Menjadi Pembawa Terang

Saudara-saudariku yang dikasihi oleh Tuhan,
Tuhan memberkatiii. Bagaimanakah kabar hari iniii. Puji Tuhan, kita masih diberikan hidup, kita dianugerahi hari baru, kita dianugerahi kesehatan dan kita yakin masih banyak berkat dan kebaikan-kebaikan Allah yang akan kita terima pada hari ini.

Saudara-saudariku yang dikasihi oleh Tuhan,
Salah satu kebaikan Allah yang saat ini bisa kita nikmati adalah berada dalam tempat yang terang. Kita merasa nyaman. Paling tidak kita bisa melihat dan menilai segala sesuatu yang ada di sekitar kita. Kita bisa dengan mudah mengatakan bahwa itu anakku, itu istriku, itu suamiku, itu temanku, itu saudaraku, itu anjingku, itu bonekaku, itu buku gambarku dst.

Saudara-saudariku yang dikasihi oleh Tuhan, Ketika saudara/i berada dalam sebuah ruangan, tiba-tiba lampu yang ada dalam ruangan itu mati. Ruangan itu menjadi gelap. Lalu apa yang terjadi? Seketika itu juga, kita akan cemas, takut, ngeri dst. Lalu apa reaksi kita yang spontan muncul? Teriak, marah, mungkin ada yang menangis dan tak sedikit orang bahkan saling menyalahkan. Singkatnya, situasi pasti menjadi tegang dan mencekam. Dalam situasi seperti itu orang menjadi dibatasi dalam segala hal, baik perasaan, pandangan maupun gerak.

Apa yang bisa dilakukan. Bagaimana situasi seperti itu sebaiknya diatasi?
Satu-satunya jalan adalah orang datang membawa terang atau pelita. Dengan setitik terang atau pelita, maka kecemasan, ketakutan, kengerian, tegang, marah saling menyalahkan, semua itu dapat dipatahkan. Ketika ada setitik terang, betapa orang ditumbuhkan dalam pengharapan, sehingga situasi menjadi lepas bebas dan tidak mencekam lagi.

Saudara-saudariku yang dikasihi oleh Tuhan,
Datang untuk membawa terang atau pelita, itulah panggilan Allah kepada kita. Sosok Yohanes Pembabtis dalam bacaan Injil yang baru kita dengarkan, telah memberikan contoh kepada kita. Yohanes memberikan suatu kesaksian dengan membawa terang bagi semua orang. Namun Yohanes juga mengakui bahwa ia bukan terang itu. Ia hanya membawanya. Terang itu tak lain adalah keselamatan dari Yesus sendiri.

Itulah yang sering tidak mudah bagi kita. Ketika orang menjadi sukses..., terkenal, sering orang menjadi lupa. AKU siapa sih kalau bukan AKU...dst. YESAYA dalam bacaan pertama berpendapat bahwa dibutuhkan jiwa besar untuk mengakui bahwa kesuksesan itu bukan semata-mata hasil perjuangan atau keringat kita. Melainkan berkat bimbingan Roh Allah yang senantiasa menerangi. Roh Allah itulah yang menggerakkan setiap orang untuk selalu memiliki harapan akan rahmat-rahmat yang menghantar kita menjadi sukses atau terkenal. Oleh sebab itu PAULUS berpesan pada pembaca suratnya ”janganlah padamkan Roh”. Usaha agar Roh itu tetap bernyala adalah bersukacita, berdoa dan mengucap syukur (1 Tes 5:17-18).

Saudara-saudariku yang dikasihi oleh Tuhan,
Ketika orang datang membawa pelita, sehingga pelita itu menyinari ruangan di sekitar, maka pelita itulah yang membuat ruangan itu menadi terang. Terang itu bersumber dari pelita itu, dan bukan dari orang si pembawa pelita itu.

Mereka Trus Kemana?






















Di mana arwah orang yang sudah meninggal dan bagaimana keadaannya? Itulah pertanyaan yang sering dilontarkan dari kalangan umat kepada pemandu pendalaman Kitab Suci, katekis, prodiakon, suster, frater, bruder atau pastor. Tak jarang dari mereka yang mulai membuat perkiraan atau penafsiran. Soal kebenaran atas jawaban itu menjadi nomer ke sekian, yang penting setelah pertanyaan itu dilontarkan saat itu pulalah diperoleh jawabannya.


Kita sebaiknya kembali ke Injil, Kabar Gembira yang salah satunya ditulis untuk menyampaikan kembali kesaksian diri orang yang telah betul-betul mengalami kematian dan bangkit, yakni Yesus Kristus. Kisah-kisah pengajaran, mukjizat, dan tindakan-tindakan lainnya takkan banyak artinya bila tak dibaca dalam terang kebangkitannya itu.

Ada kekuatan di balik perkataan Yesus kepada orang yang disalib bersama dengannya, "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya HARI INI juga engkau akan ada bersama-sama aku DI DALAM FIRDAUS!" (Luk 23:43). Dengan demikian menjadi jelas keyakinan iman dalam komunitas awal bahwa orang yang minta agar diingat oleh Sang Tersalib yang nantinya bangkit itu akan ada bersama dengannya. Kapankah itu? Hari itu juga. Itu artinya langsung pada saat meninggalkan dunia itulah orang masuk dalam firdaus. Oleh karena itu tidak dapat disangkal lagi kepercayaan para pengikut Kristus mengenai apa yang bakal terjadi dengan arwah orang yang meninggal.

Memaknai Tobat

Prolog

Pada suatu ketika seorang siswa bertanya kepada gurunya: Untuk apa orang Katolik itu mengaku dosa kepada Pastor. Toh sebelum dan sesudah mengaku dosa juga yaa tetap gitu-gitu aja. Lagian seperti aku, khan ngga pernah berbuat dosa besar.

Nah kalau pertanyaan ini ditujukan kepada Anda sebagai seorang seminaris, lalu apa jawabannya???

Pertama-tama, kita diajak menyadari betapa pentingnya kesadaran diri sebagai pendosa. Bagi seorang pendosa, kebutuhan yang mendasar adalah bahwa dirinya diampuni. Dan pengampunan itu hanya mungkin bila orang itu memiliki IMAN. Lalu tanda iman adalah? TOBAT. Orang dikatakan memiliki iman bila dia juga mempunyai disposisi atau sikap tobat yang terus menerus dalam hidupnya.

Sikap tobat itulah yang diungkapkan dalam sakramen rekonsiliasi. Oleh sebab itu dalam sakramen tobat itu bukan sekedar mengakukan dosa-dosa kita, tetapi lebih dari pada itu bahwa kita hendak mengungkapkan tobat kita di hadapan Allah, dengan mengakui dan menyesali lalu membangun sikap tobat yang konkrit dalam hidup kita.

Rahmat Pengampunan

Rahmat pengampunan itu hanya mungkin karena kasih Allah yang begitu besar kepada kita. Paulus mengatakan dalam bacaan pertama 1Kor 15:8-10: Dan yang paling akhir dari semuanya,.......

