Betapa pentingnya Cahaya dan Suara dalam perjalanan hidup saya dan Anda

Kej 22:1-2.9a.10-13.15-18; Rm 8:31b-34; Mrk 9:2-10 
Melihat dan mengenali kota Roma dari puncak bukit
Pada hari ini, Minggu pekan II masa Prapaskah, dikenal sebagai hari Minggu Transfigurasi Kristus. Bacaan-bacaan hari ini menyajikan kepada kita suatu pendakian “gunung rohani" bersama Yesus untuk memandang cahaya kemuliaan Allah dengan wajah manusiawi-Nya dan mendengarkan suara yang berseru “Inilah Anak-Ku terkasih, dengarkanlah Dia!” 

*** 
Suatu ketika, seorang seminaris datang mengetuk kamar saya. Rasanya untuk pertama kalinya ini, ia menemui saya. Setelah masuk, ia menuturkan kisahnya selama mengikuti latihan sepakbola sore hari itu, Rabu. Sebuah benturan keras telah terjadi atas dirinya rekannya di lapangan. Ia terjatuh, terguling dan penuh dengan lumpur ditubuhnya (maklum lapangan bola saat itu masih amat memprihatinkan). Ia berhenti sejenak berkisah, ia membuka kacamata hitamnya. Sayapun melepaskan senyum yang sejak ia masuk, saya tahan-tahan. Dalam hati saya hanya bertanya-tanya mengapa ia harus mengenakan kacamata hitam seperti seorang pemain kuda lumping.
Setelah ia bisa menguasai emosinya, isak tangisnya, lalu ia menyampaikan kecemasan dan ketakutannya atas kejadian itu. Ia cemas dan takut akan kedua matanya yang tidak lagi berfungsi baik karena benturan keras dengan kepala rekannya. Pun dengan telinganya yang dirasa seperti tersumbat sesuatu sehingga tidak amat jelas untuk mendengar.
Saya turut merasakan kecemasan itu, meski tidak saya katakan padanya. Apalah jadinya bila seseorang akhirnya tidak bisa melihat dan tidak bisa mendengar. Mungkin ia  akan terasa terlempar jauh dari dunia, gelap dan sepi. 

Ada dua unsur mendasar dalam kisah ini: CAHAYA dan SUARA. Demikianlah dua unsur yang dipakai penulis Injil Markus untuk mahami dan mengerti pewartaan Yesus. 
Cahaya, Yesus mengajak dan memimpin murid-murid : Petrus, Yakobus dan Yohanes mendaki ke puncak gunung. Di sana “Ia berubah rupa di hadapan mereka” (Mrk 9:2). Wajah serta pakaian-Nya bersinar putih sementara Musa dan Elia menampakkan diri bersama-Nya. 
Suara, Pada saat itu, awan menaungi puncak gunung dan terdengarlah suara yang berkata: “Inilah Putera-Ku terkasih, dengarkanlah Dia” (Mrk 9:7).
Di sini, cahaya dan suara dipakai untuk memberikan kesaksian tentang Dia dan memberi perintah untuk mendengarkan Dia. Karena alasan inilah Yesus membawa tiga orang diantara mereka untuk naik ke gunung bersama Dia. Sebuah tempat yang menyimbolkan dekat dengan yang ilahi. Ia menyingkapkan kemuliaan Ilahi-Nya, cahaya Kebenaran dan Cinta. Yesus menghendaki agar terang ini menerangi hati mereka saat mereka melewati kegelapan Sengsara dan wafat-Nya, saat dimana kebodohan Salib menjadi tak tertanggungkan bagi mereka. Allah adalah terang, dan Yesus ingin membagikan kepada para sahabat-Nya pengalaman akan Terang yang berdiam di antara mereka ini.
Setelah peristiwa Transfigurasi ini Dia sendirilah yang akan menjadi terang batin mereka dan dapat melindungi mereka dari segala serangan kegelapan. Yesus adalah pelita yang tak pernah padam. Dan Sabda-sabdaNyalah yang diperdengarkan kepada siapapun dan mereka memperoleh kesempatan untuk menimban keijaksaan daripadaNya.

