Il Pentimento è Una Conseguenza della Fede
Lunedi, 14 October 2013
Luca 11:29-32
Ho visto alcuni violazioni del traffico delle strade. Non è un po' di reato in realtà è molto pericoloso, sia per gli attori e per gli altri. C'era uno sguardo improvviso che tutti gli utenti della strada ad essere ordinato. A quanto pare, in una curva della strada c'era un raid da parte della polizia.
Segni, regole o restrizioni potrebbero essere facilmente trascurati o violati. Ma quando ci sono persone che hanno il potere, allo stesso tempo, un segno o regole o restrizioni di essere ancora una volta impotente. La chiamata si è rivelato essere uno solo ascoltare quando qualcuno che ha il potere di consegnare.
Racconto nel Vangelo, quando avevano visto Gesù, purtroppo, sono ancora facile presumere la sua banale. Solo se si guarda davvero segno straordinario, crederanno. Essi sono ciechi a ciò che è veramente grande è nascosto.
Strada dell pentimento abbiamo passato con i piccoli segni che sembravano senza senso. Paolo è grato di aver ricevuto la grazia di Dio per condurre tutte le nazioni. Giorno dopo giorno, impara a vedere piccoli segni della grazia divina. Se non faccio errori oggi come ieri, è stato un segno dell'opera di Dio.
Untuk Apakah Kamu Pergi?
Itulah pertanyaan Yesus secara berulang-ulang sampai tiga kali kepada orang banyak (Luk 7:24-26) tentang Yohanes. Yesus mengajak orang banyak untuk mempertegas tujuan mereka atas penyelamat yang dirindukan.Bagi kita, pertanyaan itu kiranya juga sangat relefan. "Untuk apakah kita pergi kepada Tuhan?" Sebagian besar dari kita tentu hendak mencari jawaban-jawaban menurut situasi hidup masing-masing: untuk mencari damai, ketenangan, kesembuhan, rejeki, jodoh dst.....
Setiap orang mempunyai harapan bahwa Tuhan akan memberikan yang terbaik bagi dirinya. Bahkan ada yang mengharapkan lebih. Demikian pun orang banyak ketika mereka menyambut Yohanes Pembaptis. Tetapi ketika melihat kenyataan bahwa yang diinginkan tidak sesuai dengan yang dipikirkan, maka sirnalah harapan itu. Hal itu tampak ketika Yohanes Pembaptis tampil dengan pakaian yang hanya terbuat dari kulit binatang, rumahnya di hutan pula dan makanannya ngengat madu, mulailah sirna harapan orang banyak itu.
Oleh sebab itu, jawaban yang mesti ada dan dihidupi atas pertanyaan untuk apakah kamu pergi kepada Tuhan adalah untuk mendengar perkataanNya dan untuk membuka hati padaNya serta untuk mengakui kebenaranNya. Karena demikian kasih setia Allah tidak akan berpaling dari hidup kita, sekalipun gunung-gunung beranjak dan bukit-bukit bergoncang (Yes 54:10).
Bukan hanya PERCAYA
Tak jarang orang yang mengikuti Yesus masih dengan penuh perhitungan (untung rugi, nyaman dan tidak nyaman). Oleh sebab itu, mari....kita belajar dari kedua orang buta dalam bacaan Injil hari ini (Mat 9:27-31). Betapa besar kerinduan hati dua orang buta dalam injil hari ini. Kerinduan itu tampak dalam keterbukaan dan kepercayaan mereka pada Yesus saat berseru minta bantuan. Mereka mau mengikuti Yesus hingga ke rumah tempat Yesus singgah. Kesediaan mau ditolong oleh Yesus itu sungguh-sungguh tampak dalam diri mereka.
MENGIMANI Yesus berarti mengikuti Yesus tanpa perhitungan apa pun lagi. Seperti kedua orang buta itu, membiarkan Yesus bekerja dalam diri mereka sepenuhnya tanpa ragu, sehingga mata mereka menjadi melek (terbuka). Dinamika beriman selanjutnya tampak dalam keputusan atau pilihan sikap dan tindakan mereka untuk memuliakan Yesus ke seluruh wilayah mereka, meski Yesus sesungguhnya melarang mereka.
Mari...kita MENGIMANI Yesus dengan tanpa ragu lagi, sehingga kita boleh merasakan perubahan dalam hidup kita yang selalu bersyukur dan memuliakan Tuhan.
Berdoa dan Bekerja menjadi bagian dari Dinamika Hidup Orang Beriman
| Team Sepak Bola Seminari sedang berdoa sebelum bermain |
BERDOA dan BEKERJA dengan tulus, itulah yang diteladankan oleh Beato Dionisius dan Redemtus (biarawan dan martir), kedua tokoh iman yang kita peringati hari ini. Keduanya berasal dari dinas militer Portugis sebelum mereka memutuskan untuk menjadi pelayan Tuhan. Pilihan hidup Dionisius menjadi seorang imam dan Redemtus menjadi seorang burder merupakan suatu jawaban mereka atas Tuhan yang mengundang untuk melaksanakan kehendakNya. Keduanya adalah misionaris yang menjadi martir di Indonesia, tepatnya disiksa dan dibunuh di Aceh.
