Yesus Memanggil Para Murid dari Kalangan Sederhana

Misa Harian di Tarquinia, Roma
Matius 4:12-23

Misi Yesus sangat jelas, yaitu mewartakan Kerajaan Allah. Ia menyerukan pertobatan dan memanggil keempat murid untuk menyertaiNya. Ia tidak bekerja sendirian dengan memilih: Petrus, Andreas, Yohanes dan Yakobus. Kita secara pribadi memiliki pengalaman personal dipanggil oleh Tuhan. Kita menjadi orang-orang yang dengan jelas dipilih oleh Yesus, untuk karyaNya memang akan terus berlangsung. Tetapi sering menjadi tidak jelas bagi manusia, kita yang dipilih untuk terlibat dalam karya Yesus.

Manusia sering merasa tidak layak, lemah, kecil, tidak mampu berdosa dst. Demikian pun tindakan Yesus ketika memilih empat murid itu. Suatu pilihan yang mungkin tak masuk hitungan, menurut cara berpikir, cara pandang kita sebagai manusia. Sebab manusia cenderung memilih orang-orang yang dipadang mampu, pandai dan ahli.

Tetapi cara pandang Allah berbeda dengan cara pandang kita. Sebab Allah berkenan kepada mereka yang sederhana, kecil, lemah, dan berdosa karena di dalam kelemahan manusialah kuasa Tuhan menjadi sempurna (2Kor 12:9).

Demikian pun telah terjadi pada masa Perjanjian Lama, saat Allah memilih Musa dan Yeremia, yang tak pandai bicara (Kel 4:10; Yer 1:6); demikian juga Gideon yang paling muda dari kaum yang terkecil (Hak 6:15); atau Daud, anak bungsu Isai, yang menjadi gembala domba (1Sam 16:11).

Keempat murid : Simon Petrus, Andreas, Yakobus dan Yohanes, yang hari ini dipanggil oleh Yesus rasanya mengingatkan akan panggilan kita. Mereka yang dipanggil tampaknya orang-orang sederhana, dari kalangan nelayan. Pada kisah yang lain Yesus juga memanggil dari kalangan pemungut cukai, orang Zelot dan seterusnya.

Marekalah orang-orang yang bersedia untuk dididik menjadi murid. Mereka segera meninggalkan jala dan perahu mereka untuk mengikuti Yesus (Mat 4:20,22). Tindakan mereka ini rasanya mendorong banyak orang di sepanjang sejarah Gereja, yang melakukan hal serupa, yaitu meninggalkan segala sesuatu, untuk memberikan diri seutuhnya kepada Tuhan Yesus. Gereja justru didirikan atas iman orang-orang sederhana ini.

Ketika Yesus berkata kepada mereka, “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia” (Mat 4:19). Tampak di situ mereka tanpa banyak komentar, langsung berangkat dan meninggalkan jala dan segalanya, seperti yang dilakukan 'Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, yang segera meninggalkan perahu serta ayahnya, lalu mengikuti Dia. Apakah mereka saat itu mengerti apa yang dimaksudkan sebagai penjala manusia? Saya pikir mereka tidak mengerti. Apakah mereka juga sudah mengenal Yesus sebelumnya? Rasanya belum juga. Yesus memanggil, dan mereka pun segera mengaminiNya. Begitulah iman, yang mendorong orang untuk mengatakan dalam hatinya kaa “amin”.

Kita tentu bukanlah orang-orang seperti Petrus, Andreas, Yakobus dan Andreas dalam mengikuti panggilan Tuhan. Jawaban dan perjuangan kita dalam mengikuti Yesus, tidaklah sebesar yang dialami para rasul itu. Rasanya juga hal ini tidak perlu dipersoalkan. Tuhan tidak memberikan tuntutan atau target kepada setiap orang. Tetapi dari kita dibutuhkan kesediaan dan pengorbanan serta keyakinan, seperti yang dinasihatkan oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Roma, “Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan” (Rm 10:9-10).

Tuhan, bantu kami yang mengamini panggilanMu.