Ziarah Assisi (2013)
Jelas bahwa kita semua pun membutuhkan terang batin untuk melihat dengan cermat dan mengatasi segala kesulitan kita. Maka, marilah kita mendaki gunung rohani kita bersama Yesus. Mengalami transfigurasi Yesus setiap hari dalam hidup kita. 2 kata kunci pengingat: Cahaya. Melihat dengan cermat Yesus yang menjadi cahaya iman yang menuntun hidup. Suara. Mendengarkan dengan sertia dan jelas, khususnya suara Allah dalam Sabdanya dan yang berkumandang melalui sapaan, sharing, teguran dan juga kritik dari orang-orang di sekitar kita.

Yakinlah bahwa kita dimampukan seperti Abraham yang memiliki ketajaman iman untuk melihat cahaya ilahi yang membuat ia berani mengurbankan apa yang paling berharga dalam hidupnya. Yakinlah bahwa kita dimampukan seperti Paulus yang mamiliki ketajaman untuk mendengarkan suara Allah dalam discermen hidup kita setiap hari dengan memilih yang baik untuk bisa kita buat dalam setiap pengalaman hidup kita.

Jangan abaikan cara!

Mrk 1:40-45
Ada banyak faktor yang menentukan bagus atau tidaknya gambar yang dihasilkan ketika seseorang memotret. Keberadaan objek, situasi saat gambar diambil dan juga siapa yang berperan membidik gambar.
Betapa banyak orang gagal dalam melakukan sesuatu, bukan karena ia tidak punya kemampuan atau ketrampilan untuk melakukannya, tetapi karena ia tidak tahu cara bagaimana melakukan apa yang mesti dilakukannya.

Terkadang maksud yang baik ketika disampaikan dengan cara yang salah atau pada waktu yang tidak tepat, maka tak jarang juga akan menimbulkan persoalan, bahkan tidak membuahkan hasil.
Di sini penting sekali soal cara. Kita tidak bia mengabaikan soal cara.

Demikian pun dengan seluruh hidup Yesus dan apa yang Dia lakukan dalam karyanya, pun tak lepas dengan yang namanya cara. Setidaknya kita bisa mencermati bacaan Injil hari ini.

Kisah ini sangat menarik. Ada beberapa hal yang dapat kita simak.
Pertama, konteks bacaaan adalah perjumpaan si Kusta dan Yesus; situasi di tengah perjalanan (1:21-45 sebuah perjalanan pemberitaan Injil di Kapernaum dan pedesaan Galilea), ...Hal ini melukiskan bahwa ada saat di mana kita mengalami, menyaksikan surutnya kehidupan. Kesulitan, kegagalan, sakit, derita dan kemalangan, pun biasanya terjadi di luar rencana kita. Bisa saja kita menerimanya, karena kita sudah memperhitungkannya. Tetapi juga bisa jadi kecewa dan frustrasi karena kita tidak siap. Kenyataan ini menunjukkan bahwa kadang kita butuh pertolongan sesama untuk mengurangi rasa sakit, meringankan beban yang sedang kita tanggung, karena ada hal-hal yang tidak dapat kita lakukan sendiri. Di sini, kesadaran akan situasi diri sangat perlu, kesediaan untuk ditolong adalah keharusan, kerendahan hati harus menjadi sikap dasar.

Kedua, cara Yesus memposisikan diriNya. Kita hanya mungkin mengenal, mengetahui situasi sesama dan dapat memberi pertolongan yang dibutuhkan bila kita bersedia meninggalkan diri kita sendiri, memasuki dunia hidup sesama untuk bisa melihat kenyataan hidup mereka yang sesungguhnya, menempatkan diri pada posisi mereka. Kita bisa melihat bagaimana cara Yesus hadir. Betapa sering, kita sulit mengetahui situasi sesama, merasakan pahitnya hidup mereka karena kita hanya berputar pada dunia diri kita yang sempit dan penuh kalkulasi.

Ketiga, Si kusta... ‘kalau Engkau mau’. Di sini tampak jelas bahwa si kusta rindu disembuhkan. Dia membutuhkan pertolongan tetapi dia tahu orang yang diminta punya putusan sendiri, dia memberikan kebebasan kepada Yesus untuk menentukan sikap. Kadang atau betapa sering apa yang kita pikirkan, harapkan, atau minta, tidak kita dapatkan. Mengapa? Karena pikiran, harapan atau permintaan kita justru mengurung kebebasan orang untuk bertindak sesuatu sesuai dorongan jiwanya. Lalu kekesalan atau kebencian bahkan akan bisa muncul saat kita tidak mendapatkan apa yang kita harapkan.