Nabi Yesaya dalam bacaan I, berseru kepada Tuhan:
"Engkau menjaga orang yang teguh hatinya dengan damai sejahtera, sebab ia percaya kepadaMu".
Tuhan Yang Mahabelaskasih, murah hati, peduli pada setiap seruan umat-Nya juga meminta sikap agar tak sekadar berseru dengan bibir dan pikiran tetapi juga dengan hati; tak hanya membaca, mendengar, merenungkan sabda Tuhan, tetapi terutama mengamini dan melaksanakannya dalam hidup ini.
Maria Dikandung tanpa Noda
Itulah
ajaran yang berkembang dalam tradidi conceptio virginalis (dikandungnya
Yesus oleh Perawan). Tekanan pertama adalah Yesus dan bukan Maria,
meski harus diakui bahwa ajaran ini menyebut sesuatu (keperawanan)
tentang Maria.Sebagai Perawan (Yun-Partheos) maria mengandung dan melahirkan (menjadi ibu) Yesus. Di sinilah letak keperawanan Maria. Mateus menyebut, Ketia Ibu Yesus bertunangan dengan Yusuf, ia kedapatan mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka berkumpul - secara resmi menikah (Mat 1:18).
Secara manusiawi, maria juga bergulat. Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku tidak (belum) mengenal laki-laki (Luk 1:34). Maria berpikir bahwa ia akan mendapatkan anak setelah meniukahnanti, dan bukan sekarang. maria melahirkan Yesus sebagai perawan, sebab manusia Yesus Kristus tidak mempunyai ayah manusia (secara biologis).
Aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanMu (Luk 1:38). Itulah ungkapan kerelaan diri dan seluruh hidup matia. Ia mengiyakan maksud dan rencana Allah menjadi ibu perawan yang mengandung juru selamat. Keperawanan Maria dapat dikatakan sebagai akibat dari peranannya dalam rencana dan pelaksanaan penyelamatan Allah.
Dengan demikian Maria menjadi perawan, oleh karena dipilih untuk berperan sebagai ibu Sang Juru Selamat. Karena pilihan Allah itu, Maria mau menjadi partner, teman sekerja Allah sendiri. Maria tetap perawan sebelum melahirkan Yesus dan pada waktu melahirkan dan setelah melhirkan Yesus. Konsili Vatikan II, dalam Lumen Gentium 49 menegaskan bahwa kelahiran Yesus tudak merusak, tetapi menguduskan keperawanan Maria. Keperawanan maria itu bukan pertama-tama secra fisik, melainkansikap hati Maria (penyerahan total).
Dengan keperawanan Maria ini, kita percaya bahwa karya Keselamatan Allah bukan hasil pekerjaan manusia, melainkan melulu kehendak Allah.
Dia yang Tergantung
Pada
suatu hari, sang penjaga pintu pun berdoa menyatakan harapannya itu
kepada Yesus. Di luar dugaan, ia mendengar sebuah suara yang mengatakan,
"Baiklah! Aku akan turun menggantikan kamu sebagai penjaga pintu, dan
kamu yang naik di atas salib itu, namun apapun yang kau dengar,
janganlah mengucapkan sepatah kata pun."Lalu, Yesus turun, dan penjaga itu naik ke atas, menjulurkan sepasang lengannya seperti Yesus yang dipaku diatas kayu salib. Orang-orang yang datang bersujud, tidak menaruh curiga sedikit pun. Si penjaga pintu itu berperan sesuai perjanjian sebelumnya, yaitu diam saja tidak boleh berbicara sambil mendengarkan isi hati orang-orang yang datang.
Orang yang datang tiada habisnya, permintaan mereka pun ada yang rasional dan ada juga yang tidak rasional, banyak sekali permintaan yang aneh-aneh. Namun, demikian, si penjaga pintu itu tetap bertahan untuk tidak bicara, karena harus menepati janji sebelumnya.
Pada suatu hari datanglah seorang saudagar kaya, setelah saudagar itu selesai berdoa, ternyata kantung uangnya tertinggal. Ia melihatnya dan ingin sekali memanggil saudagar itu kembali, namun terpaksa menahan diri untuk tidak ber bicara. Selanjutnya datanglah seorang miskin yang sudah 3 hari tidak makan, ia berdoa kepada Yesus agar dapat menolongnya melewati kesulitan hidup ini. Ketika hendak pulang ia menemukan kantung uang yang ditinggalkan oleh saudagar tadi, dan begitu dibuka, ternyata isinya uang dalam jumlah besar. Orang miskin itu pun kegirangan bukan main, "Yesus benar-benar baik, semua permintaanku dikabulkan!" dengan amat bersyukur ia lalu pergi.
Diatas kayu salib, "Yesus" ingin sekali memberitahunya, bahwa itu bukan miliknya. Namun karena sudah ada perjanjian, maka ia tetap menahan diri untuk tidak berbicara. Berikutnya, datanglah seorang pemuda yang akan berlayar ke tempat yang jauh. Ia datang memohon agar Yesus memberkati keselamatannya. Saat hendak meninggalkan gereja, saudagar kaya itu menerjang masuk dan langsung mencengkram kerah baju si pemuda, dan memaksa si pemuda itu mengembalikan uangnya. Si pemuda itu tidak mengerti keadaan yang sebenarnya, lalu keduanya saling bertengkar.
