Berdoa dan Bekerja menjadi bagian dari Dinamika Hidup Orang Beriman

Team Sepak Bola Seminari sedang berdoa sebelum bermain
"Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu, Tuhan! Tuhan!, akan masuk Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Allah" (Mat 7:21).

BERDOA dan BEKERJA dengan tulus, itulah yang diteladankan oleh Beato Dionisius dan Redemtus (biarawan dan martir), kedua tokoh iman yang kita peringati hari ini. Keduanya berasal dari dinas militer Portugis sebelum mereka memutuskan untuk menjadi pelayan Tuhan. Pilihan hidup Dionisius menjadi seorang imam dan Redemtus menjadi seorang burder merupakan suatu jawaban mereka atas Tuhan yang mengundang untuk melaksanakan kehendakNya. Keduanya adalah misionaris yang  menjadi martir di Indonesia, tepatnya disiksa dan dibunuh di Aceh.

Nabi Yesaya dalam bacaan I, berseru kepada Tuhan:
"Engkau menjaga orang yang teguh hatinya dengan damai sejahtera, sebab ia percaya kepadaMu".
Tuhan Yang Mahabelaskasih, murah hati, peduli pada setiap seruan umat-Nya juga meminta sikap agar tak sekadar berseru dengan bibir dan pikiran tetapi juga dengan hati; tak hanya membaca, mendengar, merenungkan sabda Tuhan, tetapi terutama mengamini dan melaksanakannya dalam hidup ini.

Maria Dikandung tanpa Noda

Itulah ajaran yang berkembang dalam tradidi conceptio virginalis (dikandungnya Yesus oleh Perawan). Tekanan pertama adalah Yesus dan bukan Maria, meski harus diakui bahwa ajaran ini menyebut sesuatu (keperawanan) tentang Maria.

Sebagai Perawan (Yun-Partheos) maria mengandung dan melahirkan (menjadi ibu) Yesus. Di sinilah letak keperawanan Maria. Mateus menyebut, Ketia Ibu Yesus bertunangan dengan Yusuf, ia kedapatan mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka berkumpul - secara resmi menikah (Mat 1:18).

Secara manusiawi, maria juga bergulat. Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku tidak (belum) mengenal laki-laki (Luk 1:34). Maria berpikir bahwa ia akan mendapatkan anak setelah meniukahnanti, dan bukan sekarang. maria melahirkan Yesus sebagai perawan, sebab manusia Yesus Kristus tidak mempunyai ayah manusia (secara biologis).

Aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanMu (Luk 1:38). Itulah ungkapan kerelaan diri dan seluruh hidup matia. Ia mengiyakan maksud dan rencana Allah menjadi ibu perawan yang mengandung juru selamat. Keperawanan Maria dapat dikatakan sebagai akibat dari peranannya dalam rencana dan pelaksanaan penyelamatan Allah.

Dengan demikian Maria menjadi perawan, oleh karena dipilih untuk berperan sebagai ibu Sang Juru Selamat. Karena pilihan Allah itu, Maria mau menjadi partner, teman sekerja Allah sendiri. Maria tetap perawan sebelum melahirkan Yesus dan pada waktu melahirkan dan setelah melhirkan Yesus. Konsili Vatikan II, dalam Lumen Gentium 49 menegaskan bahwa kelahiran Yesus tudak merusak, tetapi menguduskan keperawanan Maria. Keperawanan maria itu bukan pertama-tama secra fisik, melainkansikap hati Maria (penyerahan total).

Dengan keperawanan Maria ini, kita percaya bahwa karya Keselamatan Allah bukan hasil pekerjaan manusia, melainkan melulu kehendak Allah.

Dia yang Tergantung

Di salah satu gereja di Eropa Utara, ada sebuah patung Yesus Kristus yang disalib, ukurannya tidak jauh berbeda dengan manusia pada umumnya. Biasanya orang berbondong-bondong datang secara khusus kesana untuk berdoa, berlutut dan menyembah, hampir dapat dikatakan halaman gereja penuh sesak seperti pasar.
Di dalam gereja itu ada seorang penjaga pintu, melihat Yesus yang setiap hari berada di atas kayu salib, harus menghadapi begitu banyak permintaan orang, ia pun merasa iba dan di dalam hati ia berharap bisa ikut memikul beban penderitaan Yesus Kristus.
Pada suatu hari, sang penjaga pintu pun berdoa menyatakan harapannya itu kepada Yesus. Di luar dugaan, ia mendengar sebuah suara yang mengatakan, "Baiklah! Aku akan turun menggantikan kamu sebagai penjaga pintu, dan kamu yang naik di atas salib itu, namun apapun yang kau dengar, janganlah mengucapkan sepatah kata pun."

Lalu, Yesus turun, dan penjaga itu naik ke atas, menjulurkan sepasang lengannya seperti Yesus yang dipaku diatas kayu salib. Orang-orang yang datang bersujud, tidak menaruh curiga sedikit pun. Si penjaga pintu itu berperan sesuai perjanjian sebelumnya, yaitu diam saja tidak boleh berbicara sambil mendengarkan isi hati orang-orang yang datang.

Orang yang datang tiada habisnya, permintaan mereka pun ada yang rasional dan ada juga yang tidak rasional, banyak sekali permintaan yang aneh-aneh. Namun, demikian, si penjaga pintu itu tetap bertahan untuk tidak bicara, karena harus menepati janji sebelumnya.

Pada suatu hari datanglah seorang saudagar kaya, setelah saudagar itu selesai berdoa, ternyata kantung uangnya tertinggal. Ia melihatnya dan ingin sekali memanggil saudagar itu kembali, namun terpaksa menahan diri untuk tidak ber bicara. Selanjutnya datanglah seorang miskin yang sudah 3 hari tidak makan, ia berdoa kepada Yesus agar dapat menolongnya melewati kesulitan hidup ini. Ketika hendak pulang ia menemukan kantung uang yang ditinggalkan oleh saudagar tadi, dan begitu dibuka, ternyata isinya uang dalam jumlah besar. Orang miskin itu pun kegirangan bukan main, "Yesus benar-benar baik, semua permintaanku dikabulkan!" dengan amat bersyukur ia lalu pergi.

Diatas kayu salib, "Yesus" ingin sekali memberitahunya, bahwa itu bukan miliknya. Namun karena sudah ada perjanjian, maka ia tetap menahan diri untuk tidak berbicara. Berikutnya, datanglah seorang pemuda yang akan berlayar ke tempat yang jauh. Ia datang memohon agar Yesus memberkati keselamatannya. Saat hendak meninggalkan gereja, saudagar kaya itu menerjang masuk dan langsung mencengkram kerah baju si pemuda, dan memaksa si pemuda itu mengembalikan uangnya. Si pemuda itu tidak mengerti keadaan yang sebenarnya, lalu keduanya saling bertengkar.

Di saat demikian, tiba-tiba dari atas kayu salib "Yesus" akhirnya angkat bicara. Setelah semua masalahnya jelas, saudagar kaya itu pun kemudian pergi mencari orang miskin itu, dan si pemuda yang akan berlayar pun bereggas pergi, karena khawatir akan ketinggalan kapal. Yesus yang asli kemudian muncul, menunjuk ke arah kayu salib itu sambil berkata, "TURUNLAH KAMU! Kamu tidak layak berada disana."

Penjaga itu berkata, "Aku telah mengatakan yang sebenarnya, dan menjernihkan persoalan serta memberikan keadilan, apakah salahku?" "Kamu itu tahu apa?", kata Yesus. "Saudagar kaya itu sama sekali tidak kekurangan uang, uang di dalam kantung bermaksud untuk dihambur-hamburkann ya. Namun bagi orang miskin, uang itu dapat memecahkan masalah dalam kehidupannya sekeluarga. Yang paling kasihan adalah pemuda itu. Jika saudagar itu terus bertengkar dengan si pemuda sampai ia ketinggalan ka pal, maka si pemuda itu mungkin tidak akan kehilangan nyawanya.

Tapi sekarang kapal yang ditumpanginya sedang tenggelam di tengah laut." Ini kedengarannya seperti sebuah anekdot yang menggelikan, namun dibalik itu terkandung sebuah rahasia kehidupan...

