cahaya kasih-Nya.
Yesus pun mengundang kita untuk mengalami pencerahan (untuk menjadi lebih gembira dan lebih cerah) sebagai motivasi dalam mengikuti-Nya. Jika kita mengikuti-Nya, kita bertumbuh dalam cara memandang sesuatu, dalam pencerahan, dan akhirnya kita tidak mempunyai keinginan lagi. Kita akan menemukan diri kita tidak mempunyai keinginan apa apa lagi, kecuali persatuan dengan-Nya dalam keterbukaan yang tanpa pamrih. Undangan ini bukan berarti mengajak dan menjadikan kita diam dan pasif, tetapi justru kepada perbuatan yang lebih produktif dan bebas dari egoisme atau cinta diri.
Oleh sebab itu mari kita selalu gemakan dan kita mendengarkan dengan lebih mendalam, pertanyaan Yesus itu, Apakah yang kamu cari? Juga undanganNya "datanglah dan lihatlah". Ketika kita bertumbuh lebih mendekat pada pribadi Kristus, penglihatan kita menjadi lebih baik dan motivasi serta maksud tujuan kita pun dimurnikan. Kemudian kita pun ingin berbagi kepada orang lain.

Ogni giorno e momento della vita è l'ultima volta

1Gv 2,18-21; Gv 1,1-18

Oggi è l'ultimo giorno dell'anno 2013. L'apostolo Giovanni ci ricorda anche che non solo l'ultimo giorno dell'anno , ma ogni giorno e momento della vita è l'ultima volta ( 1 Gv 2:18 ). Ci sono molte cose che sono accadute e che abbiamo vissuto durante gli anni passeranno, le cose buone sono positivo o negativo, triste o felice, sia incontro o di perdita o di separazione. 
Allora, che cosa dobbiamo fare prima di entrare nel nuovo anno?
Parola di Dio oggi di aprire i nostri cuori, che Gesù è presente a noi come il verbo si fece carne e venne ad abitare in mezzo a noi, per illuminare la nostra vita, togliere i nostri peccati, e di lasciare ed entrare le virtù della sua vita divenne integrale in noi.

Quindi, dobbiamo essere grati per gli anni a passare, camminiamo per certo, entriamo nel nuovo anno con pieno di speranza, la convinzione che "Dio abita in mezzo a noi " e " in lui era la vita e la vita era la luce degli uomini ".

Preghiamo nei nostri cuori,
Grazie Signore per la tua provvidenza tutto l'anno che passerà presto. Guidaci a tua benignità nel nuovo anno più tardi .

Teladan Keluarga Kita

Pesta Keluarga Kudus ini menjadi momen yang tepat bagi suami dan isteri merenungkan kembali komitmen yang telah mereka ikrarkan, saling menghormati, saling mencintai dan setia dalam untung dan malang. Baik suami maupun isteri harus mengutamakan dialog dan mau memperbaharui komitmen demi keutuhan keluarga.

di halaman basilika S. Fransiskus Asisi, Juli 2013
Maria dan Yosef memberikan teladan yang setia melaksanakan komitmen di antara mereka, komitmen untuk memelihara Yesus, secara khusus komitmen untuk melaksanakan kehendak Allah. Komitmen-komitmen itutampak ketika mereka harus menyingkir ke Mesir untuk menyelamatkan Yesus. Dalam Matius 2:13 dikatakan, “Nampaklah malaikat Tuhan kepada Yosef dalam mimpi dan berkata, bangunlah dan bawalah anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari dan membunuh anak itu.”
Betapa tidak ringannya situasi yang dialami oleh Maria dan Yosef. Namun Mereka melaksanakan tugas itu dengan setia karena tanggungjawabnya sebagai orang tua, karena tanggung jawabnya akan keselamatan Yesus. Mereka setia dengan komitmen yang telah mereka ungkapkan walau banyak tantangan dan bahkan penderitaan. Rasa percaya kepada Allah menguatkan mereka.

parco pamphili, Roma
Kalau kita cermati, rasanya keluarga yang baik itu bukan berarti keluarga yang tanpa masalah dantantangan, adem ayem saja, semua berjalan normal. Keluarga yang baik ialah sebuah keluarga yang medasarkan hidupnya atas kehendak Allah. Sebuah keluarga yang menjadikan setiap tantangan dan masalah sebagai penguji sekaligus penguat cinta, janji dan komitmen mereka. Cinta selalu diuji setiap saat, komitmen selalu harus dimurnikan, dan janji itu juga selalu harus diperbarui. Umumnya semua itu terjadi mana kala keluarga mengedepankan dialog, komunikasi dan keterbukaan.