Di saat demikian, tiba-tiba dari atas kayu salib "Yesus" akhirnya angkat bicara. Setelah semua masalahnya jelas, saudagar kaya itu pun kemudian pergi mencari orang miskin itu, dan si pemuda yang akan berlayar pun bereggas pergi, karena khawatir akan ketinggalan kapal. Yesus yang asli kemudian muncul, menunjuk ke arah kayu salib itu sambil berkata, "TURUNLAH KAMU! Kamu tidak layak berada disana."
Penjaga itu berkata, "Aku telah mengatakan yang sebenarnya, dan menjernihkan persoalan serta memberikan keadilan, apakah salahku?" "Kamu itu tahu apa?", kata Yesus. "Saudagar kaya itu sama sekali tidak kekurangan uang, uang di dalam kantung bermaksud untuk dihambur-hamburkann ya. Namun bagi orang miskin, uang itu dapat memecahkan masalah dalam kehidupannya sekeluarga. Yang paling kasihan adalah pemuda itu. Jika saudagar itu terus bertengkar dengan si pemuda sampai ia ketinggalan ka pal, maka si pemuda itu mungkin tidak akan kehilangan nyawanya.
Tapi sekarang kapal yang ditumpanginya sedang tenggelam di tengah laut." Ini kedengarannya seperti sebuah anekdot yang menggelikan, namun dibalik itu terkandung sebuah rahasia kehidupan...
Kita seringkali menganggap apa yang kita lakukan adalah yang paling baik, namun kenyataannya kadang justru bertentangan. Itu terjadi karena kita tidak mengetahui hubungan sebab-akibat dalam kehidupan ini. Kita harus percaya bahwa semua yang kita alami saat ini, baik itu keberuntungan maupun kemalangan, semuanya merupakan hasil pengaturan yang terbaik dari Tuhan buat kita, dengan begitu kita baru bisa bersyukur dalam keberuntungan dan kemalangan dan tetap bersuka cita.
Pelayanan dan Kredibilitas Paulus
Pelayanan dan kredibilitas itu memiliki ikatan yang seharusnya tak terpisahkan. Seorang pemimpin yang baik mesyaratkan harus memiliki jiwa yang melayani dan dapat dipercaya. Orang yang dapat dipercaya berarti Orang yang kata-kata dan janjinya dapat dipegang (tidak mencla-mencle=Jawa). Seorang pemimpin yang dapat dipercaya, ia akan menjadi pemimpin yang dapat melayani dengan setia. Oleh sebab itu, seorang ”oportunis” kiranya akan mengalami kesulitan besar dan bisa jadi tidak mungkin akan menjadi pemimpin yang baik. Betapa pun cerdik, lincah dan lihainya ia bermanuver serta membaca arah angin! Sebab ia pasti bukan seorang pelayan yang setia.
Ujung-ujungnya yang dituntut adalah setia. Terdengar begitu sederhana. Namun dalam kenyataan, alangkah sulitnya mencari orang-orang khususnya, pemimpin-pemimpin yang setia itu. Kiranya masih amat up to date belajar dari pengalaman Kumbakarna, raksasa buruk rupa, dari Kerajaan Alengka. Sebagian besar orang memang tidak membenarkan dia, ketika ia berpihak pada kakaknya (Rahwana). Namun begitu, toh orang menghormati karakter yang melekat dalam dirinya. Ia seorang yang setia.
Fenomena yang ada akhir-akhir ini, kesetiaan sebagai salah satu unsur kepemimpinan yang paling vital dan fundamental ini justru paling jarang disebut-sebut orang. Lebih berbahayanya bahwa kesetiaan sudah dianggap tidak terlalu penting. Kalah penting dibandingkan dengan unsur-unsur lainnya. Itulah situasi zaman yang serba pragmatis yang berlaku prinsip bahwa satu-satunya yang abadi hanyalah kepentingan.
Roh Pelayanan
Ada persoalan besar bila seorang pemimpin yang tanpa didasari jiwa kepelayanan dan roh kesetiaan. Ia memang seorang pemimpin. Bahkan seorang pemimpin besar, barangkali. Tetapi tak dapat dipungkiri sebagai pemimpin yang sangat mengerikan dan amat berbahaya.
Pernahkan Anda mendengar atau membaca kisah seorang yang mati disiksa di tahanan? Pasti amat mengerikan. Di Toulouse Perancis, kurang lebih pada tahun 1761, seorang bernama Jean Calas mati disiksa dalam tahanan. Tentu orang akan segera bertanya: Apa kesalahannya? Ia hidup di suatu masa, di sebuah tempat, di mana seorang yang berbeda agama harus serta-merta dicurigai. Ia hidup di sebuah negeri yang pernah terjadi suatu pembantaian orang-orang Protestan pada suatu malam. Peristiwa itu terkenal dengan nama ‘Malam Santo Bartolomeus’.