Kita seringkali menganggap apa yang kita lakukan adalah yang paling baik, namun kenyataannya kadang justru bertentangan. Itu terjadi karena kita tidak mengetahui hubungan sebab-akibat dalam kehidupan ini. Kita harus percaya bahwa semua yang kita alami saat ini, baik itu keberuntungan maupun kemalangan, semuanya merupakan hasil pengaturan yang terbaik dari Tuhan buat kita, dengan begitu kita baru bisa bersyukur dalam keberuntungan dan kemalangan dan tetap bersuka cita.

Pelayanan dan Kredibilitas Paulus

Demikianlah hendaknya orang memandang kami: sebagai hamba-hamba Kristus, yang kepadanya dipercayakan rahasia Allah. Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercayai (1 Kor 4:1-2).

Pelayanan dan kredibilitas itu memiliki ikatan yang seharusnya tak terpisahkan. Seorang pemimpin yang baik mesyaratkan harus memiliki jiwa yang melayani dan dapat dipercaya. Orang yang dapat dipercaya berarti Orang yang kata-kata dan janjinya dapat dipegang (tidak mencla-mencle=Jawa). Seorang pemimpin yang dapat dipercaya, ia akan menjadi pemimpin yang dapat melayani dengan setia. Oleh sebab itu, seorang ”oportunis” kiranya akan mengalami kesulitan besar dan bisa jadi tidak mungkin akan menjadi pemimpin yang baik. Betapa pun cerdik, lincah dan lihainya ia bermanuver serta membaca arah angin! Sebab ia pasti bukan seorang pelayan yang setia.

Ujung-ujungnya yang dituntut adalah setia. Terdengar begitu sederhana. Namun dalam kenyataan, alangkah sulitnya mencari orang-orang khususnya, pemimpin-pemimpin yang setia itu. Kiranya masih amat up to date belajar dari pengalaman Kumbakarna, raksasa buruk rupa, dari Kerajaan Alengka. Sebagian besar orang memang tidak membenarkan dia, ketika ia berpihak pada kakaknya (Rahwana). Namun begitu, toh orang menghormati karakter yang melekat dalam dirinya. Ia seorang yang setia.

Fenomena yang ada akhir-akhir ini, kesetiaan sebagai salah satu unsur kepemimpinan yang paling vital dan fundamental ini justru paling jarang disebut-sebut orang. Lebih berbahayanya bahwa kesetiaan sudah dianggap tidak terlalu penting. Kalah penting dibandingkan dengan unsur-unsur lainnya. Itulah situasi zaman yang serba pragmatis yang berlaku prinsip bahwa satu-satunya yang abadi hanyalah kepentingan.

Roh Pelayanan
Ada persoalan besar bila seorang pemimpin yang tanpa didasari jiwa kepelayanan dan roh kesetiaan. Ia memang seorang pemimpin. Bahkan seorang pemimpin besar, barangkali. Tetapi tak dapat dipungkiri sebagai pemimpin yang sangat mengerikan dan amat berbahaya.

Pernahkan Anda mendengar atau membaca kisah seorang yang mati disiksa di tahanan? Pasti amat mengerikan. Di Toulouse Perancis, kurang lebih pada tahun 1761, seorang bernama Jean Calas mati disiksa dalam tahanan. Tentu orang akan segera bertanya: Apa kesalahannya? Ia hidup di suatu masa, di sebuah tempat, di mana seorang yang berbeda agama harus serta-merta dicurigai. Ia hidup di sebuah negeri yang pernah terjadi suatu pembantaian orang-orang Protestan pada suatu malam. Peristiwa itu terkenal dengan nama ‘Malam Santo Bartolomeus’.

Lalu bagaimana kisah kematian Calas? Calas adalah seorang Protestan di kalangan masyarakat luas yang Katolik. Pada suatu hari seorang anak bunuh diri, mungkin karena gagal dalam usaha. Calas sedih dan cemas. Hukum setempat mengharuskan agar setiap yang bunuh diri harus diarak telanjang, dengan wajah telungkup, diseret di sepanjang jalan dan kemudian digantung. Calas pun ingin menyelamatkan jenazah anak itu. Ia mencari akal untuk menutup-nutupi sebab sebenarnya kematian anak muda itu. Isu yang beredar bahwa Calas lah yang membunuh anak itu, dengan alasan: si anak bermaksud masuk agama Katolik. Tak urung Calas pun ditangkap. Ia disiksa dan akhirnya mati.

Sementara di tahun 1765 ada seorang pemuda bernama La Barre dituduh merusak salib. Akibat dari ulahnya itu, ia dengan serta-merta disiksa. Akhirnya, karena tak tahan ia pun mengaku. Hukuman pun dijatuhkan. Kepala anak muda yang masih berusia 16 tahun itu dipenggal dan tubuhnya dilemparkan ke dalam api. Orang-orang yang melihat kejadian itu, ramai bertepuk tangan puas.

Sejak itu, Voltaire seorang penulis dan filsuf Perancis yang hidup semasa dengan peristiwa-peristiwa ini tampak murung tanpa sedikit senyuman. Risalah tentang toleransi pun dituliskannya. Disebarkannya pula beratus-ratus pamflet yang menentang institusi agama. ‘Kami yang mahatahu dan mahabenar’. Di balik demonstrasi itu tampak tak disadari bahwa mereka telah menggantikan Tuhan Yang Mahatahu dan Mahabenar menjadi ungkapan kesombongannya sendiri

Tentu orang akan mengatakan bahwa dialah seorang SAULUS, bukan seorang PAULUS. Sebagian orang mengenal dan mengakui, bahwa pemuda Saulus adalah seorang kader pemimpin yang amat menjanjikan. Ia memiliki daya intelektual serta tingkat kecerdasan yang lebih dari rata-rata. Apalagi, dipadu dengan latar-belakang pendidikannya di sebuah sekolah favorit (murid Gamaliel). Saulus juga seorang dengan komitmen religius yang betul-betul luar biasa.

Namun demikian Saulus juga seorang yang begitu yakin akan kebenarannya sendiri, sehingga ia jadi benci luar biasa kepada segala sesuatu yang berbeda. Berbeda, bagi Saulus, berarti sesat; murtad. Dan orang-orang semacam itu mesti dilenyapkan dari muka bumi. Tetapi Saulus berusaha membinasakan jemaat itu, dan ia memasuki rumah demi rumah, dan menyeret laki-laki dan perempuan ke luar, dan menyerahkan mereka untuk dimasukkan ke dalam penjara (Kis 8:3).

Setia sebagai Buah Pertobatan
Situasi menjadi berbalik setelah Yesus menjumpainya secara pribadi. Yesus membuat Saulus yang gagah perkasa itu lumpuh, buta, dan lemah tak berdaya. Inilah ”proses” tatkala Tuhan menghancurkan ”ego” yang berlebih-lebihan. Namun demikian, tak sedikit pun Tuhan mengurangi potensi, kapabilitas serta talenta Saulus yang luar biasa itu. Tuhan justru menambahkan sesuatu kepadanya. Sesuatu yang selama ini tidak dimiliki Saulus. Yesus menganugerahkan roh pelayanan.

Apa yang terjadi? Betapa drastis bedanya, yakni ketika roh pelayanan ditambahkan. Kebaruannya itulah ditandakan dengan nama Paulus. Saulus (lama) diburu oleh nafsu menghancurkan, membunuh dan menghabisi, maka Paulus (baru) adalah orang yang disemangati oleh kerinduan untuk membangun, menyelamatkan dan mengampuni. Kesaksian Paulus mengenai dirinya sendiri setelah dibentuk oleh Tuhan bahwa, Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan (menyelamatkan) sebanyak mungkin orang (1 Kor 9:19).

Hamba yang dimaksudkan Paulus bukan karena dipaksa atau terpaksa dan bukan sekadar untuk cari muka. Ia seorang pemimpin yang dengan sukarela dan sukacita menjadikan dirinya hamba yang bersedia menghamba. Oleh karena itu, pelayanannya tulus, tidak berpura-pura. Itulah kepemimpinannya otentik, bukan sandiwara. Itulah pelayanan yang dihidupi Paulus, sehingga ia menjadi seorang pemimpin yang kredibel.