Yohanes menarik simpati masa karena Yesus yang diimani

Baru saja aku membaca perikopa Injil Yohanes 1:29-34 untuk besok pagi. Sejenak aku pun mengambil waktu untuk membacanya kembali ayat demi ayat dan setelah itu merenungkannya.
weekend Salesian, Mei 2014
Tiba-tiba aku sampai kepada kesadaran bahwa aku pernah menceritakan tentang kehebatan sesuatu bahkan tentang diriku sendiri dengan rasa amat bangga kepada orang lain. Mungkin orang yang mendengarku kagum, tetapi mungkin juga sebaliknya: muak atau jengkel. Heeee maaf yaa sahabatku atas keangkuhanku, atas kesombonganku.

Perikopa yang kubaca mengajakku untuk mengakui bahwa Yohanes sungguh luar biasa. Dia menarik simpati rakyat dan banyak orang mengikuti gerakan barunya mempersiapkan kedatangan Mesias. Hidupnya menyampaikan pesan yang menarik. Dia mendirikan komunitas baru: komunitas yang menantikan zaman baru, pun bisa dipahami oleh orang-orang Yahudi saat itu. Prinsipnya tegas - Dia selalu menunjuk pada sesuatu yang lebih besar daripada dirinya dan tidak pernah mengambil kesempatan untuk memperalat atau menyesatkan orang-orang yang mengaguminya.

Bagi kita memang tidak selalu gampang memainkan peran secara jujur dan ikhlas seperti Yohanes. Bahkan tak jarang kita (maaf kalau Anda tidak termasuk dalam kategori ini)....ehh aku maksudnya, kadang berjuang untuk memperoleh segala hal dan kesempatan; tak jarang kadang pun menjelekkan dan bahkan menjatuhkan orang yang dipandang musuh atau rival....dst.

Yohanes mengajar kita untuk senantiasa mewartakan Dia, Yesus dalam kesaksian hidupnya, dan bukan mewartakan dirinya sendiri. Dengan demikian kebahagiaan yang dialami Yohanes juga akan kita alami.

Tuhan memberkati niat baik kita.

Hari Raya Epifani

Yesaya 60:1-6; Efesus 3:2-3a.5-6; Matius 2:1-12

Hari ini kita merayakan Hari Raya Penampakan Tuhan (Epifani). Kata PENAMPAKAN mengisyaratkan adanya dinamika dua pihak yang berkaitan erat: Siapa (apa) yang menampakan dan kepada siapa (apa) penampakan itu. Di sini jelas dinamika itu antara Allah dan Manusia. Mari kita lihat dinamika itu dalam empat point di bawah ini:

Aku telah melihat bintangNya
PERTAMA, Allah yang menampakan diri dengan sarananya: 1). Bintang – bisa dilihat oleh banyak orang, artinya: Allah mau menjumpai kepada semakin banyak orang, bukan hanya orang Yahudi saja. Meski tidak semua orang pun bisa melihat bintang. Mereka yang bijaksana yang bisa melihat makna di balik tanda bintang. 2). Bayi (manusia) – Allah datang dalam wujud/rupa manusia. Allah punya inisiatif ingin menjumpai manusia secara lebih dekat, hangat dan bersahabat.