Lalu bagaimana kisah kematian Calas? Calas adalah seorang Protestan di kalangan masyarakat luas yang Katolik. Pada suatu hari seorang anak bunuh diri, mungkin karena gagal dalam usaha. Calas sedih dan cemas. Hukum setempat mengharuskan agar setiap yang bunuh diri harus diarak telanjang, dengan wajah telungkup, diseret di sepanjang jalan dan kemudian digantung. Calas pun ingin menyelamatkan jenazah anak itu. Ia mencari akal untuk menutup-nutupi sebab sebenarnya kematian anak muda itu. Isu yang beredar bahwa Calas lah yang membunuh anak itu, dengan alasan: si anak bermaksud masuk agama Katolik. Tak urung Calas pun ditangkap. Ia disiksa dan akhirnya mati.
Sementara di tahun 1765 ada seorang pemuda bernama La Barre dituduh merusak salib. Akibat dari ulahnya itu, ia dengan serta-merta disiksa. Akhirnya, karena tak tahan ia pun mengaku. Hukuman pun dijatuhkan. Kepala anak muda yang masih berusia 16 tahun itu dipenggal dan tubuhnya dilemparkan ke dalam api. Orang-orang yang melihat kejadian itu, ramai bertepuk tangan puas.
Sejak itu, Voltaire seorang penulis dan filsuf Perancis yang hidup semasa dengan peristiwa-peristiwa ini tampak murung tanpa sedikit senyuman. Risalah tentang toleransi pun dituliskannya. Disebarkannya pula beratus-ratus pamflet yang menentang institusi agama. ‘Kami yang mahatahu dan mahabenar’. Di balik demonstrasi itu tampak tak disadari bahwa mereka telah menggantikan Tuhan Yang Mahatahu dan Mahabenar menjadi ungkapan kesombongannya sendiri
Tentu orang akan mengatakan bahwa dialah seorang SAULUS, bukan seorang PAULUS. Sebagian orang mengenal dan mengakui, bahwa pemuda Saulus adalah seorang kader pemimpin yang amat menjanjikan. Ia memiliki daya intelektual serta tingkat kecerdasan yang lebih dari rata-rata. Apalagi, dipadu dengan latar-belakang pendidikannya di sebuah sekolah favorit (murid Gamaliel). Saulus juga seorang dengan komitmen religius yang betul-betul luar biasa.
Namun demikian Saulus juga seorang yang begitu yakin akan kebenarannya sendiri, sehingga ia jadi benci luar biasa kepada segala sesuatu yang berbeda. Berbeda, bagi Saulus, berarti sesat; murtad. Dan orang-orang semacam itu mesti dilenyapkan dari muka bumi. Tetapi Saulus berusaha membinasakan jemaat itu, dan ia memasuki rumah demi rumah, dan menyeret laki-laki dan perempuan ke luar, dan menyerahkan mereka untuk dimasukkan ke dalam penjara (Kis 8:3).
Setia sebagai Buah Pertobatan
Situasi menjadi berbalik setelah Yesus menjumpainya secara pribadi. Yesus membuat Saulus yang gagah perkasa itu lumpuh, buta, dan lemah tak berdaya. Inilah ”proses” tatkala Tuhan menghancurkan ”ego” yang berlebih-lebihan. Namun demikian, tak sedikit pun Tuhan mengurangi potensi, kapabilitas serta talenta Saulus yang luar biasa itu. Tuhan justru menambahkan sesuatu kepadanya. Sesuatu yang selama ini tidak dimiliki Saulus. Yesus menganugerahkan roh pelayanan.
Apa yang terjadi? Betapa drastis bedanya, yakni ketika roh pelayanan ditambahkan. Kebaruannya itulah ditandakan dengan nama Paulus. Saulus (lama) diburu oleh nafsu menghancurkan, membunuh dan menghabisi, maka Paulus (baru) adalah orang yang disemangati oleh kerinduan untuk membangun, menyelamatkan dan mengampuni. Kesaksian Paulus mengenai dirinya sendiri setelah dibentuk oleh Tuhan bahwa, Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan (menyelamatkan) sebanyak mungkin orang (1 Kor 9:19).
Hamba yang dimaksudkan Paulus bukan karena dipaksa atau terpaksa dan bukan sekadar untuk cari muka. Ia seorang pemimpin yang dengan sukarela dan sukacita menjadikan dirinya hamba yang bersedia menghamba. Oleh karena itu, pelayanannya tulus, tidak berpura-pura. Itulah kepemimpinannya otentik, bukan sandiwara. Itulah pelayanan yang dihidupi Paulus, sehingga ia menjadi seorang pemimpin yang kredibel.
Akhirnya, semoga Anda dapat menjadi seorang yang memiliki jiwa melayani dan dapat dipercaya, sehingga dunia semakin indah karena orang lain pun akan berbuat yang sama setelah merasakan pelayanan dan kredibilitas Anda.
Kesadaran Diri
Kita dapat belajar dari cara hidup orang Faris dan ahli Taurat, bahwa orang yang tidak membuka hatinya, tidak akan mampu menerima tanda apa pun (yang didengar, dilihat dan dibaca) yang diberikan kepadanya (Luk 11:29-23).
Kok bisa begitu? Karena orang itu tidak sungguh sadar dan tahu nilai atau manfaat apa yang dikerjakan.