Saudari dan saudaraku,
Kita tahu bahwa penyakit kusta membuat si penderitanya mengalami penderitaan ganda, yaitu penyakit itu sendiri dan ia harus dikucilkan dari kebersamaan.
Dalam keseharian hidup kita, mungkin saja kita tidak pernah menjumpai orang yang sedang menderita kusta. Tetapi penderitaan yang sama kadang dialami oleh seseorang, atau bahkan diri kita sendiri. Penderitaan karena dikucilkan dari kebersamaan, mungkin karena hati kita yang mudah membenci, iri hati, dendam, tidak suka mengalah, rakus, angkuh dan aneka penyakit sosial lainnya. Dan tragisnya, kita sulit disembuhkan karena tidak menerima pertolongan dari yang lain, karena kurang rendah hati.

Hari ini melalui SabdaNya, Yesus mengingatkan dan sekaligus mengundang kita untuk menjadi seorang yang siap untuk keluar dari diri sendiri dan merasakan apa yang sedang dialami sesama; mau menolong ataupun mempunyai kesediaan untuk ditolong dan penting sekali bahwa kita tahu bagaimana caranya mendapatkan pertolongan.

Apa yang Kamu cari?

1Sam 3:3b-10.19; 1Kor 6:13c-15a.17-20; Yoh 1:35-42 

Hari ini Minggu pekan II Biasa tahun B. sebuah pertanyaan mendasar untuk kita: "Apa yang kamu cari?" Adalah sebuah pertanyaan yang sangat mendasar bagi siapapun. Bisa gampang dan juga bisa amat sulit menjawabnya. Saya mencermati bahwa pertanyaan ini lama-lama akan menjadi pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Mengapa? (1) Tidak sadar dalam pencariannya. (2) Tidak tahu dengan jelas apa yang dicari. (3) Merasa telah menemukan.Yesus hari ini juga bertanya kepada dua murid Yohanes. Apa yang kalian cari? Lalu apa jawab mereka? Dimanakah kamu tinggal. 

Mengamati ornamen di Gereja Katedral Orvieto (2013)
Sebuah jawaban yang tampaknya tidak siap (berupa pertanyaan?), mungkin kaget, heran kok tiba-tiba bertanya. Tampak sekali bahwa pertanyaan, seperti sebuah ungkapan yang tidak mengharapkan langsung diterima. Hanya sekedar mengungkapkan rasa ingin tahu. Seseorang yang lebih besar dari Yohanes yang selama ini diajarkannya. Maka mereka menggunakan sapaan kehormatan, GURU.

Tak dapat dipungkiri juga bila hidup kita selalu ditandai dengan usaha mencari (menemukan dan memiliki). Betapa sering kita juga belum amat tahu apa sebetulnya kita cari.

Menarik sekali dinamika selanjutnya: Yesus menanggapi mereka, mengajak mereka melihat sendiri. Mereka dibiarkan menemukan yang mereka cari. Kita diajak menyadari dan memahami bahwa dengan pertanyaan “Apa yang kamu cari?” Mau mengatakan kepada kita bahwa Sang Sabda itu bukan yang “jauh di sana”, melainkan dia yang menyapa dan mengajak berbicara. Dia yang tidak menganggap dengan cuek orang yang datang kepadanya. 

Dia pun akan membantu kita, pun kepada siapa saja yang mulai berjalan mengikutinya. Ia akan melontarkan ajakan untuk melihat sendiri dan menemukan nya.

Mereka menemukan pengenalan akan Tuhan. Perjumpaan mereka sampai dengan jam empat sore menunjukkan bahwa sepenuh hari mereka ada bersama Dia. Mereka bukan hanya melihat di mana ia tinggal, melainkan menemukan yang disebut Anak Domba Allah oleh Yohanes Pembaptis itu juga setidaknya harapan mereka akan sosok Mesias, menjadi besar dan menyala-nyala. Terbukti Andreas mengabarkannya kepada Simon, dan bahkan membawa saudaranya itu kepada Yesus. Kemudian disebutkan bahwa Yesus memandangi Simon dan memberinya nama baru, yaitu Kefas, artinya Petrus. Kejadian ini meyakinkan Andreas dengan peristiwa yang diungkapkan dalam Injil Sinoptik sebagai pengakuan Petrus bahwa Yesus itu Mesias. 