Bacaan Injil hari ini mengajak kita menyadari betapa penting yang namanya pengampunan. Bahwa dengan pengampunan, orang berubah menjadi baru.

Kesadaran dan penghayatan diri sebagai yang berdosa identik dengan kesadaran dan penghayatan diri sebagai yang beriman’ itulah kebenaran yang selayaknya diamini oleh siapapun yang mengaku diri sebagai orang beriman.

Perempuan pendosa sebagaimana diceriterakan dalam Warta Injil hari ini adalah yang telah menerima kasih pengampunan Tuhan, maka ia mempersembahkan kepada Tuhan apa yang telah diterimanya. Ia menjadi penjelmaan Allah yang pengampun dan penuh belas kasih, sehingga ia mau mempersembahkan kasih yang melimpah bagi dunia.

Semakin banyak dosa yang diakui, disesali dan ditobati, maka semakin besarlah rahmat Allah itu. Namun simon? Allah tidak dapat melakukan apa-apa.


Belajar dari Ibu Teresa

Ibu Teresa dari Calcuta-India ketika memperoleh hadiah Nobel Perdamaian menjadi sorotan dan perhatian dunia, khususnya para wartawan. Ada seorang wartawan yang mewancarai Ibu Teresa, antara lain pertanyaan demikian: “Banyak orang melihat dan mengakui ibu sebagai santa yang masih hidup alias orang suci. Menurut ibu suci itu apa?” . Dengan rendah hati dan lemah lembut Ibu Teresa menjawab:”Orang suci itu bagaikan lobang kecil dimana orang melalui lobang tersebut dapat melihat siapa itu Tuhan, siapa sesama manusia dan apa itu harta benda”.

Kiranya melalui Ibu Teresa, apa yang ia katakan dan lakukan, kita dapat dan mengimani bahwa Tuhan itu Mahakasih dan Mahamurah, manusia adalah gambar atau citra Allah yang menjadikan kita semakin beriman, mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan.

Semoga Kita senantiasa membangun sikap tobat terus-menerus dalam hidup kita, sehingga kita beroleh rahmat yang berlimpah.

Undangan Allah

Sebuah Undangan
Pesta merupakan peristiwa yang berarti dalam kehidupan bersama. Khas suasana pesta perjamuan adalah membahagiakan, menggembirakan. Dalam menghadiri undangan pesta perkawinan pada umumnya orang berapakaian atau berpenampilan sedemikian rupa, sehingga laki-laki nampak tampan dan menawan sedangkan perempuan nampak cantik dan mempesona. Ada semacam lomba penampilan diri dengan berbagai jenis asesori maupun aneka jenis wewangian/deodorant yang disemprotkan ke tubuh atau aneka jenis lipstick yang menghiasi bibir kaum perempuan. Pendek kata orang berusaha seoptimal mungkin menghadirkan atau menampilkan diri agar menawan dan mempesona bagi yang lain, paling tidak secara phisik.

Karena pesta perjamuan itu adalah sebuah undangan, maka yang namanya undangan itu orang memiliki kebebasan memilih: mengiyakan dan menolak.
Bagi yang mengiyakan meski menanggapinya dengan baik, salah satunya dengan pakaian pantas pesta. Pakaian pesta sebetulnya bukan sekedar soal sopan dan santun. Melainkan sebuah tanda yang bisa dilihat mata bahwa yang mengenakan pakaian pesta itu datang ke pesta tanpa tujuan lain selain hanya untuk menghadiri pesta. Dengan mengenakan pakaian pesta, maka orang lain yang ikut hadir dapat mengenali yang bersangkutan.

Bagi yang menolak, itu artinya ia akan kehilangan dua hal: 1) rusaknya relasi dengan pihak yang mengundang, 2) kehilangan kesempatan untuk menghadiri pesta yang istimewa.

Melalui gambaran pesta perjamuan nikah yang tentu saja diwarnai dengan suasana penuh suka cita dengan jamuan makan yang serba wah, maksudnya tak lain ialah ketika orang bersatu dengan Tuhan, ia akan merasakan kebahagiaan dan kenikmatan rohani yang tak terbilang.

Iya atau Tidak
Undangan Allah bagi kita saat ini menuntut suatu jawaban yang amat tegas. MENGIYAKAN atau MENOLAK. Allah mengundang umatnya itu tentu agar umatnya memperoleh keselamatan. Maka jawaban satu-satunya adalah mengiyakan undangan itu.

Kesaksian Paulus kiranya dapat menjadi permenungan sekaligus pegangan hidup kita. “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku”. Bagi Paulus, ketika seseorang mengiyakan undangan allah, maka segala perkara dalam hidup dapat ditanggung dalam Dia yang mengundang.
Ada tiga perkara besar yang dimaksudkan Paulus yang harus kita hadapi dan geluti selama hidup di dunia ini, yaitu “ kekayaan, umur panjang dan nyawa musuh”:

  • Kekayaan berarti segala sesuatu yang ada padaku, kumiliki dan kukuasai, misalnya: tubuh yang seksi, tampan, gagah, wajah cantik, kesehatan, sakit, derita, bahagia, keterampilan, kecerdasan, aneka jenis harta benda dan uang, dst.. Menghayati budaya kehidupan berarti merawat, merasakan, menikmati dan memfungsikan kekayaan-kekayaan tersebut dalam Tuhan yang memberi kekuatan kepadaku, sehingga aku semakin cerdas beriman, suci, semakin dikasihi oleh dan mengasihi Tuhan maupun sesama dan saudara-saudari kita

  • Umur panjang juga merupakan perkara (perhatikan dan refleksikan bahwa tambah usia/umur berarti tambah dosanya, yang berarti tidak dapat mengurus pertambahan umur dengan baik), yang memang harus kita tanggung dalam Tuhan. Jika kita sungguh menanggung pertambahan umur dalam Tuhan, maka tambah usia, semakin tua berarti semakin suci, sebagaimana dikatakan dalam pepatah “Tua-tua keladi makin tua makin berisi”.
  • Musuh juga merupakan perkara. Musuh berarti apa-apa atau siapa saja yang tidak sesuai dengan selera pribadi atau keinginan pribadi, entah itu makanan atau minuman, manusia, pekerjaan, suasana, lingkungan hidup, pekerjaan dst.. Marilah kita hadapai ‘nyawa musuh’ dalam kasih dan pengampunan, sebagaimana diajarkan oleh Yesus :” Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu”(Mat 5:44).