Akhirnya, semoga Anda dapat menjadi seorang yang memiliki jiwa melayani dan dapat dipercaya, sehingga dunia semakin indah karena orang lain pun akan berbuat yang sama setelah merasakan pelayanan dan kredibilitas Anda.

Kesadaran Diri

Kita dapat belajar dari cara hidup orang Faris dan ahli Taurat, bahwa orang yang tidak membuka hatinya, tidak akan mampu menerima tanda apa pun (yang didengar, dilihat dan dibaca) yang diberikan kepadanya (Luk 11:29-23).
Kok bisa begitu? Karena orang itu tidak sungguh sadar dan tahu nilai atau manfaat apa yang dikerjakan.

Undangan Perjamuan Tuhan

Hari Minggu Biasa XXVIII, 9 Oktober 2011
Yes 25:6-10a; Flp 4:12-14.19-20; Mat 22:1-14

Panggilan untuk hidup bersatu dengan Allah dan berbahagian di akhir zaman, sering dilukiskan dalam Kitab Suci dengan suatu pesta (con: perkawinan), di mana semua orang DIUNDANG untuk datang.

Salah satu indikasi yang paling konkrit orang yang mengikuti pesta adalah bila orang itu mengenakan pakaian pesta. MENGAPA? Pakaian memberi bentuk kepada orang yang memakainya sehingga dapat dikenali. Demikian pun dengan pakaian pesta. Jika orang datang ke pesta dan tidak mengenakan pakaian pesta berarti datang TANPA SUNGGUH mau mengikuti pesta. Orang baru dapat dikatakan datang ikut perjamuan pesta bila memang mau menghadiri pesta itu, bukan untuk urusan lain. Datang tanpa pakaian yang cocok berarti tidak membiarkan diri dikenal sebagai yang datang untuk itu. Itulah yang dinamakan komitmen yang setengah-setengah atau dengan kata lain setengah hati.

Komitmen setengah-setengah ini kurang dapat menjadikan hidup orang menjadi bagian dari hidup dalam Kerajaan Surga. Kebalikannya, datang dengan mengenakan pakaian pesta berarti datang tanpa maksud atau tujuan lain. Yang bersangkutan akan DIKENALI sebagai orang yang hidupnya sedang BERUBAH dari yang ada di persimpangan jalan menjadi dia yang hidup dalam perjamuan.

Tuhan menawarkan kepada kita kasih-Nya yang menyelamatkan. Sebab itu, marilah kita membuka hati bagi tawaran keselamatan Tuhan itu.

Sikap TEGAS dan SIAP BERKORBAN


Za. 2:1-5,10-11a; Luk. 9:43b-45

Bila kita mencermati hidup kita masing-masing, harus diakui bahwa, kita sering takut memanggul salib, menanggung penderitaan. Entah itu pengorbanan, rasa sakit karena dihina, dicemooh dan dituduh melakukan hal-hal yang tidak terpuji. Tak jarang juga terjadi kemunafikan yang ingin menutupi kekurangan dalam hidup kita.

Ketika Yesus mengungkapkan keadaan diri-Nya yang akan mengalami penderitaan, tidak semua orang dapat mengerti dan menangkapnya. Apa yang diungkapkan oleh Yesus tentu saja bukan bermaksud untuk minta belas kasihan, namun Ia ingin menyadarkan semua orang bahwa jika hal itu terjadi mereka sudah tahu dan siap. Yesus sendiri menyadari akan konsekuensi pilihan-Nya untuk menyelamatkan manusia.


Sikap Yesus yang tegas dan tanpa kompromi terhadap pilihan hidup demi penyelatan manusia itu ternyata tidak disambut baik. Bagi Yesus bahwa untuk sebuah kebenaran dan kebaikan, Ia siap berkorban. Tentu saja korban yang akan mendatangkan hidup baru dan keselamatan. Sikap siap berkorban dan memberikan diri bagi keselamatan orang lain, saat ini menjadi hal yang tidak mudah. Maka inilah panggilan kita yang mengikuti Yesus. Kepada kita Yesus mewariskan SIKAP yang TEGAS dan SIAP BERKORBAN.

“Aku terbakar habis oleh kasih kepada Tuhan dan oleh kasih kepada sesamaku”

Hag 2:1b-10; Luk 9:18-22
St Padre Pio dilahirkan tahun 1887, anak kelima dari delapan bersaudara, dari keluarga petani Grazio Forgione dan Maria Giuseppa De Nunzio. Ia dianugerahi penglihatan-penglihatan sejak usia lima tahun, dan sejak usia dini telah memutuskan untuk mengabdikan hidupnya bagi Tuhan. Padre Pio masuk biara Kapusin Fransiskan tahun 1903 dan ditahbiskan sebagai imam tahun 1910. Katanya, “Aku terbakar habis oleh kasih kepada Tuhan dan oleh kasih kepada sesamaku.”
Pada tanggal 5 Agustus 1918, Padre Pio mendapat penglihatan: ia merasa dirinya ditikam dengan sebilah tombak; sesudahnya luka akibat tikaman tombak itu tinggal pada tubuhnya. Kemudian, pada tanggal 20 September 1918, saat ia memanjatkan syukur sesudah perayaan Misa, ia juga menerima luka-luka Tuhan kita di kedua kaki dan tangannya. Setiap hari, Padre Pio kehilangan sekitar satu cangkir darah; luka-luka itu tidak pernah menutup ataupun bertambah parah. Pula, bukannya bau darah, melainkan bau harum yang semerbak terpancar dari luka-lukanya.
Sepanjang hidupnya, P. Pio memahami benar kedahsyatan sengsara Juruselamat. Walau demikian, Padre Pio mengatakan, “Aku ini hanyalah suatu alat dalam tangan Tuhan. Aku berguna hanya jika dikendalikan oleh Penggerak Ilahi.” Stigmata tinggal dalam tubuh Padre Pio hingga akhir hayatnya. Paus Paulus VI berkata tentangnya, “Lihat, betapa masyhurnya dia, betapa seluruh dunia berkumpul sekelilingnya! Tetapi mengapa? Apakah mungkin karena ia seorang filsuf? Karena ia bijak? Karena ia cakap dalam pelayanan? Karena ia mempersembahkan Misa dengan rendah hati, mendengarkan pengakuan dosa dari fajar hingga gelap dan - tak mudah mengatakannya - ia adalah dia yang menyandang luka-luka Tuhan kita.”              
St Padre Pio, memahami secara mendalam sengsara Tuhan kita. Sementara stigmata mungkin membangkitkan rasa takjub kita, tanda itu sendiri dan mereka yang menderitanya hendaknya menjadi inspirasi bagi kita dalam mengejar persatuan yang lebih mesra dengan Tuhan kita, teristimewa dengan sering menerima Sakramen Tobat dan menyambut Ekaristi Kudus.
Padre Pio dinyatakan sebagai Venerabilis pada tanggal 18 September 1997 oleh Paus Yohanes Paulus II; pada tanggal 2 Mei 1999 dibeatifikasi; dan akhirnya dikanonisasi pada tanggal 16 Juni 2002 di Roma, oleh Paus yang sama. Gereja memaklumkan pesta liturgis St Padre Pio dari Pietrelcina dirayakan pada tanggal 23 September.

For Others

Hag 1:1-8; Luk 9:7-9

Egosentris – berfokus pada diri sendiri. Inilah yang menjadikan orang kadang dengan mudah mengatasnamakan demi kepentingan bersama atau orang banyak. Padahal fokusnya tetap apa yang akhirnya akan kudapatkan. Tak jarang bahwa pola seperti ini juga terjadi dalam relasi pribadi dengan Tuhan. Orang mengatasnamakan Tuhan untuk mengedepankan kepentingan pribadi.

Allah melalui Nabi Hagai memperingatkan bangsa Israel agar tidak menunda-nunda untuk membangun kembali rumah Tuhan, karena sibuk dengan kepentingan pribadi atau kelompok, sehingga Bangsa Israel tidak mengalami situasi sulit dalam hidup mereka. Tuhan mestinya menjadi focus utama perhatian.