Ajakan konkrit untuk kita
(1) Membiarkan Roh Allah menyapa batin dengan caranya sendiri. (2) Bersedia menjadi teman seperjalanan yang mampu berbagi dan kadang harus menunjukkan jalan yang semestinya harus dilalui kepada rekan seperjalanan kita. Seperti yang dilakukan Yohanes Pembaptis, juga seperti yang dibuat Andreas dan juga yang dibuat Eli kepada Samuel. (3) Menggemakan pertanyaan Yesus di awal APA YANG KAMU CARI? atau di penghujung hari: APA YANG KAMU TEMUKAN HARI INI?

Kamu harus memberi mereka makan!

'dijepret' 24 Juni 2014, di sudut kota Milan
Salah satu kebutuhan primordial manusia adalah lapar. Tetapi Sabda Tuhan hari ini mengatakan bahwa lapar tidak berarti hanya membutuhkan makanan sehari-hari, tetapi semua yang diperlukan untuk manusia untuk hidup bermartabat.

Kita dapat membacanya dalam Markus 6:34-44, "Yesus melihat sejumlah besar orang , maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala". Orang-orang itu lapar akan kebenaran, petunjuk arah dan panduan yang pasti bagi hidupnya. Dan tampaknya Yesus tahu yang mereka butuhkan, dan itu lah yang pertama-tama dipenuhinya.


Yesus juga berseru, "Kamu harus memberi mereka makan!" Tampaknya ini adalah tanggapan Yesus atas usulan para murid untuk menyuruh mereka pergi dan mencari atau membeli makan sendiri-sendiri. Yesus justru meminta para murid untuk memberi makan kepada sejumlah orang itu dengan apa yang mereka miliki.


Rasanya bukan sekedar ajakan, melainkan sebuah perintah mendesak yang menuntut tanggungjawab. Perintah untuk peduli atas kebutuhan manusia, sesama kita yang berkekurangan, sedang dalam kesulitan, sedang berduka, sedang ragu-ragu, sedang putus asa, dan terlebih sedang terpisah dari Allah. Mereka sedang ada di dekat kita, di sekitar kita.


Belajar dari Perkara Kecil

Minggu Biasa XXXIII 
Mat 25:14-30; 1Tes 5:1-6

Menjelang akhir Tahun Liturgi, Gereja selalu mengingatkan kita akan hari kedatangan Tuhan. Melalui St Paulus kita diingatkan, “...kamu sendiri tahu benar-benar, bahwa hari Tuhan datang seperti pencuri di waktu malam” (1Tes 5:2). Tetapi, meski kita mengetahuinya dan selalu diingatkan, kadang kesibukan hidup kita tak memberikan peluang untuk memikirkannya. Bahkan mungkin tak lagi terngiang kata-kata Tuhan ini, “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semua yang lain akan ditambahkan kepadamu” (Mat 6:33).

Pada hari ini, Yesus mengajar melalui perumpamaan. Tiga orang hamba diberi "modal" sebesar lima talenta, dua talenta dan satu talenta. Setiap orang diberi talenta agar bersiap diri menyambut Allah yang datang meraja. Maka dapat dimengerti, bila dua hamba yang baik dan setia segera ‘pergi’ untuk mengembangkan talentanya. Kala Tuhan datang, mereka telah melipatgandakan talentanya; bukan untuk kepentingan pribadi, tapi demi kepentingan bersama, kemuliaan Pemberi talenta.

Mari kita pahami pengertian talenta, bukan hanya sebatas bakat atau potensi, melainkan mewakili semua hal yang Tuhan percayakan kepada kita. Pertama-tama adalah kepercayaan: pekerjaan (student, guru, karyawan..dst), pelayanan, komunitas, propinsi, keuskupan dan sebagainya. Kita dapat mencermatinya dan bertanya: bagaimana kita mengerjakan semua itu? Bagaimana saya memprioritaskan talenta itu?