    Jika kita mampu menanggung segala perkara dalam Tuhan, kiranya kita juga dapat berseru: "Sesungguhnya, inilah Allah kita, yang kita nanti-nantikan, supaya kita diselamatkan. Inilah TUHAN yang kita nanti-nantikan; marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita oleh karena keselamatan yang diadakan-Nya!”(Yes 25:9)
    Akhirnya:
    Pada suatau malam, seorang peziarah bermimpi masuk suatu toko baru. Betapa terkejutnya dia, karena Tuhan berjualan di situ. Ia bertanya, Tuhan, Engkau menjual apa di sini?
    Tuhan menjawab, Apa saja yang menjadi keinginan hatimu.
    Yakin bahwa yang dicarinya selama ini akan dapat ia temukan di toko Tuhan ini, maka peziarah itu berkata, Kalau demikian aku ingin membeli kedamaian hati dan ketentraman jiwa, kejujuran dan ketulusan, kebijaksanaan dan kesejahteraan, tidak hanya untuk saya, tetapi untuk seluruh bangsa bahkan seluruh dunia.
    Waktu itu Tuhan tersenyum dan menjawab, Ku kira engkau tidak mengerti dengan baik. Di sini tidak dijual buah. Yang ditawarkan adalah benih.

Kasih adalah Buah dari Pengampunan

Pada suatu ketika seorang siswa bertanya kepada gurunya: Untuk apa orang Katolik itu mengaku dosa kepada Pastor. Toh sebelum dan sesudah mengaku dosa juga yaa tetap gitu-gitu aja. Lagian seperti aku, khan ngga pernah berbuat dosa besar.

Nah kalau pertanyaan ini ditujukan kepada Anda, lalu apa jawabannya???

Pertama-tama, kita diajak menyadari betapa pentingnya kesadaran diri sebagai pendosa. Bagi seorang pendosa, kebutuhan yang mendasar adalah bahwa dirinya diampuni. Dan pengampunan itu hanya mungkin bila orang itu memiliki IMAN. Lalu tanda iman adalah? TOBAT. Orang dikatakan memiliki iman bila dia juga mempunyai disposisi atau sikap tobat yang terus menerus dalam hidupnya.

Sikap tobat itulah yang diungkapkan dalam sakramen rekonsiliasi. Oleh sebab itu dalam sakramen tobat itu bukan sekedar mengakukan dosa-dosa kita, tetapi lebih dari pada itu bahwa kita hendak mengungkapkan tobat kita di hadapan Allah, dengan mengakui dan menyesali lalu membangun sikap tobat yang konkrit dalam hidup kita.

Rahmat pengampunan itu hanya mungkin karena kasih Allah yang begitu besar kepada kita. Paulus mengatakan dalam 1Kor 15:8-10: Dan yang paling akhir dari semuanya,.......

Injil Luk 7:36-50, mengajak kita menyadari betapa penting yang namanya pengampunan. Bahwa dengan pengampunan, orang berubah menjadi baru.

Kesadaran dan penghayatan diri sebagai yang berdosa identik dengan kesadaran dan penghayatan diri sebagai yang beriman’ itulah kebenaran yang selayaknya diamini oleh siapapun yang mengaku diri sebagai orang beriman.

Perempuan pendosa sebagaimana diceriterakan dalam Warta Injil hari ini adalah yang telah menerima kasih pengampunan Tuhan, maka ia mempersembahkan kepada Tuhan apa yang telah diterimanya. Ia menjadi penjelmaan Allah yang pengampun dan penuh belas kasih, sehingga ia mau mempersembahkan kasih yang melimpah bagi dunia.

Semakin banyak dosa yang diakui, disesali dan ditobati, maka semakin besarlah rahmat Allah itu. Namun simon? Allah tidak dapat melakukan apa-apa.

Ibu Teresa dari Calcuta-India ketika memperoleh hadiah Nobel Perdamaian menjadi sorotan dan perhatian dunia, khususnya para wartawan. Ada seorang wartawan yang mewancarai Ibu Teresa, antara lain pertanyaan demikian: “Banyak orang melihat dan mengakui ibu sebagai santa yang masih hidup alias orang suci. Menurut ibu suci itu apa?” . Dengan rendah hati dan lemah lembut Ibu Teresa menjawab:”Orang suci itu bagaikan lobang kecil dimana orang melalui lobang tersebut dapat melihat siapa itu Tuhan, siapa sesama manusia dan apa itu harta benda”.

Kiranya melalui Ibu Teresa, apa yang ia katakan dan lakukan, kita dapat dan mengimani bahwa Tuhan itu Mahakasih dan Mahamurah, manusia adalah gambar atau citra Allah yang menjadikan kita semakin beriman, mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan.

Semoga Kita senantiasa membangun sikap tobat terus-menerus dalam hidup kita, sehingga kita beroleh rahmat yang berlimpah.

Aku harus Bangga sebagai Katolik

Saudara-saudariku yang dikasihi oleh Tuhan,
Saya amat yakin bahwa semua yang hadir di sini mengharapkan: keselamatan dan kebahagiaan, kedamaian hati dan ketentraman jiwa, kejujuran dan ketulusan, kebijaksanaan dan kesejahteraan. Apakah ada yang tidak mengharapkan itu semua??

Nah…itu jugalah yang diharapkan oleh Petrus Rasul Yesus dalam sabda Tuhan hari ini. Sehingga ketikaYesus memberitahukan bahwa diriNya akan menderita, sengsara bahkan dibunuh, Petrus mengatakan ITU TIDAK MUNGKIN (ay. 22). Bagi Petrus Yesus adalah Mesias sang penyelamat. Maka Ia pasti juga akan menyelamatkan diriNya. Dengan demikian pengakuannya (Minggu yang lalu) bahwa Yesus adalah Mesias sang penyelamat, sekaligus mengandung suatu harapan agar ia turut diselamatkan.
Tetapi…. apa yang dipikirkan oleh Petrus itu tidak sejalan dengan yang dipikirkan oleh Tuhan Yesus. Yesus justru menegur Petrus dgn keras, Enyahlah Iblis! (ay.23).

Saudara/i ku. Teguran ini bisa ditangkap seperti dampratan, yang sama kerasnya dengan yang diarahkan kepada penggoda di padang gurun. Terlebih bila diucapkan tanpa adanya jeda. Itulah reaksi keras Yesus.
Pertanyaannya: Mengapa Petrus ditegur?
Teguran ini secara harafiah dimaksudkan agar iblis (yang menguasai Petrus) itu pergi. Dengan kata lain dapat di serukan Pergilah dari hadapanKu hai Iblis! Iblis yang dimaksudkan di sini? Tak lain adalah keinginan manusiawi Petrus.

Saudara/i ku. Teguran Yesus itu harus dimengerti sebagai suatu sikap guru bijak yang mengingatkan muridnya akan suatu situasi krirsis yang mungkin akan terjadi. Mengharapkan keselamatan dan ketentraman jiwa bersama Yesus itu belum cukup, bila tidak dibarengi dengan adanya usaha untuk mencapai apa yang diharapkan itu.
Ada sebuah kisah dari negeri entah berantah.
Pada suatau malam, seorang peziarah bermimpi masuk suatu toko baru. Betapa terkejutnya dia, karena Tuhan berjualan di situ. Ia bertanya, Tuhan, Engkau menjual apa di sini?
Tuhan menjawab, Apa saja yang menjadi keinginan hatimu.
Yakin bahwa yang dicarinya selama ini akan dapat ia temukan di toko Tuhan ini, maka peziarah itu berkata, Kalau demikian aku ingin membeli kedamaian hati dan ketentraman jiwa, kejujuran dan ketulusan, kebijaksanaan dan kesejahteraan, tidak hanya untuk saya, tetapi untuk seluruh bangsa bahkan seluruh dunia.
Waktu itu Tuhan tersenyum dan menjawab, Ku kira engkau tidak mengerti dengan baik. Di sini tidak dijual buah. Yang ditawarkan adalah benih.