Membiarkan rumah Tuhan runtuh berarti membiarkan situasi diri kita kacau. Sebab diri kita menjadi bait Allah (1Kor3:16). Dalam bacaan Injil, Herodes sang raja yang korup, licik, opurtunis dan kejam itu pun berusaha untuk bertemu dengan Tuhan. Kita?

Memilih Berarti juga Meninggalkan

Ef. 4:1-7,11-13; Mat. 9:9-13
Matius Rasul, dalam Perjanjian Baru dikenal sebagai: anak Alfeus. Tiga Injil pertama menyebut sebagai PEMUNGUT CUKAI di pelabuhan Kapernaum. Markus memanggilnya LEWI anak Alfeus. Lukas memanggilnya LEWI. Dalam bahasa Ibrani kuno (Aram) – Anugerah Yahwe.Sebagai pemungut cukai, berarti Matius adalah orang penting, berpendidikan, pintar berhitung, bias berbahasa Aram dan Yunani. Ia meninggal di Etiopia sebagai Martir. 
Pilihan Yesus atas diri Matius untuk menjadi rasul adalah sebuah teka-teki pada zamanya. Pada abad pertama di Israel, para pemungut cukai tidak memiliki status dalam masyarakat Yahudi. Mereka dihina karena mereka bekerja untuk kekaisaran Roma.
Di sisi lain pilihan Matius atas diri Yesus juga sama penuh teka-tekinya. Perubahan dirinya yang secara mendadak, dari seorang pemungut cukai yang tidak patut dipercaya menjadi seorang murid yang penuh gairah tentunya mengejutkan setiap orang yang mengenalnya. Mengapa dia mau melepaskan pekerjaannya demi mengikuti seorang tukang kayu dari Nazaret yang menjadi seorang rabi? 
Keputusan Matius untuk meninggalkan segalanya memberikan petunjuk kepada kita mengapa Yesus memanggil dirinya. Yesus memandang ke dalam hati Matius dan melihat di hati itu adanya rasa haus dan lapar akan Allah. Ketika Matius memilih mengikuti Yesus, berarti ia harus meninggalkan pilihan yang lain, termasuk jaminan harta dan kekayaannya, juga keluarganya. 

Jalan Keheningan

Pesta St. Bernardus

Rut. 2:1-3,8-11;4:13-17; Mat. 23:1-12

Bersama dengan seluruh Gereja kita memperingati St. Bernardus seorang Abas dan Pujangga Gereja. Ia lahir pada tahun 1090 di Perancis. Ia sangat denkat dengan ibunya. Oleh sebab itu, sepeninggal ibunya, Bernardus menjalani gaya hidup yang tidak teratur selama beberapa tahun. Namun kemudian ia bersama teman-temannya masuk biara pertapaan. Walaupun ditentang oleh keluarganya, ia tetap pada pendiriannya. Ia menjadi seorang yang saleh dalam pertapaan. Bahkan karena kesalehannya, ia ditugaskan untuk mendirikan sebuah biara pertapaan baru. Biara itu diberinya nama pertapaan Clairvaux. Ia dikenal sebagai seorang pewarta, pembawa damai dan penggerak kebenaran. Ia meninggal tahun 1153.

Bernardus menyadari betul bahwa orang bisa jatuh dalam dosa dan dalam perilaku yang hanya mementingkan diri seperti yang dilakukan oleh orang-orang Farisi dan Ahli Taurat. Hidup kita malah menjadi beban bagi orang lain.

Apa yang kita lakukan bukan membawa kebahagiaan dan kesejahteraan orang lain, tetapi justru membawa penderitaan dan kehancuran mereka. Kalau kita jatuh dalam kehidupan yang semacam itu, tidak usah takut.Belas kasih Allah tetap mengalir. Seperti dialami oleh Bernardus sendiri, Allah bekerja tepat pada waktunya. Kasih Allah menariknya kembali dari jurang dosa. Kasih Allah membuatnya berbalik pada Allah.

Berjaga Bersama Tuhan

Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku? Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.” (Mat 26 : 40 -41).
Kalimat itu dilontarkan Yesus pada Petrus di taman Getsemani, saat Ia kembali dan mendapatkan murid-muridnya sedang tertidur. Rasanya kalimat ini tampak begitu sederhana dan mudah. Permintaan Yesus pada murid-muridnya begitu sederhana yakni berjaga-jaga satu jam saja dengan Dia. Hanya satu jam.. dan mereka gagal. Saat membaca kalimat ini mungkin memang kita berpikir, “ah mudah! toh hanya sejam”.

Tapi dalam satu jam itu bisakah kita benar-benar bertahan untuk terjaga? ataukah kita kemudian membiarkan diri kita jatuh tertidur seperti murid-murid Yesus? Pertanyaannya sekarang, bisakah kita? ataukah kita juga sering tertidur secara spiritual dan membiarkan permasalahan kehidupan menguasai kita? Ataukah kita terlalu sibuk dengan kehidupan kita, dan kita lupa untuk berjaga-jaga dengan Tuhan?

Firman Tuhan tak pernah berubah. Hari ini Firman yang sama kembali berbicara pada kita. Mengingatkan kita untuk berjagga-jaga bersama Tuhan. Ayat ini memang berbicara tentang kebersamaan dan hubungan manusia dengan Allah. Hubungan yang dekat dan senantiasa dibaharui dan bukan sekedar sebuah hubungan yang seadanya. Satu jam mungkin singkat buat kita, tapi dalam satu jam jika kita berbicara dan membina hubungan dengan sesama, kita sudah bisa mengenal orang itu. Apalagi jika dilakukan setiap saat dan setiap hari. Demikian juga hubungan manusia dengan Tuhan. Relasi yang dibina setiap hari akan membangun sebuah hubungan yang kokoh dan sulit untuk digoyahkan bahkan oleh gelombang hidup yang sangat besar sekalipun.

Ayat ini berbicara mengenai relasi manusia dengan Allah sekaligus juga meunjukkan kebergantungan manusia kepada Tuhan. Bagaimana tidak, Ayat berikutnya justru menunjukkan dengan jelas akibat dari ketidakmampuan untuk senantiasa berjaga-jaga bersama Dia. Dikatakan, “ Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.” Ya.. tak salah lagi.. akibat dari ketidakmampuan manusia dalam berjaga-jaga, ia akan hanyut dan tenggelam dalam gelombang kehidupan dunia yang kadang membawa kehangatan dan kemewahan namun kadang membawa manusia dalam keterpurukan. Keinginan dan kehendak manusia yang lemah tidak mudah ditundukkan begitu saja. Gemerlap dunia seringkali mengikat dan menjerumuskan daging yang lemah itu. Roh memang penurut tapi daging lemah. Dan itulah celah dimana dosa masuk.

Keinginan yang dibuahkan. Keinginan yang dituruti dan entah apalagi. Kehidupan yang tdak bergantung pada Tuhan akan membawa manusia pada jalan kematian yang kekal walau mungkin perjalanan itu terasa nikmat dan menyenangkan dalam balutan kesenangan dan kelimpahan dunia. Ego, ambisi, keinginan, harapan, kesenangan kadang menyeruak masuk dalam kehidupanku. Terasa manis namun seringkali berbuah pada kepahitan. Rutinitas yang terkadang membuatku menjauh dari Tuhan dan tak lagi berjaga-jaga justru membuatku jatuh tepuruk dalam keinginan yang berbuah dosa. Dan kata-kata itu benar adanya..

Roh memang penurut dan daging lemah. Di titik ketika kita tak lagi punya hubungan yang kokoh… saat itu kegamangan membawa kita pada pilihan yang salah, Kegelapan seakan menutup mata kita dan menipu kita dalam bayang-bayang semua kenikmatan dan kesenangan sesaat. Terkadang hasrat dan keinginan yang hadir tak ingin ditolak karena ia menawarkan surga dunia. Keinginan itu begitu menggoda dan kita tak mampu menundukkan keinginan kita dibawah kehendak Tuhan. Saat ini terjadi.. keinginan itu pun berbuah dosa…

Lantas bagaimanakah kita bisa berjaga-jaga dengan Tuhan? Jawabannya ada pada Doa dan pengenalan akan Allah. Doa adalah nafas kehidupan orang percaya. Komunikasi nyata antara manusia dan penciptanya. Doa melahirkan kerinduan untuk mengenal Dia sekaligus kesiagaan bagi kita untuk tetap berada dalam naunganNya yang dapat menutup setiap celah yang terbuka. Doa jugalah yang membuka mata roh manusia tetap terjaga akan setiap godaan dan keinginan. Doa bisa membuat kita tetap terjaga dan mengenali auman singa yang berusaha menerkam kita.