Rm. Leo Agung SCJ, foto pada musim panas 2013 di Tarquinia
Menarik sekali, setelah majikan itu meminta perhitungan dari ketiga hambanya, hamba yang dipercayakan mengelola lima talenta membawa laba lima talenta, pun dengan hamba yang dipercayakan mengelola dua talenta membawa laba dua talenta. Maka tuan itu memberi penilaian dan pujian, "Baik sekali perbuatanmu itu, hai hamba yang baik dan setia! Karena engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara kecil, maka aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu" (Mat 25:21.23).

Jelas bahwa: tanggung jawab atas talenta tidak akan pernah berhenti. Pun tidak ada juga kesempatan untuk membangga-banggakan diri dengan apa yang sudah kita lakukan. Dengan kata lain, tidak ada kata berhenti untuk berbuat baik.
Jelas pula bahwa: hanya mereka yang bertanggung jawab atas talenta itu, dialah yang memiliki hak untuk masuk dalam kebahagiaan Sang Pemberi talenta.

Paling tidak ada dua sikap dasar yang harus kita miliki sebagai orang-orang yang telah diberi kepercayaan oleh Tuhan.
Sikap PERCAYA --- kita harus percaya sepenuhnya kepada Tuhan yang telah mempercayakan ”talenta” itu kepada kita. Seperti yang dibuat oleh hamba yang pertama dan kedua yang menunjukkan tanggung jawab atas talenta. Hamba yang menyembunyikan talentanya adalah seorang hamba yang menuduh tuannya sebagai seorang yang kejam.
Sikap SETIA --- kita harus setia mengerjakan apa yang menjadi bagian kita. Sang tuan dalam perumpamaan itu tidak mempersoalkan berapa banyak keuntungan yang diperoleh, melainkan melihat kesungguhan hamba-hambanya mengelola apa yang telah dipercayakannya kepada mereka. Kesungguhan dalam setiap hal yang dilakukan oleh seseorang, menjadi wujud konkrit dari kesetiaannya.

Lewat perkara kecil orang dapat mengukur kemampuan, kesetiaan dan tanggung jawabnya atas perkara besar yang mungkin akan dipercayakan orang kepadanya.

Pesta Pemuliaan Salib Suci

Simbol dari kasih bukanlah hati melainkan salib. Sebab hati suatu saat akan berhenti detaknya, tetapi Manusia yang tersalib itu tidak akan berhenti mengasihi. 
Bil 21,4-9; Fil 2,6-11; Yoh 3,13-17 
Hari ini kita merayakan pesta Pemuliaan Salib Suci. Mengapa menggunakan kata PEMULIAAN? Jelas bahwa dengan kata pemuliaan, salib tidak ingin dihadirkan kepada seluruh umat beriman dengan aspek penderitaan, keras dan beratnya hidup, atau sulitnya mengikuti Kristus. Tetapi, salib hadir sebagai sumber yang membanggakan dan yang membesarkan hati.
Secara historis, pesta ini juga mau mengingatkan kita tentang dua peristiwa besar dalam sejarah iman Kristiani. Pertama, adalah peresmian dua basilika pada tahun 325 oleh Kaisar Konstinus (di Golgota dan di Makam Yesus).  Kedua, kemenangan Kristen atas Persia (abad VII) yang diartikan kembalinya salib dari tangan Persia ke Yerusalem.
Seni Romawi Kuno
Lebih dari itu, pesta ini merupakan ungkapan iman Gereja terhadap Salib Yesus sebagai jalan keselamatan. Palulus menyajikan sebuah himne terkenal, di mana salib dipandang sebagai alasan atas "peninggian" Kristus. “...Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai wafat, bahkan sampai wafat di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia, dan menganugerahkan-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuklututlah segala yang ada di langit, dan yang ada di atas serta di bawah bumi, dan bagi kemuliaan Allah Bapa segala lidah mengakui, “Yesus Kristus adalah Tuhan.”
Ketika saya mencermati lukisan atau mozaik salib di beberapa Gereja atau Basilika atau biara-biara mosnatik, saya menemukan dua kharakter seni yang mencolok. Pertama, seni Romawi Kuno (abad IV) yang menampilkan salib dengan wajah Yesus mengarah ke depan, mata terbuka, tanpa bayangan penderitaan, tidak lagi dinobatkan duri, tetapi dengan permata. Dalam bentuk mozaik, sering ada dekorasi yang bercahaya dan ada ditambahkan tulisan “Salvezza del mondo” atau “Salus Mundi” artinya keselamatan dunia.
Seni Gotik / Modern
Kedua, Seni Gotik (modern, mulai abad XII) yang menampilkan salib dengan tampak ekstrim, tangan dan kaki menggeliat, sekarat di bawah seikat duri, seluruh tubuh ditutupi dengan luka. Tampak dramatis, realistis, menyedihkan - mewakili lintas mata - dingin. Salib diungkapkan sebagai simbol penderitaan dan kejahatan di dunia dan realitas mengerikan dari kematian.
Dua kharakter seni ini tampaknya mewakili dua sudut pandang. Di satu sisi Salib dipandang sebagaipenyebab", itulah yang biasanya salib menghasilkan: kebencian, kedengkian, ketidakadilan, dosa. Di sisi lain Salib dipandang sebagai “bukan penyebab” tetapi efek dari salib, atau apa yang dihasilkan dari salib: rekonsiliasi, perdamaian, kemuliaan, keamanan, kehidupan kekal. 