Saudara-saudariku yang dikasihi oleh Tuhan,
Apa yang kita harapkan itu sering kali adalah buahnya. Dan buah itu tidak mungkin ada ketika tidak ada benih yang ditanam, dirawat, dipelihara dst. Maka kedamaian hati dan ketentraman jiwa, kejujuran dan ketulusan, kebijaksanaan dan kesejahteraan yang semua itu adalah buahnya. Tidahk mungkin serta merta kita dapatkan,. Kita harus menanam, merawat, menjaga dan memelihara sehingga apa yang kita harapkan atau buah itu bias kita nikmati. Benih itu mensyaratkan adanya kemauan untuk menyemai, menanam, merawat dan akhirnya baru menuai.
Bagi Paulus dalam bacaan II, Ia mengajak atau menasihatkan agar kita mulai menanam kekudusan hidup, menyemainya, merawat, memelihara dan akhirnya menuai dalam hidup kita. Tentu ini tak sekedar menjadi serupa dengan dunia ini, dengan kebanyakan orang, namun mempunyai sikap yang tegas akan keadaan yang ada dalam hidup masing-masing.
Bagi Yeremia seorang Nabi, Rasul dan orang beriman yang sejati adalah mereka yang memiliki sikap bahwa “dalam hatiku ada sesuatu seperti api yang menyala-nyala, terkurung dalam tulang-tulangku...” Sesuatu itu adalah Roh Allah yang diandalkan dan bukan roh yang lain seperti yang dilakukan Petrus yang mengandalkan ambisi manusiawinya.
Bagi kita, Harapan kita tadi bisa terwujud bila kita juga mengusahakannya.
Kita juga dapat menanam sesuatu yang baik, menyemainya, merawat, memelihara dan akhirnya menuai dalam hidup kita. Tentu hanya dengan Roh Allahlah. Kita bisa sampai kepada harapan-harapan kita.

KECOCOKAN

Mrk 8:11-13
Yak 1:1-11
Kesalah-pahaman atau ketidak-cocokan, mungkinkah terjadi di dalam hidup dan kesibukan sehari-hari, entah di dalam keluarga, masyarakat atau tempat kerja? SANGAT MUNGKIN. Orang sering menghadapi kesalah-pahaman atau ketidak-cocokan satu sama lain yang disebabkan oleh alasan-alasan tertentu. Kesalah-pahaman atau ketidak-cocokan tersebut bahkan dapat memuncak menjadi saling `bermusuhan' yang sulit didamaikan. Tak jarang bahkan ada salah satu pihak yang berusaha untuk menjatuhkan pihak lain.

Ketidak-cocokan itu ditunjukkan oleh orang-orang Farisi terhadap Yesus dengan mencobaiNya: meminta aripadaNya suatu tanda dari sorga. Orang-orang Farisi tampak tertutup terhadap atau menolak Yesus. Maka Yesus pun tidak menanggapi permintaan tersebut, melainkan meninggalkan mereka. Pengalaman ini kiranya baik menjadi permenungan atau pedoman hidup setiap orang.
"Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan" (Yak 1:2-3), demikian nasihat Yakobus. Berbagai pencobaan merupakan tantangan yang mendewasakan, membina dan mendidik kita untuk tumbuh berkembang sebagai pribadi cerdas dalam beriman. Setiap orang dituntut untuk peka akan Roh Tuhan yang senantiasa mendapingi, sehingga orang dimampukan tekun untuk maju terus dalam pengabdian kepada Allah. Di sinilah orang dihadapkan pada sutau pilihan atau discernment. Orang dituntut untuk membedakan Roh yang menguasai hidupnya. Roh baik atau buruk yang menjadi daya dalam seluruh hidupku? Ciri dari roh buruk ialah menyesakkan, menyedihkan dan menghalang-halangi dengan alasan-alasan palsu, supaya orang tidak maju lebih lanjut. Cirikhas roh baik ialah memberi semangat dan kekuatan, hiburan, air mata, inspirasi serta ketenangan, membuat semuanya menjadi mudah dengan menyingkirkan segala halangan, supaya orang maju lebih lanjut dalam menjalankan kebaikan" (St.Ignatius Loyola, LR no 315).

On going education atau On going formation. Itulah motto yangdapat mendorong seseorang untuk bisa bergerak maju. Pembinaan atau pendidikan tidak hanya terjadi secara formal di tempat-tempat pendidikan atau pembinaan, tetapi juga dan mungkin pertama-tama dan terutama dalam lingkungan hidup sehari-hari, entah didalam keluarga, masyarakat maupun tempat kerja. Pendidikan atau pembinaan itu dapat dilakukan melalui indera penglihatan dan pendengaran, melihat dan mendengarkan apa yang hidup dan terjadi di lingkungan hidupnya.

Kiranya sejak bayi seorang anak/manusia telah dapat melihat dan mendengarkan dengan baik, dan mungkin bayi atau anak-anak lebih baik dalam hal melihat atau mendengarkan daripada orangtua atau orang dewasa. Apa yang dilihat dan didengarkan membina dirinya. Sebagai orang dewasa ketika kita melihat dan mendengarkan ada sesuatu yang tidak baik kiranya kita tidak dapat tinggal diam dan tergerak untuk memperbaikinya.

Ada aneka pencobaan dan tantangan. Namun percayalah bahwa dengan semangat iman, setiap orang akan mampu menghadapi dan mengatasi aneka pencobaan dan tantangan. "Sebelum aku tertindas, aku menyimpang, tetapi sekarang aku berpegang pada janji-Mu. Engkau baik dan berbuat baik; ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu" (Mzm 119:67-68.71)

Dipanggil untuk tinggal bersama Yesus

Yoh 13:16-20


Kajian Teks Kitab Suci
Perikopa ini merupakan penggalan kisah pembasan kaki yang dilakukan oleh Yesus. Penggalan kisah ini juga menjadi bagian wejangan perpisahan Yesus. Perikopa ini terbagi menjadi 3 bagian :
pertama pengakuan Yesus bahwa Ia utusan Allah, Bapa (16-17). Ia mengakui diri sebagai yang diutus. Ia mau menegaskan bahwa seorang utusan itu tidak lebih tinggi dari yang mengutus.

Kedua, Yesus mengungkapkan pengetahuan ilahiNya bahwa ada yang masih tidak bersih di antara para murid (18-19). Ia lah murid yang menolak ambil bagian dalam kebersamaan dengan Yesus. Mzm 41:10 dikutip untuk menunjuk akan digenapinya nas itu. Ungkapan mengacungkan kaki itu dalam ungkapan aslinya adalah mengangkat tumit – menunjuk arti penghinaan, ketidaksetiaan sahabat.