Kehidupan dunia menawarkan banyak hal. Kesenangan, kepedihan semua ada. Kita tinggal memilih. Sama seperti kehidupan bersama Tuhan. ia juga menawarkan dua pilihan. Berkat atau kutuk, kehidupan ataukah kematian. Jalan mana yang dipilih memang itu pilihan setiap orang.

Satu jam memang singkat. Namun jika satu jam demi satu jam dirangkai. Tentu akan menghasilkan sebuah kehidupan bersama Allah yang berkesinambungan. Ketika kita bisa berjaga-jaga satu jam demi satu jam.. bersama Tuhan…maka kita tidak lagi menghalangi kasih dan penjagaan Tuhan mengalir atas kita. Trus dilanjutkan hening…atau doa

Yesus Datang dalam Damai dan Demi Kedamaian

Kedatang Yesus ke Yerusalem bukan untuk berperang, melainkan menawarkan damai. Yesus datang dalam damai dan demi kedamaian. Keledai menjadi wahana kedatangan Yesus sebagai simbol perdamaian.Meski tak dianggap oleh kebanyakan orang karena tak segagah kuda, lamban, dan terkesan bodoh, keledai dihargai. Bahkan, kepada para murid yang diutus untuk menjemput keledai tersebut, Yesus berpesan, ”Tuhan memerlukannya.”

Keledai muda itu secara tidak langsung diangkat menjadi rekan sekerja Yesus dalam menuntaskan misi-Nya: menjadi Juruselamat dunia. Menjadi rekan sekerja Yesus dan menjadi simbol perdamaian merupakan tugas yang mesti dijalani keledai muda itu. Tak ada paksa memaksa di sini. Yesus tidak memaksa keledai tersebut untuk tunduk kepada-Nya.

Sebaliknya, sang keledai pun kelihatannya pasrah, ’menerima tanpa syarat’ kala para murid menghamparkan pakaian mereka di atas punggungnya. Tak ada pemberontakan. Yang ada hanyalah kerelaan terlibat dalam karya Tuhan. Dia bersikap laksana hamba Tuhan: tak menolak kerja dan rindu menyenangkan hati Tuhannya.

Jika demikian halnya, agaknya kita pun harus belajar dari keledai pada hari Minggu Palma ini! Tuhan mau bicara kepada kita bahwa Ia melihat hati seorang yang jujur, polos dan rendah hati. Ia menghargainya dan bahkan mengakatnya menjadi rekan sekerja Yesus dalam menuntaskan misi-Nya. Menjadi rekan sekerja Yesus dan menjadi simbol perdamaian merupakan tugas yang mesti kita jalani.

Tuhan Memberkati.

"Fiat" Ketaatan Maria

Injil Minggu Adven IV, 20 Des 2009 (Luk 1:39-45)


Adalah tak masuk akal! Umur tua tidak membuat hidup seseorang menjadi tenang. Ketika orang menjadi tua, semestinya, dirinya semakin berpasrah kepada Tuhan, sumeleh. Jika tidak, ada apa ya?

Umur tua tidak membuat Elisabet makin hidup tenang. Sebab ia tergolong orang yang "kena aib", karena tidak dapat memberi keturunan kepada Zakharia. Sama dengan Hana, yang bakal melahirkan Samuel. Juga Sarai, istri Abraham. Tapi kini Elisabet mengandung pada hari tua, begitu pula tokoh-tokoh lain itu. Tak wajar!

Lebih tidak tenang lagi yang dialami Maria. Bukan karena ketuaan, melainkan karena kediniannya. Maria mengandung dalam keadaan tanpa suami yang resmi. Inilah situasi sulit dan dapat membahayakan keselamatan hidupnya. Maria setiap saat dapat menerima hukuman rajam. Hukum Taurat (Ul. 22:23-24) berkata: “Apabila ada seorang gadis yang masih perawan dan yang sudah bertunangan--jika seorang laki-laki bertemu dengan dia di kota dan tidur dengan dia, maka haruslah mereka keduanya kamu bawa ke luar ke pintu gerbang kota dan kamu lempari dengan batu, sehingga mati: gadis itu, karena walaupun di kota, ia tidak berteriak-teriak, dan laki-laki itu, karena ia telah memperkosa isteri sesamanya manusia. Demikianlah harus kauhapuskan yang jahat itu dari tengah-tengahmu”.

“Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu" (Luk. 1:38). Inilah FIAT Maria. Pada saat ia menyatakan “fiat”-nya, ia menerima suatu paradoks antara kasih-karunia dan bahaya maut. Maria menerima kasih-karunia atau rahmat Allah yang begitu khusus dengan memilih dia untuk menjadi bunda Allah, sehingga Maria diperkenankan untuk melahirkan Anak Allah yang maha-tinggi. Tetapi juga pada saat yang sama dengan “fiat”-nya Maria juga siap menerima konsekuensi yang terburuk yaitu hukuman rajam sesuai ketentuan hukum Taurat.

Ternyata Maria mengutamakan sikap ketaatan yang tanpa syarat kepada kehendak dan rencana Allah. Melalui ketaatannya, Maria menyatakan bagaimana mata imannya dimampukan oleh Allah untuk melihat bahwa karya keselamatan Allah lebih agung dan berarti dari pada rasa aman dan kepentingan dirinya.

Fiat Maria ini mengungkapkan isi iman yg otentik dan paling dlm thp rahasia keselamatan Allah. Sebab saat Maria mengambil keputusan dengan berkata: “Jadilah padaku menurut perkataanMu” berarti saat itu pula Maria mengalami proses pembuahan dalam rahimnya. Pada saat Maria menyatakan “fiat”atau KETAATAN-nya, berarti saat itu pula Maria menyetujui peristiwa inkarnasi Firman Allah terjadi dalam rahimnya.

Setelah Maria mengucapkan fiat untuk menerima kehendak dan rencana Allah, beberapa waktu kemudian dia pergi mengunjungi keluarga Zakharia dan Elisabet di wilayah Yehuda, sangat jauh. Yang menarik adalah bagaimana sikap yang dialami oleh Elisabet saat Maria datang berkunjung dan mengucapkan salam kedatangannya. Ternyata anak yang berada dalam kandungan Elisabet disebutkan “melonjak” kegirangan dan Elisabet kemudian dipenuhi oleh Roh Kudus sehingga dia mengucapkan pujian kepada Maria, yaitu: "Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?” (Luk. 1:42-43).

Atas dasar respon Elisabet tersebut, kemudian berkembanglah suatu doa di kalangan gereja Roma Katolik dan Orthodoks Timur yang disebut dengan doa “Salam Maria” atau “Ave Maria” yang berbunyi: “Ave Maria, gratia plena. Dominus tecum, benedicta tu in mulieribus, et benedictus fructus ventris tui, Jesus. Sancta Maria, Mater Dei, ora pro nobis peccatoribus, nunc, et in hora mortis nostrae.

Ucapan Elisabet yang menjadi dasar dari isi doa “Salam Maria” pada prinsipnya menyatakan: pertama bahwa Maria adalah satu-satunya wanita yang paling diberkati. Yang kedua adalah bahwa berkat tersebut terjadi karena janin Yesus yang sedang dikandungnya. Yang ketiga adalah: gelar Maria sebagai ibu Tuhan (mater dei = theotokos). Ketiga aspek pernyataan tersebut merupakan ungkapan Elisabet yang dipenuhi oleh Roh Kudus.