Yang dominan bukannya kata SAYA, KAMU apalagi KAU, melainkan KITA. Yesus mengatakan, “Karena itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, maka keduanya menjadi satu. Jadi mereka bukan lagi dua, melainkan satu”  (Mat 19:5-6).

Stefanus, ”Tuhan Yesus, terimalah rohku”

Pesta St. Stefanus, Mrt. Pertama
Kis. 6:8–10; 7:54–59; Mat. 10:17–22

 
Ketika Gereja dilanda dengan bertubi-tubi masalah, cemoohan, penghakiman dan bahkan pengusiran, serasa juga bertubi-tubi pula keluhan, mungkin juga ketakutan dan apatisisme: betapa berat menjadi pengikut Yesus. Dibutuhkan kekuatan untuk menghadapinya dan sanggup menanggung serta menerima konsekuensi oleh karena imanku kepadaNya.

pondasi rumah
St. Stefanus adalah martir gereja pertama yang patut kita teladani karena sikap imannya yang begitu kokoh, dan keberaniannya yang luar biasa meskipun harus menaggung derita dan kematian. Tuhan mengerjakan banyak mukjizat melalui tangan Stefanus dan menghantar banyak orang menjadi pengikut Kristus. Tetapi, para anggota Mahkamah Agama (yang memusuhi Gereja), sangat merasa berang dan geram, lalu bersekongkol untuk menghabisi Stefanus. Stefanus dituduh menghujat Allah.  Tanpa rasa takut pun Stefanus menghadapi dan tuduhan-tuduhan palsu terhadapnya, meski akhirnya diseret keluar kota untuk dirajam.

Di akhir hidupnya, ia menengadah ke langit, melihat kemuliaan Allah dan Yesus di sebelah kanan-Nya. Dengan penuh penyerahan diri ia berdoa: ”Tuhan Yesus, terimalah rohku”.

Kita terpanggil untuk juga menjadi martir Gereja seperti Stefanus, dengan berani mengakui iman pada Kristus meskipun dibenci orang karena kita percaya Tuhan akan mengirim perlindungan dan kekuatan kepada kita. Tuhan menganugerahkan semangat iman, harapan dan kasih juga agar kita mampu bertahan dalam kesulitan dan tantangan hidup kita sebagai murid-murid Kristus di tengah masyarakat. Semangat iman St. Stefanus menjadi semangat kita dalam mengimani Kristus.  