KEDUA, kepada orang-orang Majus. Matius tidak menyebut secara persis siapa mereka itu. Adanya nama tiga orang bijak dari Timur merupakan refleksi lebih lanjut dari orang-orang Kristen atas kisah Injil Matius tersebut.
Kita tahu bahwa konteks Matius menulis Injilnya adalah kepada orang-orang Yahudi yang telah berabad-abad mengharapkan datangnya sang Mesias, raja yang akan memperbaharui Israel. Maksud Matius dengan kisah ini adalah, bahwa seperti orang-orang Majus, semua orang harus mencari dan menemukan Kristus yang datang ke dunia untuk menyelamatkan manusia dari segala bangsa dan jaman. Kristus datang tidak hanya untuk bangsa Yahudi/Israel saja tetapi juga untuk semua orang dari segala bangsa yang merindukan keselamatan dari Allah.
Sarana orang-orang majus: emas, kemenyan dan mur. Kita dapat memaknai masing-masing dari persembahan: emas, persembahan bagi seorang raja; kemenyan, persembahan bagi seorang imam; dan mur - balsam penguburan, persembahan bagi seorang yang akan meninggal. Bagi St. Ireneus (wafat 202) persembahan emas, kemenyan dan mur ditafsirkan sebagai: Raja, Tuhan dan Penebus yang Menderita.
Di samping itu, kita mesti mengingatnya juga bahwa kunjungan para majus ini menggenapi nubuat Perjanjian Lama: Bileam menubuatkan kedatangan Mesias yang akan ditandai dengan sebuah bintang: “Aku melihat dia, tetapi bukan sekarang; aku memandang dia, tetapi bukan dari dekat; bintang terbit dari Yakub, tongkat kerajaan timbul dari Israel…” (Bil 24:17). Penulis Mazmur menyampaikan bagaimana bangsa kafir akan datang untuk menyembah Mesias: “kiranya raja-raja dari Tarsis dan pulau-pulau membawa persembahan-persembahan, kiranya raja-raja dari Syeba dan Seba menyampaikan upeti! Kiranya semua raja sujud menyembah kepadanya, dan segala bangsa menjadi hambanya!” (Mzm 72:10-11). Yesaya juga menubuatkan tentang persembahan-persembahan yang dibawa: “Sejumlah besar unta akan menutupi daerahmu, unta-unta muda dari Midian dan Efa. Mereka semua akan datang dari Syeba, akan membawa emas dan kemenyan, serta memberitakan perbuatan masyhur TUHAN” (Yes 60:6).
Dengan demikian orang-orang Majus itu tidak hanya melambangkan bangsa yang menemukan jalan menuju Kristus, tapi mereka juga mewakili aspirasi terdalam dari manusia, dinamika agama-agama, dan akal budi manusia menuju Kristus.

KETIGA, kepada Herodes dengan sarananya: kekuasaan. Dengan kekuasaan kecerdikannya ingin memperdaya orang-orang Majus yang telah sampai di Yerusalem yang membawa warta, “Dimanakah Raja Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di ufuk timur dan kami datang untuk menyembah Dia.”

KEEMPAT, akhirnya bagi kita, Hari Raya Penampakan ini pun mengingatkan akan dinamika iman kita. Allah yang tetap berinisiatif menarik semua orang. Natal yang kita rayakan, Emanuel menjadi refleksi bahwa Allah mengundang kita. Dalam dinamika itu kita boleh bertanya diri siapa Allah yang menampakkan diri padaku? Sarana apa yang dipakai Allah ketika menampakkan diri kepadaku? Adakah bintang yang bisa kulihat, sesuatu yang menarik perhatianku untuk merasakan Allah yang menolongku, membimbingku, menganugerahiku kesehatan, persaudaraan dst?
Kita selalu dan terus mencari Tuhan dalam setiap peristiwa hidup. Lalu sarana apa yang riil yang bisa kulakukan untuk menjumpai Allah yang menampakan diri kepadaku? Dengan kebijaksaaanku kah sehingga aku memilih untuk menyediakan waktu berelasi dengan Allah melalui doa-doaku? Dengan kelembutan dan kemurahhatianku kah aku membangun relasi dengan orang-orang di sekitarku, di tengah keluargaku, di tempat kerjaku? Hari Raya Penampakan Tuhan membangunkan kesadaran kita akan kewajiban kita untuk bersembah sujud kepada Kristus melalui doa, sembah bakti, dan perbuatan-perbuatan baik serta kurban.
Atau kita berlaku sebagai Herodes, yang selalu memusuhi Allah. Seakan kita bisa melakukan apapun tanpa Allah.

Apa yang Anda inginkan?