Undangan Perjamuan Tuhan
Sikap TEGAS dan SIAP BERKORBAN
Za. 2:1-5,10-11a; Luk. 9:43b-45
“Aku terbakar habis oleh kasih kepada Tuhan dan oleh kasih kepada sesamaku”
For Others
Memilih Berarti juga Meninggalkan
Pilihan Yesus atas diri Matius untuk menjadi rasul adalah sebuah teka-teki pada zamanya. Pada abad pertama di Israel, para pemungut cukai tidak memiliki status dalam masyarakat Yahudi. Mereka dihina karena mereka bekerja untuk kekaisaran Roma.
Keputusan Matius untuk meninggalkan segalanya memberikan petunjuk kepada kita mengapa Yesus memanggil dirinya. Yesus memandang ke dalam hati Matius dan melihat di hati itu adanya rasa haus dan lapar akan Allah. Ketika Matius memilih mengikuti Yesus, berarti ia harus meninggalkan pilihan yang lain, termasuk jaminan harta dan kekayaannya, juga keluarganya.
Jalan Keheningan
Pesta St. Bernardus
Rut. 2:1-3,8-11;4:13-17; Mat. 23:1-12
Bersama dengan seluruh Gereja kita memperingati St. Bernardus seorang Abas dan Pujangga Gereja. Ia lahir pada tahun 1090 di Perancis. Ia sangat denkat dengan ibunya. Oleh sebab itu, sepeninggal ibunya, Bernardus menjalani gaya hidup yang tidak teratur selama beberapa tahun. Namun kemudian ia bersama teman-temannya masuk biara pertapaan. Walaupun ditentang oleh keluarganya, ia tetap pada pendiriannya. Ia menjadi seorang yang saleh dalam pertapaan. Bahkan karena kesalehannya, ia ditugaskan untuk mendirikan sebuah biara pertapaan baru. Biara itu diberinya nama pertapaan Clairvaux. Ia dikenal sebagai seorang pewarta, pembawa damai dan penggerak kebenaran. Ia meninggal tahun 1153.
Bernardus menyadari betul bahwa orang bisa jatuh dalam dosa dan dalam perilaku yang hanya mementingkan diri seperti yang dilakukan oleh orang-orang Farisi dan Ahli Taurat. Hidup kita malah menjadi beban bagi orang lain.
Apa yang kita lakukan bukan membawa kebahagiaan dan kesejahteraan orang lain, tetapi justru membawa penderitaan dan kehancuran mereka. Kalau kita jatuh dalam kehidupan yang semacam itu, tidak usah takut.Belas kasih Allah tetap mengalir. Seperti dialami oleh Bernardus sendiri, Allah bekerja tepat pada waktunya. Kasih Allah menariknya kembali dari jurang dosa. Kasih Allah membuatnya berbalik pada Allah.
Berjaga Bersama Tuhan
Yesus Datang dalam Damai dan Demi Kedamaian
Kedatang Yesus ke Yerusalem bukan untuk berperang, melainkan menawarkan damai. Yesus datang dalam damai dan demi kedamaian. Keledai menjadi wahana kedatangan Yesus sebagai simbol perdamaian.Meski tak dianggap oleh kebanyakan orang karena tak segagah kuda, lamban, dan terkesan bodoh, keledai dihargai. Bahkan, kepada para murid yang diutus untuk menjemput keledai tersebut, Yesus berpesan, ”Tuhan memerlukannya.”"Fiat" Ketaatan Maria
Adalah tak masuk akal! Umur tua tidak membuat hidup seseorang menjadi tenang. Ketika orang menjadi tua, semestinya, dirinya semakin berpasrah kepada Tuhan, sumeleh. Jika tidak, ada apa ya?
Umur tua tidak membuat Elisabet makin hidup tenang. Sebab ia tergolong orang yang "kena aib", karena tidak dapat memberi keturunan kepada Zakharia. Sama dengan Hana, yang bakal melahirkan Samuel. Juga Sarai, istri Abraham. Tapi kini Elisabet mengandung pada hari tua, begitu pula tokoh-tokoh lain itu. Tak wajar!
Lebih tidak tenang lagi yang dialami Maria. Bukan karena ketuaan, melainkan karena kediniannya. Maria mengandung dalam keadaan tanpa suami yang resmi. Inilah situasi sulit dan dapat membahayakan keselamatan hidupnya. Maria setiap saat dapat menerima hukuman rajam. Hukum Taurat (Ul. 22:23-24) berkata: “Apabila ada seorang gadis yang masih perawan dan yang sudah bertunangan--jika seorang laki-laki bertemu dengan dia di kota dan tidur dengan dia, maka haruslah mereka keduanya kamu bawa ke luar ke pintu gerbang kota dan kamu lempari dengan batu, sehingga mati: gadis itu, karena walaupun di kota, ia tidak berteriak-teriak, dan laki-laki itu, karena ia telah memperkosa isteri sesamanya manusia. Demikianlah harus kauhapuskan yang jahat itu dari tengah-tengahmu”.
“Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu" (Luk. 1:38). Inilah FIAT Maria. Pada saat ia menyatakan “fiat”-nya, ia menerima suatu paradoks antara kasih-karunia dan bahaya maut. Maria menerima kasih-karunia atau rahmat Allah yang begitu khusus dengan memilih dia untuk menjadi bunda Allah, sehingga Maria diperkenankan untuk melahirkan Anak Allah yang maha-tinggi. Tetapi juga pada saat yang sama dengan “fiat”-nya Maria juga siap menerima konsekuensi yang terburuk yaitu hukuman rajam sesuai ketentuan hukum Taurat.
Ternyata Maria mengutamakan sikap ketaatan yang tanpa syarat kepada kehendak dan rencana Allah. Melalui ketaatannya, Maria menyatakan bagaimana mata imannya dimampukan oleh Allah untuk melihat bahwa karya keselamatan Allah lebih agung dan berarti dari pada rasa aman dan kepentingan dirinya.
Fiat Maria ini mengungkapkan isi iman yg otentik dan paling dlm thp rahasia keselamatan Allah. Sebab saat Maria mengambil keputusan dengan berkata: “Jadilah padaku menurut perkataanMu” berarti saat itu pula Maria mengalami proses pembuahan dalam rahimnya. Pada saat Maria menyatakan “fiat”atau KETAATAN-nya, berarti saat itu pula Maria menyetujui peristiwa inkarnasi Firman Allah terjadi dalam rahimnya.
Setelah Maria mengucapkan fiat untuk menerima kehendak dan rencana Allah, beberapa waktu kemudian dia pergi mengunjungi keluarga Zakharia dan Elisabet di wilayah Yehuda, sangat jauh. Yang menarik adalah bagaimana sikap yang dialami oleh Elisabet saat Maria datang berkunjung dan mengucapkan salam kedatangannya. Ternyata anak yang berada dalam kandungan Elisabet disebutkan “melonjak” kegirangan dan Elisabet kemudian dipenuhi oleh Roh Kudus sehingga dia mengucapkan pujian kepada Maria, yaitu: "Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?” (Luk. 1:42-43).
Atas dasar respon Elisabet tersebut, kemudian berkembanglah suatu doa di kalangan gereja Roma Katolik dan Orthodoks Timur yang disebut dengan doa “Salam Maria” atau “Ave Maria” yang berbunyi: “Ave Maria, gratia plena. Dominus tecum, benedicta tu in mulieribus, et benedictus fructus ventris tui, Jesus. Sancta Maria, Mater Dei, ora pro nobis peccatoribus, nunc, et in hora mortis nostrae.
Ucapan Elisabet yang menjadi dasar dari isi doa “Salam Maria” pada prinsipnya menyatakan: pertama bahwa Maria adalah satu-satunya wanita yang paling diberkati. Yang kedua adalah bahwa berkat tersebut terjadi karena janin Yesus yang sedang dikandungnya. Yang ketiga adalah: gelar Maria sebagai ibu Tuhan (mater dei = theotokos). Ketiga aspek pernyataan tersebut merupakan ungkapan Elisabet yang dipenuhi oleh Roh Kudus.
Dengan demikian kehidupan Maria yang dilandasi oleh “fiat” ketaatannya telah menjadi ruang dan media yang istimewa dalam karya keselamatan Allah. Sehingga janin Yohanes Pembaptis telah mengenali jati-diri ke-Messias-an Yesus selaku Anak Allah. Melalui kehadiran Maria, membuka peluang bagi Elisabet untuk dipenuhi oleh Roh Kudus. Jelasnya ketaatan iman Maria menghasilkan sukacita Roh di kalangan keluarga besarnya. Alangkah indahnya, jikalau setiap umat percaya mampu bersikap Maria sehingga setiap sapaan dan kehadiran gereja senantiasa mendatangkan sukacita ilahi di tengah-tengah berbagai pergumulan dan penderitaan sesama.
Demikianpun dengan ketaatan Yesus dalam Ibr 10, menghasilkan jawaban BapaNya, yaitu kebangkitan.
Bagaimana dengan makna “ketaatan” pada masa kini? Apakah ketaatan masa kini mampu mencerminkan ketaatan iman yang menghasilkan sukacita Roh dalam relasi yang lebih luas dan dalam? Kita dapat melihat bagaimana keluarga, sekolah dan masyarakat bahkan lembaga keagamaan justru sering mengajar suatu ketaatan yang sifatnya legalistis. Dengan ketaatan yang legalistis, seseorang tidak diajar bagaimana dia harus berperan menjadi pembebas dan pelaku kebenaran. Malahan seseorang diajar untuk berpikir dan menganalisa persoalan secara dangkal seperti seekor kuda dengan penutup matanya.
Pola ketaatan yang legalistis justru mengurung berbagai potensi, kompetensi dan anugerah Allah sedemikian rupa sehingga mereka kehilangan kemampuan untuk melihat kekayaan dan dimensi kehidupan. Itu sebabnya ketaatan yang legalistis hanya menghasilkan kekakuan sikap dan tindakan-tindakan yang dapat mematikan semangat dan aspek-aspek anugerah kehidupan. Ketaatan yang legalistis umumnya menghasilkan dukacita bagi banyak orang dan kehilangan kemampuan untuk menegakkan kebenaran dalam konteks relasi dan komunikasi kasih dengan Allah dan sesama.