Ketiga, menegaskan soal ‘status’ orang yang menerima Dia yang diutus sekaligus Dia yang mengutus (20). Siapapun akan memperoleh ‘status’ sebagai yang diutus atau utusan.


‘Status’ kita sebagai utusan
Para murid adalah mereka yang dipanggil dan akhirnya tinggal bersama Yesus. Yesus jelas mengenal orang-orang yang tinggal bersamaNya, bahkan kharakter mereka masing-masing. Mereka dikenal oleh Yesus karena relasi kedekatannya dengan Yesus. Namun Yesus mengenal mereka juga karena pengetahuan ilahi Yesus. Apakah mereka yang tinggal bersama dengan Yesus itu senantiasa setia kepada Yesus. Yesus melalui sabdaNya menjawab TIDAK. Ia menunjuk seorang yang menolak ambil bagian dalam kebersamaan dengan Yesus, meski selalu tinggal dekat dengan Yesus. Yudas menjadi simbol mereka yang tidak setia untuk ambil bagian dalam kebersamaan dengan Yesus.

Refleksi
Siapapun yang menerima dia yang telah kuutus, ia menerima Aku. Dan siapa yang menerima aku, ia menerima Bapa yang telah mengutus Aku. Itu artinya sipapun yang telah memperoleh rahmat babtisan, ia menerima Yesus sekaligus Bapa yang mengutusNya. Orang itu dimasukkan dalam persatuan dengan Yesus dan BapaNya dalam Roh Kudus untuk meneruskan perutusan itu.
Aku yang telah dimetraikan dengan babtis, saat ini tinggal bersama Yesus. Aku telah memilih dengan kesadaran, kebebasan dan pengetahuanku untuk menerima Dia sebagai utusan. Yesus pasti mengenal ku.
Pertanyaan bagiku, apakah aku sungguh-sungguh menjadi salah satu dari orang yang ingin tinggal bersama Yesus. Apakah aku mengenal Yesus? Apakah aku setia tinggal dalam kebersamaan dengan Yesus? Pada saat apa?

Hidup dalam Panggilan

Saudara-i-ku yang dikasihi oleh Tuhan,
Pada hari ini, sabda Tuhan berbicara tentang panggilan hidup.

Dalam bacaan pertama (Yes 49:3.5-6) dipaparkan bagaimana Yesaya menyadari panggilannya sebagai Hamba Tuhan yang tugasnya memulihkan Israel sesudah pembuangan, baik dalam sisi moral maupun spiritual. Misi yang harus diemban adalah bagaimana membawa orang kepada Allah yang benar, bagaimana membawa israel itu dari kegelapan menuju cahaya ilahi, menjadikan Allah sebagai sandaran hidup mereka.

Dalam bacaan kedua (1Kor 1:1-3) dipaparkan bagaimana Paulus menyadari panggilannya sebagai Hamba Tuhan - Rasul, saksi pilihan Tuhan. Ini adalah panggilan menuju kesucian. Misi yang hars diembahn membawa semakin banyak orang yang akan dikuduskan dalam Kristus.

Dlm bacaan Injil (Yoh 1:29-34) dipaparkan bagaimana Yohanes Pembabtis menyadari panggilannya sbg Hamba Tuhan - Bentara Kristus yang tugaskan mengarahkan orang bukan kepada dirinya, melainkan kepada Kristus, Sang Anak Domba Allah itu.

Selain yang disebutkan dalam bacaan-bacaan hari ini, kita tentu mengenal tokoh yang sangat dekat dengan hidup kita yaitu Maria. Maria juga menyadari panggilannya sebagai Hamba Tuhan, “Sesungguhnya aku ini Hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanMu” (Luk 1:38). Maka apapun resikonya ia setia pada panggilannya itu.

Saudara-i-ku yang dikasihi oleh Tuhan,

Kita juga diajak untuk menyadari panggilan hidup kita masing-masing. Panggilan utama kita dalah sebagai apa? Murid Kristus. Karena kita sudah dimetraikan menjadi milik Kristus. Tetapi panggilan di sini bisa kita pahami sebagai peran kita atau status kita dalam hidup di antara orang lain : sebagai bapak, ibu, anak, guru, murid, dosen, mahasiswa, ketua lingkungan, ketua wilayah, ketua RT dst.

Dengan menyadari panggilan hidup kita masing-masing berarti kita diajak untuk memahami bahwa peran atau status kita itu bukan sebuah kedudukan atau sarana untuk mengangkat diri atau harga diri. Kita diajak untuk memahami bahwa peran atau setatus kita itu berisi suatu amanah atau tugas pengabdian yang harus kita laksanakan sebagai wujud tanggung jawab.

Saudara-i-ku yang dikasihi oleh Tuhan,

Di sinilah kita memiliki peran atau status sebagai Murid Kristus. Pengangkatan sebagai Murid Kristus bukan untuk gagah-gagahan, merasa paling benar dan suci tetapi justru kita dituntut untuk bertindak sebagai Hamba Tuhan, yang tugasnya melayani atau mengabdi dengan sebaik-baiknya. Tetapi lebih dari itu bahwa kita dituntut untuk membawa terang. Artinya bahwa bagaimana dengan kehadiranku (sebagai bapak, ibu, guru, .....) orang sungguh dapat sampai kepada Allah.

Kita dapat sungguh menjadi Hamba Tuhan yang membawa terang bila kita bertindak dan hidup sebagai Anak-anak Allah. Yesus disebut sebagai Anak Allah bukan berarti harafiah (aku dilahirkan dari atau oleh Allah), melainkan adanya suatu relasi atau hubungan yang mendalam seperti relasi anak dan bapak (kedekatan, keakraban, perhatian, peduli....biasanya tumbuh dari kecil atau saat mulai ada).

Tuhan Pakai Keluarga kita

Sepasang suami istri telah mengarungi bahtera rumah tangga selama dua puluh tahun, selama itu pula mereka belum memiliki seorang anak pun. Ada sekian banyak usaha untuk dapat memiliki anak. Salah satu usaha yang senantiasa dibuat adalah berdoa kepada Ibunda Maria agar mereka dikarunia seorang anak.

Suatu ketika saya berjumpa di salah satu rumah sakit. Mereka tampak begitu gembira setelah dokter spesialis kandungan menyatakan bahwa sang ibu, positif mengandung dan akan melahirkan putera. Hidup keluarga mereka dari hari ke hari tampak semakin bahagia. Penantian akan kelahiran sang putra menjadi semacam roh yang sangat dahsyat, yang memberikan daya bagi mereka.