Memulai, Memelihara dan Membesarkan

Perikopa injil Matius (Mat 1:18-24) menampilkan sebuah tradisi mengenai kelahiran Yesus dari sudut pandang Yusuf. Bagi umat Matius dan umat awal, kelahiran Yesus itu jelas bukan kejadian yang biasa. Yesus dikandung dari Roh Kudus tetapi dilahirkan secara manusiawi oleh Maria dan dibesarkan oleh Yusuf. 
Letak tidak biasa-nya : …. kata-kata malaikat dalam mimpi Yusuf. ... juga ditambahkan, semua yang dikatakan malaikat itu menggenapkan nubuat nabi Yesaya 7:14 (Yes 7:10-14), bahwa seorang anak dara akan melahirkan anak lelaki yang dikenal dengan nama Imanuel, yang artinya "Tuhan menyertai kita". Kelahiran sang "Imanuel" - "Allah menyertai kita"..... Allah tidak lagi membiarkan manusia sendirian. Dan mulai saat itu kehadiran "Imanuel" memang menyertai manusia sepanjang zaman. Paulus dselalu menutup surat atau perjumpaannya dengan jemaat Kasih karunia menyertai kamu dan damai sejahtera dari Allah Bapa kita dan dari Tuhan kita Yesus Kristus (Rm 1:1-7).
petani memulai dengan membajak tanah
Matius menekankan hadirnya daya ilahi "Maria mengandung dari Roh Kudus" (penerimaan utuh dari pihak Maria). Berhadapan dengan daya ilahi ini, Sikap dan Tindakan Yusuf ---- ia menerima karya ilahi yang tidak lumrah sekalipun dan tetap menghormatinya. Bahkan ia memeliharanya dengan penuh perhatian. Ia memikirkan kepentingan Maria, tidak hanya mau meninggalkannya begitu saja. Kemudian ia juga berani mendengarkan Yang Keramat yang mengubah rencananya sama sekali. Ia bersedia menjadi orang yang bertanggung jawab membesarkan Yesus. Dalam adat keluarga Yahudi, pendidikan seorang anak sejak tidak lagi menyusu ibunya hingga akil balig pada usia 12-13 tahun menjadi tanggung jawab bapa keluarga. Begitulah kebesaran hati Yusuf, kepekaannya, kematangan imannya ikut membentuk pribadi Yesus. Itulah ungkapan iman Yusuf yang paling nyata. 
Dengan demikian, kita sebagai pembaca Injil Matius diajak untuk mengerti bagaimana kelahiran Yesus dari sudut pandang Yusuf. Apa artinya menjadi anak yang dibesarkan oleh orang seperti Yusuf itu. Di sini menjadi jelas bahwa karya "Tuhan menyelamatkan umatNya" itu menjadi tepercaya justru karena memakai jalan manusiawi. Karya Roh Kudus, betul-betul bisa membawakan keselamatan bila tumbuh dan menjadi besar dalam lingkungan yang sungguh manusiawi.
Mendalami peristiwa kelahiran Yesus dalam terang Injil Matius itu merayakan kebesaran hati seorang manusia yang bukan saja memungkinkan karya Allah dapat mulai terjadi, tetapi juga yang memelihara dan membesarkannya. Orang beriman (kita) yang ingin maju menjadi pemerhati gerak-gerik Yang Ilahi tentu dapat belajar banyak dari Yusuf.

Akhirnya

Kalau hari ini kita masuk Minggu Adven IV, di mana suasana menyongsong pesta Natal sudah terasa. Hiasan Natal terlihat di mana-mana. Mungkin ada saling berkirim kartu dan pesan Natal. Pertanyaannya : Apakah kita seperti umatnya Matius, dengan peristiwa kelahiran Yesus atau Natal, kita sampai pada keyakinan atau mendalami makna kehadiran Kristus di tengah-tengah umat manusia? Emanuel - Allah yang beserta kita itu? Emanuel - seperti yang dialami oleh Yusuf itu? Membiarkan karya Allah mulai terjadi, memelihara dan membesarkannya?

Il Pentimento è Una Conseguenza della Fede


Lunedi, 14 October 2013
Luca 11:29-32

Ho visto alcuni violazioni del traffico delle strade. Non è un po' di reato in realtà è molto pericoloso, sia per gli attori e per gli altri. C'era uno sguardo improvviso che tutti gli utenti della strada ad essere ordinato. A quanto pare, in una curva della strada c'era un raid da parte della polizia.
Segni, regole o restrizioni potrebbero essere facilmente trascurati o violati. Ma quando ci sono persone che hanno il potere, allo stesso tempo, un segno o regole o restrizioni di essere ancora una volta impotente. La chiamata si è rivelato essere uno solo ascoltare quando qualcuno che ha il potere di consegnare.
Racconto nel Vangelo, quando avevano visto Gesù, purtroppo, sono ancora facile presumere la sua banale. Solo se si guarda davvero segno straordinario, crederanno. Essi sono ciechi a ciò che è veramente grande è nascosto. 
Strada dell pentimento abbiamo passato con i piccoli segni che sembravano senza senso. Paolo è grato di aver ricevuto la grazia di Dio per condurre tutte le nazioni. Giorno dopo giorno, impara a vedere piccoli segni della grazia divina. Se non faccio errori oggi come ieri, è stato un segno dell'opera di Dio.