1 Yoh 2:29-3:6; Yoh 1:29-34
http://melangkahmeraihcita.files.wordpress.com/2013/12/vannes-3.jpg
"Apakah yang kamu cari?" Itulah pertanyaan Yesus kepada kedua murid Yohanes yang bergegas mengikuti Yesus. Pertanyaan yang kurang lebih senada pernah kita dengarkan dari orang-orang disekitar kita, “Apa yang Anda inginkan?”
Kita tentu setuju, bila keinginan atau dengan kata yang lebih halus “motivasi” dapat menjadi tolok ukur soal baik buruknya suatu tindakan kita (tidak bermaksud ekstrim moralis). Suatu tindakan adalah buruk jika maksudnya jahat. Suatu bentuk kejahatan akan berkurang jahatnya jika kejahatan itu dilakukan dengan maksud baik.
Seperti halnya dengan keberhasilan, kesuksesan atau prestasi, pun sangat tergantung dari maksud dan tujuan yang bersangkutan itu sendiri. Jika orang sungguh-sungguh bermaksud dan berkeinginan mencapai sesuatu, maka saya akan mencari cara yang tepat untuk mendapatkannya. Jika keinginan saya lemah, maka saya akan mudah menyerah. Yakobus dalam suratnya mengatakan, "Bila kamu berdoa, kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu" (Yak 4:3).
Kembali kepada pertanyaan Yesus, "Apakah yang kamu cari?” Dua murid itu menjawabnya dengan sebuah pertanyaan juga, "Dimanakah Engkau tinggal?" Bagi kita mungkin tampak sebuah kebodohan, pertanyaan kok dijawab dengan pertanyaan. Tetapi di sini, penginjil mau menampilkan reaksi dua murid yang mempunyai KEINGINAN, atau MOTIVASI mendalam. Bukan soal tempat tinggal Yesus, tetapi suatu rasa kagum yang luar biasa dari sosok Yesus dan mereka ingin mengalami hidup yang terpancar diri Yesus.
Hal itu tampak dari jawaban kemudian dari Yesus, "Marilah dan kamu akan melihatnya." Di sini Yesus mengundang mereka kepada kehidupan Yesus, kebenaran dan kehidupan batin yang ada dalam diri-Nya dan melalui-Nya. "Mereka pun datang dan melihat dimana Ia tinggal: dan hari itu mereka tinggal bersama dengan Dia." Mereka mengunjungi-Nya secara lahiriah, namun mereka juga mengalami-Nya di dalam batin mereka dan sedikit banyak mengalami cahaya kasih-Nya.
Yesus pun mengundang kita untuk mengalami pencerahan (untuk menjadi lebih gembira dan lebih cerah) sebagai motivasi dalam mengikuti-Nya. Jika kita mengikuti-Nya, kita bertumbuh dalam cara memandang sesuatu, dalam pencerahan, dan akhirnya kita tidak mempunyai keinginan lagi. Kita akan menemukan diri kita tidak mempunyai keinginan apa apa lagi, kecuali persatuan dengan-Nya dalam keterbukaan yang tanpa pamrih. Undangan ini bukan berarti mengajak dan menjadikan kita diam dan pasif, tetapi justru kepada perbuatan yang lebih produktif dan bebas dari egoisme atau cinta diri.
Oleh sebab itu mari kita selalu gemakan dan kita mendengarkan dengan lebih mendalam, pertanyaan Yesus itu, Apakah yang kamu cari? Juga undanganNya "datanglah dan lihatlah". Ketika kita bertumbuh lebih mendekat pada pribadi Kristus, penglihatan kita menjadi lebih baik dan motivasi serta maksud tujuan kita pun dimurnikan. Kemudian kita pun ingin berbagi kepada orang lain.

Ogni giorno e momento della vita è l'ultima volta

1Gv 2,18-21; Gv 1,1-18

Oggi è l'ultimo giorno dell'anno 2013. L'apostolo Giovanni ci ricorda anche che non solo l'ultimo giorno dell'anno , ma ogni giorno e momento della vita è l'ultima volta ( 1 Gv 2:18 ). Ci sono molte cose che sono accadute e che abbiamo vissuto durante gli anni passeranno, le cose buone sono positivo o negativo, triste o felice, sia incontro o di perdita o di separazione. 
Allora, che cosa dobbiamo fare prima di entrare nel nuovo anno?
Parola di Dio oggi di aprire i nostri cuori, che Gesù è presente a noi come il verbo si fece carne e venne ad abitare in mezzo a noi, per illuminare la nostra vita, togliere i nostri peccati, e di lasciare ed entrare le virtù della sua vita divenne integrale in noi.

Quindi, dobbiamo essere grati per gli anni a passare, camminiamo per certo, entriamo nel nuovo anno con pieno di speranza, la convinzione che "Dio abita in mezzo a noi " e " in lui era la vita e la vita era la luce degli uomini ".

Preghiamo nei nostri cuori,
Grazie Signore per la tua provvidenza tutto l'anno che passerà presto. Guidaci a tua benignità nel nuovo anno più tardi .