Tiba saat melahirkan, di sebuah rumah sakit pilihan yang sejak mula dipilih menjadi tempat untuk bersalin. Persalinan berlangsung amat lancar. Akan tetapi, wajah sedih seketika menyembul dari wajah sang dokter yang membantu persalinan karena melihat si bayi hanya memiliki satu kaki dan itupun hanya kecil tidak sebanding dengan tubuhnya. Ayah si bayi itu pun seketika juga tampak terpukul dan pedih. Dokter dan si ayah bayi itu tampak begitu bingung, bagaimana harus menyampaikan keadaan itu kepada sang ibu bayi itu.
Bersyukur bahwa aku dikasihi
Bayi itu pun dibawa dan diletakkan di samping sang ibu, setelah dibalut dengan selembar kain agar tidak kedinginan. Sang ibu melihat dan mengagumi wajah bayi mungil itu. Ia menciumnya dengan penuh kasih sayang dan mesra. Ia menoleh kepada suaminya dan berkata dengan lebut, "Dia sangat sempurna bukan?"

Sang ayah dari bayi itu mendadak merasa tercekak di kerongkongannya. Sang ibu menangkap dan mengerti isyarat dari suaminya. Dengan perlahan-lahan ia membuka slimut sang bayi dan melihat kakinya yang cacat itu. Sementara sang ibu membuka selimut, seketika itu juga ruangan menjadi hening. Semua terdiam dengan seribu pertanyaan di hati masing-masing.
Suara sang ibu memecah keheningan itu. Ia menoleh kepada suami dan berkata, "Pa..Tuhan mengethaui kepada siapa bayi ini dititipkan. Tuhan mengetahui betapa kita membutuhkannya dan betapa ia membutuhkan kita. Kita pasrahkan keluarga kita kepada Tuhan, juga masa depan anak kita".

Saudari dan saudaraku,  bila kita membaca dan mendengar sabda Tuhan  dari Injil Lukas 2:22-40, kita akan begitu kagum bagaimana Maria dan Yosef mengantar Yesus ke kenisah Yerusalem untuk dipersembahkan kepada Allah. Mereka telah mendengar ramalan Simeon bahwa anak itu akan menjadi pokok keselamatan. Dan hati ibunya sendiri akan ditembusi dengan pedang.  Ia akan membawa penderitaan sekaligus kemuliaan. Rasanya mereka pun tidak amat mengerti. Maria lebih sering hanya menyimpan peristiwa-peristiwa itu dengan baik dalam hatinya.

Dan Kita pun kadang di hadapkan pada banyak peristiwa hidup yang kadang sulit untuk kita pahami. Namun Berbahagialah hari ini kamu sebagai Bapa atau ibu bahwa Allah tahu kepada kalianlah anak-anak itu dipercayakan. Dan Berbahagialah kamu sebagai anak bahwa Allah tahu kepada Orang tuamulah kamu dipercayakan.

Kembangkanlah Hidupmu

1Tes 2:9-12
Mat 25:14-30

Bagi kita orang beriman Kristiani, hidup merupakan suatu anugerah, pemberian dari Allah. Dengan demikian hidup itu menjadi berharga. Konsekuensinya bahwa hidup juga merupakan suatu tantangan. Mengapa? Karena sebagai suatu yang sangat berharga kita harus menjaga, memeliahara dan mengembangkannya.
Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk sejenak melihat bagaimana kita memberi perhatian terhadap hidup kita. Konteks pembicaraan masih sekitar akhir zaman dan yang mau terus di soroti adalah soal hidup.
Secara khusus Yesus menyampaikannya dengan perumpamaan yang sangat menarik. Hidup itu seperti halnya harta yang berharga. Yesus melukiskan Kerajaan surga seperti seorang yang mau berpergian ke luar negeri. Orang itu harus memempercayakan harta miliknya kepada hambanya.
Persis dalam hal pembagian harta inilah, Yesus mau menunjukkan bagaimana seorang hamba itu menjaga, memelihara dan mengembangkan talentanya. Yesus sangat menghargai mereka yang berusaha menjaga dan memelihara, terlebih mereka yang mengembangkan talentanya. Memang ini adalah perkara kecil. namun dengan setia kepada perkara kecil inilah orang akan setia kepada perkara yang besar. Bahkan Yesus hendak memberikan tanggungjawab dalam perkara yang lebih besar. Dan sebagai 'hadiahnya', Ia memperkenankan mereka untuk masuk (berarti menikmati) dalam kebahagiaan tuannya (yang tak lain adalah Allah sendiri).
Bagi kita, usaha untuk menjaga, memelihara dan mengembangkan hidup itu pertama-tama bukan hanya untuk berarti bagi kita semata, melainkan juga bagi sesama. Inilah juga yang hendak diwartakan Paulus sebagai wujud cinta dan kasih kita bagi sesama kita.

Berjaga-jagalah

Mat 24:42-51

Sabda Tuhan hari ini berbicara soal akhir zaman. Akhir zaman merupakan suatu saat penggenapan Tuhan.
Banyak orang mendefinisikan akhir zaman sebagai hari kiamat. Kiamat merupakan saat di mana dunia ini hancur dan bahkan musna. Dengan definisi itu mau orang menjadi cemas bila akhir zaman itu tiba. Apa yang dicemaskan mereka? Tak lain adalah soal HIDUP.
Berbicara soal akhir zaman, tak dapat tidak juga menyangkut soal hidup itu sendiri.
Dalam sabdaNya, Yesus mengajak kita agar berjaga-jaga, seperti yang terlukiskan secara indah dalam perumpamaan tentang hamba dan tuannya. Perumpamaan akan relasi hamba dan tuannya mau menunjuk bagaimana sebaiknya kita bersikap terhadap Allah Sang tuan semua manusia. Sikap berjaga-jaga mengandung suatu disposisi aktif, intensif dan terlibat. Seorang hamba yang berjaga-jaga berarti, mereka yang secara aktif dan intensif terlibat dengan tuannya. Merekklah yang mencintai tuannya. Terhadap akhir zaman berarti mereka yang aktif dan intensif terlibat dengan Allah sang empunya hidup.
Dalam ayat 45-51, Yesus memperjelas dengan perumpaan akan dua hamba, yang setia dan yang tidak setia. hal ini mau menunjuk bagaimana sikap kita terhadap Allah sang empunya hidup itu. Berjaga-jaga berarti setia terhadap Allah dan bersatu denganNya.
Kesetiaan itu dituntut dalam hidup kita sehari-hari. Dalam tugas kita sehari-hari itulah kita menjalankan panggilan kita untuk setia kepada Allah.