Memuliakan atau meninggikan salib berarti meninggikan cinta, Yesus Yang Tersalib telah meninggikan cinta. Jalan yang ditempuh: Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai wafat, bahkan sampai wafat di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia. Bagi kita, meninggikan salib berarti membuka hati kita untuk menyembah dan mengagumi. Dengan demikian, akan menghasilkan bagi kita dan orang di sekitar kita suatu rekonsiliasi, perdamaian, kemuliaan, keamanan, kehidupan kekal.

Ada Mujizat dalam Iman yang Hidup

Santuario: Madonna del Divino Amore
Tampak ada banyak tanda terima kasih tertempel di
dinding. Mereka telah mengalami mujizat, melalui
iman yang hidup dalam kesetiaan doa mereka.
MINGGU BIASA XX (A), 2014
Matius 15:21-28

Sabda Tuhan hari ini, khususnya Injil mengajak kita untuk merenungkan pertemuan antara Yesus dan perempuan Kanaan yang tinggal di tempat yang dianggap haram. Wanita itu mengambil inisiatif dan memohon Yesus untuk menyelamatkan putrinya yang kerasukan setan, atau dengan masalah psikologis yang serius. Dia berseru, "Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita." (Mat 15:22).   

Kita bisa membayangkan situasi putri dari perempuan Kanaan itu. Katakanlah sebagai seorang gadis yang murung, yang tidak bahagia dengan hidupnya, dan bahkan mungkin kadang-kadang menangis atau berteriak kesal. Saya pikir, kondisi seperti ini secara kebetulan pernah kita jumpai pada salah satu keluarga. 
Tapi bagaimana reaksi Yesus? Dikisahkan bila Yesus tampak acuh tak acuh (Mat15,23) dalam menghadapi permintaan wanita itu. Sehingga mendorong hati para murid untuk memohon agar Dia mendengarkan dan memenuhinya. Tapi Yesus berkata, "Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing"(Mat 15:26).
 
Betapa hati kita amat terkejut mendengar kata-kata Yesus. Rasanya sulit bagi kita untuk memahami sikapNya. Berhadapan dengan situasi seperti itu, siapa pun akan mengharapkan dariNya, kata-kata penghiburan, bantuan, pertolongan terhadap orang yang lemah yang menderita. Mungkin saat ini juga di antara kita ada yang merasa kecewa, persis seperti yang dialami wanita itu. Kita telah meminta dan memohon Tuhan untuk membantu, tapi seolah-olah Dia tidak mendengarkan

Iman yang besar, iman yang hidup dari wanita Kanaan itu melahirkan sebuah mukjizat atau keajaiban. Yesus berkata kepadanya: "Hai Ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki." 
Dan seketika itu juga anaknya sembuh (Mat 15:28). 

Dengan demikian, Sabda Tuhan telah dan sedang mengajarkan kita, pertama-tama bahwa Tuhan mengundang kita untuk percaya kepada-Nya dalam iman, untuk tidak pernah menyerah dalam doa. Bahkan jika tampaknya bahwa permohonan kita tidak didengarkan dan dijawab. Kita tidak harus berkecil hati. Mari kita meniru desakan dari perempuan Kanaan. Kerendahan hati dan pengakuan diri atas situasi yang sesuangguhnya terjadi dalam keluarganya, menjadi tanda yang jelas sebagai iman yang hdup dan dihidupi oleh wanita Kanaan itu.  