Teladan Keluarga Kita

Pesta Keluarga Kudus ini menjadi momen yang tepat bagi suami dan isteri merenungkan kembali komitmen yang telah mereka ikrarkan, saling menghormati, saling mencintai dan setia dalam untung dan malang. Baik suami maupun isteri harus mengutamakan dialog dan mau memperbaharui komitmen demi keutuhan keluarga.

di halaman basilika S. Fransiskus Asisi, Juli 2013
Maria dan Yosef memberikan teladan yang setia melaksanakan komitmen di antara mereka, komitmen untuk memelihara Yesus, secara khusus komitmen untuk melaksanakan kehendak Allah. Komitmen-komitmen itutampak ketika mereka harus menyingkir ke Mesir untuk menyelamatkan Yesus. Dalam Matius 2:13 dikatakan, “Nampaklah malaikat Tuhan kepada Yosef dalam mimpi dan berkata, bangunlah dan bawalah anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari dan membunuh anak itu.”
Betapa tidak ringannya situasi yang dialami oleh Maria dan Yosef. Namun Mereka melaksanakan tugas itu dengan setia karena tanggungjawabnya sebagai orang tua, karena tanggung jawabnya akan keselamatan Yesus. Mereka setia dengan komitmen yang telah mereka ungkapkan walau banyak tantangan dan bahkan penderitaan. Rasa percaya kepada Allah menguatkan mereka.

parco pamphili, Roma
Kalau kita cermati, rasanya keluarga yang baik itu bukan berarti keluarga yang tanpa masalah dantantangan, adem ayem saja, semua berjalan normal. Keluarga yang baik ialah sebuah keluarga yang medasarkan hidupnya atas kehendak Allah. Sebuah keluarga yang menjadikan setiap tantangan dan masalah sebagai penguji sekaligus penguat cinta, janji dan komitmen mereka. Cinta selalu diuji setiap saat, komitmen selalu harus dimurnikan, dan janji itu juga selalu harus diperbarui. Umumnya semua itu terjadi mana kala keluarga mengedepankan dialog, komunikasi dan keterbukaan.

Yang dominan bukannya kata SAYA, KAMU apalagi KAU, melainkan KITA. Yesus mengatakan, “Karena itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, maka keduanya menjadi satu. Jadi mereka bukan lagi dua, melainkan satu”  (Mat 19:5-6).

Stefanus, ”Tuhan Yesus, terimalah rohku”

Pesta St. Stefanus, Mrt. Pertama
Kis. 6:8–10; 7:54–59; Mat. 10:17–22

 
Ketika Gereja dilanda dengan bertubi-tubi masalah, cemoohan, penghakiman dan bahkan pengusiran, serasa juga bertubi-tubi pula keluhan, mungkin juga ketakutan dan apatisisme: betapa berat menjadi pengikut Yesus. Dibutuhkan kekuatan untuk menghadapinya dan sanggup menanggung serta menerima konsekuensi oleh karena imanku kepadaNya.

pondasi rumah
St. Stefanus adalah martir gereja pertama yang patut kita teladani karena sikap imannya yang begitu kokoh, dan keberaniannya yang luar biasa meskipun harus menaggung derita dan kematian. Tuhan mengerjakan banyak mukjizat melalui tangan Stefanus dan menghantar banyak orang menjadi pengikut Kristus. Tetapi, para anggota Mahkamah Agama (yang memusuhi Gereja), sangat merasa berang dan geram, lalu bersekongkol untuk menghabisi Stefanus. Stefanus dituduh menghujat Allah.  Tanpa rasa takut pun Stefanus menghadapi dan tuduhan-tuduhan palsu terhadapnya, meski akhirnya diseret keluar kota untuk dirajam.

Di akhir hidupnya, ia menengadah ke langit, melihat kemuliaan Allah dan Yesus di sebelah kanan-Nya. Dengan penuh penyerahan diri ia berdoa: ”Tuhan Yesus, terimalah rohku”.

Kita terpanggil untuk juga menjadi martir Gereja seperti Stefanus, dengan berani mengakui iman pada Kristus meskipun dibenci orang karena kita percaya Tuhan akan mengirim perlindungan dan kekuatan kepada kita. Tuhan menganugerahkan semangat iman, harapan dan kasih juga agar kita mampu bertahan dalam kesulitan dan tantangan hidup kita sebagai murid-murid Kristus di tengah masyarakat. Semangat iman St. Stefanus menjadi semangat kita dalam mengimani Kristus.  