Seperti Pengelola Tanaman Hias

1Tes 1:2b-5.8b-10
Mat 23:13-23

Akhir-akhir ini, ada sebuah fenomena yang kiranya bernuansa estetik. Tidak sedikit di sekitas kita orang mulai tumbuh kecintaan, bahkan ’kegilaan’ akan tanaman hias.
Yang menarik dari obrolan mereka adalah, bagaimana mereka bisa memiliki tanaman hias yang pada waktunya menjadi ’booming’. Orang akan merasa bangga dengan ’adenium’ yang berbonggol unik. Orang akan merasa bangga bila memiliki salah satu jenis antorium yang bukan hanya unik dan langka. Dan masih banyak tema-tema menarik dalam obrolan mereka.
Satu hal yang menjadi semacam akar mengapa mereka begitu ’gila’akan tanaman hias adalah soal bagaimana memberikan perawatan dan sentuhan akan tanaman hias itu, sehingga menjadi menarik dan indah.
Seorang pengelola tanaman hias tentu akan berusaha untuk menguasai cara bagaimana mengelola tanaman hiasnya, sehingga ia bisa menyediakan tanaman-tanaman hias yang bermutu dan mampu mengantar para pencinta tanaman hias dapat menikmatinya. Ia juga harus memiliki rasa cinta terhadap tanaman-tanaman hias yang dirawatnya. Tanpa adanya kecintaan, ia akan cepat merasa bosan dan lebih dari itu tak dapat dipungkiri ia akan menjadi bangkrut karena tidak mampu menciptakan suatu keindahan atas tanaman hias yang dikelolanya.
Lain halnya dengan mereka yang hanya sebagai penikmat tanaman hias. Mereka akan cepat merasa bosan dengan tanamannya karena ia sendiri sebenarnya tidak memiliki kecintaan akan tanaman hias yang dimilikinya atai yang dikagumuinya.
Hidup seorang Kristen kiranya laksana pengelola tanaman hias, yang berusaha untuk mengantar orang lain dapat mengalami cinta allah. Hal itu mungkin terjadi bila ia telah mengalami cinta Allah itu sendiri. Inilah yang dialami oleh umat di Tesalonika sehingga mereka dipuji oleh Paulus. Mereka hidup dengan berlandaskan pada pengalaman cinta akan Allah melalui iman, harapan dan kasih kepada Yesus. Mereka mengalami Yesus dalam hidup mereka, sehingga sampai kepada suatu pertobatan.

Kita sebagai pengikut Kristus diutus untuk bisa menjadi seperti pengelola tanaman hias dan bukan hanya menjadi penikmat tanaman hias.

Ruang Keselamatan

Yes 66:18-21
Ibr 12:5-7.11.13
Luk 13:22-30

Dalam Sabda Yesus hari ini, mengangkat istilah pintu untuk menggambarkan perihal memasuki Kerajaan Allah. Perihal pintu yang sempit ini (Luk 13:24), mengingatkan kita akan bagian khotbah di bukit (Mat 7:13-14). Deskripsi tentang orang yang terlambat datang ke perjamuan dan mendapati pintu sudah ditutup (Luk 13:25), mempunyai kemiripan dengan nasib lima gadis bodoh yang terlambat menyambut mempelai dalam perumpamaan sepuluh gadis (Mat 25:10-12).
Penginjil Lukas hendak menekankan bagaimana sang empunya pesta tidak mengizinkan masuk orang yang datang terlambat. Orang yang alpa dan datang terlambat akan mendapati pintu sudah ditutup. Tuan rumah tidak akan mengizinkannya masuk. Hal itu hendak menunjuk bagaimana Yesus yang mengatakan tak kenal pada orang yang datang terlambat.

"Pintu yang sempit" dalam ayat 24 kerap dihubungkan dengan gambaran banyak orang yang berdesak-desakan mau memasuki suatu ruangan. Gambaran pintu yang sempit itu dimaksudkan agar orang makin menyadari keadaan diri sendiri bila ingin benar-benar masuk daram ruangan atau menjadi warga Kerajaan Allah.
"Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sempit itu!" Yesus menghendaki agar kita berjuang, tekun belajar menerima betapa diri kita kecil di hadapan Allah. Dan bila orang berhasil menjadi kecil, pintu sesempit apapun akan dapat dilalui. Yesus sendiri memberi telah mengosongkan diri dalam perjalanan ke Yerusalem, bahkan sampai menjadi hina, yang ditolak dan disalibkan. Dengan demikianlah Ia memperoleh Kerajaan Allah bagi umat manusia.

Pintu yang sempit berbeda dengan pintu yang tertutup. Pintu yang sudah ditutup (ay. 25) ingin menunjukkan kepada kita sebagai pengajaran agar kita tetap berjaga-jaga. Dengan demikian kita tidak mudah merasa aman. Keberagamaan kita sering membuat kita merasa diri terjamin, sehingga tak menutup kemungkinan membuat kita menganggap sepele.

Sabda Yesus hari ini mengajarkan bagaimana mencapai dan masuk ruang keselamatan. Kita dituntut agar konsisten dengan pilihan hidup kita yang ingin setia mengikuti Yesus. yesus menuntut kita agar menjadi sehati dengan Hati Kudus Yesus.

Jangan Munafik

Rut 2:1-3.8-11.4:13-17
Mat 23:1-12

Ketika seseorang bersikap lain dari pada jati dirinya, dengan mudah ia dinilai orang yang munafik. Juga ketika seseorang menyembunyikan "perasaan batin sesungguhnya" karena alasan kuat tertentu.
Itukah yang hendah dimaksudkan oleh penginjil Matius pada hari ini?
Yesus menegur orang-orang Farisi dan Ahli Taurat yang mengajar banyak hal mengenai cara hidup, aturan dan hukum yang berasal dari Musa, namun mereka ternyata tidak menjalankannya. Di balik teguran itu, Yesus 'mengharapkan', kalau kiranya tidak tepat bila dikatakan 'menuntut', agar kita senantiasa seimbang dalam hal perkataan dan perbuatan. Seimbang antara komitmen dan aktualisasinya.
Orang Jawa sering mengingatnya dengan suatu pernyataan yang sedikit 'filosofis' mungkin, kere munggah bale. Dalam bahasa indonesia mungkin mau mengatakan bahwa, bila seseorang menjadi kaya atau memiliki lebih dari apa yang sebelumnya, ia akan lupa dengan yang lainnya. Ia merasa lebih dari yang lainnya. Akhirnya orang itu jatuh kepada kesombongan yag luar biasa.
Nah, kita bisa melihat diri, apakah seimbang dalam hidup kita : antara perkataan dan prilaku kita, antara komitmen dan praktek hidup kita?
Allah berkenan kepada mereka yang hatinya terbuka bagi Allah dan sesamanya. Ia tidak berkenan kepada mereka yang munafik.

Percaya pada Kehendak Allah

Ul 34:1-12
Mat 18:15-20

Kisah perjalanan Musa dalam usaha membawa umat Israel keluar dari Mesir sangat inspiratif. Perjuangan Musa berujung dengan pada 'kesia-siaan', atau istilah yang sedikit keliru bahwa happy endingnya sedih. Mengapa tidak. Musa telah bersusah payah untuk membawa umat Israel keluar dari tanah Mesir menuju Kanaan. Tetapi Ia sendiri tidak sampai ke tanah yang hendak dituju. Ia harus tutup usia di Moab di pegunungan Nebo.
Bila kita cermati, Musa tidak yakin akan perjalanannya. Terlebih ketika ia harus mendengarkan keluhan umat Israel bahwa perjalanan mereka itu hanyalah sia-sia. Tuhan seolah tidak di pihak mereka dst.
Umat Israel terlalu banyak mengeluh. Satu hal yang senantiasa dikehendaki Allah, tetapi tidak terungkap dan terwujud dalam diri umat israel adalah percaya. Mereka banyak mengeluh karena mereka kurang bahkan tidak percaya kehendak Allah melalui Musa. Akhirnya setelah tutup usia Musa, umat israel baru menyadari betapa dahsyatnya karya Allah melalui Musa.
Ketaatan dan iman umat israel senantiasa diuji. hal itu juga tampak dalam perjalanannya selanjutnya bersama Yosua dan penerusnya.
Demikian pun kita yang adalah pengikut Kristus, apa jadinya bila kita kurang percaya kepada kehendak Allah. Tentu kita akan merasakan hambar dalam hidup ini, khususnya dalam relasi kita dengan Allah. Perjuangan hidup kitapun akan terasa berat.