Oleh karena itu, janganlah kita kehilangan harapan dengan iman yang hidup.

Yesus amat dekat dengan kita


Matius 13:10-17
Siapakah orang yang terdekat di dalam hidupmu? Sebuah pertanyaan yang sederhana. Tentu masing-masing orang memiliki jawabannya. Ada yang menjawab: ibu, karena merasakan betapa sabar, lembut dan ramah. Ada yang yang menjawab: ayah, karena merasakan betapa hangat sapaannya. Ada yang mengatakan: adik, karena merasakan betapa imut dan menggemaskan. Ada yang mengatakan: istri, karena merasakan betapa perhatiannya, dan seterusnya. 

Ilustrasi: salah satu aktivitas para siswa Sekolah Dasar selama musim panas, 
di Messina, Sicilia, ROMA
Yesus pun dekat dengan para murid-Nya. Bahkan terkesan Ia sangat mengistimewakan mereka. Kedekatannya tampak ketika Yesus mengajarkan banyak hal secara terus terang kepada mereka. Lalu apakah para murid juga sangat dekat dengan Yesus? Tampaknya para murid pun dekat dengan Yesus, bahkan amat dekat. Mereka mengenal-Nya dan mengerti misi dan visi-Nya, yaitu mewartakan Kerajaan Allah. Dengan demikian, Yesus memberikan kepercayaan mengutus para murid-Nya mewartakan Kerajaan Allah.  

Pertanyaan untuk kita: Apakah kita dekat dengan Yesus? Jika YA, masing-masing dari kita tentu akan memiliki jawaban yang sangat personal. Pun tergantung pada intensitas perjumpaan dengannya. Baik melalui dan dalam Ekaristi, dalam doa-doa, dalam meditasi dan seterusnya. Jika TIDAK, kita mungkin seperti orang yang bebal hati, persis yang diramalkan nabi Yesaya, Kamu akan mendengar dan mendengar, namun tidak mengerti; kamu akan melihat dan melihat, namun tidak menanggap" (Mat 13:14).

Saya harus Memilih


Matius 13, 24-43 
Rasanya, perumpamaan tentang gandum sebagai benih yang baik dan ilalang sebagai benih yang jahat,  sering dipakai untuk mengkontraskan antara orang-orang benar dan orang-orang jahat. Dengan demikian tentu dengan mudah kita akan menempatkan diri dalam kategori gandum dan bukannya ilalang.  Semoga tidak demikian.

Melalui perumpamaan tentang gandum dan ilalang,  Yesus justru mau mengajar agar kita senantiasa rendah-hati dan tidak mudah menghakimi orang lain sebagai kelompok ilalang.  Karena bisa saja terjadi sebaliknya. Kita yang menggolongkan diri sendiri sebagai gandum ternyata justru kita sebagai ilalang
Ilalang dan gandum adalah dua tanaman yang hampir mirip, tetapi sebenarnya sangat berbeda. Gandum adalah suatu jenis tanaman yang dapat menjadi makanan pokok, yang banyak berguna bagi manusia, sedangkan ilalang adalah suatu jenis tanaman yang amat sedikit kegunaannya. Bahkan ilalang memiliki sifat menghisap persediaan makanan dan merusak suatu tanaman yang ada di dekatnya.

Yesus mengidentifikasi bahwa pada awal pertumbuhannya, ilalang sering tidak tampak perbedaannya dengan tanaman gandum (ay.25). Dan petani mulai mengetahui dengan persis manakah yang termasuk kelompok tanaman gandum dan manakah yang termasuk kelompok ilalang, yakni saat gandum mulai berbulir. 

Dengan demikian, pada akhirnya masing-masing dari kita yang ada di antara batas tipis keduanya, harus memilih hidup sebagai gamdum atau ilalang. Bila kita ingin menjadi gandum maka kita harus melatih dan terus mengembangkan diri untuk tidak menjadi kelompok tananam ilalang yang merusak, menghambat, meracuni dan mematikan orang-orang yang berada di sekitar kita. Menjadi gandum berarti berusaha mewujudkan realitas Kerajaan Allah dengan terus menghasilkan buah yang bermanfaat pada kehidupan ini.

Tentukan pilihan segera mungkin!