Memulai, Memelihara dan Membesarkan

Perikopa injil Matius (Mat 1:18-24) menampilkan sebuah tradisi mengenai kelahiran Yesus dari sudut pandang Yusuf. Bagi umat Matius dan umat awal, kelahiran Yesus itu jelas bukan kejadian yang biasa. Yesus dikandung dari Roh Kudus tetapi dilahirkan secara manusiawi oleh Maria dan dibesarkan oleh Yusuf. 
Letak tidak biasa-nya : …. kata-kata malaikat dalam mimpi Yusuf. ... juga ditambahkan, semua yang dikatakan malaikat itu menggenapkan nubuat nabi Yesaya 7:14 (Yes 7:10-14), bahwa seorang anak dara akan melahirkan anak lelaki yang dikenal dengan nama Imanuel, yang artinya "Tuhan menyertai kita". Kelahiran sang "Imanuel" - "Allah menyertai kita"..... Allah tidak lagi membiarkan manusia sendirian. Dan mulai saat itu kehadiran "Imanuel" memang menyertai manusia sepanjang zaman. Paulus dselalu menutup surat atau perjumpaannya dengan jemaat Kasih karunia menyertai kamu dan damai sejahtera dari Allah Bapa kita dan dari Tuhan kita Yesus Kristus (Rm 1:1-7).
petani memulai dengan membajak tanah
Matius menekankan hadirnya daya ilahi "Maria mengandung dari Roh Kudus" (penerimaan utuh dari pihak Maria). Berhadapan dengan daya ilahi ini, Sikap dan Tindakan Yusuf ---- ia menerima karya ilahi yang tidak lumrah sekalipun dan tetap menghormatinya. Bahkan ia memeliharanya dengan penuh perhatian. Ia memikirkan kepentingan Maria, tidak hanya mau meninggalkannya begitu saja. Kemudian ia juga berani mendengarkan Yang Keramat yang mengubah rencananya sama sekali. Ia bersedia menjadi orang yang bertanggung jawab membesarkan Yesus. Dalam adat keluarga Yahudi, pendidikan seorang anak sejak tidak lagi menyusu ibunya hingga akil balig pada usia 12-13 tahun menjadi tanggung jawab bapa keluarga. Begitulah kebesaran hati Yusuf, kepekaannya, kematangan imannya ikut membentuk pribadi Yesus. Itulah ungkapan iman Yusuf yang paling nyata. 
Dengan demikian, kita sebagai pembaca Injil Matius diajak untuk mengerti bagaimana kelahiran Yesus dari sudut pandang Yusuf. Apa artinya menjadi anak yang dibesarkan oleh orang seperti Yusuf itu. Di sini menjadi jelas bahwa karya "Tuhan menyelamatkan umatNya" itu menjadi tepercaya justru karena memakai jalan manusiawi. Karya Roh Kudus, betul-betul bisa membawakan keselamatan bila tumbuh dan menjadi besar dalam lingkungan yang sungguh manusiawi.
Mendalami peristiwa kelahiran Yesus dalam terang Injil Matius itu merayakan kebesaran hati seorang manusia yang bukan saja memungkinkan karya Allah dapat mulai terjadi, tetapi juga yang memelihara dan membesarkannya. Orang beriman (kita) yang ingin maju menjadi pemerhati gerak-gerik Yang Ilahi tentu dapat belajar banyak dari Yusuf.

Akhirnya

Kalau hari ini kita masuk Minggu Adven IV, di mana suasana menyongsong pesta Natal sudah terasa. Hiasan Natal terlihat di mana-mana. Mungkin ada saling berkirim kartu dan pesan Natal. Pertanyaannya : Apakah kita seperti umatnya Matius, dengan peristiwa kelahiran Yesus atau Natal, kita sampai pada keyakinan atau mendalami makna kehadiran Kristus di tengah-tengah umat manusia? Emanuel - Allah yang beserta kita itu? Emanuel - seperti yang dialami oleh Yusuf itu? Membiarkan karya Allah mulai terjadi, memelihara dan membesarkannya?