Dengan demikian kehidupan Maria yang dilandasi oleh “fiat” ketaatannya telah menjadi ruang dan media yang istimewa dalam karya keselamatan Allah. Sehingga janin Yohanes Pembaptis telah mengenali jati-diri ke-Messias-an Yesus selaku Anak Allah. Melalui kehadiran Maria, membuka peluang bagi Elisabet untuk dipenuhi oleh Roh Kudus. Jelasnya ketaatan iman Maria menghasilkan sukacita Roh di kalangan keluarga besarnya. Alangkah indahnya, jikalau setiap umat percaya mampu bersikap Maria sehingga setiap sapaan dan kehadiran gereja senantiasa mendatangkan sukacita ilahi di tengah-tengah berbagai pergumulan dan penderitaan sesama.
Demikianpun dengan ketaatan Yesus dalam Ibr 10, menghasilkan jawaban BapaNya, yaitu kebangkitan.

Bagaimana dengan makna “ketaatan” pada masa kini? Apakah ketaatan masa kini mampu mencerminkan ketaatan iman yang menghasilkan sukacita Roh dalam relasi yang lebih luas dan dalam? Kita dapat melihat bagaimana keluarga, sekolah dan masyarakat bahkan lembaga keagamaan justru sering mengajar suatu ketaatan yang sifatnya legalistis. Dengan ketaatan yang legalistis, seseorang tidak diajar bagaimana dia harus berperan menjadi pembebas dan pelaku kebenaran. Malahan seseorang diajar untuk berpikir dan menganalisa persoalan secara dangkal seperti seekor kuda dengan penutup matanya.

Pola ketaatan yang legalistis justru mengurung berbagai potensi, kompetensi dan anugerah Allah sedemikian rupa sehingga mereka kehilangan kemampuan untuk melihat kekayaan dan dimensi kehidupan. Itu sebabnya ketaatan yang legalistis hanya menghasilkan kekakuan sikap dan tindakan-tindakan yang dapat mematikan semangat dan aspek-aspek anugerah kehidupan. Ketaatan yang legalistis umumnya menghasilkan dukacita bagi banyak orang dan kehilangan kemampuan untuk menegakkan kebenaran dalam konteks relasi dan komunikasi kasih dengan Allah dan sesama.

Kita ingat kumpulan ibu-ibu sepenanggungan yang ada di pa­roki. Dengan saling berbagi pengalaman dan penderitaan, masalah yang besar menjadi tidak lagi mengusik. Malah menurut Lukas di situ bisa tumbuh kegembiraan. Dalam kisah ini, kegembiraan itu bermuara dari dalam kandungan. Dan apa yang dilihat sebagai yang paling membuat Maria beruntung: "buah rahim"-nya.

Meninggalkan Segala Sesuatu untuk Mengikuti Yesus

Kebijaksanaan 7:7-11; Ibrani 4:12-13; Markus 10:17-27

Siapapun orangnya pasti tidak menolak jika ditawari menjadi orang kaya. Demikian pun saya. Realita sekarang ini, bahkan ada banyak pengajaran yang diam-diam atau terang-terangan menyamakan bahwa menjadi kaya sama dengan kehidupannya diperkenankan Tuhan.

Mengapa? tampaknya Tuhan lebih berpihak kepada orang miskin daripada orang kaya. Meski, Abraham, Ishak, Boas, Daud, Salomo, Ayub, dan tokoh-tokoh Alkitab lainnya adalah orang-orang kaya. Bahkan, Yesus pun memilih menjadi orang miskin, dari sekian banyak pilihan hidup di bumi, demi menyelamatkan umat manusia. Kedatangan-Nya di dunia pun demi mengabarkan berita kesukaan kepada orang miskin (Lukas 4:18). Janda miskin lebih dipuji daripada orang kaya yang memberi persembahan (Markus 12:41-44). Bahkan orang miskin dianggap sebagai pewaris takhta Kerajaan Allah bersama-sama orang-orang yang mengasihi Dia (Yakobus 2:5).

Tampaknya ada rahasia di balik orang-orang miskin. Mengapa mereka disebut sebagai orang berbahagia (Lukas 6:20)? Tetapi, mengapa orang kaya tidak mendapat keistimewaan itu? Bahkan seorang kaya yang ingin mengikut Yesus pun diminta-Nya membagikan seluruh kekayaannya kepada orang miskin – yang berarti ia tidak berharta lagi, baru boleh menjadi pengikut-Nya – padahal kehidupan rohaninya nyata-nyata lebih bagus daripada kebanyakan kita (Markus 10:17-27)?

Ini tidak bermaksud sinis terhadap kekayaan dan kepada orang kaya. Kitab Amsal mengatakan, “Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku” (Amsal 30:8). “Sebab si miskin pun ada kemungkinan mencuri dan mencemarkan nama Allah,” tuturnya kemudian.

Dalam injil Luk 10:25-37 juga Injil hari ini mengundang suatu pertanyaan yang sama : Apakah yang harus kulakukan untuk memperoleh hidup kekal? Lukas : mengasihi Allah dan sesama. Reaksi berikutnya: siapakah sesamaku? Yesus menenkankan bukan objeknya tetapi subjeknya. Bagi Yesus yang tepat bertanya: bagaimanakah aku bisa menjadi sesama bagi yang lain.

Markus: bukan sekedar menuruti hukum taurat yang ada, melainkan pergi dan menjual apa yang dimiliki dan memberikan itu kepada orang-orang miskin. Reaksi sedih sekali karena banyaklah hartanya. Jika demikian, siapakah yang dapat masuk Kerajaan Allah? Lalu Yesus berkata kepada murid-muridNya. “Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah.”

Itulah reaksi para murid Yesus saat itu dan pertanyaan kita saat ini. Yang dapat masuk Kerajaan Allah adalah orang yang memiliki sikap lepas bebas dari segala ikatan tanah milik, barang, uang, dan orang untuk dapat mengarahkan hidup pada Kristus.

Monika Hellwig menuliskan keuntungan menjadi orang miskin (Bukan Yesus yang Saya Kenal – Philip Yancey):
  1. Orang miskin tahu bahwa dirinya sangat membutuhkan penebusan.
  2. Orang miskin bukan saja tahu bahwa dirinya tergantung pada Tuhan dan orang yang berkuasa, tetapi mereka saling tergantung satu sama lain.
  3. Orang miskin bukan menggantungkan rasa amannya pada harta benda, tetapi pada manusia.
  4. Orang miskin tidak merasa dirinya keterlaluan penting dan tidak mempunyai kebutuhan berlebihan akan privacy.
  5. Orang miskin tidak terlalu mengandalkan persaingan, tetapi mengandalkan kerja sama.
  6. Orang miskin bisa membedakan antara kebutuhan dan kemewahan.
  7. Orang miskin bisa menunggu, mereka telah memperoleh sejenis kesabaran panjang yang lahir dari kesadaran akan ketergantungan.
  8. Ketakutan orang miskin lebih realistis dan tidak begitu dibesar-besarkan karena mereka tahu seseorang bisa bertahan hidup menghadapi penderitaan besar dan kekurangan.
  9. Bila orang miskin mendengar Injil, itu kedengaran seperti kabar baik, bukan seperti ancaman atau teguran.
  10. Orang miskin bisa menerima panggilan Injil untuk meninggalkan segalanya dengan totalitas penuh karena mereka akan kehilangan sedikit dan siap untuk menerima apa saja.

Memang harus diakui, ikatan yang paling sulit dilepaskan manusia untuk mengikuti Yesus adalah harta benda. Karena memiliki uang maka orang dapat beli narkoba dan menghancurkan hidupnya. Karena memiliki banyak uang maka orang bisa main perempuan, berjudi, dan mabuk-mabukan. Bahkan karena harta warisan, orang tua dan saudara sekandung saja, rela dianiaya bahkan dibunuh. Akibatnya mereka sulit untuk menghayati perutusan kemuridan untuk mencintai Allah dan sesama.

Maka benarlah sabda Yesus “Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah.”Orang yang memiliki sikap lepas bebas adalah orang yang memiliki kebijaksanaan berkata “cukup.” Artinya berani berkata “cukup” atas keperluan tanah milik, barang, uang, dan orang demi mengarahkan hidupnya kepada Kristus. Karena kita ini, tidak akan pernah puas akan harta milik.