Kita ingat kumpulan ibu-ibu sepenanggungan yang ada di paroki. Dengan saling berbagi pengalaman dan penderitaan, masalah yang besar menjadi tidak lagi mengusik. Malah menurut Lukas di situ bisa tumbuh kegembiraan. Dalam kisah ini, kegembiraan itu bermuara dari dalam kandungan. Dan apa yang dilihat sebagai yang paling membuat Maria beruntung: "buah rahim"-nya.
Meninggalkan Segala Sesuatu untuk Mengikuti Yesus
Siapapun orangnya pasti tidak menolak jika ditawari menjadi orang kaya. Demikian pun saya. Realita sekarang ini, bahkan ada banyak pengajaran yang diam-diam atau terang-terangan menyamakan bahwa menjadi kaya sama dengan kehidupannya diperkenankan Tuhan.
Mengapa? tampaknya Tuhan lebih berpihak kepada orang miskin daripada orang kaya. Meski, Abraham, Ishak, Boas, Daud, Salomo, Ayub, dan tokoh-tokoh Alkitab lainnya adalah orang-orang kaya. Bahkan, Yesus pun memilih menjadi orang miskin, dari sekian banyak pilihan hidup di bumi, demi menyelamatkan umat manusia. Kedatangan-Nya di dunia pun demi mengabarkan berita kesukaan kepada orang miskin (Lukas 4:18). Janda miskin lebih dipuji daripada orang kaya yang memberi persembahan (Markus 12:41-44). Bahkan orang miskin dianggap sebagai pewaris takhta Kerajaan Allah bersama-sama orang-orang yang mengasihi Dia (Yakobus 2:5).
Tampaknya ada rahasia di balik orang-orang miskin. Mengapa mereka disebut sebagai orang berbahagia (Lukas 6:20)? Tetapi, mengapa orang kaya tidak mendapat keistimewaan itu? Bahkan seorang kaya yang ingin mengikut Yesus pun diminta-Nya membagikan seluruh kekayaannya kepada orang miskin – yang berarti ia tidak berharta lagi, baru boleh menjadi pengikut-Nya – padahal kehidupan rohaninya nyata-nyata lebih bagus daripada kebanyakan kita (Markus 10:17-27)?
Ini tidak bermaksud sinis terhadap kekayaan dan kepada orang kaya. Kitab Amsal mengatakan, “Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku” (Amsal 30:8). “Sebab si miskin pun ada kemungkinan mencuri dan mencemarkan nama Allah,” tuturnya kemudian.
Dalam injil Luk 10:25-37 juga Injil hari ini mengundang suatu pertanyaan yang sama : Apakah yang harus kulakukan untuk memperoleh hidup kekal? Lukas : mengasihi Allah dan sesama. Reaksi berikutnya: siapakah sesamaku? Yesus menenkankan bukan objeknya tetapi subjeknya. Bagi Yesus yang tepat bertanya: bagaimanakah aku bisa menjadi sesama bagi yang lain.
Markus: bukan sekedar menuruti hukum taurat yang ada, melainkan pergi dan menjual apa yang dimiliki dan memberikan itu kepada orang-orang miskin. Reaksi sedih sekali karena banyaklah hartanya. Jika demikian, siapakah yang dapat masuk Kerajaan Allah? Lalu Yesus berkata kepada murid-muridNya. “Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah.”
Itulah reaksi para murid Yesus saat itu dan pertanyaan kita saat ini. Yang dapat masuk Kerajaan Allah adalah orang yang memiliki sikap lepas bebas dari segala ikatan tanah milik, barang, uang, dan orang untuk dapat mengarahkan hidup pada Kristus.
Monika Hellwig menuliskan keuntungan menjadi orang miskin (Bukan Yesus yang Saya Kenal – Philip Yancey):
- Orang miskin tahu bahwa dirinya sangat membutuhkan penebusan.
- Orang miskin bukan saja tahu bahwa dirinya tergantung pada Tuhan dan orang yang berkuasa, tetapi mereka saling tergantung satu sama lain.
- Orang miskin bukan menggantungkan rasa amannya pada harta benda, tetapi pada manusia.
- Orang miskin tidak merasa dirinya keterlaluan penting dan tidak mempunyai kebutuhan berlebihan akan privacy.
- Orang miskin tidak terlalu mengandalkan persaingan, tetapi mengandalkan kerja sama.
- Orang miskin bisa membedakan antara kebutuhan dan kemewahan.
- Orang miskin bisa menunggu, mereka telah memperoleh sejenis kesabaran panjang yang lahir dari kesadaran akan ketergantungan.
- Ketakutan orang miskin lebih realistis dan tidak begitu dibesar-besarkan karena mereka tahu seseorang bisa bertahan hidup menghadapi penderitaan besar dan kekurangan.
- Bila orang miskin mendengar Injil, itu kedengaran seperti kabar baik, bukan seperti ancaman atau teguran.
- Orang miskin bisa menerima panggilan Injil untuk meninggalkan segalanya dengan totalitas penuh karena mereka akan kehilangan sedikit dan siap untuk menerima apa saja.