Menjadi seperti Anak Kecil

Ul 31:1-8
Mat 18:1-5.10.12-14

Mengapa Yesus menunjuk seorang anak kecil dan mendesak para murid untuk menjadi seperti anak kecil?
Anak kecil merupakan simbol ketidakberdayaan, kepasrahan dan ketergantungan pada orang yang dewasa. Yesus mau menunjukkan anak kecil sebagai lambang dari mereka yang tidak punya hak secara hukum, atau mereka yang tidak punya tuntutan terhadap kerajaan. Yesus hendak menyingkirkan kesalahpahaman orang Yahudi tentang kedudukan dan posisi mereka dalam Kerajaan Allah.
Tak dapat dipungkiri bahwa kita bertumbuh sebagai manusia: mulai dari bayi, kanak-kanak, remaja, dewasa hingga lanjut usia. Namun, kalau kita mau jujur, kita sering lupa atau bahkan melupakan soal pertumbuhan itu, bahwa kita menjadi besar karena bertumbuh dari kecil.
Ketika kita mencermati hidup kita sekarang ini (setelah besar), tidakkah kita telah kehilangan tidak sedikit sikap atau prilaku kala waktu kecil? masihkan kita mempunyai kepolosan, keterbukaan dan kepasrahan seperti yang pernah kita punyai di kala kecil?
Sikap-sikap itulah yang senantiasa berkenan kepada Yesus, sehingga kita boleh masuk KerajaanNya.
Kita diajak untuk meneladan St. Maximilianus Maria Kolbe, yang dengan segala kepasrahannya, ia menggantungkan hidupnya hanya kepada Allah.

Berjerihpayah

Ul 10:12-22
Mat 17:22-27

Hal membayar pajak ditunjuk oleh Yesus sebagai kewajiban setiap warga. Namun kiranya menarik untuk diperhatikan bagaimana mengusahakan uang. Petrus disuruh oleh Yesus untuk memancing di danau. Dalam mulut ikan yang pertama yang diperoleh akan didapatkan mata uang dirham utnk membayar pajak. Luar biasa, alangkah mudahnya hidup bersama Yesus. Sepertinya tak perlu bekerja keras untuk mendapatkan rezeki. Tentu ini adalah mukjizat? Ingat, di padang gurun tatkala digodai iblis untuk memakai kekuasaannya, untuk kepentingan pribadiNya, Yesus menolak (Mat 4:1-11).
Kecenderungan manusia memahami kuasa Yesus seolah-olah Dia tukang sulap. Tak sedikit orang yang menghendaki agar Tuhan mengerjakan segala sesuatu baginya, tanpa ia harus berusaha dan berlelah-lelah. Tak sedikit orang yang menghendaki cara yang gampang.
Melalui Petrus, Yesus mengingatkan kita untuk berusaha mendapatkan rejeki dengan berjerihpayah menjalankan profesi dan pekerjaan kita. Petrus sebagai nelayan harus berusaha menangkap ikan supaya ia memperoleh uang untuk melunasi kewajiban-kewajibannya bersama Yesus dan murid-murid lain.

Model Hidup sebagai Hamba

Ibr 11:1-2,8-19
Luk 12:32-38

Dalam perjalananNya bersama para murid, Yesus selalu mengajarkan bagaimana hidup sebagai murid Kristus. Salah satu kekhasan yang senantiasa harus dimiliki oleh murid Kristus adalah sikap melayani. Hal ini pun telah di ungkapkan oleh Yesus secara simbolis dalam peristima perjamuan malam terakhir. Yesus yang adalah mesias bersedia untuk membasuh kaki para murid. Semangat itulah yang mau di tanamkan oleh Yesus kepada para muridNya.
Dalam rangka ini, Yesus memilih dan mengambil model hidup seorang hamba untuk menjelaskan bagaimana para muridNya harus hidup di tengah dunia. Seorang hamba yang dimaksudkan oleh Yesus adalah seorang hamba yang selalu setia melaksanakan tugas dan melayani majikannya. Sikap seperti yang ditampakkan oleh seorang hamba yang demikianlah yang juga menjadi model cara hidup sebagai seorang beriman. Siap menerima dan berjaga serta melayani setiap saat untk Tuhan merupakan ungkapan iman yang selayaknya kita miliki sebagai orang beriman.
Dengan demikian perwujudan iman akan mengalir dengan sendirinya dalam realita hidup kita. Kebaikan dan cinta kepada merupakan sikap yang harus aktual dalam setiap kesempatan. Kiranya tidak ada kesempatan untuk berhenti mewujudkan kebaikan dan cinta kepada setiap hal yang kita kerjakan dan kepada setiap orang yang kita jumpai.

Dicari : Orang yang Percaya

Ul 6:4-13
Mat 17:14-20

Dalam dunia yang begitu sekular ini, amat dibutuhkan orang-orang jujur demi sekian banyak hal yang harus dilakukan. Namun faktanya bahwa amat sulit ditemukan orang yang dapat dipercaya.
Kiranya hal ini juga berlaku dalam kaitannya dengan Tuhan. Kita bisa mencermati situasi dewasa ini dengan adanya gejala soal kurang percayanya terhadap Tuhan. Hal ini disebabkan karena oleh teknologi yang justru mengisolasi manusia dari Allah. Orang lebih dikuasai oleh dunia dengan segala glamoritasnya.
Sabda Tuhan hari ini menunjukkan kepada kita betapa dibutuhkannya orang yang percaya. Seorang Bapak membawa anaknya yang sakit sangat menderita datang kepada Yesus dengan mohon belas kasihan. Di hadapan Yesus anak itu sembuh. Ini terjadi karena bapak yang percya kepada Yesus.
Para murid ditegor oleh Yesus karena mereka kurang percaya. Tapi bukankah mereka amat dekat dengan Yesus? Bukankah mereka sangat setia kepada Yesus? Ya. Tapi itu tidak jaminan. Imanlah yang menjadi jaminannya. Apalah artinya seseorang yang dekat, entah sebagai saudara atau sahabat, namun ia tidak dapat saling dipercaya. Apalah artinya seseorang yang mengagungkan soal kesetiaannya, bila ia tidak percaya.
Yesus menghendaki agar kita percaya kepadanya, sehingga kita bisa berbuat banyak demi sekian banyak orang. Kesetiaan kita kepada Yesus akan menjadi berharga bila kita sungguh percaya dang mengandalkan Dia.