Salalu Melihat Kebaikan

Yer 31:7-9; Ibr 5:1-6; Markus 10:46-52

Apa tandanya kalau orang itu buta? TIDAK MELIHAT. Mengapa orang bisa buta? Yohanes menyebut salah satunya bahwa orang bisa buta sejak lahir (Yoh 9:1). Ada juga berawal dari berkurang penglihatannya karena usia lanjut (Ishak dalam Kej 27:1; Eli dalam 1Sam 3:2; Ahia dalam 1Raj 14:4)....dst. Lalu, apa yang paling dirasakan oleh orang yang matanya buta? Dan apa yang mereka inginkan?

Keinginan terbesar orang yang buta adalah BISA MELIHAT. Orang yang buta selalu menginginkan suatu PERUBAHAN, yakni dari tidak melihat menjadi bisa melihat.

Sebuah kisah begini:
Ada seorang buta yang hidup sendiri di pinggir sebuah desa. Baginya tiada beda siang atau malam, jika ia menuju ke suatu tempat. Sampai suatu ketika saat sedang berjalan dalam gelap, dia tertabrak oleh seseorang yang sedang berdiri di tepi jalan. Orang tersebut menegur, katanya “Mas, kalau jalan malam itu mbok yaa membawa lentera atau senter, biar orang tahu kalau Mas lewat. Jadi bisa dikasih jalan”. Wah teguran itu menimbulkan inspirasi baru …, sehingga di benak orang buta itu terpikir, “Berarti mulai saat ini saya mesti membawa lentera/ senter kalau jalan malam”.

Pada malam berikutnya, dengan perasaan mantab dan percaya diri dia berjalan dengan membawa senter dengan harapan tidak tertabrak orang lagi.
“… wealaah kok ya tertabrak lagi .. orang yang sama juga, dan di tempat yang sama“. Orang itu kembali menegur, “Piye tah mas, sudah dibilang bawa senter kok nggak nurut sih”.
Orang buta itu mulai tampak tersinggung … “apa sampeyan buta.... sampeyan tidak lihat ta, ada senter ditangganku”, sambil sedikit marah menunjukan senternya. Yaaaahhh ternyata, senter itu tidak dihidupkan. ....dst.

Saudari dan saudaraku, betapa sedih dan menderitanya si buta dalam kisah itu. Tentu Anda yang membaca renungan ini tidak buta, minimal belum buta, karena bisa melihat tulisan ini lalu membacanya. Tetapi pertanyaannya: Apa jadinya bila yang buta adalah mata hati Anda, atau juga mata hati saya? Mari kita bertanya diri. Kadang dalam realitanya, orang, kita cenderung memilih untuk “membuta” walau dapat melihat.
Kebutaan hati juga menunjuk pada kegelapan batin, tidak mampu melihat kebaikan orang lain, biasanya tampak keangkuhan, kebebalan (orang menjadi tidak peka) dan kedengkian. Ia menjadi acuh dan kurang peduli pada sesama dan lingkungannya.

Saudari dan saudaraku, kita mengenal sosok Bartimeus dalam Injil. Ia adalah salah seorang buta yang menghendaki perubahan dalam hidupnya. Ada 3 langkah radikal yang dilakukan, yaitu:
1. Ia berseru dengan semangat yang berkobar (ay 47-48).
Paulus menggunakan istilah biarlah rohmu menyala-nyala (Rm 12,11). Memanggil dengan berseru apalagi makin keras berseru di saat dihalangi menggambarkan kesungguhan hatinya untuk bertemu dengan Kristus. Pemazmur juga menyatakan “serukanlah namaNya” (Maz 105:1). Orang harus menunjukkan kesungguhan hati sebagai tanda kerinduan untuk mengalami perubahan, yaitu: lebih akrab dengan Dia. Dalam Yer 31:7-9, kobarkanlah, pujilah dan katakanlah bahwa Tuhan telah menyelamatkan umatnya....

2. Ia mendengar dan melakukan perintahNya (ay 49-50)
Bartimeus berhenti berseru di saat ia mendengarkan suara Tuhan dan merespon panggilan tersebut dengan segera tanpa menunda. Yang menarik, sebelum ia bertemu dengan Tuhan, Ia menanggalkan jubahnya, jubah sebagai simbol sesuatu yang berarti dalam hidupnya. Dengan iman ia “menanggalkan manusia lama…. dan mengenakan manusia baru…” (Kol 3:10). Dengan iman ia melakukan perintahNya!

3. Ia menerima mujizat dan mengikuti Tuhan (ay 51-52)
Tuhan Yesus bertanya dan Bartimeus meminta apa yang menjadi keinginannya, yaitu: dipulihkan dengan perubahan yang lebih baik. Mujizat terjadi dan Bartimeus mengalami perubahan hidup. Kuasa Tuhan nyata dan telah menyelamatkannya. Bartimeus melihat dan ia bersyukur dengan tindakan yang ia kemudian lakukan yaitu penyerahan diri, “mengikuti Yesus” (ay 52). Menjadi pengikut Kristus dan “wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup” (1 Yoh 2:6). Yesus Kristus sebagai imam agungnya (Ibr 5:1-6.

Saudari dan saudaraku, Bartimeus yang buta matanya mengajar kita untuk tidak menjadikan mata hati kita juga buta. Maka marilah mensyukuri kebaikan Allah dalam hidup kita, karena kita bisa melihat dengan baik, pun bisa melihat kebaikan sesama dan lingkungan kita, pun bisa mengusahakan lebih baik dari apa yang sudah baik.

Tuhan menyertai niat-niat baik kita. Amin.

Yesus Kristus Raja Alam Semesta (tahun B)

Hari ini Tahun Liturgi Gereja berakhir dan kita akan masuk Tahun Baru Liturgi yaitu Masa Advent. Pada hari Minggu penutup Tahun Liturgi Gereja ini, kita semua diajak untuk merenungkan bahwa Yesus, yang hidup, sengasara dan wafat itu benar bangkit atau hidup kembali dan menjadi Raja atas maut dan atas semua diciptakan Bapa-Nya dalam alam semesta ini. Gereja menetapkan sebagai perayaan Yesus Kristus Raja Semesta Alam.
Jika kita mencermati, di atas kepala-Nya kita melihat tulisan INRI yang ditulis Pontius Pilatus: "Iesus Nazarenus Rex Iudeorum "artinya "Yesus dari Nazareth Raja Orang Yahudi". Sungguh sejak Ia memasuki kota Yerusalem dengan menunggangi seekor keledai, bukan kudan jantan yang perkasa. Ia sudah disambut sebagai Raja.
Bac Injil (Yoh 18:33b-37), ada dialog antara Pilatus dan Yesus. Makna sebutan RAJA untuk Kristus sama sekali berbeda dari makna seperti yang dimaksudkan Pilatus, yakni raja dengan istana yang megah dengan beribu-ribu prajurit dst. Yesus mengatakan bahwa KerajaanKu bukan dari dunia ini. Kristus sebagai raja à memberikan kesaksian tentang kebenaran, membawa damai sejahtera kepada umat manusia melalui darahNya. Penyaliban Yesus dalam Yohanes dimaknai sebagai pemuliaan atau peninggian sebagai raja.
Bac I (Daniel 7:13-14), kekuasaanNya kekal adanya dan kerajaanNya takkan binasa. Iman Kristiani, mengimani dan mengamini bahwa Yesus datang bukan sekedar untuk membebaskan dari penindasan bangsa Romawi, melainkan untuk membebaskan semua bangsa (Yahudi dan bukan Yahudi), datang untuk membebaskan mereka dari dosa dan kematian.
Bac II (Wahyu 1:5-8), Dia yang mengasihi kita dan yang melepaskan kita dari dosa oleh darahNya dan yang membuat kita menjadi suatu kerajaan. Dengan demikian, Dia adalah raja alam semesta, tidak berkuasa di kerajaan duniawi namun kerajaan yang akan datang. KerajaanNya menembus hati manusia.

Hari raya ini ditetapkan oleh Paus Pius XI pada tanggal 11 Desember 1925 dalam ensiklik “Quas Primas”. Pertama-tama yang menjadi latar belakang penetapan itu adalah
1. Tumbuhnya kekuatan kediktatoran di Eropa.
2. Gereja (orang-orang Katolik) dikuasai oleh para pemimpin duniawi ini.
3. Saat itu penghormatan kepada Kristus dan Gereja mulai memudar.