Memang harus diakui, ikatan yang paling sulit dilepaskan manusia untuk mengikuti Yesus adalah harta benda. Karena memiliki uang maka orang dapat beli narkoba dan menghancurkan hidupnya. Karena memiliki banyak uang maka orang bisa main perempuan, berjudi, dan mabuk-mabukan. Bahkan karena harta warisan, orang tua dan saudara sekandung saja, rela dianiaya bahkan dibunuh. Akibatnya mereka sulit untuk menghayati perutusan kemuridan untuk mencintai Allah dan sesama.
Maka benarlah sabda Yesus “Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah.”Orang yang memiliki sikap lepas bebas adalah orang yang memiliki kebijaksanaan berkata “cukup.” Artinya berani berkata “cukup” atas keperluan tanah milik, barang, uang, dan orang demi mengarahkan hidupnya kepada Kristus. Karena kita ini, tidak akan pernah puas akan harta milik.
Salalu Melihat Kebaikan
Apa tandanya kalau orang itu buta? TIDAK MELIHAT. Mengapa orang bisa buta? Yohanes menyebut salah satunya bahwa orang bisa buta sejak lahir (Yoh 9:1). Ada juga berawal dari berkurang penglihatannya karena usia lanjut (Ishak dalam Kej 27:1; Eli dalam 1Sam 3:2; Ahia dalam 1Raj 14:4)....dst. Lalu, apa yang paling dirasakan oleh orang yang matanya buta? Dan apa yang mereka inginkan?
Keinginan terbesar orang yang buta adalah BISA MELIHAT. Orang yang buta selalu menginginkan suatu PERUBAHAN, yakni dari tidak melihat menjadi bisa melihat.
Sebuah kisah begini:
Saudari dan saudaraku, betapa sedih dan menderitanya si buta dalam kisah itu. Tentu Anda yang membaca renungan ini tidak buta, minimal belum buta, karena bisa melihat tulisan ini lalu membacanya. Tetapi pertanyaannya: Apa jadinya bila yang buta adalah mata hati Anda, atau juga mata hati saya? Mari kita bertanya diri. Kadang dalam realitanya, orang, kita cenderung memilih untuk “membuta” walau dapat melihat.
Kebutaan hati juga menunjuk pada kegelapan batin, tidak mampu melihat kebaikan orang lain, biasanya tampak keangkuhan, kebebalan (orang menjadi tidak peka) dan kedengkian. Ia menjadi acuh dan kurang peduli pada sesama dan lingkungannya.
Saudari dan saudaraku, kita mengenal sosok Bartimeus dalam Injil. Ia adalah salah seorang buta yang menghendaki perubahan dalam hidupnya. Ada 3 langkah radikal yang dilakukan, yaitu:
1. Ia berseru dengan semangat yang berkobar (ay 47-48).
Paulus menggunakan istilah biarlah rohmu menyala-nyala (Rm 12,11). Memanggil dengan berseru apalagi makin keras berseru di saat dihalangi menggambarkan kesungguhan hatinya untuk bertemu dengan Kristus. Pemazmur juga menyatakan “serukanlah namaNya” (Maz 105:1). Orang harus menunjukkan kesungguhan hati sebagai tanda kerinduan untuk mengalami perubahan, yaitu: lebih akrab dengan Dia. Dalam Yer 31:7-9, kobarkanlah, pujilah dan katakanlah bahwa Tuhan telah menyelamatkan umatnya....
2. Ia mendengar dan melakukan perintahNya (ay 49-50)
Bartimeus berhenti berseru di saat ia mendengarkan suara Tuhan dan merespon panggilan tersebut dengan segera tanpa menunda. Yang menarik, sebelum ia bertemu dengan Tuhan, Ia menanggalkan jubahnya, jubah sebagai simbol sesuatu yang berarti dalam hidupnya. Dengan iman ia “menanggalkan manusia lama…. dan mengenakan manusia baru…” (Kol 3:10). Dengan iman ia melakukan perintahNya!
3. Ia menerima mujizat dan mengikuti Tuhan (ay 51-52)
Tuhan Yesus bertanya dan Bartimeus meminta apa yang menjadi keinginannya, yaitu: dipulihkan dengan perubahan yang lebih baik. Mujizat terjadi dan Bartimeus mengalami perubahan hidup. Kuasa Tuhan nyata dan telah menyelamatkannya. Bartimeus melihat dan ia bersyukur dengan tindakan yang ia kemudian lakukan yaitu penyerahan diri, “mengikuti Yesus” (ay 52). Menjadi pengikut Kristus dan “wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup” (1 Yoh 2:6). Yesus Kristus sebagai imam agungnya (Ibr 5:1-6.
Saudari dan saudaraku, Bartimeus yang buta matanya mengajar kita untuk tidak menjadikan mata hati kita juga buta. Maka marilah mensyukuri kebaikan Allah dalam hidup kita, karena kita bisa melihat dengan baik, pun bisa melihat kebaikan sesama dan lingkungan kita, pun bisa mengusahakan lebih baik dari apa yang sudah baik.
Tuhan menyertai niat-niat baik kita. Amin.