Il Pentimento è Una Conseguenza della Fede


Lunedi, 14 October 2013
Luca 11:29-32

Ho visto alcuni violazioni del traffico delle strade. Non è un po' di reato in realtà è molto pericoloso, sia per gli attori e per gli altri. C'era uno sguardo improvviso che tutti gli utenti della strada ad essere ordinato. A quanto pare, in una curva della strada c'era un raid da parte della polizia.
Segni, regole o restrizioni potrebbero essere facilmente trascurati o violati. Ma quando ci sono persone che hanno il potere, allo stesso tempo, un segno o regole o restrizioni di essere ancora una volta impotente. La chiamata si è rivelato essere uno solo ascoltare quando qualcuno che ha il potere di consegnare.
Racconto nel Vangelo, quando avevano visto Gesù, purtroppo, sono ancora facile presumere la sua banale. Solo se si guarda davvero segno straordinario, crederanno. Essi sono ciechi a ciò che è veramente grande è nascosto. 
Strada dell pentimento abbiamo passato con i piccoli segni che sembravano senza senso. Paolo è grato di aver ricevuto la grazia di Dio per condurre tutte le nazioni. Giorno dopo giorno, impara a vedere piccoli segni della grazia divina. Se non faccio errori oggi come ieri, è stato un segno dell'opera di Dio.

Untuk Apakah Kamu Pergi?


Itulah pertanyaan Yesus secara berulang-ulang sampai tiga kali kepada orang banyak (Luk 7:24-26) tentang Yohanes. Yesus mengajak orang banyak untuk mempertegas tujuan mereka atas penyelamat yang dirindukan.

Bagi kita, pertanyaan itu kiranya juga sangat relefan. "Untuk apakah kita pergi kepada Tuhan?" Sebagian besar dari kita tentu hendak mencari jawaban-jawaban menurut situasi hidup masing-masing: untuk mencari damai, ketenangan, kesembuhan, rejeki, jodoh dst.....

Setiap orang mempunyai harapan bahwa Tuhan akan memberikan yang terbaik bagi dirinya. Bahkan ada yang mengharapkan lebih. Demikian pun orang banyak ketika mereka menyambut Yohanes Pembaptis.  Tetapi ketika melihat kenyataan bahwa yang diinginkan tidak sesuai dengan yang dipikirkan, maka sirnalah harapan itu. Hal itu tampak ketika Yohanes Pembaptis tampil dengan pakaian yang hanya terbuat dari kulit binatang, rumahnya di hutan pula dan makanannya ngengat madu, mulailah sirna harapan orang banyak itu.

Oleh sebab itu, jawaban yang mesti ada dan dihidupi atas pertanyaan untuk apakah kamu pergi kepada Tuhan adalah untuk mendengar perkataanNya dan untuk membuka hati padaNya serta untuk mengakui kebenaranNya. Karena demikian kasih setia Allah tidak akan berpaling dari hidup kita, sekalipun gunung-gunung beranjak dan bukit-bukit bergoncang (Yes 54:10).

Bukan hanya PERCAYA

Dewasa ini, tak sedikit orang yang PERCAYA kepada Yesus, pada sabda, pengajaran dan karya-Nya. Namun apakah mereka MENGIMANI pribadi dan sabda, pengajaran dan karya-karyaNya?

Tak jarang orang yang mengikuti Yesus masih dengan penuh perhitungan (untung rugi, nyaman dan tidak nyaman). Oleh sebab itu, mari....kita belajar dari kedua orang buta dalam bacaan Injil hari ini (Mat 9:27-31). Betapa besar kerinduan hati dua orang buta dalam injil hari ini. Kerinduan itu tampak dalam keterbukaan dan kepercayaan mereka pada Yesus saat berseru minta bantuan. Mereka  mau mengikuti Yesus hingga ke rumah tempat Yesus singgah. Kesediaan mau ditolong oleh Yesus itu sungguh-sungguh tampak dalam diri mereka.

MENGIMANI Yesus berarti mengikuti Yesus tanpa perhitungan apa pun lagi. Seperti kedua orang buta itu,  membiarkan Yesus bekerja dalam diri mereka sepenuhnya tanpa ragu, sehingga mata mereka menjadi melek (terbuka). Dinamika beriman selanjutnya tampak dalam keputusan atau pilihan sikap dan tindakan mereka untuk memuliakan Yesus ke seluruh wilayah mereka, meski Yesus sesungguhnya melarang mereka.

Mari...kita MENGIMANI Yesus dengan tanpa ragu lagi, sehingga kita boleh merasakan perubahan dalam hidup kita yang selalu bersyukur dan memuliakan Tuhan.