Oleh sebab itu, dengan penetapan Hari raya ini diharapkan akan menumbuhkan berbagai dampak, a.l:
1. Negara-negara akan melihat bahwa Gereja mempunyai hak untuk memiliki kebebasan dan tidak bisa diintervensi negara.
2. Bahwa para pemimpin dan negara akan melihat bahwa mereka juga harus menghormati Kristus
3. Bahwa orang beriman akan mendapatkan kekuatan dan keberanian dari perayaan ini dan diingatkan bahwa Kristus haruslah merajai hati, pikiran, kehendak dan tubuh kita.
Lalu, Apa Relevansinya untuk kita di zaman sekarang ini?
Pada zaman sekarang ini, ketidakpercayaan yang sama akan “otoritas” juga masih ada, bahkan permasalahannya makin buruk. Individualisme makin ekstrim, sehingga banyak orang, hanya mengakui bahwa satu-satunya otoritas yang berkuasa hanyalah diri mereka sendiri. Maka tumbuhlah generasi “egois” semuanya tentang “aku”. Keinginan dan kehendakku menjadi yang utama dalam segala situasi. Otoritas Kristus sebagai penguasa ditolak oleh sistem individualisme yang begitu kuat.

Pesta Malaikat Pelindung

Istilah malaikat berasal dari kata Arab = ”malaaikah”, Ibrani ”mal’akh” yang berarti pembawa pesan. Dalam bahasa Inggris = angel, Latin = angelus yang berakar pada kata Yunani angelos, yang berarti pembawa pesan. Sesuai dengan namanya, para malaikat bertugas membawa pesan dan misi dari Tuhan. Tuhan mengutus para malaikat untuk menyatakan kehendak-Nya, untuk membimbing, mengajar, menegur serta menghibur umat-Nya.

Malaikat adalah makhluk rohani yang diciptakan Allah, artinya mereka tidak memiliki tubuh ragawi: tidak memiliki daging atau darah. Malaikat tidak dilahirkan, tetapi diciptakan Allah. Karena tidak memiliki tubuh, maka mereka tidak menjadi tua dan mati.

Gambar malaikat pelindung yang paling sering kita jumpai adalah gambar seorang malaikat yang sedang melindungi seorang anak kecil yang sedang berjalan menyeberangi sebuah jembatan kecil. Pada tahun 1608, Paus Paulus V menambahkan pesta para malaikat pelindung ke dalam penanggalan para kudus dan pesta gerejani. Mengetahui serta mengimani bahwa kita masing-masing mempunyai seorang malaikat pelindung yang melindungi kita, sungguh sangat membesarkan hati. Malaikat pelindung kita adalah hadiah dari Tuhan kita yang penuh belas kasih. Dalam Perayaan Ekaristi, kita juga menguduskan nama Allah bersama paduan suara malaikat.

Nah, apa sih yang dilakukan malaikat?
Pertama, Malaikat memandang, memuji dan memulikan Allah di hadirat-Nya yang Ilahi. Hendaknya disadari bahwa setiap kita mempunyai seorang malaikat pelindung. Yesus sendiri pernah bersabda, “Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu; ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di sorga” (Mat 18:10). Kita pernah menjadi kecil.

Kedua, Malaikat merupakan pembawa pesan atau utusan. Kitab suci melukiskan peran malaikat sebagai utusan Allah yang menyampaikan pesan, melaksanakan keadilan atau pun memberikan kekuatan serta penghiburan.

Tak dapat dipungkiri bahwa kita bertumbuh sebagai manusia: mulai dari bayi, kanak-kanak, remaja, dewasa hingga lanjut usia. Namun, kalau kita mau jujur, kita sering lupa atau bahkan melupakan soal pertumbuhan itu, bahwa kita menjadi besar karena bertumbuh dari kecil.
Ketika kita mencermati hidup kita sekarang ini (setelah besar), tidakkah kita telah kehilangan tidak sedikit sikap atau prilaku kala waktu kecil? masihkan kita mempunyai kepolosan, keterbukaan dan kepasrahan seperti yang pernah kita punyai di kala kecil? Sikap-sikap itulah yang senantiasa berkenan kepada Yesus, sehingga kita boleh masuk KerajaanNya.

St. Maria Magdalena


Rabu, PW St. Maria Magdalena Yoh 20:1-2, 11-18

Hari ini Gereja memperingati St. Maria Magdalena (dari Magdala). Dia adalah saksi pertama kebangkitan Yesus. Dialah salah satu wanita yang memiliki relasi yg amat personal atau intim dengan Yesus sebagai guru, sekaligus sebagai sahabatnya. Relasi amat personal ini dengan amat baik dikisahkan dalam novel Pengakuan Maria Magdalena: Saat-saat Intim Bersama Sang Guru (Rm. Martin Suhartono SJ).

Kisahnya mengunjungi Yesus di makam pagi-pagi benar (uput-uput) menunjukkan bahwa betapa Maria Magdalena ingin menjadi orang yang pertama datang dan mengurapi tubuh Yesus.

Tetapi, ketika ternyata tubuh Yesus sudah tidak ada lagi, kubur menjadi kosong, hati Maria Magdalena pun menjadi kosong, putus asa, sehingga ia tidak bisa melihat dan mendengar dengan jernih. Hati yang berkecamuk dan tidak hening membuat kehadiran Yesus tersembunyi baginya, sehingga Ia tidak bisa mengenali sapaan Yesus.

Namun ketika hati Maria mulai tenang, dan Yesus menyapa dengan sapaan personal, ia mulai mengenal suara Yesus. Maria mengajak kita :
- untuk senantiasa hening dalam hati agar kita menjadi peka terhadap sapaan Allah
- untuk mengenal (menjalin relasi dengan) Yesus secara lebih personal

Dasar itu adalah melaksanakan kehendak Allah


Selasa. Kel 14:21-5:1; Matius 12:46-50

Sebuah bangunan yang didirikan atas dasar batu atau beton akan mampu berdiri kokoh, kuat dan tidak tergoyahkan meski dilanda hujan, banjir dan angin atau bahkan gempa. Namun bila dasarnya hanya pasir, maka bangunan itu akan roboh dan berantakan.

Hubungan keluarga yang didasarkan atas dasar sanak kandung atau hubungan darah bisa sangat berarti. Tetapi ada kalanya semuanya itu harus berhenti. Orang juga bisa membangun sebuah keluarga atas dasar cita-cita dan perjuangan.

Sabda Tuhan hari ini mengundang kita untuk melihat dasar hidup orang beriman. Bagi Yesus dan para muridNya, ada dasar yang kokoh untuk membangun kehidupan dalam keluarga beriman. Dasar itu adalah melaksanakan kehendak Allah.

Tuhan Yesus hari ini mengingatkan kita bahwa yang menjadi ibu dan saudara kita itu jauh lebih luas dari hanya sekedar hubungan darah, suku, golongan dan agama. Kecenderungan kita, bahwa kita menerima orang lain sebagai ibu, saudara, teman jika orang lain tersebut menguntungkan kita secara pribadi. Sebaliknya sesama tersebut akan berubah menjadi musuh jika mereka tidak menguntungkan bahkan merugikan kita, Ibu, saudara perempuan dan laki-laki bagi Yesus adalah mereka yang melakukan kehendak Bapa. Beranikah kita juga menunjuk sesama yang menderita dengan berkata:"Ini ibuku dan saudara-saudaraku!"

Atas dasar itulah Gereja dibangun, sehingga berdiri kokoh dan kuat. Bila Gereja kehilangan dasar itu, mungkin Gereja masih bisa tampil sebagai organisasi yang rapi, indah dan disiplin; tetapi akan kehilangan ciri dan corak khasnya yaitu: sebagai keluarga beriman yang senantiasa memperjuangkan kehendak Allah.

Itulah yang terjadi juga dalam keluarga besar Israel. Dalam Bac I dikisahkan bagaimana bangsa ini dapat melanjutkan perjalanan bahkan melintasi laut Teberau karena bangsa ini bersedia mendengarkan dan melaksanakan apa yang dikendaki oleh Allah. Allah menghendaki bangsa ini selamat.